Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Review Matinya Seorang Penari Telanjang

Siapa yang tidak kenal dengan Seno Gumira Ajidarma (SGA)? Ia dikenal sebagai penulis esai dan novel yang disegani dengan karya-karya yang memotret isu sosial dan tidak picisan. Sama seperti Pramoedya Ananta Toer (PAT). Jadi membaca karya SGA di tempat umum bisa memiliki kebanggaan tersendiri seperti membaca buku-bukunya PAT.

Hehe.

Oke. Nama SGA tentu sudah lama saya dengar. Tapi entah kenapa belum ada keinginan untuk membacanya atau sengaja mencari bukunya. Mungkin, seperti yang teman saya bilang, ia lebih terkenal sebagai esais ketimbang penulis cerita fiksi. Paling saya pernah menyempatkan untuk pergi ke pembacaan bukunya yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku di Galeri Indonesia Kaya. Di situ saya baru tahu bahwa SGA adalah penulis fiksi yang spesial karena ia bisa mendeskripsikan hal-hal romantis seperti "senja", "pantai", dan "kekasih" dengan tidak membosankan.


Teman saya merekomendasikan buku antologi karya SGA yang berjudul Matinya Seorang Pena…

Review Misa Arwah

Bulan September lalu, Richard Oh mengeluarkan nama-nama buku yang masuk dalam nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Tentunya ini jadi kabar yang diberitakan di berbagai media karena ini merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia kesusastraan Indonesia. Tampak menjanjikan dan prestisius, 'kan? Menaruh kata "nominasi" di bagian depan sampul buku saja sudah bisa meningkatkan nilai jual.

Teman saya, Beni Satrio, yang menjadi sumber pinjaman buku-buku beberapa posting belakangan, juga masuk dalam nominasi KSK dengan buku Pendidikan Jasmani Dan Kesunyian. Sayangnya dia tidak masuk lima besar. Buku lainnya yang tidak masuk nominasi lima besar adalah Misa Arwah karya Dea Anugrah yang akan diulas di postingan kali ini. Di postingan sebelumnya, saya mengulas karya Dea yang lain yaitu Bakat Menggonggong. Saya ingin tahu tulisan dia versi puisi sekaligus ingin tahu buku puisi seperti apa sih yang bisa masuk KSK? :)


Misa Arwah adalah peringatan 1000 hari orang yang sudah m…

Review Bakat Menggongong

Kumpulan cerita pendek menjadi hal yang disukai oleh saya akhir-akhir ini karena seumpama win win solution antara keinginan dan kemalasan untuk baca buku. Saat dipinjamkan buku Bakat Menggongong karya Dea Anugrah yang terlihat tipis, dengan pedenya saya berpikir bahwa buku ini akan habis dalam semalam. Tapi ternyata tidak. Huhu. Buku yang berisi 15 cerita pendek ini membutuhkan perhatian ekstra.


Salah satu cerita yang saya suka berjudul Kisah Sedih Kontemporer (IV) yang berisi sebuah percakapan tentang sepasang manusia yang berdebat tentang harta gono-gini dan memutuskannya dengan cara melempar koin. Perdebatan tidak hanya mengenai harta gono-gini tapi mereka juga memperdebatkan siapa yang memilih angka dan gambar dengan memperdebatkan siapa yang memulai gagasan lempar koin ini. Pusing yak? Tapi bagus.

Cerita lainnya yang saya suka adalah Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada. Tokoh "aku" bertindak sebagai narator sudut pandang ketiga yang menceri…