Review Suara Dari Jauh oleh Arireda

Nama Arireda dikenal oleh saya saat membawakan musikalisasi puisi Sapardi. Itu juga saya tidak mendengarkan seluruh lagunya, tapi sebagian saja dan didengarkan selewat, tipikal lagu yang kita dengar jadi latar suara saat berada di kafe. Mengenal personilnya pun baru kemarin-kemarin ini yaitu saat saya datang peluncuran buku Aku, Meps dan Beps di Kineruku, Bandung. Reda Gaudiamo, penulis buku tersebut, merupakan anggota dari duo Arireda.

Pada suatu sore, sahabat saya berkunjung ke rumah. Seperti biasanya ia memperlihatkan barang-barang yang biasa ia bawa. Yang ia perlihatkan adalah buku Suara Dari Jauh dari Arireda yang berisi musikalisasi puisi-puisinya Goenawan Mohamad. Sebenarnya ini bukan buku, tapi ini sampul cd yang dibikin seperti buku. Puisi-puisi tersebut juga digambar dengan ilustrasi yang sangat niat. Ilustratornya adalah Ruth Marbun.

Ini yang membuat saya jatuh cinta pada sampul CD-nya.


Akhirnya saya punya kesempatan mendengarkan Arireda secara penuh dan utuh. Dari awal sampai akhir lagu. Musik mereka ya hanya terdiri dua orang yaitu Reda sebagai penyanyi dan Ari Malibu sebagai gitaris. Mereka menyanyikannya dengan mendayu-dayu seperti mendengarkan lagu zaman dulu. Karena lagunya mudah didengarkan, jadi ketika satu kali lagi diputar, saya jadi bisa menebak arah lagunya.

Saya membayangkan bahwa melakukan musikalisasi pada puisi pasti gampang-gampang susah. Berbeda dengan menulis lirik yang diciptakan dengan lagu dengan rima, bridge, atau chorus yang khusus dibuat untuk lagu, sementara puisi tidak. Pasti puisi dibuat dengan niat untuk dibacakan, bukan dinyanyikan. Mungkin ini juga yang dipikirkan Umar Muslim, penggubah lagu-lagu di Suara Dari Jauh, merasa memiliki tantangan memusikalisasikan puisinya Goenawan Mohamad karena memiliki banyak kata-kata yang tidak puitis. Dan mungkin ini juga berpengaruh pada Reda yang mengaku bahwa puisi Berjaga Padamukan Lampu-lampu Ini, Cintaku sulit untuk dinyanyikan karena melodi tidak lazim.

Mendengarkan lagu-lagu ini mengingatkan saya pada Payung Teduh. Enak, manis, dan romantis jika didengarkan tidak dalam satu album dan hanya sekilas saja. Tapi jika didengarkan dalam satu album utuh dan kepalang sering, hati bisa lesu dan terasa membosankan. In my very humble opinion, saya lebih suka membaca puisinya langsung ketimbang mendengarkannya. Mungkin sama seperti orang lebih suka membaca buku ketimbang menonton film adaptasinya. ;)

Comments

Popular Posts