28 July 2014

Menyapa Tuhan

Pada malam ini, aku merasa aku sangat dekat dengan Semesta. Dengan gelap malam, kerlip bintang, serta takbir yang menggema di langit. Suaranya mendengung berkelanjutan, memuja Tuhan dengan syair-syair nan syahdu, membangkitkan kegelisahan spiritual tentang keinginan untuk kembali pulang. Manusia hanya sebutir debu yang begitu lemah dibandingkan dari luasnya langit dan dalamnya lautan. Manusia sendiri, dalam sepi.

Pikiranku melayang kemana-mana, terbang ke masa lalu dan masa depan. Tidak hanya tentang ketakziman, pikiran ini menangkap kegetiran dan harapan. Lebaran selalu mengingatkan akan keluarga, tentang kesendirian dan rasa sepi tidak berkumpul layaknya keluarga lain yang penuh kehangatan, seperti memakai baju yang senada, saling berfoto, atau pergi pelesir ke suatu tempat setelahnya. Akankah lebaran berikutnya aku akan mengalami situasi yang sama?

Para sepupu dan sahabat pun terbayang. Betapa aku menginginkan kehadiran mereka. Betapa aku ingin merasa penuh dan hangat. Ketiadaan mereka menyadarkanku bahwa manusia sendirian di muka bumi. Meskipun mereka bersosialisasi dan bercengkrama, setiap manusia memiliki dunianya sendiri, urusan sendiri. Mungkin kesendirian itu yang membuat manusia mengalami transendensi, melampaui dirinya, mencapai hal-hal yang mega.

Lalu Tuhan masuk kamar, Ia menyapa, dan berkata "Tidak perlu takut. Semua akan baik-baik saja."