29 September 2014

Nonton Film di Taman

Sekitar dua minggu yang lalu, Bandung dihebohkan dengan pembukaan taman yang mengambil tema film yang dibuat oleh sang walikota Ridwan Kamil. Saya tidak pergi ke sana karena tahu akan penuh. Benar saja, kalau dilihat dari postingan foto teman-teman, tempat duduk di taman film yang bisa menampung 500 orang ini penuh sesak.

Kemarin, saya dan Anto pergi ke sana karena penasaran lihat taman film ini. Kami parkir motor di Baltos. Padahal, di dekat taman ini, masih di bawah kolong jembatan, ada parkiran motor. Caranya, jangan naik fly over.

Dari kejauhan sudah terlihat sinar lampu dari videotron berukuran 4x8 meter ini. Awalnya saya kira layarnya hanya berupa bentangan kain dan disorot proyektor. Ternyata pakai videotron berkekuatan 33.000 watt. Tipikal videotron yang biasa kita temui di pinggir jalan raya.




Begitu masuk arena taman, kami terkagum-kagum. Tempat duduk dibuat berundak dengan lekukan-lekukan, sangat dinamis dan tidak monoton. Mulanya Anto mengira taman film ini akan seperti tontonan layar tancep di luar negeri yang orangnya nonton di dalam mobil. Tempat duduk di sana mengingatkan saya pada tempat duduknya sebuah auditorium di Jakarta. Selain bisa duduk, orang-orang juga bisa lesehan tanpa takut kotor karena taman ini dilapisi rumput sintetis yang juga motifnya disesuaikan dengan tempat duduk.

Beberapa warga inisiatif membuka sepatu saat menginjak bagian rumput, padahal tidak dilarang. Tapi saya setuju sekali dengan hal ini karena untuk menghindari kotor atau cepat rusak. Dan, karena terlihat bersih, banyak anak-anak yang bermain sampai berguling-guling atau para orang dewasa yang nonton sambil tiduran. Keren.



Kami senang sekali melihat anak-anak yang bermain dan muda-mudi bercengkrama di sini. Semua orang tampak menikmati taman ini. Memang salah satu tujuan pemerintah kota Bandung membuat taman tematik adalah untuk meningkatkan indeks kebahagiaan warga Bandung.

Selain membuat orang bahagia, menurut saya keberadaan taman ini bagus sekali, yaitu untuk mengedukasi masyarakat lewat film yang ditonton. Karena pada saat kami datang, film yang ditayangkan adalah National Geographic Wild tentang pemburuan singa pada kijang. Haha. Dan ya enggak mungkin kan pasang sinteron di sini?

Sebelum dijadikan sebuah taman, tanah seluas 1.300 meter persegi ini dulunya tempat yang kumuh. Kolong jembatan merupakan area yang riskan untuk diisi gelandangan dan aksi kejahatan. Bahkan Anto pernah ngaku ditodong sekomplot orang-orang dan mengambil paksa uangnya. Huu, kasian.

Karena beratapkan jalan layang, jadi tidak perlu takut kepanasan atau kehujanan. Selain itu, suara bising dentuman mobil di atas pun pasti terhiraukan dengan audio videotron yang besar serta riuhnya suara anak-anak.

Ternyata pembuatan taman film tidak masuk anggaran dana kota Bandung karena modal pembangunannya berasal dari hibah para pengusaha. Saat ulang tahun Bandung di bulan September ini, kembang api pun disumbangkan dari pengusaha. Wah, pasti walikota kota ini punya banyak jejaring dan mampu melobi orang dengan baik. :)

Kerja yang bagus, Pak Ridwan!