Skip to main content

Terbang Bebas di Raja Ampat (Part 2)

Tanpa banyak cingcong, jadi ceritanya saya mau nerusin tulisan perjalanan saya ke Raja Ampat. Yea I know I'm such a lazy person. Ini mood buat nulis blog enggak datang-datang terus sih. #cambukdirisendiri

Di sebuah pagi di hari ketiga, saya dan kawan-kawan sudah bangun pagi. Karena memang sudah tugas dan bukan liburan leyeh-leyeh, kami bangun subuh hampir setiap hari. Sampai lelah dan bosaan diri ini bangun pagi. Hehe. Kali ini saya mau berburu mau cenderawasih di Desa Sawinggrai, sementara teman saya mau ke desa wisata di Desa Arborek. Burung cenderawasih kira-kira akan muncul pukul 6 hingga 7 pagi. Jadi, jangan sampai kesiangan.

Suasana Desa Sawinggrai.

Begitu sampai di dermaga Desa Sawinggrai, saya disambut Albert yang menjadi pemandu saya. Tanpa berlama-lama, kami langsung mendaki sebuah bukit kecil. Walaupun tidak jauh (hanya sekitar 30 menit perjalanan) dan medannya tidak curam, harus hati-hati karena medannya cukup licin. Bahkan sepatu gunung pun tidak membantu. Albert yang pakai sendal jepit tampak santai-santai saja. Barangkali sendal jepit adalah sebuah jawaban. ;)

Sampai di puncak bukit, ada sebuah area yang berisi gubuk kecil dan tempat duduk. Rupanya di situlah tempat melihat burung cenderawasih. Syukurlah burungnya ada, walau hanya satu ekor yaitu burung cenderawasih jantan berwarna merah. Kenapa tahu jantan? Karena di ekornya terdapat antena yang menjuntai. Kata Albert, kalau sedang musim kawin, burung cenderawasih di sini bisa sampai 20 ekor dan mereka "menari" untuk menarik perhatian betina. Menari itu maksudnya membentangkan sayapnya kemudian memeluk si betina.

Betul saja, setelah selesai lihat dan foto burung, cenderawasih tersebut pergi di sekitar pukul 07.10. Albert bilang biasanya cenderawasih terbang ke lembah untuk cari makan, dan baru datang lagi saat sore hari. Oleh karena itu, kita enggak boleh datang terlalu siang.

Dalam perjalanan menuruni bukit, kami diiringi dengan suara-suara burung. Bahkan saya lihat dua kakak tua sedang terbang dengan bebasnya. Wah! Di Bandung atau Jakarta, saya hanya lihat kakak tua di dalam sangkar saja atau di rumah orang dalam keadaan diikat. Tapi mereka di sini mereka terbang bebas. Dan di kota biasanya saya hanya lihat burung gereja, tapi ini burung-burung besar seperti kakak tua bisa kita lihat dengan mudahnya. Bahkan saya juga lihat burung elang. Keren!

Oh iya, di desa ini ada Yesaya Mayor yang membuat kerajinan tangan berupa patung yang dipahat berdasarkan permintaan pembeli. Beberapa warga juga membuat cenderamata dari tempurung kelapa. Kalau mau beli atau ngobrol dengan Yesaya atau warga, jangan datang di hari Minggu, karena ini adalah hari untuk beribadah. Keadaan desa relatif sepi dan tidak ada aktivitas.

Gereja di Desa Sawinggrai.

Setelah dari Sawinggrai, saya pergi ke Pianemo. Pianemo adalah sebuah laguna yang dikelilingi dengan bukit batuan gamping. Laguna ini mirip seperti Wayag, tapi luasnya lebih kecil sehingga sering disebut "Wayag mini". Medan menuju bukitnya tidak curam seperti Wayag, justru mudah karena di sini ada tangga kayu yang kondisinya bagus. Katanya tangga itu dibuat mengikuti kontur tanah dan tidak menebang pohon. Jadinya, saat saya naik, saya menemukan ada pohon kecil di tengah-tengah tangga. Oh ya, untuk bisa masuk ke sini, kamu harus bayar uang retribusi Rp500.000 untuk kapal dan Rp350.000 untuk speedboat.

Ada spot untuk selfie. Penting ini!


Siang harinya, kami diving di Cape Mansuar/Cape Kri dan Friwen Wall. Sayang sekali, karena waktunya terbatas, kami hanya diving di dua titik di tempat yang wisata selamnya salah satu yang terbaik di dunia. Saat menyelam.. mak! Rimbun sekali di bawah sana. Terumbu karangnya bervariasi, ikannya banyak dengan beragam jenis dan ukuran. Begitu masuk, rasanya seperti berada di film Finding Nemo. Ikan-ikan berseliweran dan ramai kayak pasar. Bagus sekali! Dan katanya Raja Ampat itu ibarat tempat naik hajinya orang-orang yang menyelam. Wah, kalau untuk first timer, mending jangan ke sini, karena biasanya jadi kecewa kalau nyelam di tempat lain. Hehe.

If you visit Raja Ampat, you definitely must dedicate your time and money to dive! Saat menginap di homestay atau resort, pilih yang diving package. Serius deh. Selain dua titik itu, banyak titik selam lain yang terkenal kayak Manta Sandy untuk lihat pari manta dan Sardine's Reef. Dan kalau malas pindah dari tempat penginapan ke kapal, mending pakai liveaboard seperti kapal Temukira ini. Kamu nginap di atas kapal, sambil berlayar ke berbagai tempat, dan bisa langsung menyelam. Fancy banget liburan lo enggak siihh..

Kapal Temukira milik PT Grand Komodo.

Selain melihat burung-burung yang berterbangan, sebagai destinasi maritim, kamu juga bisa "terbang" di dalam laut Raja Ampat. Melalui diving, tentunya. Sumpah, kamu tidak akan menyesal meski telah merogoh kocek dalam. Dan seperti haji yang selalu rindu kembali ke Mekah, bagi pecinta selam atau keindahan alam, pasti akan selalu rindu untuk kembali ke sini. ;)

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…