Pengalaman Bedah Benjolan Pakai BPJS


Pada sekitar bulan November-Desember 2025, saya merasa ada jerawat di leher samping saya. Awalnya saya abaikan, karena biasanya hilang sendiri. Lama-lama benjolan tersebut membesar. Tetap saya biarkan karena (lagi-lagi) saya merasa akan hilang sendiri.

Hingga di bulan Januari, benjolan yang sudah besar itu terasa makin membesar. "Wah, gak beres nih," kata saya dalam hati. Akhirnya saya ke faskes 1, dokter di sana bertanya apakah di rumah ada yang sakit paru, karena takutnya itu infeksi kelenjar getah bening. Saya jawab tidak ada. Kemudian dokter kasih antibiotik dan radang untuk diminum selama 3 hari. Kalau tidak mengecil, saya harus balik lagi ke faskes tersebut.

Betul saja, benjolan tersebut enggak mengecil. Dokter di faskes 1 pun merujuk saya untuk cek ke spesialis bedah. Saya pun setuju.

Konsultasi dengan spesialis bedah

Saya datang ke RS Si**m (nggak akan disebut ya RS-nya apa karena privasi, tapi silakan ditebak-tebak saja), dan bertemu dengan dokter spesialis bedah. Saat konsul, saya mengutarakan keluhan saya. Dokter pun mengecek benjolan tersebut dengan cara dipegang dan dipencet. Ternyata keluar nanah dari benjolan tersebut. Dokter pun bilang benjolan ini adalah jerawat karena kurang higienis. 

Walah tengsin juga dengernya, mungkin bersihin lehernya kurang teliti kali yaa. Hehe.

Mendengar hal itu, saya merasa lega sih, karena saya lebih takut kalau didiagnosis tumor, kanker, atau infeksi kelenjar getah bening karena TB (takut enggak boleh masuk kantor). Dokter menyarankan untuk dilakukan dibedah saja, saya pun setuju karena udah nggak mau minum obat-obatan lagi.

Saya dijadwalkan untuk bedah di seminggu sejak tanggal konsultasi. Sehari sebelum bedah dilakukan, saya harus datang ke rumah sakit untuk tes laboratorium untuk tahu jumlah darahnya (eritrosi, leukosit, trombosit), masa pembekukan darahnya, dan lainnya. Jadi dari hasil tersebut, pihak RS tahu apakah saya eligible untuk operasi atau enggak.

Nah, kalau di RS Si**m itu kita harus stay selama dua jam untuk nunggu labnya. Karena, jika hasilnya OK, maka pihak rumah sakit akan langsung urus rawat inapnya dan kita harus banyak tanda tangan. Jadi, jangan langsung pulang ya—apalagi kalau rumahnya jauh.

Suster pun memberi tahu bahwa di hari operasi, saya harus datang pukul 7 pagi meski pembedahan akan dilakukan sore hari sekitar pukul 17.30. Suster juga memberi tahu kalau saya enggak perlu puasa karena hanya dibius lokal.

Hari pembedahan

Keesokan harinya, saya sampai di RS pukul 6.30 dan langsung ambil antrean rawat inap. Setelah berkas saya dicek oleh resepsionis, dia bilang kamar kelas 1 sedang penuh, dan kemungkinan turun kelas. "Gak masalah, yang penting ini selesai. Lagian gak nginep juga," pikir saya. Setelah setuju, saya diminta menunggu, sementara suster akan mencarikan kamarnya.

Waktu nunggunya itu sekitar 2 jam. Enggak nyangka selama itu sih, hehe. Kirain cuman setengah jam.

Saya baru masuk ke kamar sekitar jam 9 pagi. Di sana disambut oleh suster yang mengecek tekanan darah saya, tanya-tanya riwayat kesehatan apakah sudah pernah dibedah, kapan dan di mana bedah tersebut dilakukan, dan lainnya. Saya juga diminta mandi pakai sabun khusus, dan memakai baju operasi (yang bagian punggungnya bolong itu).

Nah, karena saya baru tahu kalau bedah minor tetep harus mandi, jadi saya nggak bawa handuk. Untungnya pihak RS menyediakan. Tapii, just in case tidak ada handuk, kamu bisa bawa handuk sendiri dari rumah ya buat jaga-jaga.

Di siang harinya, suster memberikan makan siang. Karena sebelumnya dibilang tidak perlu puasa, maka saya makan saja. Tapi ketika suster tersebut datang di siang hari untuk mengecek tekanan darah dan tahu saya baru akan mau dibedah, dia kaget karena saya kok makan siang. Setelah dijelaskan kalau ini bedah minor, dia enggak jadi waswas. Wkwk.



Ini agak aneh yak, kirain mereka semua tahu operasi apa yang akan saya jalankan, karena kan harusnya tercatat ya di data pasien?

Anyways, untungnya di RS ini ada WiFi dan casan, jadi saya enggak bosen-bosen amat menunggu sampai sore. Sekitar pukul 15.30, saya dibawa pakai kursi roda ke ruang operasi. "Wah, ternyata lebih cepet nih," pikir saya. Ternyata, di ruang transisi, saya masih menunggu lagi—apalagi di sebelah saya ada pasien yang sepertinya ada benjolan entah di payudara atau ketiaknya (karena dokter meminta bantuan suster perempuan untuk cek), dan pasien tersebut yang dioperasi duluan daripada saya.

Kemudian sekitar pukul 17.30an, baru deh dokter mendatangi saya. Saya kira saya bakal dibawa ke ruangan khusus seperti waktu SC dulu, tapi ternyata operasi minor ini bisa dilakukan di ruang transisi ya.

Dokter meminta saya untuk memposisikan miring kepala saya, lalu mereka menutup kepala saya dengan kain. Operasi pun dimulai.

Rasanya dioperasi minor

Sebelum operasi dilakukan, mereka (dokter dan 2 petugas medis lainnya) menyemprotkan cairan dingin ke leher. Mungkin alkohol ya supaya steril. Kemudian dokter menyuntikkan bius ke benjolan. Rasanya mayan sakit, terutama saat cairannya masuk.

Setelah baal, dokter membedah bejolan tersebut dan mengambil sesuatu di dalamnya. Setelah selesai, ia melaser luka saya. Nah, pas bagian ini, sepertinya ada bagian kulit yang tidak kena bius, jadi rasanya sakit. Saya bilang ke dokter kalau sakit, akhirnya dia menyuntikkan lagi biusnya.

Lucunya, saat dilaser, saya merasa otot bahu saya bergerak sendiri. Dokter menyangka saya kaget dengar suara laser, tapi saya bilang itu otomatis. Dokter bilang itu reaksi otot karena otot leher dan bahu itu nyambung.

Kemudian dokter pun menjahit luka tersebut. Dari mana tahu sedang menjahit? Karena terdengar suara ia memotong benangnya. Hehe. Dan operasi yang berlangsung sekitar 20 menit itu pun selesai.

Setelah selesai, saya dibawa balik ke ruangan. Sejujurnya, udah nggak sabar untuk pulang, karena bosan juga ya di rumah sakit. Tapi saya harus menunggu persetujuan dokter untuk pulang berikut obat-obatannya. Dan ini memakan waktu 1,5 jam. ðŸ˜®‍💨

Saya diberi obat antibiotik, antinyeri, dan obat lambung. Suster pun bilang kalau perbannya tidak boleh basah. Kalau ada darah yang rembes, bisa ganti di klinik terdekat.

Masa penyembuhan

Beberapa jam setelah operasi, baru deh terasa nyeri. Memposisikan kepala untuk tidur aja lumayan sakit. Akhirnya saya makan obat antinyeri, baru deh terasa lebih baik.

Beberapa hari rutin minum obat yang diresepkan, ada keluhan lain yang muncul, yaitu sakit perut! Bukan sakit perut mules ya, tapi sakit lambung gitu. Nah, setelah browsing sendiri, ternyata efek samping antinyeri-nya memang bisa mengakibatkan kenaikan asam lambung.

Akhirnya saya stop minum obat antinyeri (dan karena lukanya udah enggak terasa sakit) setelah 2-3 hari mengkonsumsinya. Namun sakit perutnya masih terus berlanjut sampai jadwal kontrol ke dokter datang.

Saat kontrol, dokter bilang nyeri lambung itu bisa disebabkan dari antibiotiknya, karena emang beberapa orang kena maag-nya ketika minum obat tersebut. Oalah pantes aja sakit perutnya masih terus berlangsung meski antinyerinya sudah dihentikan beberapa hari lalu, soalnya antibiotik tetap harus diminum sampai habis.

Dokter pun meresepkan obat untuk lambung lagi, dan diberi salep untuk luka saya yang harus dioleskan selama seminggu ke depan.

Oya, lukanya sudah kering, lho! Hanya masih agak linu aja kalau dipencet.

Kesimpulan

Saya merasa beruntung banget operasi saya bisa dicover sepenuhnya oleh BPJS. Kalau tanpa BPJS, nggak kebayang deh harus menanggung biaya itu.

Pengalaman one day care di RS itu juga cukup menyenangkan, cuman ya memang harus sabar dengan fase menunggunya.

Semoga tidak ada benjolan-benjolan lagi ya, dan supaya BPJS ini tidak usah dipakai lagi, biar iuran saya untuk membantu orang lain saja. ðŸ˜Š

Nia Nia

Perempuan yang senang menulis, baik buat hobi atau kerjaan. Percaya bahwa tulisan dari hati akan ke hati lagi.

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Previous Post Next Post

Contact Form