Skip to main content

Review Super Volcanic Pore Clay Mask

Korea terkenal sekali dengan cewek-cewek cantik dan cute-nya. Bukan hanya make up atau merawat kecantikan kulit dengan obat-obatan, mereka juga udah terbuka dengan operasi plastik. Nah, karena belum berani untuk operasi plastik, jadi saya baru tahap pada mencoba produk kecantikan dari korea yaitu Super Volcanic Pore Clay Mask. Wogh!

Namanya aja udah serem. Udah volcanic, super pulak. Apa enggak bruntusan tuh muka?

Masker ini saya dapat dari pacarnya teman saya yang sedang pergi ke Korea. Setelah baca volcanic, ekspektasi akan tercium bau belerang saat buka tempatnya. Ya, kirain gitu 'kan karena ada gunung berapinya. Ternyata enggak, malah cenderung tidak berbau. Warnanya ungu muda. Teksturnya agak kental tapi lembut seperti tanah liat.



Saya oles ke muka dan didiemin selama 10 menit. Dan masker ini enggak nyiptain efek kaku kayak kita pakai Saripohaci. Jadi selama maskeran, masih bisa ngobrol. Enggak pecah-pecah. Walau dia klaim ada cooling effect, enggak ada efek ademnya tuh di kulit. Malah di beberapa bagian kulit mukaku yang kering, agak terasa panas/perih. Dan setelahnya kulit makin terasa kering. Ya mungkin sesuai dengan claim dia untuk mengurangi sebum atau kelenjar minyak pada kulit.

Setelah dibilas, kulit terasa enggak mulus dan kenyal. Mereka juga claim bisa mengencangkan pori-pori, tapi juga tidak berasa. Sepertinya sih produk ini biasa aja. Yah, paling plusnya adalah tidak menimbulkan efek merah dan gatal. Tapi teman saya bilang dia malah jerawatan setelah pakai.

Menurut saya sih produk ini tidak direkomendasikan. Masih banyak produk lain yang bagus kok, salah satunya adalah pore cleanser yang merupakan produk lokal Indonesia yaitu The Bath Box. Ini bukan promosi, kamu bisa baca ulasannya di sini.

Kalau kamu punya info produk yang seru untuk di-review, silakan komentar yaa. Cheers!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…