Merantau

Waktu saya lulus kuliah, saya bercita-cita mau kerja di Jakarta. Bukan karena ingin jadi anak gaul Jakarta, tapi karena bidang yang saya idam-idamkan berpusat di Jakarta. Kantor pusat majalah besar mayoritas di Jakarta. Kalau di Bandung, ada beberapa majalah kecil, yang mungkin akan berdampak pada pemasukan yang tidak seberapa.

Saya ingat bahwa saya ditentang kerja di luar kota. Katanya kasihan mama yang sudah tua harus ditinggalkan. Tapi sepupu saya yang muda justru mendorong saya untuk kejar cita-cita. "Bandung - Jakarta itu hanya 2 jam (teori). Setiap minggu kamu bisa pulang. Ayo, merantau, supaya kamu tahu dunia luar."



Keluarga secara tidak sengaja terbiasa "kehilangan" saya karena saya sempat bekerja di perusahaan yang mengharuskan saya stay di Jakarta selama dua minggu setiap bulan. Mungkin karena itu, ketika saya pindah ke sebuah media besar dan harus tinggal di kota ini, mereka tidak terlalu kaget. Syukurlah.

Tinggal di Jakarta tentu jadi melihat hal-hal yang biasanya saya lihat di tv saja. Saya jadi tahu namanya Taman Ismail Marzuki, Kwitang, loak di Jl. Surabaya, beberapa tempat makan legendaris, bangunan tua, sampai artis-artis layar kaca. Saya juga ketemu dengan penulis kesukaan saya--yang karyanya saya baca bertahun-tahun. Saya juga jadi tahu ganasnya ibu kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.

Hampir enam tahun di Jakarta, saya pasti pulang setiap bulan. Bahkan kadang setiap minggu. Memang berat diongkos, tapi itu baik untuk kewarasan saya bertemu dengan keluarga dan teman-teman yang dicinta. Sejak awal, saya berniat tidak akan tinggal di Jakarta selamanya. Suatu saat saya akan pulang ke Bandung.

Setelah menikah, dalam kondisi hamil, rindu rumah semakin menjadi. Saya ingin berada di tempat yang nyaman, yang tidak perlu saya curigai apakah makanan yang saya makan sehat atau tidak. Yang tinggal minta tolong orang kalau kondisi saya drop dan butuh bantuan--kebanyakan beliin makanan. Bercengkrama dengan kucing kesayangan, bikin kue sama mama, ngobrol dengan sepupu dan keponakan di ruang tengah, dan hang out sama sahabat. Ah. Tidak perlu sendiri di akhir pekan seperti ini. Walaupun kadang suami ada di Jakarta, rasanya tidak lengkap kalau kami tidak kumpul satu keluarga.

Kalau anak ini lahir, saya akan menyuruh dia merantau saat kerja. Saya ingin dia berkembang, melihat dunia luar (karena saya banyaaak melihat hal yang tidak pernah saya lihat dan banyak pengalaman baru), mandiri, dan tahu rasanya rindu ingin pulang..

Comments

Popular Posts