Guratan Sejarah Melalui Cihapit

Mungkin keluarga Simangunsong--yang mencetak Dewi Lestari, Arina Mocca, atau Imelda Rosalin--pernah memiliki kesan tersendiri pada pasar tradisional Cihapit karena menghabiskan masa kecilnya di sana. Ada keluarga lain yang juga makan nasi rames Cihapit, lotek di gang dekat masjid, atau juga makan kupat tahu Galunggung yang masih berkiprah hingga sekarang. Lorong-lorong bisu yang bertahun-tahun terbangun ini menjadi saksi bisu orang-orang Bandung yang tumbuh dan berkembang.



Sejarah Bandung tidak hanya kawasan Braga atau Asia-Afrika yang ramai diceritakan karena penuh bangunan tua. Kawasan Cihapit dan rumah saya (Taman Pramuka) juga memiliki nilai sejarah. Bangunan tuanya berupa rumah-rumah, bukan gedung megah layaknya di daerah Alun-Alun Bandung. Namun siapa sangka rumah-rumah itu juga menyimpan cerita yang lebih mengerikan.

Bang Ridwan--si pencerita sejarah Bandung dari Komunitas Aleut!-- mengatakan bahwa Cihapit dulu dikenal sebagai Bloemenkamp. Saat penjajahan Jepang, wilayah ini dikelilingi kawat karena rumah-rumah di sini dijadikan kamp konsentrasi orang Eropa yang ditahan dan dikumpulkan. Satu rumah bisa mencapai 20 keluarga. Jika mereka keluar, bisa ditembak mati oleh warga Jepang, sehingga wilayah ini (juga Jalan Cibeunying dan Jalan Mangga dikenal sebagai rumah hantu). Karena untuk anak, wanita, dan pria itu berbeda, maka warga menciptakan gorong-gorong bawah tanah agar bisa saling berkomunikasi.

Ini yang saya dapat informasinya mengenai Bloemenkamp dan sekitarnya. Foto dan tulisan dari Komunitas Aleut!

Kawasan Cihapit pernah memiliki masa-masa kelam, tepatnya ketika kawasan tersebut difungsikan sebagai salah satu lokasi Interniran terbesar di Bandung. Dikenal juga sebagai kamp Bunsho II, Kamp Tjiapit ditujukan untuk menampung tawanan wanita, orang-orang tua dan anak-anak Belanda. Pada saat dibuka pada 17 November 1942 penghuninya sekitar 14.000 orang, dan ketika ditutup pada Desember 1944 penghuninya sekitar 10.000 orang dipindahkan ke berbagai kamp di Jakarta, Bogor dan Jawa tengah. Tercatat sekitar 243 korban pernah meninggal di Kamp ini.

Dalam kamp ini tawanan menempati rumah-rumah dan bangunan lain yang dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan gedek (bilik). Komandan Kamp antara lain Mr. Boenjamin, Mr. Arsad, Kapten Susumu Suzuki, Letnan Ryoichi Takahashi. Kepala penjaga: Muroi, Otsuka, Hashimoto, Nada, Yashuda, Shirakawa. Pengawasan kamp dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam Heiho.

Pada bulan Agustus 1943 di Bagian barat dari kawasan ini didirikan kamp baru yang disebut Bloemenkamp.
Sedangkan foto-foto di bawah adalah kawasan Cihapit sekarang. Selain merupakan bagian sejarah Bandung, Cihapit juga bagian dari sejarah saya karena ia berkontribusi sebagai tempat yang sering saya kunjungi ketika saya kecil. Tidak ada perubahan yang signifikan, hanya keadaan pasar yang lebih teratur oleh kios-kios baru serta kebersihan yang terbilang baik untuk sebuah pasar.



Dari peta cokelat di atas, rumah saya berada di sekitaran Oranje Plein (yang juga disebut Kapiteinhill). Informasi lebihnya belum saya dapatkan mengenai kawasan ini. Namun kemarin ada bocoran dari Bang Ridwan bahwa Jalan Riau, jalan yang panjang yang membelah peta tersebut, merupakan perbatasan Bandung. Jadi, tulisan Luchtdoel itu (mungkin kisaran Gandapura) adalah Bandung. Sedangkan Oranje Plein ke Houtman Straat adalah luar kota Bandung.

Biasanya pembangunan villa dilakukan di kawasan luar kota Bandung. Jadi, rumah saya dulu itu merupakan sebuah villa--kawasan elit dari dulu hingga sekarang. Hm, bukan elit kali ya ... karena kalau mendengar kata elit, saya membayangkan kawasan Kemang atau Menteng Jakarta. Karena bentuk dari rupa kawasan Taman Pramuka jauh dari itu. Namun beruntung betul bisa tinggal di rumah ini karena saya yakin, rumah saya sendiri pun memiliki banyak sejarah yang belum terkuak.

Comments

Popular Posts