Skip to main content

Review Pelacurku yang Sendu

Apa rasanya terbangun, dalam keadaan kulit bergelambir, penuh dengan keriput, dan akan menginjak usia 90, kemudian mendapatkan ilham yang belum pernah ia dapatkan seumur hidupnya yaitu jatuh cinta pada seseorang? Itulah yang diceritakan oleh Gabriel García Márquez (kemudian akan disebut Gabo) dalam novel Pelacurku yang Sendu.


Dongeng sebelum tidur. Baca yang romantis-sensual. Hihik.

Novel pendek ini bercerita tentang kehidupan seorang wartawan senior yang menghabiskan semasa hidupnya berhubungan seks dengan para pelacur. Pengalaman dengan pelacur pertamanya dimulai saat ia berumur 12 tahun. Tokoh "aku" ini tidak memiliki obsesi terhadap cinta dan pernikahan. Seperti yang dikutip di novel (kira-kira karena saat mau cari lagi di buku kok enggak nemu), "Seks adalah pelipur lara untuk orang yang tidak punya cinta."

Kemudian tokoh menghubungi mucikari langganannya bernama Rosa Cabarcas untuk disiapkan seorang pelacur usia 14 tahun yang masih perawan. Ia datang saat pelacur tanpa nama--yang kemudian diberi nama Delgadina oleh tokoh "aku"--sedang tertidur. Sang tokoh memperhatikan seluruh detail dari Delgadina dan jatuh cinta pada sosok yang sedang tertidur itu. Ia pun datang berkali-kali ke tempat Rosa Cabarcas, menemui Delgadina, dan melewati malam bersamanya yang sedang tertidur.

Bahkan, ada satu kejadian di mana terjadi sebuah pembunuhan di tempat pelacuran Rosa Cabarcas dan tokoh "aku" sulit menghubungi Rosa Cabarcas untuk mengetahui kabar Delgadina karena tempat tersebut ditutup oleh dinas kesehatan. Tokoh "aku" ini mengamati para perempuan yang lewat di lingkungan tersebut sambil menebak-nebak rupa Delgadina jika berada di dalam posisi terjaga. Bahkan tokoh "aku" digambarkan takut jika melihat Delgadina selain dalam keadaan tertidur.

Di novel ini, meskipun Delgadina banyak diceritakan, ia adalah seorang tokoh yang pasif. Ini mengingatkan pada film Talk To Her karya Pedro Almodovar yang berkisah tentang seorang perawat pria yang jatuh cinta dengan pasien wanita yang koma. Kedua tokoh ini memiliki kesamaan yaitu mereka jatuh cinta pada imajinasi yang mereka buat sendiri. Bahkan di awal-awal cerita, tokoh "aku" berkata bahwa bayangan Delgadina begitu jelas sehingga ia bisa mengubah Delgadina seperti yang ia mau dalam pikirannya.

Novel Pelacurku yang Sendu adalah novel naratif yang sangat minim dialog. Bahkan kalau pun ada, dialog masuk menjadi kalimat dalam paragraf. Saya adalah tipikal orang yang harus berusaha lebih untuk membaca novel naratif karena seringkali lost atau pikiran melayang-layang di tengah cerita sehingga harus mengembalikan konsetrasi dan membaca ulang. Meskipun demikian, saya masih bisa mengikuti novel ini, tidak menyerah seperti saat membaca Lapar karya Knut Hamsun. Walaupun saya baca versi terjemahan, kata-katanya enak. Salut untuk An Ismanto.

Meskipun ada unsur seksnya, Gabo menuliskannya dengan tidak vulgar. Tapi kadang membayangkannya lucu juga melihat kakek-kakek puber. Hihi. Gabo juga menuliskan tokoh "aku" yang tidak pernah berhubungan dengan wanita berlandaskan cinta kemudian jatuh cinta untuk pertama kali. Begitu romantis, sekaligus penuh obsesi!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…