Skip to main content

Review Matinya Seorang Penari Telanjang

Siapa yang tidak kenal dengan Seno Gumira Ajidarma (SGA)? Ia dikenal sebagai penulis esai dan novel yang disegani dengan karya-karya yang memotret isu sosial dan tidak picisan. Sama seperti Pramoedya Ananta Toer (PAT). Jadi membaca karya SGA di tempat umum bisa memiliki kebanggaan tersendiri seperti membaca buku-bukunya PAT.

Hehe.

Oke. Nama SGA tentu sudah lama saya dengar. Tapi entah kenapa belum ada keinginan untuk membacanya atau sengaja mencari bukunya. Mungkin, seperti yang teman saya bilang, ia lebih terkenal sebagai esais ketimbang penulis cerita fiksi. Paling saya pernah menyempatkan untuk pergi ke pembacaan bukunya yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku di Galeri Indonesia Kaya. Di situ saya baru tahu bahwa SGA adalah penulis fiksi yang spesial karena ia bisa mendeskripsikan hal-hal romantis seperti "senja", "pantai", dan "kekasih" dengan tidak membosankan.

Enak dibaca sambil ngopi. Hehe. Dok. pribadi.

Teman saya merekomendasikan buku antologi karya SGA yang berjudul Matinya Seorang Penari Telanjang. Ada sebuah cerita menarik tentang buku ini karena diperlukan waktu yang lama untuk menerbitkannya. Pertama, penerbit pertama tidak jadi menerbitkan karena kumpulan cerita pendek dianggap hanya menambah kerugian penerbit yang kala itu sedang terseok-seok. Kedua, setelah menunggu empat tahun, penerbit baru ini setuju untuk menerbitkan dengan syarat harus ganti judul menjadi Manusia Kamar, mengingat nama penerbitnya CV Haji Masagung. "Haji" dan "penari telanjang"? Nanti jadi oksimoron dong ah.

Cerita Matinya Seorang Penari Telanjang pernah difilmkan pada tahun 1997. Setelah itu, SGA ingin menerbitkan buku ini lagi. Maka terbitlah buku ini dengan judul yang semula diinginkan yaitu Matinya Seorang Penari Telanjang. Di dalam buku ini juga ada cerita Matinya Seorang Penari Telanjang yang asli sebelum diadaptasi ke film dan yang setelah diadaptasi ke film. Di sini, kamu bisa melihat dua versi cerita.

Karena cerpen ini menjadi judul, maka saya mau highlight cerita ini. Matinya Seorang Penari Telanjang bercerita tentang Sila, seorang penari telanjang, dikejar oleh dua orang pemuda yang disuruh oleh seseorang untuk membunuhnya. Ia curiga yang mengutusnya adalah Ubed, lelaki 40 tahun yang sudah punya istri, karena Ubed sudah pernah mengacam untuk membunuh Sila jika ia berani meninggalkannya.

Cerita berkisar pada proses pengejaran dan persembunyian. Karena ini cerita pendek, proses pengejaran dan persembunyiannya tidak rumit yaitu hanya bersembunyi di balik tong sampah sebuah gang yang tidak jauh dari klabnya. SGA banyak bercerita tentang hubungan Sila dan Ubed, tentang istri dan wanita simpanan lain, serta pikiran-pikiran Sila mengenai kehidupan dan kematian. Nah, ini dia yang menarik. Biasanya seseorang yang dalam pengejaran dan tahu akan dibunuh, cerita akan berkisar pada ketakutan tokoh. Tapi SGA menceritakan tokoh Sila sebagai seseorang yang tidak takut mati.

"Dalam detik-detik mendesak itu Sila bagaikan berusaha menghirup nafas kehidupan sebanyak-banyaknya. Apalah artinya mati, pikirnya. Mati hanya bagian dari proses kehidupan yang tak kunjung selesai. Mati hanyalah seperti kentut! Dan gemuruh musik yang biasanya mengiringi goyang pinggulnya di pentas bagaimana menggaung dari langit. Dan puluhan mata yang biasa menelan tubuhnya pada saat itu menanggalkan carik-carik kain satu-persatu, mata penuh daya hidup yang merayapi lekuk liku tubuhnya itu...

Detik itu ia ingat Tuhan, tapi ia tidak berdoa minta pertolongan pada Tuhan. Kenapa teringat Tuhan hanya di saat susah? Gengsi dong! Jadi, tidak perlu berdoa pada Tuhan. Lagipula apalah artinya berdoa minta panjang umur kalau sudah waktunya mati? Kalau aku berdoa nanti, jangan-jangan Tuhan tertawa: 'Lha wong kamu ini mau kucabut nyawanya, kok malah minta hidup.'" (hal. 71-72)

Anjrit mantap.

Buku ini berisi tentang kehidupan perkotaan, khususnya Jakarta. SGA begitu pandai memotret fenomena sederhana yang sering terjadi di kehidupan masyarakat. Misalnya cerita di atas, SGA memotret seorang wanita di dunia laki-laki. Seorang wanita yang menjadi simpanan orang lain tapi semua orang menyalahkannya--bahkan membunuhnya--sementara lelaki tersebut bisa lenggang kangkung. Di cerpen Tante W, SGA bercerita tentang orang-orang baru menaruh perhatian pada orang lain jika merasa kehilangan. Dan berita kehilangan yang mungkin bermakna bagi sebuah keluarga, mungkin tidak bermakna bagi orang lain karena setiap hari berita berganti. Setiap hari terjadi kejahatan, perampokan, pembunuhan, dan kehilangan di ibukota. Berita-berita yang bermakna bagi seseorang bisa hilang begitu saja.

Cerpen lainnya yang berkesan adalah Manusia Kamar. SGA bercerita tentang seorang pria yang sinis pada dunia. Saking sinisnya, ia menghindari hubungan sosial dengan orang lain dan mengurung diri di sebuah rumah kubus tanpa jendela dan pintu, hanya terdapat celah kecil untuk orang lain yang mengantarkan makanan atau mengantarkan orang.

"Tapi jadinya aku lebih mengenal kehidupan. Aku tahu apa yang terjadi di hotel-hotel, aku tahu dari desa mana pelacur jalanan itu berasal, aku bisa mengendus mobil pejabat siapa yang diparkir di motel itu. Kutelusuri segala tempat hiburan malam, perpustakaan, restoran, kompleks gelandangan, warung-warung kopi, tempat banci-banci mangkal, tempat homo-homo berkencan, mesjid, gereja, vihara, kelenteng..

Bermalam-malam sudah dan hasilnya nol besar. Tak terasa sebetulnya aku mendapatkan sesuatu yang lain, seseuatu yang berharga. malam memang menyingkapkan kepalsuan. Di balik kekelaman itu topeng-topeng dibuka dan bentuk asli yang serba gombal itu pun bisa kutangkap, kekelaman seperti membiarkan perasaan aman dan terlindung. Bisa kudengar bisik-bisik sekongkol politik, kasak-kusuk para penyebar gosip. Bisa kulihat para penipu diri beraksi. Antara strip-tease dan lonceng gereja, antara penggarongan dan azan subuh, antara perzinahan terbuka dan perzinahan tertutup.

Agak sulit mencari orang normal. Sebagian terlalu fanatik, sebagian lain dekaden. Aku jadi maklum kenapa kawanku jadi jenuh. Ia tidak menerima mereka sebagaimana adanya. Ia mencari yang baik-baik saja, dan itu memang sulit, dan bisa jadi malahan tidak tidak ada. Sedangkan kalau ada, mungkin juga tidak menarik dan tidak  menyenangkan. Kata orang, dunia memang mengecewakan. Dunia menjadi buruk karena ulah manusia. Dia memang makin lama makin pesimistis." (hal 94)

Dan terakhir di cerpen Selamat Pagi Bagi Sang Penganggur, SGA juga bercerita tentang seorang pria yang berada di tengah-tengah istri dan anaknya. Setiap hari ia harus melewati pagi yang hectic dengan mengantarkan anak sekolah dan bersama istrinya bekerja dan kadang  susah dimengerti, Begitu terus setiap hari. Rutinitas tanpa henti sampai mati. Ini 'kan yang dialami orang-orang setelah menikah?

Meskipun fiksi, buku ini bukan omong kosong dan bualan. Sekarang saya tahu kenapa banyak orang yang gemar padanya. Saya merasa senang dan puas karena mendapatkan sesuatu dari buku ini--bukan hanya sekedar rangkaian kata yang indah saja. Buku ini membuat saya terinspirasi untuk menulis sesuatu dengan tujuan yaitu merekam dan menangkap hal bermakna. SGA membuktikan ia bisa menjadi penulis yang disegani tanpa membuat karya dengan bahasa njelimet. Apalagi, mengutip kata-katanya, "Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara, karena bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. ... Kebenaran bisa sampai apapun bentuknya. Bagi saya, dalam bentuk fakta maupun fiksi, kebenaran adalah kebenaran - yang getarannya bisa dirasakan setiap orang."

Tabik!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…