Skip to main content

Sembilan Minggu Dikandung Badan

Pablo Iranzo: Epic Pukes: Holiday’s
Empat bulan pernikahan kami, saya dan suami diberi sebuah tanggung jawab yang besar yaitu adanya kehadiran seorang bayi di perut. Kehadirannya sudah saya curigai saat jadwal menstruasi saya terlambat--hal yang jarang terjadi. Karena saya berniat olahraga dan ngegym tapi takut kalau ternyata hamil, akhirnya saya memutuskan untuk test pack. Dan, ya, ada dua garis di test pack saya. Positif.

Respon pertama saya: "waduh!" Lah, kenapa waduh ya? Toh ada bapaknya. Respon mengaduh muncul karena saat itu saya sedang berada di kosan, sendirian, tanpa suami dan teman. Bukannya bahagia, respon saya cenderung bingung harus bagaimana setelahnya. Ke dokter kah? Test pack dua kali karena ada yang namanya false positive kah? Kasih tahu suaminya kapan ya? Kasih tahu keluarganya kapan ya? Walah, ribet.

Akhirnya saya tanya ke sebuah grup WhatsApp yang isinya teman-teman yang mayoritas sudah pada berkeluarga. Setelah memberi selamat, mereka menyuruh saya untuk test pack lagi. Kemudian atasan saya juga menyuruh saya agar segera pergi ke dokter. "Tapi kata internet, jangan langsung ke dokter. Biasanya mereka disuruh datang lagi dua minggu kemudian karena isinya belum kelihatan saat USG," kata saya. Tapi atasan saya menyuruh segera.

Saya juga kasih tahu suami lewat video call. Dia senang sekali. Karena memang dari awal dia ingin segera punya anak sih dan saya yang bersikukuh untuk menunda. Hehe. Saya bilang saya mau test pack lagi saat weekend yaitu saat bareng sama suami. Test pack kedua pun menunjukkan hasilnya positif. Karena dorongan saudara, akhirnya kami periksa ke dokter di RSIA Limijati. Saat itu hari Sabtu tanggal 13 Mei 2017.

Ada sebuah kantung yang terlihat saat USG pertama. Setelah tanya tanggal menstruasi terakhir, dokter bilang usia kandungan saya sudah lima minggu. Wah, verified! Kalau dokter sudah bilang positif, saya jadi bisa woro-woro dengan lega ke teman-teman. Setelah keluar dari ruangan dokter, saya dikasih multivitamin, penguat rahim, serta paspor ibu yang isinya bisa dilihat perjalanan anak bayi ini dari minggu ke minggu. Hehe, lucu.

Atasan saya bilang kalau di bulan kedua, nanti akan terlihat detak jantung anaknya. "Kayak bintang kejora," katanya. Wah, saya jadi penasaran. Saya bener-bener menunggu momen kontrol kedua. Dan benar saja, dokter memberi tanda garis biru merah yang bergerak-gerak. "Ini jantungnya, masih kecil," katanya dokter yang nada bicaranya seperti anak kecil saat dia ngomong sama saya. Wah, saya jadi geli gemes sendiri. Kok bisa ada kehidupan di perut? Ajaib sekali.

Saya merasakan hal-hal yang dirasakan ibu hamil pada umumnya: mual. Aduh, rasanya enggak enak sekali, seperti mau sakit. Badan juga enggak enak, seperti ada sesuatu yang lain di dalam diri (ya iyalah) tapi enggak kunjung sembuh. Karena perasaan enggak enak itu, saya jadi sebal sama yang rese-rese di luar diri saya, atau hal-hal yang hanya bisa menambah beban saja. Haha. Saya juga jadi sensitif sama bau-bauan. Bau badan suami, bau perfume, bau got (saya jadi semakin sadar kalau Jakarta adalah kota yang betul-betul bau), bau kayu basah tukang pecel lele.. yek!

Banyak orang yang menyarankan saya harus makan makanan yang sehat, apalagi di trisemester pertama karena di situ masa pertumbuhan otak, saraf, dan organ vital lainnya. Nah ini dia yang agak PR. Karena saya anak kosan, ya saya seada-adanya makan jajanan yang ada, tentunya saya pilih yang bersih dan tidak mengandung vetsin. Kalau bisa makan di warteg terus yang rasanya mendekati masakan rumahan. Meskipun demikian, jujur saja rasa cemas apakah anak bayi mendapat yang nutrisi yang tepat atau tidak itu ada. :( Orang-orang kantor menyarankan agar saya tidak terlalu cemas. Duh, Nak, semoga kamu tumbuh dengan sempurna.

Mencari makan pun menjadi hal yang wajib. Kalau dulu saya bisa tidak makan malam atau tidak sarapan, sekarang tidak bisa. Yang ada malah semakin lapar dan semakin mual. Jadi sepulang kantor atau di pagi hari, saya sudah harus mikir harus makan apa. Kondisi ini sempat bikin sedih karena saya betul-betul rindu rumah. Kalau di rumah mau makan apa tinggal ambil di dapur.

Kalau kata teman-teman, kehamilan saya ini tidak rewel. Saya tidak muntah, tidak ada morning sick, dan tidak ngidam. Bahkan kayaknya di bulan pertama malah saya bawa naik TransJakarta, gojek, liput Ahok di Balai Kota, jalan kaki di atas jembatan-jembatan. Ya ampun, Nak, semoga kau sehat selalu.

Di sini saya jadi banyak mikir. Hamil bisa jadi dua hal. Pertama, kehamilan adalah sebuah jeda dari kehidupan. Yang tadinya sibuk beraktivitas, jadi dikurangi, bahkan kalau bisa ditiadakan--terutama yang berisiko tinggi. Yang tadinya bisa traveling ala backpacker atau melakukan kegiatan ekstrim, tentu tidak bisa sesering itu atau malah jadi tidak sama sekali. Yang tadinya bisa hambur uang buat diri sendiri, sekarang jadi banyak menabung untuk si kecil nanti. Yang tadinya bisa makan sushi atau sate atau apapun yang menggunakan MSG, sekarang dihindari.

Atau bisa jadi poin kedua yaitu hamil adalah sebuah perjalanan baru. Perjalanan menjadi dewasa dan bertanggung jawab. Anak bukan boneka yang kalau bosan bisa dibuang. Anak juga harus dijaga perkembangan tubuhnya, kognisinya, jiwanya. Sekarang saya jadi tahu, keputusan untuk hamil atau punya anak adalah sebuah tanggung jawab besar. Maka mengerikan jika orang menikah hanya untuk melegalkan seks, hanya untuk bisa berdua, hanya agar tidak dosa, atau hanya karena tuntutan masyarakat. Karena di baliknya ada tanggung jawab yang sangat besar yang berlangsung seumur hidup.

Sejujurnya saya ada perasaan takut kehidupan saya berakhir di sini. Dari Nia yang aktif, lalu menjadi seorang ibu yang menghilangkan semua hobi dan passion karena sibuk mengasuh anak. Namun barangkali untuk bisa maju ke fase kehidupan selanjutnya, saya harus mengambil jeda. Lagipula lebih sulit untuk saya membayangkan jika sendiri dan living free selamanya.

Halo, adik bayi di dalam perut. Mari sekarang kita mulai perjalanan kita. Semoga selamat sampai kelahiran.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…