Review Misa Arwah

Bulan September lalu, Richard Oh mengeluarkan nama-nama buku yang masuk dalam nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Tentunya ini jadi kabar yang diberitakan di berbagai media karena ini merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia kesusastraan Indonesia. Tampak menjanjikan dan prestisius, 'kan? Menaruh kata "nominasi" di bagian depan sampul buku saja sudah bisa meningkatkan nilai jual.

Teman saya, Beni Satrio, yang menjadi sumber pinjaman buku-buku beberapa posting belakangan, juga masuk dalam nominasi KSK dengan buku Pendidikan Jasmani Dan Kesunyian. Sayangnya dia tidak masuk lima besar. Buku lainnya yang tidak masuk nominasi lima besar adalah Misa Arwah karya Dea Anugrah yang akan diulas di postingan kali ini. Di postingan sebelumnya, saya mengulas karya Dea yang lain yaitu Bakat Menggonggong. Saya ingin tahu tulisan dia versi puisi sekaligus ingin tahu buku puisi seperti apa sih yang bisa masuk KSK? :)

Misa Arwah karya Dea Anugrah

Misa Arwah adalah peringatan 1000 hari orang yang sudah meninggal. Jadi, puisi-puisi di buku karya Dea ini memiliki tema duka, perasaan ditinggalkan, roh-roh, hingga ritual kematian. Di dalamnya terdapat 27 puisi yang bisa kamu pilih mana yang kamu suka dan mana yang tidak.

Beberapa puisinya yang indah dan "berbicara" pada saya. Puisi seperti itu biasanya saya baca pelan-pelan, menikmati semua kata dan kesan yang masuk ke pikiran. Sama seperti jika kita melihat lukisan yang indah. Kita mau berlama-lama menatap lukisan tersebut dan menikmati setiap detailnya. Bahkan kalau sudah puas, kita barangkali akan bergumam, berdecak, atau terus menjadi bahasan sehingga karya itu hidup lebih lama. Beberapa puisi Dea pun begitu. Ada yang membuat saya tersenyum dan berkata "wah" atau "ah". Beberapa puisi yang saya suka cukup banyak seperti Misa Arwah, Tentang Percakapan, Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan, dan Doa Bapa Kami.

Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan

sebab matahari tak pernah bisa
menghapus kesedihan, sebuah kota
tanpa kemanusiaan tumbuh dalam dirimu.
rumah-rumah kosong, pohonan sungsang,
arwah para pendosa menjelma ular
sebesar kereta.
sebab matahari tak pernah bisa
menghapus kesedihan
kotamu tumbuh tanpa cahaya. angin dingin
mengamuk sepanjang tahun. dan
awan hitam lupa cara menurunkan hujan.
sebab matahari
tak pernah bisa menghapus kesedihan
seorang pertapa yang tersesat
dan kedinginan
membakar jubahnya sendiri.
sebab matahari tak pernah bisa menghapus kesedihan
lapar adalah musuh terbesar bagi
yang hidup.
sebab matahari tak pernah bisa
menghapus kesedihan,
menghapus dendam,
kau menghalangi segala
yang hendak meninggalkanmu
dengan dinding kutukan.

/2011

Namun sejujurnya tidak semua puisi karya Dea yang saya mengerti. Ada beberapa yang dibaca, tidak mengerti, kemudian dibaca ulang dan mencoba untuk mengerti, masih tidak mengerti. Setelah dirasa pun puisi-puisinya tidak "berbicara". Jadi, kalau sudah menemui puisi seperti itu, saya skip saja. Puisi seperti ini tidak usah dipaksakan. Seperti mengutip puisi terakhir dalam buku ini yang berjudul Kepada Pembaca,

"Seperti ujung benang sehelai
mudah luput dari benang jarum
adakalanya sebuah puisi
tak bisa menggenggam jiwamu."

Comments

Popular Posts