Skip to main content

Selamat Datang di Dunia Pernikahan!

Pada bulan Januari lalu, saya melangsungkan pernikahan dengan si pacar. Mungkin di antara kalian sudah ada yang baca. Everything's went well. Sekarang kami masuk bulan ketiga pernikahan, yang berarti masih honeymoon phase, dan perjalanan masih sangat panjang.

Sama seperti pernikahan lainnya, kami sedang mengalami transisi, terutama untuk perencanaan keuangan, tempat tinggal, dan karier. Semuanya bersinggungan. Tujuan kami ya tidak long distance relationship seperti sekarang. Dia bekerja di Sumedang, saya kerja di Jakarta. Dan rumah kami di Bandung. Haha! Kami betul-betul mobile di tiga kota ini. Cinta yang sangat berat diongkos. xD

Meski transisi ini kadang bikin stres, banyak kebingungan, dan hal-hal yang belum kita ketahui jalan keluarnya, saya happily married. Saya merasa kualitas hubungan saya sama suami jauh lebih intens. Dan dia jauh lebih care--sangat. Kami bisa sharing segala kesusahan dan kegembiraan. Dia banyak sekali melakukan hal-hal manis seperti ikut menemani saat ibu saya diopname. Dan semoga saya berdampak positif pada kehidupannya ya. Haheuheu.

Melakukan kegiatan kegemaran kami: menjajal kopi.

Kehidupan perkantoran lebih challenging, selain jadi jurnalis, saya masih ngurus majalah yang adaa aja dramanya. Haha. Tapi ya diterima saja, karena saya ingin keluar dari zona nyaman, punya pengalaman lain, dan memperluas portofolio bikin majalah. Meeting yang dibatalkan secara mendadak, atau meeting yang tidak maksimal karena materi belum siap, serta berbagai telepon yang menuntut untuk segera balas, itu bikin enggak bisa mikir hal lain selain pekerjaan. Tapi pekerjaan mana sih yang enak? And I love it anyway. Writing and running a magazine is my passion. Someday I want to run my own media and take care this blog seriously. Amen to that!

Dari segala peran itu, beruntung saya masih bisa memelihara hobi yaitu eksperimen skin care. Selain buat centil-centilan, saya memang punya kebutuhan cari skin care yang tepat karena kulit (terutama wajah) bermasalah. Selain itu, saya memang suka dengan kesehatan tubuh dan produk-produk natural dan ramah lingkungan. Semua pengalaman saya ditulis di blog The Second Skin Journey. Silakan berkunjung yaa kalau kamu suka dengan skin care dan produk natural lainnya.

Di fase transisi dan kesibukan yang serba naik ke permukaan ini, saya baru tahu bahwa selain jaga kesehatan tubuh (I am still running and weight lifting two times in a week by the way) dan jaga kulit wajah, ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kesehatan area area V. We often to think that it is enough just by clean it with water. Ternyata tingkat keasaman di daerah area V harus dijaga karena kalau tidak akan terjadi keputihan, gatal-gatal, atau bau. Ugh. Dan karena daerah area V sensitif, enggak bisa pakai sabun biasa.

Penyebab tingkat keasaman bisa karena berbagai macam seperti pakaian dalam sintesis, pakai celana yang terlalu ketat sehingga terlalu lembab, pakai panty liners setiap hari, pakai pembersih yang terlalu wangi, kertas toilet yang berwarna, stres, dan pola makan yang buruk. Jadi bukan karena kita jorok atau tidak pernah membersihkan ya. Tapi karena memang ada faktor luar yang mempengaruhi itu.

Saya coba Lactacyd Herbal. Saat mau coba agak deg-degan karena kulit di sekitar area V pasti berbeda dengan kulit lainnya. Tapi karena brand internasional ini memang sudah terpercaya membersihkan daerah kewanitaan, jadi saya coba. Bedanya sama Lactacyd biasa, Lactacyd Herbal punya kandungan sirih yang pastinya enggak asing buat kita yang tinggal di Indonesia. Karena sirih udah kayak bahan yang digunakan secara turun-temurun untuk mengesatkan.

Informasi lebih lanjut klik FB/Twitter Lactacyd_ID

Awalnya pakai pembersih ini, seru juga karena biasanya saya tidak pernah meluangkan waktu khusus untuk membersihkan area V. Karena kalau pakai Lactacyd Herbal, kita harus mendiamkan selama 30 detik supaya ekstraknya meresap. Cara penggunaannya, setelah mandi, saya tuangkan di telapak tangan sebesar ibu jari, lalu saya oleskan dan gosok ke vagina seperti pakai sabun biasa. Rutinitas ini harus dijalankan at least dua kali dalam sehari.

Ini enggak hanya digunakan saat vagina terasa kotor atau bau saja, tapi bisa digunakan setiap hari karena Lactacyd Herbal udah teruji secara dermatologis. Jadi, kalau lihat dari www.lactacyd.co.id, Lactacyd Herbal udah melalui uji klinis pada manusia pada tahun 2016 lalu dan sudah melewati riset konsumen dengan blind test alias tanpa merk/brand kepada konsumen pembersih kewanitaan.

Jujur, area V lebih enak setelah pakai Lactacyd Herbal, soalnya pembersih ini punya kandungan estrak sirih, estrak susu, dan estrak mawar. Sirih bisa melindungi kita dari penyebab gatal dan bau tidak sedap, susu bisa melembutkan kulit sekitar area V, dan mawar bikin harumnya tahan lama dan bisa merawat area V.

Katanya Lactacyd Herbal juga tersedia dalam kemasan wipe tissue. Sayangnya saya belum dapet nih. Kalau ada pasti lebih seru lagi karena kadang kalau liputan kan suka pergi ke tempat-tempat yang tidak terduga dengan kondisi air yang belum tentu bersih, jadinya pengin pakai wipe tissue-nya. Oh ya, enggak disarankan wipe tissue yang buat bayi lho. Karena wipe tissue bayi kan biasanya untuk membersihkan. Malah nanti bakteri baik yang ada di area V malah jadi ikut hilang.

Tersedia dalam berbagai ukuran. 

Daerah area V yang kesat dan harum malah bisa mengurangi beban pikiran tentang hal-hal pada diri yang harus diurus. Jadinya saya bisa fokus pada pekerjaan, membelah Jakarta untuk meeting dan liputan sana-sini (duh), dan menjalani hobi. Ya kalau berdampak positif pada suami anggap saja itu bonus lah ya. Hahaha. Daaan saya menyarankan ini dipakai sama orang yang belum menikah juga. Karena kesehatan itu enggak mandang status. Kita harus sehat selalu. Dan pakai Lactacyd Herbal, kamu bisa jadi apapun yang kamu mau.

Ya, intinya sih perjalanan masih panjang. Masih banyak rencana hidup yang ingin dilaksanakan dan ingin masa transisi pernikahan ini bisa dilewatin dengan baik. Karier dalam dunia penulisan juga tentunya pengin cari yang lebih baik dan deket rumah sehingga enggak perlu LDR lagi sama suami. Hehe. Wish me luck!

Comments

Lactacyd Herbal memang oke banget. Sukses Mba :)
Nia Janiar said…
Thanks Mba ;)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…