Berhenti Insecure Karena Itu Menyebalkan

'Insecure' by Alex G. Griffiths
Merasa tidak aman pada kondisi, seseorang, atau masa depan yang tidak pasti mungkin adalah hal yang wajar. Pertama, tidak semua hal kita bisa kontrol. Kedua, memang sesuatu yang tidak pasti itu mengerikan karena kita takut jika sesuatu yang buruk terjadi. Semua menjadi wajar ketika merasa tidak aman alias insecure hanya sesekali saja. Tapi ketika sudah menjadi kebiasaan, rasanya duh, neng, I don't find it cute.

Saya adalah termasuk orang yang kadar insecure-nya tinggi. Tapi di perjalanan kehidupan, saya melihat orang yang lebih tinggi tingkatannya. Melihat orang ini, saya jadi berkaca, ternyata terlalu insecure bikin kita terlihat jelek.

Sebutlah saya dan si A ini sama-sama mengurus satu majalah. Kami komunikasi melalui e-mail untuk kirim materi majalah. Selama bekerja sama dengan dia, dia selalu mengirim foto email via WhatsApp untuk memastikan saya tahu kalau dia kirim e-mail. Jika saya tidak merespons, maka ia akan menelepon saya untuk memberitahukan seluruh isi emailnya. Dan kalau teleponnya tidak dijawab, maka ia akan terus menelepon, setidaknya dua atau tiga kali. Belum lagi saya diberi morning greetings berlanjut "tolong lakukan A, B, C" setelahnya setiap pagi. Every single damn morning.

Saya kira itu perasaan saya saja. Sampai akhirnya kami meeting dan melihat perilaku dia bersama rekan kerjanya. Dia meminta rekan kerjanya hal yang sama berkali-kali, sampai rekan kerjanya bilang, "Ya ampun, denger kok. Kan tadi udah bilang." Lalu si A menjawab, "Kan cuman memastikan."

Saya jadi menganalisis beberapa hal mengapa A demikian. Pertama, dia tidak percaya orang lain bisa mengerjakan tugasnya. Kedua, dia takut kariernya terancam karena ia baru beberapa bulan di kantornya tersebut dan lingkungannya tidak mendorong si pemula ini untuk belajar. Ketiga, dia takut dimarahi bosnya. Kalau saya sebagai partner-nya gagal, atau ia dipecat, atau dimarahi, hal tersebut adalah hal-hal yang belum tentu terjadi. Ia tidak tahu apakah nanti saya akan kerja malas-malasan sehingga membuat molor kerjanya dan ia tidak tahu apakah akan disemprot oleh atasannya atau tidak. Oleh karena itu, ia merasa tidak aman.

Kita mungkin ingin menghilangkan ketakutan hal buruk terjadi di masa depan dengan berbagai hal, seperti mempersiapkan diri untuk the worst case scenario, membuat rencana lain jika rencana sebelumnya gagal, atau berpasrah saja karena hidup berkisar tentang naik dan turun. Tapi ada juga yang ingin mengeliminasi hal buruk dengan cara membuat kondisi sekarang buruk seperti menekan orang-orang di sekeliling kita. Itu yang menurut saya tidak adil.

Melihat kelakukan A, saya jadi berkaca. Ketika saya merasa tidak aman, saya menekan orang lain untuk bekerja atau berjalan seperti yang saya rencanakan untuk menuju sebuah tempat yang saya pikir aman. Padahal ya tidak bisa begitu. Perilaku seperti justru itu memperburuk keadaan dan bikin orang lain malas bahkan hilang respect. Dan saya tidak mau seperti A. Saya tidak mau kehilangan teman-teman saya.

Buat kawan-kawan yang berencana mengembangkan insecure di dalam diri, sebaiknya hentikan. Kontrol dirimu, like really hard. Cari cara atau metode yang menurutmu cocok untuk mengeliminasi. Karena terlalu insecure tidak membuat orang lain suka, simpati, bahkan mencintaimu karenanya.

Comments

Popular Posts