27 January 2016

29 My Age

Hari ini usia menginjak 29 tahun. Menjelang umur ini, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak deg-degan, tidak senang, dan tidak khawatir--mengingat saya belum menikah. Banyak teman-teman di usia saya yang belum menikah kemudian ia merasa cemas. Mungkin kondisi yang woles ini banyak dibantu oleh beberapa hal, seperti banyaknya teman-teman kantor saya yang masih muda sehingga kecil tuntutan untuk rewel tentang pernikahan. Bisa jadi karena mereka adalah pemuda-pemudi ibukota yang cukup terbuka pemikirannya untuk tidak melulu memikirkan tentang pernikahan dan kemudian memaksa orang lain. Faktor lainnya adalah keluarga saya juga yang tidak bertanya kapan menikah (mereka lebih sering bertanya tentang beasiswa). Atau mungkin saya dan pacar sudah membicarakan tentang rencana kami untuk menikah segera setelah uangnya terkumpul.



Seiring dengan pertambahan usia, otomatis si pacar terlibat dengan rencana-rencana saya. Karena saya ingin lebih maju, maka ia pun harus maju agar bisa jalan beriringan. Kalau dulu kami woles, sekarang kami saling mengusahakan untuk merencanakan hidup yang lebih baik--terutama dari sisi finansial. Kami ingin hidup teratur. Saya melakukan perencanaan keuangan seperti membagi tabungan dan melakukan investasi di beberapa hal. Si pacar juga sedang berusaha menyelesaikan project-projectnya. Ya mudah-mudahan uangnya terkumpul, tidak hanya untuk menggelar upacara pernikahan, tapi untuk kehidupan selanjutnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu harus memikirkan banyak hal. Saya jadi mengevaluasi pemasukkan saya dan memikirkan untuk mencari kesempatan lain. Beban sih karen hidup jadi terasa lebih serius, tapi ini bukan beban yang saya sangkal. Anggap saja ini tantangan yang perlu dilewati. Biasanya orang menyesal dan merasa menjadi dewasa adalah sebuah beban karena harus memikirkan A, B, C, dan D. Tapi sebenarnya kalau mau dibikin tidak ada beban itu bisa kok. Ya puas saja dengan hasil yang dicapai sekarang. Terus saja berada di zona nyaman sampai tua. Masalahnya, saya tidak puas dengan keadaan saya sekarang. Saya merasa saya bisa lebih baik dari sekarang. Caranya? Ya dengan beban-beban tadi. Sama seperti olahraga, supaya memiliki otot yang sehat dan bagus ya harus latihan beban.

Tadi malam, si pacar bertanya apakah keteraturan hidup berkorelasi dengan kebahagiaan. Kayaknya bahagia itu kita ciptakan sendiri, apapun kondisinya. Banyak orang yang hidupnya sudah teratur juga merasa tidak bahagia. Ya mudah-mudahan, pertambahan usia beserta pekerjaan rumahnya tidak membuat kami lupa untuk melakukan hal-hal yang kami sukai dan mengapresiasi hal-hal kecil di sekeliling kami.

Wish me luck! :)

23 January 2016

(Review Film) Amarta

Pembangunan seperti dua sisi mata uang. Yang satu memiliki manfaat seperti menghidupi orang-orang di sekitarnya, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah seperti sektor pariwisata. Tapi yang satu memiliki kerugian seperti lingkungan yang serba modern sehingga merusak tatanan nilai lama, membuat macet, dan menganggu lingkungan.

Teman-teman saya di Yogyakarta mengeluhkan dengan meningkatnya pembangunan hotel di kota ini. Saat akhir pekan, warga Yogyakarta memilih untuk berada di rumah saja karena pasti macet di mana-mana. Selain jadi macet, ternyata air tanah juga berpengaruh. Hal ini dialami juga oleh Bambang "Ipoenk" K.M. yang merasa air tanah di rumahnya kini berwarna cokelat. Keluhan ini ia protes melalui film independent berjudul Amarta (Gadis dan Air).

Film ini berkisah tentang para warga yang mengeluhkan hilangnya air di desa mereka. Keresahan warga ini ditangkap oleh seorang perempuan muda. Ia mendapatkan informasi bahwa para warga terpaksa beli air dan bekerja kepada seseorang yang dipanggil Bos. Melalui kemampuannya dalam mendapatkan pencerahan, perempuan muda tersebut mengetahui bahwa Amarta, Dewi Air yang dipercaya oleh warga sekitar, ditahan oleh Bos. Air dapat mengalir kembali jika Amarta dibebaskan. Si perempuan akhirnya melakukan hal-hal untuk membebaskan dewi tersebut.

Foto milik https://jaff-filmfest.org/

Saya suka sekali dengan film yang berdurasi 26 menit ini. Penonton dimanjakan secara visual karena Ipoenk, yang bertindak sebagai sutradara, membuat konsep dongeng untuk film ini. Film ini begitu unik karena para tokoh bermain di atas panggung dengan properti yang terbuat dari dus yang dilukis, membentuk pohon, rumah, perkampungan, gua, hutan, dan lainnya. Properti-properti tersebut dilukis dan dibuat sangat bagus sekali sehingga penonton akan merasa berada di dunia dongeng. Ini juga didukung dengan tata cahaya dan make up dengan konsep pop art. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan subtitle Inggris. Selain itu, ada adegan dewi bernanyi sebuah lagu berbahasa Jawa dengan merdu. Wah, pokoknya puas nonton filmnya.

Untungnya Ipoenk hadir pada pemutaran film ini di Kineforum Taman Ismail Marzuki pada hari Sabtu (23/01) dan menceritakan proses pembuatan filmnya. Film yang dibuat untuk ajang kompetisi yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Yogyakarta ini dibuat dalam waktu satu tahun. Konsep dongeng sengaja ia tonjolkan karena film ini ditujukan untuk anak-anak. Film ini rencananya akan dibuat versi DVD dan diputar di berbagai sekolah di Yogyakarta. Baru di situ ia akan tahu respon anak-anak melihat film ini deh.

Wah, kalau ada screening film ini di kotamu, mending nonton deh. Visual kita akan termanjakan sekali. Menurut saya, film dengan rasa teater ini bagus tidak hanya secara tampilan saja, tetapi juga cerita. Keren!

22 January 2016

(Review Musik) Sinestesia

Keinginan untuk menghadirkan band paling disukai sepanjang masa ke kantor dan ditonton bersama penonton yang sedikit sehingga bisa lebih intim adalah keinginan yang pada mulanya saya anggap tidak mungkin. Efek Rumah Kaca (ERK) adalah band kesukaan saya sejak dahulu. Saya selalu sempatkan untuk menonton konser mereka. Hati saya ikutan sedih sedikit saat sang vokalis, Cholil, pergi ke luar negeri untuk bersekolah sehingga band ini vakum cukup lama. Saat Pandai Besi yang merupakan sister band mereka tampil tanpa Cholil, saya enggak mau nonton. Karena ERK adalah ketiga personilnya yaitu Cholil, Adrian, dan Akbar. Tanpa salah seorang dari mereka rasanya akan kurang.

Untuk ukuran band indie, nama ERK begitu band besar dan ia disegani oleh para juniornya. Kemarin teman saya bertanya, mengapa saya suka ERK. Bagi saya, ERK memiliki lirik lagu yang bagus dan berisi, tanpa sumpah serapah. Liriknya beragam dan tajam. Tidak berkisah tentang percintaan, tapi lebih luas dari itu. ERK peka terhadap situasi sosial dan politik. Mengajak para pendengarnya untuk mengkritisi tanpa memprovokasi. Nada lagu juga mereka terdengar gloomy, sendu, kelam, atau apalah itu. Tidak berisik di telinga.

Harapan yang ketinggian itu tercapai. Kemarin (21/01), ERK datang ke kantor. Saya mengikuti sesi wawancara mereka. Cholil bercerita bahwa album Sinestesia ini sengaja dibuat berbeda dari album-album ERK sebelumnya. Sinestesia dikonsep lebih sinematis. Mereka menciptakan nada lagu dulu, kemudian diikuti oleh lirik. Lirik yang beradaptasi. Lirik yang dinamis. Penamaan judul lagu juga dibuat dari kesan-kesan warna yang muncul setelah Adrian yang memaknai setiap lagu.

Foto dokumentasi pribadi.

Foto dokumentasi pribadi.

Saya suka dengan Sinestesia. Menurut saya, makna-makna lagu di album ini lebih kaya daripada album-album sebelumnya. Dan instrumen yang digunakan juga lebih beragam. Cholil juga bilang bahwa mereka banyak menggunakan instrumen dan nuansa yang tidak ada di album sebelumnya seperti flute, terompet, suara anak-anak, vokal tanpa lirik, nuansa folk, bahkan lagu Leleng-Leleng dari Kalimantan Timur di akhir lagu ERK yang berjudul Kuning.

Sinestesia adalah album yang wajib dengar. Sulit sekali menyatakan mana lagu yang terbaik karena semua lagu memiliki lirik yang bagus. Salah satunya adalah Kuning.

"Tentang nubuat mencerahkan
Berlabuh dalam keheningan
Menyapa dalam keramaian
Pada batas yang dirasakan
Resah
Manusia mengonsepsi tuhan
Bernaung di dalam pikiran
Mencari setiap jejakNya
Mengulas semua kehendakNya
Apa wujudnya
Apa misinya

Manusia menafikan tuhan
Melarang atas perbedaan
Persepsi dibelenggu tradisi
Jiwa yang keruhpun bersemi
Nihil maknanya
Hampa surganya
Hampa"

Sebagai anggota tim LO acara kemarin, saya sempat deg-degan karena takut mereka sombong atau jaga image. Biasanya seorang penggemar garis keras akan kecewa saat menemukan idola memiliki perilaku yang tidak diharapkan (siapa suruh berharap). Tapi untuk sekelas band besar, mereka sangat baik dan ramah sekali. Tidak minta macam-macam, mau makan siang juga terserah. Hehe. Saat lagu dimainkan, mereka juga tidak menyiapkan daftar lagu. Mereka memainkan apa yang kami minta. Totalnya, ERK memainkan 12 lagu di acara kami yang terdiri dari lagu lama dan lagu baru. Kalian baik sekali. Terlalu baik. Terima kasih untuk ERK yang sudah berkenan hadir di kantor kami. ERK adalah band penting, tetaplah eksis dan produktif. Respect!

Foto milik Kotak Musik MI

15 January 2016

Jurang

Abad membeku
di jurang-jurang waktu. 
Sunyi yang kerdil
menggelinding menjadi
gema yang kecil-kecil
--menjadi kerikil. 
Lalu, menjadi batu
di tebing curam kepalamu.
-----------------------------------------------

Puisi dibuat oleh teman saya yang sebentar lagi akan terkenal, Beni Satryo. Puisinya bagus-bagus. Tipikal Sapardi--sederhana tapi bermakna. Bahasanya tidak njelimet. Tipikal yang mudah dimengerti dalam satu kali baca. Sayangnya dia enggak punya blog, jadi tidak bisa lihat karyanya. Tapi kicauannya bisa dilihat di Twitter miliknya.

Beberapa hari yang lalu, dia ingin memperlihatkan prosesnya dalam membuat puisi. Beni meminta satu kata, saya memilih kata "jurang". Ia mengajak brainstorming kata-kata apa saja yang berasosiasi dengan kata "jurang". Hingga akhirnya tercipta puisi ini. Ia sudah terbiasa menciptakan puisi dengan kata-kata yang "dipesan" seperti ini karena Beni pernah punya bisnis membuat puisi berdasarkan di pesanan. Heheh. Bahkan ada biayanya! Dari karena ini pula ia menjadi selebtweet.

Info yang sangat penting dan emejing sekali.

Semoga Beni cepat menerbitkan buku puisinya.

09 January 2016

(Review Musik) Barasuara

Keindahan kata-kata tidak hanya bisa diekspresikan melalui tulisan, tapi juga bisa diekspresikan melalui lagu. Lirik lagu yang ceritanya tidak klise, pemilihan kata yang tidak umum, dan puitis menjadi nilai tambah untuk membuat saya suka pada sebuah band. Puitis tidak harus melulu berbicara tentang cinta atau keindahan alam. Sebuah kritik terhadap sosial juga bisa disajikan secara puitis, seperti yang dilakukan Efek Rumah Kaca (ERK).

ERK adalah satu-satunya band Indonesia yang saya suka. Tapi akhir-akhir ini saya tertarik pada band lainnya yaitu Barasuara. Pertama kali saya mendengar Barasuara yaitu saat mereka dan ERK melakukan pertunjukkan kolaborasi tahun lalu. Wah, liriknya bagus dan musiknya bersemangat. Kesan saya positif sekali dengan band ini. Tampaknya yang terpincut tidak hanya saya saja. Barasuara diinginkan oleh para pendengar baru. Semenjak pertunjukkan kolaborasi itu, Barasuara hampir ada di semua media.

Beberapa hari yang lalu, Barasuara mampir ke kantor saya untuk melakukan wawancara dan recording performance mereka. Tidak hanya pegawai kantor saja, Barasuara juga mengumumkan kepada para fansnya, jadi semua orang bisa menonton. Karena ini bukan acara komersil, jadi yang nonton tidak terlalu banyak. Semacam private gig!

Foto dokumentasi milik Kotak Musik MI.
Sesi wawacara. Foto dokumentasi pribadi.
Foto dokumentasi pribadi.

Saya juga membeli CD asli mereka. Yes! Saya tidak membajak. Di dalam album yang berjudul Taifun, terdapat sembilan buah lagu, yang lima di antaranya sudah saya dengar di YouTube. Gebukan drum dan gesekan gitarnya begitu seru sehingga tidak membuat jenuh. Aransemen setiap lagunya juga berbeda sehingga penuh kejutan, salah satu yang mengejutkan adalah Taifun. Jika lagu lain mengajak pendengar untuk headbanging, lagu Taifun lebih mengajak untuk lari sambil lompat-lompat kecil di pedesaan.

Oke, saya kasih bocoran sedikiiit saja tentang wawancara kemarin. Vokalis, frontman, dan pencipta lirik Barasuara Iga Massardi mengakui bahwa Taifun adalah lagu yang paling berkesan untuknya karena lagu ini diciptakan saat sang anak mau lahir. Lagu ini seperti berisi petuah-petuah yang diberikan pada anak.

"Di dalam hidup ada saat untuk berhati – hati atau berhenti berlari
Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri
Sumpah serapah yang kau ucap tak kembali
Tak kembali
Semua harap yang terucap akan kembali
Akan kembali
Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu
Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu."

Benar-benar sebuah angin segar di tengah band yang menghembuskan nafas percintaan nan sendu. Barasuara tidak menyuguhkan kelesuan, justru Barasuara membuat ingin berseru, tanpa muatan negatif atau musik yang berisik. Bahkan pimpinan redaksi saya pun suka. Dia memuji dua kali di depan tim saat pertunjukkan usai. Hehe. Wajib dengar!