Skip to main content

I Know I'm OK

Sumber: https://www.pinterest.com/jwblank/comic-art/
Belakangan media ramai dengan kasus bullying, spesifiknya adalah kasus seorang mahasiswa berkebutuhan khusus yang ditindas oleh teman-teman mahasiswanya dan kasus seorang anak SMP yang ditindas oleh sekelompok orang di mall yang sepi. Bagi saya keduanya menyebalkan dan pengecut karena sok merasa superior dan beraninya menindas orang lain yang dianggap lemah.

Bullying bisa terjadi di mana saja. Kalau yang saya ketahui biasanya di sekolah. Saat sekolah dulu, banyak cerita bahwa kakak kelas sering bully adik kelas. Alasannya macam-macam dan mayoritas cheesy seperti rebutan laki-laki, adik kelas lebih cantik atau lebih gaya, atau adik kelas culun dan tidak macho. Yek.

Saya juga korban bully yaitu sering diejek karena warna kulit saya gelap dibandingkan teman-teman. Ejekan yang konsisten saat sekolah membuat kepercayaan diri saya turun. Belum lagi kurangnya apresiasi di rumah dan sering dimarahi (yang kini menurut saya persoalannya sebenarnya tidak penting tapi kakak-kakak sepupu tampaknya hanya ingin melampiaskan emosi saja) juga membuat self-esteem saya turun. Sehingga saya pernah dalam fase penuh amarah dan benci diri sendiri.

Ada cara instan untuk menaikkan kepercayaan diri dan self-esteem yaitu mengerdilkan dengan orang lain. Kadang kita cemburu dengan hal-hal yang kita tidak dapatkan seperti yang mereka dapatkan, namun kita berkata dalam hati "he is not that great", "she's just not beautiful she's just an attention whore", "they might be charming but they are not smart", dan lainnya. Kemudian apa bedanya kita dengan pelaku bully di atas yang sama-sama mengerdilkan orang lain? Bedanya, pelaku bully mengekpresikannya dengan kata-kata dan tindakan kasar. Kita tidak ingin menjadi seseorang yang kita benci. Iya, kan?

Kalau mau menaikkan kepercayaan diri dan self-esteem dengan cara yang lebih memakan waktu namun menyehatkan mental kita, kita bisa melakukan afirmasi positif yaitu memberikan sugesti positif terhadap diri. Ketimbang menjelek-jelekan orang lain, kita bisa memberi sugesti "I am the architect of my life; I build its foundation and choose its contents", "I forgive those who have harmed me in my past and peacefully detach from them", atau "I am blessed with an incredible family and wonderful friends".

Kata-kata di atas mungkin tampak manis sekaligus naif. Tapi, seperti bully yang penuh dengan afirmasi negatif, afirmasi positif seharusnya bisa dapat menaikkan diri ini kalau dilakukan secara konsisten. Karena cara kerja bully pun demikian.

Susah ya? Sebal ya? Ayo, bareng sama-sama saya melakukan afirmasi positif ini. :) Saya juga terus melakukannya, apalagi saat pikiran-pikiran negatif itu datang. Satu hal yang pasti: saya tidak mau memelihara monster di bawah tempat tidur yang bisa datang kapan saja setiap waktu.

Comments

Fiberti said…
Bullying memang merusak. Anak2 kdg bisa begitu kejam terima kasih tips afirmasinya mak. Pantas dishare
Nia Janiar said…
Sama-sama! :) :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…