Skip to main content

Kehidupan Personal vs Keinginan Eksis

Akhir-akhir ini saya mengalami kegalauan dalam dunia perblogan. Bisa dilihat kalau saya jarang update blog. Padahal blog ini memegang peran penting dalam menjaga hobi menulis dan kewarasan saya (karena bisa curhat colongan di sini tanpa diedit orang lain). Dan yang terpenting, menjaga eksistensi saya di dunia maya.

Hahaha.. kayak yang baca banyak aja.

Tapi serius deh. Mulanya saya mau buat blog khusus tentang orang yang baru menjalani kehidupan rumah tangga. Ada cerita, ada foto, dan kalau tidak malas bisa ada video. Dulu saya pernah buat blog khusus bernama #housemate, yaitu ketika saya ngekos satu atap bersama seorang pria aneh, dan tulisannya konsisten tentang dia. Saya pikir lucu juga ya bikin blog yang terkonsentrasi begitu. Tapi kok ya.. akhir-akhir ini ada pikiran enggan membagi privasi?

Kita harus berhati-hati di internet karena once you write it, you can't really erase it. Foto yang diunggah kemudian dihapus itu belum tentu hilang dari jejak dunia maya. Biasanya saat di-browsing akan ada lagi. Daan foto saya di internet sudah cukup banyak, dan saya ingin hapus history saya dari Google, tapi tidak bisa.

Jadinya gambar kucing aja yaa.

Ada seorang vlogger luar negeri yang merupakan ibu rumah tangga merekam kehidupan keluarganya dan diunggah secara rutin di YouTube. Walau saya enggak kenal, tapi karena sering nonton, saya jadi berasa ikut kenal dia, suaminya, dan anak-anaknya. Apalagi ketiga anaknya begitu lucu dan saya jadi ikut mengikuti perkembangan mereka. Karena syuting dilakukan di rumah, saya jadi bisa lihat rumah dia, kamar tidur anak-anaknya, dan kamar tidur dia. Apakah menyenangkan sebagai penonton? Tentu iya. Saya dapat suguhan yang menarik. Tapi apakah menyenangkan jika ruang privasi kita (seperti kamar) dilihat orang-orang yang tidak dikenal? Nah, saya pikir-pikir lagi deh.

Blog memang beda sama vlog. Walaupun tidak menyuguhkan visual seperti kamar tidur, blog juga memperlihatkan privasi lain seperti perasaan. Pembaca jadi tahu perasaan saya terhadap suami saya, baik perasaan positif atau negatif. Pembaca jadi tahu pandangan saya tentang pernikahan secara personal karena saya pasti akan bahas suatu kasus secara spesifik dan enggak bisa curhat pakai analogi karena eventually pembaca akan tahu kok kalau saya curhat colongan. Haha. Hubungan saya dan suami jadi ranah privasi, berbeda dengan hubungan saya dengan seorang pria yang tidak terlalu saya kenal seperti #housemate.

Jadi enaknya bagaimana ya, pemirsa? Ada saran untuk mengakomodasi kedua kebutuhan tersebut? :D

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…