Skip to main content

Merenda Cikapundung dan Pemukiman Padat

Pemanfaatan Cikapundung menjadi tema ngaleut Minggu (20/1) yang cerah itu. Berkumpul di Jl. Sumur Bandung, kami berjalan melewati Babakan Siliwangi yang kini sedang terancam keberadaannya sebagai hutan kota yang akan hilang karena rencana komersialisasi lahan. Awalnya Babakan Siliwangi disebut Lebak Gede ("lebak" artinya lembah) yang daerahnya membentang hingga kampus UNPAD di Jl. Dipatiukur. Di arah utara dari Lebak Gede, terdapat Villa Mei Ling yang merupakan saksi sejarah karena beberapa kali pernah diadakan rapat penyerahan dari Belanda ke Jepang di sana.

Nama Babakan Siliwangi mulai muncul di tahun 1950an karena munculnya sanggar-sanggar film dan teater. Dari sanggar teater tersebut, terdapat sebuah sosok yang fenomenal yaitu Nurnaningsih karena ia merupakan artis Indonesia yang telanjang di depan kamera. Jika kalian penasaran, filmnya berjudul Harimau Tjampa. Kembali kasih.

Di bawah pohon Ki Hujan, Bang Ridwan menjelaskan bahwa Ratu Juliana, ratu Belanda kala itu, ingin membuat tempat peristirahatan di sebelah selatan Lebak Gede pada tahun 1929 namun pembangunan tempat peristirahatan itu tidak pernah terjadi. Alih-alih tempat peristirahatan, mereka membangun sebuah taman bernama Jubileum Park. Mengacu pada konsep Jawa, nama taman ini diubah menjadi Taman Sari atau Kebun Binatang yang dibangun tahun 1930.

Tidak jauh dari Sabuga, terdapat pintu air Lebak Gede yang merupakan saksi sejarah dimana Bupati Bandung kala itu, Martanegara, membuat pintu air dan kanal untuk membagi air ke beberapa daerah di Bandung dan aliran barunya disebut sungai Cikapayang. Pada mulanya kanal-kanal ini berguna untuk mendistribusikan air sungai Cikapundung untuk taman-taman yang ada di Merdeka, Cilaki, dan Taman Ganesha. Pendistribusian air sungai yang terbentuk dari aliran lava Gunung Tangkuban Perahu ini membuat air tidak menumpuk di satu sungai dan meluap. Sayangnya, jalan menuju kanal yang ada di Lebak Gede ini tertutup sampah sehingga aliran airnya tidak terlalu besar.

Kanal

Pintu air

Cikapundung sempat dijadikan tempat wisata bule-bule berpose di atas badan sungai Cikapundung tahun 1930an

Dari seberang sungai, kami ditunjukkan sebuah air terjun kecil yang konon dulu tingginya mencapai 20 meter. Pembabatan pohon-pohon di daerah hulu membuat tanah atau lumpur terbawa air hujan dan ikut aliran sungai yang kini kecoklatan dan membikin sungai Cikapundung mengalami pendangkalan. Bisa dilihat air terjun di bawah ini mencapai hanya sekitar 10 meter saja. Pendangkalan sungai ini bisa menjadi salah satu penyebab banjir.



Kami melanjutkan perjalanan dengan melintasi pemukiman padat Cihampelas yang berdesak-desakkan. Saking penuhnya, rumah-rumah berdempetan. Tidak hanya sisi kanan dan kiri, tetapi juga depan dan belakang--hanya menyisakan ruang satu meter untuk berjalan. Bahkan, ada jalan yang di atasnya terdapat rumah warga sehingga kami layaknya masuk ke sebuah gua. Sungguh menyesakkan.



Aliran sungai Cibarani yang berasal dari sungai Cipaganti

Kondisi tanah yang seperti lembah ini membuat jalan di pemukiman ini memiliki tanjakan dan turunan yang curam. Di bawah pemukiman, bersisian dengan sungai Cikapundung, tanah dibenteng dengan semen dan bebatuan. Di sela batu diberikan pipa-pipa untuk mengalirkan air tanah ke sungai. Jika tidak ada pipa, tentu saja pemukiman Cihampelas ini tinggal menunggu ajal longsor karena tentunya benteng tidak dapat menahan desakkan air tanah.

Benteng yang menyangga

Saya memiliki kecurigaan tentang rumah-rumah yang bertingkat. Alih-alih pindah, sepertinya mereka memilih membuat tingkatan baru untuk diisi dengan keluarga baru. Jadi, mungkin satu rumah bisa diisi beberapa keluarga.

Keluar dari pemukiman padat, kami menemukan sebuah rusun atau apartment yang menjulang di atas tanah tempat Pemandian Tjihampelas yang dibangun tahun 1902 sebagai kolam renang nomer satu di Hindia-Belanda. Sayangnya tempat yang bersejarah dan membanggakan ini harus dihancurkan untuk sesuatu yang tidak meninggalkan apa-apa selain penyedotan air tanah besar-besaran. Sementara itu, di belakang apartment, terdapat beberapa warga yang sedang mencuci. Menurut Bang Ridwan, dulu warga sering mencuci dengan air bekas Pemandian Tjihampelas.

Rupanya, di sisi selatan eks Pemandian Tjihampelas terdapat sebuah jalan kecil yang dulunya merupakan Jl. Cihampelas yang sebenarnya karena banyaknya pohon hampelas yang daunnya bertekstur kasar dan tepinya bergerigi.



Setelah dari sana, kami meneruskan berjalan ke Merdeka Lio yang terletak di antara Jl. Wastukencana dan Jl. Pajajaran. Dulunya ini merupakan perkampungan kuli bangunan yang membuat genteng atau keramik (lio) untuk mengganti atap rumbia. Mereka dibebaskan (atau dimerdekakan) dari pajak. Menurut Reza, koordinator Aleut, "merdeka" juga berasal dari "mardijker" (kaum tentara pribumi bayaran atau Belanda hitam) diambil dari bahasa Sanskerta "mahardika" yang disingkat menjadi "mardika" atau "merdeka", jadi tidak ada hubungannya dengan kemerdekaan.

Setelah melalui berbagai pemukiman, perjalanan terhenti di Cicendo karena saat itu saya harus pulang duluan namun teman-teman lainnya tetap melanjutkan perjalanan. Sementara teman-teman Aleut! berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat, mobil travel membawa saya 147 kilometer menuju barat laut. Jakarta: dengan polemik sungai dan pemukiman yang tak kalah rumit.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…