Skip to main content

Review Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Mayoritas memegang peranan penting dalam sebuah situasi sosial. Suara mayoritas seringkali diamini bersama dan dijadikan panutan dalam menentukan sebuah tindakan karena dianggap objektif. Tapi bagaimana jika suara tersebut salah dan tidak masuk akal? Apakah tetap mau diamini juga?

Pertunjukkan Suksesi oleh Teater Koma sempat diberhentikan pada tahun 1990 karena, kalau kata Emha Ainan Nadjib, tema drama itu mengundang sebagai ula mara gebuk alias ular mendatangi pentungan. Kemudian ini yang menginspirasi Seno Gumira Ajidarma untuk membuat cerita pendek Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

Penerbit Jogja Bangkit Publisher, tahun 2017. Foto dokumentasi pribadi.

Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi bercerita tentang seorang wanita yang diusir dari daerahnya karena ia sering menyanyi di kamar mandi. Ia memiliki suara yang dianggap seksi sehingga dapat membangun fantasi seksual para suami di daerah tersebut. Suami-suami tersebut seringkali berkumpul ketika sang wanita beranjak menuju kamar mandi kosannya. Sambil bersembunyi di bagian belakang kamar mandi, mereka mendengarkan sang wanita bernyanyi sambil berimajinasi bahwa mereka memegangnya, memeluknya, menciumnya, atau menidurinya. Karena para suami ini terbiasa memenuhi kebutuhan seksualnya dengan mendengarkan sang wanita, mereka jadi dingin kepada istri-istri mereka. Para istri inilah yang mendesak ketua RT untuk mengusir. Bahkan ia sampai membuat peraturan dilarang menyanyi di kamar mandi.

Di buku kumpulan cerita pendek ini terdapat dua versi cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Selain versi yang dibuat Seno, terdapat versi prosa berjudul sama yang berasal dari skenario film televisi berjudul sama pula. Di prosa tersebut ditambahkan bahwa ketika wanita itu--yang diberi nama Sophie--berhenti menyanyi, para suami tetap berimajinasi ketika mendengar suara jebar-jebur. Bahkan, sebagai glorifikasi, saat Sophie sudah pindah ke kondominium yang letaknya tidak jauh dari perkampungan sebelumnya, suara Sophie bisa terdengar karena mengudara di atas langit kampung.

Pak RT digambarkan kebingungan karena ia dituntut untuk menertibkan imajinasi para suami oleh para istri. "Terlalu, pikiran sendiri ke mana-mana, orang lain yang disalahkan," kata Pak RT di halaman 47. Masih di halaman sama, Pak RT berkata pada Bu RT, "Segala sesuatu bisa disebut kebenaran, hanya jika dianut orang banyak. Sudah berapa maling sampai mati di kampung ini? Tak ada seorang pun yang dituntut ke pengadilan, karena memang sudah seharusnya."

"Dilarang bernyanyi" merupakan simbol dari "dilarang berpendapat" pada masa pemerintahan kala itu. Bahkan, dalam catatan yang dibuat oleh Seno, cerpen ini pernah terbit dengan judul yang tersensor menjadi "Kamar Mandi" saja. Entah karena judul sebelumnya kepanjangan atau istilah "dilarang menyanyi" dianggap sensitif." Saya sangat suka dengan cerpen ini karena pesan yang disampaikan begitu kuat bahwa penindasan, jika dilakukan bersama, menjadi hal yang wajar.

Selain dua cerita pendek yang berjudul sama, di buku ini terdapat 11 cerita pendek lainnya yang bisa dinikmati. Jujur saja saya kurang suka cerpen-cerpen lainnya, jika dibandingkan dua buku sebelumnya yaitu Matinya Seorang Penari Telanjang dan Saksi Mata. Dari buku ini, salah satu cerpen yang saya suka adalah Kriiiingng!!! yang bercerita tentang sebuah telepon yang tidak pernah diangkat meski penghuni gedung silih berganti. Bahkan ketika gedung sudah ditumbuhi belukar dan terlihat seperti gunung, telepon tersebut akhirnya diangkat. Saat diangkat ternyata yang menelepon adalah warga yang mengeluh karena aspirasinya tidak pernah didengar. Nice.

Kalau kalian minat, karena buku ini terbitan penerbit indie yang biasanya sudah dicari di toko buku besar, saya beli buku ini di IG Katalis Book Store. Saya pesan versi yang ditanda tangani oleh Seno dan satu paket dengan kaosnya. Tapi untuk versi ini enggak tahu masih ada apa enggak.

Meski saya tidak puas dengan cerpen lainnya, buku ini wajib untuk dibaca untuk lebih peka dan membuka mata. Tabik!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…