Ujung Barat Indonesia (Bagian 2)

Kata Sabang melekat karena lagu wajib nasional Dari Sabang Sampai Merauke yang sering dinyanyikan saat sekolah dulu. Dahulu terbayangkan kedua tempat tersebut jauuh sekali dan tidak terbayangkan pernah datang ke wilayahnya. Kemudian, selama perjalanan hidup, nama Sabang menjadi akrab karena di Bandung ada SDN Sabang dan di Jakarta ada Jalan Sabang (atau Jalan Haji Agus Salim).

Niat utama perjalanan terakhir kemarin adalah memang ingin pergi ke Titik Nol Kilometer yang ada di Pulau Weh. Ternyata selama ini salah prasangka, titik nol tersebut bukan berada di kota Sabang karena titik nol berada di barat laut dan kota Sabang berada di timur laut.

Dari Banda Aceh, saya naik kapal Ekspress selama 45 menit ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Dari pelabuhan, saya dan Eka naik becak motor (bentor) seharga Rp80.000. Katanya ada kendaraan L3000 sih, tapi mata kami udah keburu ketutup sama orang-orang yang nawarin becak motor dan sewa motor. Oh ya, kalau mau sewa motor harganya Rp100.000 per hari. Dan bisa ditawar.

Kami pergi ke Olala Cafe Bungalows and Restaurant di Pantai Iboih. Informasi tentang hotel ini kami dapatkan dari Traveloka, tapi pemesanan sih langsung menghubungi yang punya. Harganya murah, hanya Rp150.000 per malam. Ternyata menuju Olala jauuuh sekali dari pelabuhan. Kami melewati kawasan hutan lindung yang banyak monyetnya. Jadi terbayang kalau malam pasti gelap. Tapi jangan khawatir, karena jalanan di Pulau Weh sudah beraspal dan kondisinya sangat baik. Biasanya daerah pedalaman gitu kondisi jalannya jelek, 'kan?

Dari pelabuhan ke kawasan Iboih memakan waktu sekitar 1 jam dengan kecepatan mengendara bentor yang cukup cepat. Begitu masuk ke kawasan Iboih, ternyata di ramai, menimbulkan perasaan lega setelah melewati hutan yang cukup rapat. Hehe. Kawasan ingin mengingatkan Gili Trawangan yaitu banyak hotel dan rumah makan kecil, serta banyak penyewaan alat snorkeling dan selam. Juga di sini banyak bule.

Dari tempat kami turun, kami harus jalan kaki menuju penginapan karena tidak ada jalan untuk kendaraan bermotor. Jalannya hanya berupa trotoar yang kondisinya tidak baik. Di kiri kanan jalan terdapat penginapan yang letaknya berjauhan, di tengah-tengahnya hutan, jadi sebaiknya bawa senter kalau jalan di malam hari. Sepanjang perjalanan, saya dan Eka bertanya-tanya kok penginapannya enggak sampai-sampai. Ternyata memang lumayan jauh. Hahay.

Jongjonisme.
Begitu sampai, saya ke resepsionis untuk konfirmasi dan kami diantarkan ke sebuah kamar yang berada di atas tebing kecil, memiliki teras yang dilengkapi hammock, dan menghadap pantai. Wah, untuk harga semurah itu, mulanya ekspektasi saya kecil sekali. Ternyata kamarnya dan pemandangannya bagus. Senang! Karena hari sudah malam, kami memutuskan untuk cari makan di tempat awal kami diturunkan dari bentor dan beristirahat. Nah, di malam itulah kami menemukan fakta bahwa kalau malam hari airnya tidak ngucur, jadi kami tidak mandi. Kami perpanjang durasi nginap, dan malam berikutnya menemukan hal yang sama, jadi kami harus menampung air di siang hari. Agak sedih juga sih karena jadi ribet. Ini bisa jadi pertimbangan kamu ya untuk menginap di sini.

Ada sebuah kuliner yang wajib dicoba saat berkunjung ke sini yaitu sate gurita. Kalau dari internet, sate ini ada di Pulau Rubiah yang letaknya tepat berada di depan penginapan. Meskipun demikian, untuk ke sana harus naik kapal. Di sini ada operator kapal yang menawarkan jasa nyebrang dengan kapal lambat, kapal cepat, hingga snorkeling. Harganya tertera jelas di kantor operator tersebut, jadi kita enggak perlu nego dengan penduduk setempat. Ya, memudahkan sih. Misalnya saya dan Eka nyebrang dengan kapal lambat seharga Rp100.000 bolak balik. Kami dikasih tiket yang berisi nomor kapal dan nomor telepon supirnya. Nice, jadi teratur.

Keesokan harinya, kami ke Pulau Rubiah untuk makan sate gurita. Setelah kapal kami bersandar di dermaga, kami makan sate gurita di restoran yang berada pas di dermaga. Selain itu, kami memesan ayam penyet. Rasa ayamnya enak. Dan saat makan satenya, rasanya juga enaak! Bumbu kacangnya oke. Kalau dipikir-pikir, daging gurita itu kenyal seperti cumi-cumi. Pokoknya jadi enggak nyesel bela-belain nyebrang pantai untuk makan sate gurita.

Sate gurita.
Setelah dari Pulau Rubiah, kami sewa motor dari homestay seharga Rp100.000. Saya dan Eka jalan-jalan ke Sabang. Di sana ada pusat kuliner yang letaknya di pinggir pantai. Sayangnya kami sampai di sana sekitar pukul 4 sore sehingga belum buka. Pusat kuliner ini baru buka sekitar pukul 7 malam. Katanya ada sate gurita dan makanan lain yang patut dicoba yaitu mi jalak. Sepanjang pantai, banyak gazebo permanen yang dibuat untuk para pengunjung. Menurut saya sih fasilitas wisatanya sudah oke nih. Daerah sini juga banyak homestay. Kayaknya di sini oke sambil melihat matahari tenggelam.

Kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Sumur Tiga yang katanya pantai terbaik di Sabang. Di sini pasirnya penuh dengan batu sehingga agak sulit kalau mau duduk-duduk dan berjemur. Sayangnya pas kami ke sini, pantainya sepi dan tidak ada aktivitas. Padahal kalau mau memaksimalkan pariwisata, harus dibuat aktivitas seperti jetski, banana boat, dan aktivitas lainnya.


Cie, naluri wartawannya keluar niyee.. banyak banget kritik untuk sadar wisatanya. :p

Anywaayy.. setelah puas berfoto, saya dan Eka kembali lagi ke Iboih. Tapi bukan untuk pulang, melainkan untuk melanjutkan ke Titik Nol Kilometer. FYI, kami memilih penginapan di Iboih karena dekat dengan titik nol dan di Iboih merupakan kawasan diving. Dalam perjalanan pulang, saya gantian nyetir motor karena jalanan relatif sepi. Karena saya bukan pemotor, jadi semacam agak panik kalau ada belokan dan jalannya nanjak. Eka sering support, "Ayo gas terus, gas terus! Jangan berhenti." Hahaha. Terus ada sebuah insiden keluar dari jalur aspal karena saya meleng baca tulisan "Hati-hati jalanan licin dan rawan terjadi kecelakaan." What an irony. Wkwk.

Ada beberapa titik yang kondisi jalannya kurang bagus dari Iboih ke Titik Nol Kilometer karena jalanan sedang diperlebar. Pas bagian kondisi jalan kurang bagus, Eka yang ambil alih. Jalanan jadi berpasir dan licin, sehingga harus hati-hati. Kami juga agak buru-buru karena matahari sebentar lagi tergelincir. FYI, Titik Nol Kilometer ini bagus dikunjungi saat matahari terbenam karena titik ini berada di sebelah barat.

Touchdown!

Akhirnya ya, sampai juga ke ujung barat Indonesia. Jadi saya ini semacam komplit sudah berada di ujung timur dan ujung barat. Haha. Seolah-olah sudah keliling Indonesia padahal belum. Sayangnya monumennya sedang direnovasi sehingga jelek untuk difoto. Jadi saya harus berpuas diri berfoto di depan tulisan ini.

Kalau pergi ke sini, nanti akan ada orang yang menawarkan untuk buat sertifikat sebagai bukti kamu pernah ke sini. Nanti nama kamu akan ditulis dan kamu jadi bisa tahu kamu ini pengunjung ke sekian yang sudah pergi ke sini. Harga sertifikatnya Rp30.000. Kalau kata saya sih mending beli saja lah, karena kapan lagi coba ke sini, dan sertifikatnya juga bagus, bukan print kertas biasa. Lumayan, kenang-kenangan.

Pulang dari perjalanan yang melelahkan, saya dan Eka memutuskan untuk makan makanan enak. Kami makan di sebuah restoran besar yang-duh-lupa-namanya. Kami pesan ikan giant trevally seharga 130.000. Gede banget. Pada akhirnya enggak habis juga. Tapi rasanya enak, dagingnya manis, tidak ada bau tanah seperti ikan air tawar (ya iyalah). Sayangnya saya kurang suka sama ikan bakar. Coba kalo digoreng, akan lebih lahap. Dan katanya kami beruntung karena baru di ambil sore hari, jadi segar banget. Jadi, ini wajib dipesan ya saat kamu berkunjung ke Iboih.

Gede dan enggak habis!
Oke deh, bagian kedua ceritanya sampai sini dulu yaa. Besok akan saya upload bagian 3 saat saya kembali ke Banda Aceh sampai kembali pulang. Sampai jumpa!

Comments

Popular Posts