Klimaks Bersama Agus Suwage

Menerima ajakan teman saya dengan motor bututnya (maaf, Andika, saya adalah penebeng kurang ajar. Tapi, walaupun saya tidak punya motor, perlu saya akui bahwa motor elu tuh bener-bener ..., terutama skill memboncengi orang yang ...) ke Selasar Sunaryo untuk melihat sebuah grand opening pameran dengan tajuk "Still Crazy After All These Years" adalah sebuah keputusan yang sangat tepat.

Bertempat di Dago Pakar, Selasar Sunaryo yang luas dan memiliki kapasitas menampung tamu yang cukup besar itu dibuat padat. Tenda dan tempat duduk yang disediakan sudah jelas tidak bisa menampung pengunjung yang datang. Ratusan, saya perkirakan. Sambil menunggu Agus Suwage - sang seniman - mereka memilih berdiri atau duduk-duduk di sudut-sudut Selasar Sunaryo.

Setelah sambutan dari pemilik selasar, Sunaryo, datanglah Agus Suwage. Ia mengucapkan beberapa patah kata yang tidak saya dengar karena suasana disekitar saya yang hiruk pikuk dan saya pun mengobrol dengan Andika. Lalu datanglah Butet Kertarajasa yang memberikan sambutan dengan gaya teatrikal dan sambutannya ditutup oleh dirinya sendiri dengan cara mematikan api diatas obor dengan cara memukul api itu dengan topi (tidak berhasil), meniup (tidak berhasil lagi), kemudian memukul api itu terus-terusan sampai mati (akhirnya berhasil).

Maka diajaklah kami oleh pembawa acara untuk masuk ke dalam galeri. Begitu saya melihat lukisan pertama, saya langsung tahu bahwa saya tengah berada di sebuah tempat yang tepat untuk memenuhi kebutuhan akan seni. Agus Suwage, saya jatuh cinta dengan karyanya di lukisan pertama, lukisan kedua, dan seterusnya. Lalu saya jatuh cinta dengan karyanya di instalasi pertama, instalasi kedua, dan seterusnya.



Manusia sebagai makhluk primitif?

Dualitas?


Keberangkatan
sculptures, 30 pieces
backdrop: coral on canvas
1998
Pertanyaannya adalah: Keberangkatan menuju mana?


Artist's Plan
Resin, plastic, acrylic
2005


Passion Play
steel bars + 6 pieces, life-size sculptures,
polyester resin, polyurethane, acrylic paint, iron
2009


Arthalita? ;)




Artist's Smile

Doggy Style

Double Happiness
(ada sebuah barang yang disembunyikan di balik badan mereka.
Penasaran? Datangi pamerannya!)


Karya lain Agus Suwage yang mungkin familiar di mata pembaca adalah sebuah lukisan yang dijadikan sampul buku Ayu Utami yang berjudul Saman.

Walaupun saya tidak ahli dalam bidang seni, biarkanlah saya memberikan komentar layaknya seorang penikmat. Karya-karya Agus Suwage banyak memberikan kesan sinis, bahkan terang-terangan menunjukkan rasa sakit, rasa muak, rasa jijik, dan lainnya. Namun yang saya sukai dari Agus Suwage ini adalah ia seolah-olah membuat karyanya dalam keadaan diambang batas sadar. Ketika saya melihat lukisan-lukisannya, saya merasa saya hanya akan bisa melihat hal ini jika saya bermimpi - terutama mimpi buruk yang saya alami.

Sebenarnya ada sebuah instalasi yang ketika Andika melihatnya, ia mengingatkan saya bahwa instalasi yang Agus Suwage buat ini sangat menggambarkan mimpi yang pernah saya alami. Tulisan ini pernah dimuat di jurnal Reading Lights Writer's Circle dengan judul mimpi Kereta Manusia. Instalasinya betul-betul menggambarkan! Sayang sekali, baterai kamera saya habis dan saya tidak bisa memotretnya dan berbagi disini.

Pameran Agus Suwage itu ibarat makan makanan parasmanan di hotel mewah dengan kualitas terjamin: kenyang namun tidak membuat eneg. Orang akan terus mengingatnya sebagai pengalaman yang menyenangkan. Hari itu hari Jumat, malam saya ditutupi dengan klimaks.

Comments

Nia said…
Informasi dari teman saya bahwa:

"bukannya foto para terdakwa korupsi, tapi melainkan orang2 dekat nya si agus suwage. entah sahabat atau kolektor setianya"

Begitulah.

Popular Posts