Skip to main content

Dari Taman Terbitlah Harapan

Saya pikir, waktu terbaik dalam satu hari adalah saat sore, kisaran pukul 15.30 hingga 16.30. Saat itu matahari sedang emas-emasnya. Golden hour ini pun ditunggu-tunggu oleh para fotografer karena ini dapat membuat foto semakin bagus. Suasana pun tampak hangat dan santai. Paling enak dihabiskan bersama orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, sahabat, atau pasangan.

Minggu ini saya dapat sore terbaik. Saya menghabiskannya dengan pasangan saya yang belum tentu bisa ditemui saban akhir pekan karena jarak yang memisahkan (duh!). Seiring dengan naiknya walikota Bandung yang baru bernama Ridwan Kamil, taman-taman di ibukota Jawa Barat ini diperbaiki--diusahakan agar kembali pada nama panggilannya yaitu 'kota kembang'. Salah satu taman yang paling terlihat perubahannya adalah Taman Pustaka Bunga (Kandaga Puspa) yang terletak di sebelah SMA 20. Bagaimana tidak mencolok, taman ini penuh bunga warna-warni.

Saya dan pasangan, sebut namanya Anto (padahal emang iya), berjalan kaki dari rumah menuju taman-taman yang untungnya berada tidak jauh dari rumah. Pertama kami ke Taman Cikapayang, tapi doi kurang tertarik karena ingin buru-buru melihat taman yang sudah tersohor hingga kota asalnya. Haha. Awalnya dia menganggap Taman Cikapayang ini biasa saja, tapi saat sudah agak jauh, barulah ia berkata, "Ternyata bagus juga ya." Huhu.

Tidak jauh dari Taman Cikapayang, akhirnya kami menginjak ke Taman Pustaka Bunga. Walaupun dipagar dan memiliki pintu masuk, untungnya pengunjung bisa masuk tanpa dipungut biaya. Hanya tidak boleh ada pedagang dan bawa binatang saja. Jadi di dalamnya hampir tidak ada sampah dan semua resik tertata. Apalagi di sini banyak tanaman hias seperti Anggrek. Juga pohon yang melingkar-melingkar itu lho, yang seperti bisa dianyam. Gak tahu namanya.

Bukaan mau kasih liat yang namanya Anto. Tapi mau kasih liat tanaman yang seperti anyaman itu lho. ;D

Bunga Anggrek

Bayangan di atas bebungaan.

Jawer Kotok

Berlatarbelakangkan bunga. Haha.

Setelah melalui perjalanan yang panas dan bikin Anto cranky beberapa saat, ia senang sekali begitu masuk ke sini. Saya juga. Di sini banyak orang yang foto-foto atau menikmati sore. Taman kembali berfungsi sebagai ruang publik yang memberikan jeda pada manusia dari rutinitas. Sebagai ruang terbuka hijau, taman kembali memberikan kesegaran pikiran.

Kalau tidak salah, taman ini dikelola oleh komunitas bunga atau tanaman yang ada di Bandung. Di pintu masuk juga terdapat rumah semi permanen yang berfungsi sebagai toko dan tempat informasi. Di jejaring sosial Facebook, Ridwan Kamil pernah dikritik bahwa ia menggunakan tanaman yang sulit diurus dan butuh perawatan lebih. Dengan ada pengurus tetap yang tampak memiliki jam operasional tersebut, mudah-mudahan semua isi di Taman Pustaka Bunga indah dan terawat seterusnya.

Setelah dari sana, kami pergi ke Taman Cempaka. Kini, taman ini juga dikenal sebagai Taman Fotografi. Oh ya, selain fotografi, Ridwan Kamil memberikan nama secara tematik pada taman lain yaitu Taman Jomblo yang terletak di bawah flyover Pasupati. Saya pikir mungkin ini cara Ridwan Kamil untuk mendekati anak muda Bandung dengan mengangkat tema sensitif sekaligus tabu (haha) bagi anak muda yaitu kejombloan. Balik lagi ke Taman Cempaka, di taman ini terdapat foto-foto yang dibingkai. Selain itu di sini ada dua buah ayunan dan satu buah besi berkelindan untuk dipanjat.

Terobosan cahaya matahari.

Sayangnya di Taman Cempaka ini tidak bersih. Banyak sampah yang berserakan. Padahal tanpa bebungaan pun, taman ini sudah cantik karena dinaungi oleh pohon besar sekali yang terletak di dalam taman. Kadang pada saat kemarau, pohon itu meranggas dan daun keringnya bikin taman ini semakin elok saja. Apalagi kalau hari menjelang malam dan lampu jalan mulai menyala.

Semoga taman ini bisa menjadi simbol harapan bahwa Bandung bisa berubah ke arah yang lebih baik. Semoga walikota sekarang betulan nyaah alias sayang terhadap Bandung. Dan selain nilai estetika, semoga infrastruktur dan tata kota Bandung juga diperbaiki. Karena kota cantik ini pernah babak belur akibat salah asuh seorang walikota yang kini menjadi tersangka.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…