10 November 2016

Review Pelacurku yang Sendu

Apa rasanya terbangun, dalam keadaan kulit bergelambir, penuh dengan keriput, dan akan menginjak usia 90, kemudian mendapatkan ilham yang belum pernah ia dapatkan seumur hidupnya yaitu jatuh cinta pada seseorang? Itulah yang diceritakan oleh Gabriel García Márquez (kemudian akan disebut Gabo) dalam novel Pelacurku yang Sendu.


Dongeng sebelum tidur. Baca yang romantis-sensual. Hihik.

Novel pendek ini bercerita tentang kehidupan seorang wartawan senior yang menghabiskan semasa hidupnya berhubungan seks dengan para pelacur. Pengalaman dengan pelacur pertamanya dimulai saat ia berumur 12 tahun. Tokoh "aku" ini tidak memiliki obsesi terhadap cinta dan pernikahan. Seperti yang dikutip di novel (kira-kira karena saat mau cari lagi di buku kok enggak nemu), "Seks adalah pelipur lara untuk orang yang tidak punya cinta."

Kemudian tokoh menghubungi mucikari langganannya bernama Rosa Cabarcas untuk disiapkan seorang pelacur usia 14 tahun yang masih perawan. Ia datang saat pelacur tanpa nama--yang kemudian diberi nama Delgadina oleh tokoh "aku"--sedang tertidur. Sang tokoh memperhatikan seluruh detail dari Delgadina dan jatuh cinta pada sosok yang sedang tertidur itu. Ia pun datang berkali-kali ke tempat Rosa Cabarcas, menemui Delgadina, dan melewati malam bersamanya yang sedang tertidur.

Bahkan, ada satu kejadian di mana terjadi sebuah pembunuhan di tempat pelacuran Rosa Cabarcas dan tokoh "aku" sulit menghubungi Rosa Cabarcas untuk mengetahui kabar Delgadina karena tempat tersebut ditutup oleh dinas kesehatan. Tokoh "aku" ini mengamati para perempuan yang lewat di lingkungan tersebut sambil menebak-nebak rupa Delgadina jika berada di dalam posisi terjaga. Bahkan tokoh "aku" digambarkan takut jika melihat Delgadina selain dalam keadaan tertidur.

Di novel ini, meskipun Delgadina banyak diceritakan, ia adalah seorang tokoh yang pasif. Ini mengingatkan pada film Talk To Her karya Pedro Almodovar yang berkisah tentang seorang perawat pria yang jatuh cinta dengan pasien wanita yang koma. Kedua tokoh ini memiliki kesamaan yaitu mereka jatuh cinta pada imajinasi yang mereka buat sendiri. Bahkan di awal-awal cerita, tokoh "aku" berkata bahwa bayangan Delgadina begitu jelas sehingga ia bisa mengubah Delgadina seperti yang ia mau dalam pikirannya.

Novel Pelacurku yang Sendu adalah novel naratif yang sangat minim dialog. Bahkan kalau pun ada, dialog masuk menjadi kalimat dalam paragraf. Saya adalah tipikal orang yang harus berusaha lebih untuk membaca novel naratif karena seringkali lost atau pikiran melayang-layang di tengah cerita sehingga harus mengembalikan konsetrasi dan membaca ulang. Meskipun demikian, saya masih bisa mengikuti novel ini, tidak menyerah seperti saat membaca Lapar karya Knut Hamsun. Walaupun saya baca versi terjemahan, kata-katanya enak. Salut untuk An Ismanto.

Meskipun ada unsur seksnya, Gabo menuliskannya dengan tidak vulgar. Tapi kadang membayangkannya lucu juga melihat kakek-kakek puber. Hihi. Gabo juga menuliskan tokoh "aku" yang tidak pernah berhubungan dengan wanita berlandaskan cinta kemudian jatuh cinta untuk pertama kali. Begitu romantis, sekaligus penuh obsesi!

27 October 2016

Review Matinya Seorang Penari Telanjang

Siapa yang tidak kenal dengan Seno Gumira Ajidarma (SGA)? Ia dikenal sebagai penulis esai dan novel yang disegani dengan karya-karya yang memotret isu sosial dan tidak picisan. Sama seperti Pramoedya Ananta Toer (PAT). Jadi membaca karya SGA di tempat umum bisa memiliki kebanggaan tersendiri seperti membaca buku-bukunya PAT.

Hehe.

Oke. Nama SGA tentu sudah lama saya dengar. Tapi entah kenapa belum ada keinginan untuk membacanya atau sengaja mencari bukunya. Mungkin, seperti yang teman saya bilang, ia lebih terkenal sebagai esais ketimbang penulis cerita fiksi. Paling saya pernah menyempatkan untuk pergi ke pembacaan bukunya yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku di Galeri Indonesia Kaya. Di situ saya baru tahu bahwa SGA adalah penulis fiksi yang spesial karena ia bisa mendeskripsikan hal-hal romantis seperti "senja", "pantai", dan "kekasih" dengan tidak membosankan.

Enak dibaca sambil ngopi. Hehe. Dok. pribadi.

Teman saya merekomendasikan buku antologi karya SGA yang berjudul Matinya Seorang Penari Telanjang. Ada sebuah cerita menarik tentang buku ini karena diperlukan waktu yang lama untuk menerbitkannya. Pertama, penerbit pertama tidak jadi menerbitkan karena kumpulan cerita pendek dianggap hanya menambah kerugian penerbit yang kala itu sedang terseok-seok. Kedua, setelah menunggu empat tahun, penerbit baru ini setuju untuk menerbitkan dengan syarat harus ganti judul menjadi Manusia Kamar, mengingat nama penerbitnya CV Haji Masagung. "Haji" dan "penari telanjang"? Nanti jadi oksimoron dong ah.

Cerita Matinya Seorang Penari Telanjang pernah difilmkan pada tahun 1997. Setelah itu, SGA ingin menerbitkan buku ini lagi. Maka terbitlah buku ini dengan judul yang semula diinginkan yaitu Matinya Seorang Penari Telanjang. Di dalam buku ini juga ada cerita Matinya Seorang Penari Telanjang yang asli sebelum diadaptasi ke film dan yang setelah diadaptasi ke film. Di sini, kamu bisa melihat dua versi cerita.

Karena cerpen ini menjadi judul, maka saya mau highlight cerita ini. Matinya Seorang Penari Telanjang bercerita tentang Sila, seorang penari telanjang, dikejar oleh dua orang pemuda yang disuruh oleh seseorang untuk membunuhnya. Ia curiga yang mengutusnya adalah Ubed, lelaki 40 tahun yang sudah punya istri, karena Ubed sudah pernah mengacam untuk membunuh Sila jika ia berani meninggalkannya.

Cerita berkisar pada proses pengejaran dan persembunyian. Karena ini cerita pendek, proses pengejaran dan persembunyiannya tidak rumit yaitu hanya bersembunyi di balik tong sampah sebuah gang yang tidak jauh dari klabnya. SGA banyak bercerita tentang hubungan Sila dan Ubed, tentang istri dan wanita simpanan lain, serta pikiran-pikiran Sila mengenai kehidupan dan kematian. Nah, ini dia yang menarik. Biasanya seseorang yang dalam pengejaran dan tahu akan dibunuh, cerita akan berkisar pada ketakutan tokoh. Tapi SGA menceritakan tokoh Sila sebagai seseorang yang tidak takut mati.

"Dalam detik-detik mendesak itu Sila bagaikan berusaha menghirup nafas kehidupan sebanyak-banyaknya. Apalah artinya mati, pikirnya. Mati hanya bagian dari proses kehidupan yang tak kunjung selesai. Mati hanyalah seperti kentut! Dan gemuruh musik yang biasanya mengiringi goyang pinggulnya di pentas bagaimana menggaung dari langit. Dan puluhan mata yang biasa menelan tubuhnya pada saat itu menanggalkan carik-carik kain satu-persatu, mata penuh daya hidup yang merayapi lekuk liku tubuhnya itu...

Detik itu ia ingat Tuhan, tapi ia tidak berdoa minta pertolongan pada Tuhan. Kenapa teringat Tuhan hanya di saat susah? Gengsi dong! Jadi, tidak perlu berdoa pada Tuhan. Lagipula apalah artinya berdoa minta panjang umur kalau sudah waktunya mati? Kalau aku berdoa nanti, jangan-jangan Tuhan tertawa: 'Lha wong kamu ini mau kucabut nyawanya, kok malah minta hidup.'" (hal. 71-72)

Anjrit mantap.

Buku ini berisi tentang kehidupan perkotaan, khususnya Jakarta. SGA begitu pandai memotret fenomena sederhana yang sering terjadi di kehidupan masyarakat. Misalnya cerita di atas, SGA memotret seorang wanita di dunia laki-laki. Seorang wanita yang menjadi simpanan orang lain tapi semua orang menyalahkannya--bahkan membunuhnya--sementara lelaki tersebut bisa lenggang kangkung. Di cerpen Tante W, SGA bercerita tentang orang-orang baru menaruh perhatian pada orang lain jika merasa kehilangan. Dan berita kehilangan yang mungkin bermakna bagi sebuah keluarga, mungkin tidak bermakna bagi orang lain karena setiap hari berita berganti. Setiap hari terjadi kejahatan, perampokan, pembunuhan, dan kehilangan di ibukota. Berita-berita yang bermakna bagi seseorang bisa hilang begitu saja.

Cerpen lainnya yang berkesan adalah Manusia Kamar. SGA bercerita tentang seorang pria yang sinis pada dunia. Saking sinisnya, ia menghindari hubungan sosial dengan orang lain dan mengurung diri di sebuah rumah kubus tanpa jendela dan pintu, hanya terdapat celah kecil untuk orang lain yang mengantarkan makanan atau mengantarkan orang.

"Tapi jadinya aku lebih mengenal kehidupan. Aku tahu apa yang terjadi di hotel-hotel, aku tahu dari desa mana pelacur jalanan itu berasal, aku bisa mengendus mobil pejabat siapa yang diparkir di motel itu. Kutelusuri segala tempat hiburan malam, perpustakaan, restoran, kompleks gelandangan, warung-warung kopi, tempat banci-banci mangkal, tempat homo-homo berkencan, mesjid, gereja, vihara, kelenteng..

Bermalam-malam sudah dan hasilnya nol besar. Tak terasa sebetulnya aku mendapatkan sesuatu yang lain, seseuatu yang berharga. malam memang menyingkapkan kepalsuan. Di balik kekelaman itu topeng-topeng dibuka dan bentuk asli yang serba gombal itu pun bisa kutangkap, kekelaman seperti membiarkan perasaan aman dan terlindung. Bisa kudengar bisik-bisik sekongkol politik, kasak-kusuk para penyebar gosip. Bisa kulihat para penipu diri beraksi. Antara strip-tease dan lonceng gereja, antara penggarongan dan azan subuh, antara perzinahan terbuka dan perzinahan tertutup.

Agak sulit mencari orang normal. Sebagian terlalu fanatik, sebagian lain dekaden. Aku jadi maklum kenapa kawanku jadi jenuh. Ia tidak menerima mereka sebagaimana adanya. Ia mencari yang baik-baik saja, dan itu memang sulit, dan bisa jadi malahan tidak tidak ada. Sedangkan kalau ada, mungkin juga tidak menarik dan tidak  menyenangkan. Kata orang, dunia memang mengecewakan. Dunia menjadi buruk karena ulah manusia. Dia memang makin lama makin pesimistis." (hal 94)

Dan terakhir di cerpen Selamat Pagi Bagi Sang Penganggur, SGA juga bercerita tentang seorang pria yang berada di tengah-tengah istri dan anaknya. Setiap hari ia harus melewati pagi yang hectic dengan mengantarkan anak sekolah dan bersama istrinya bekerja dan kadang  susah dimengerti, Begitu terus setiap hari. Rutinitas tanpa henti sampai mati. Ini 'kan yang dialami orang-orang setelah menikah?

Meskipun fiksi, buku ini bukan omong kosong dan bualan. Sekarang saya tahu kenapa banyak orang yang gemar padanya. Saya merasa senang dan puas karena mendapatkan sesuatu dari buku ini--bukan hanya sekedar rangkaian kata yang indah saja. Buku ini membuat saya terinspirasi untuk menulis sesuatu dengan tujuan yaitu merekam dan menangkap hal bermakna. SGA membuktikan ia bisa menjadi penulis yang disegani tanpa membuat karya dengan bahasa njelimet. Apalagi, mengutip kata-katanya, "Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara, karena bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. ... Kebenaran bisa sampai apapun bentuknya. Bagi saya, dalam bentuk fakta maupun fiksi, kebenaran adalah kebenaran - yang getarannya bisa dirasakan setiap orang."

Tabik!

20 October 2016

Review Misa Arwah

Bulan September lalu, Richard Oh mengeluarkan nama-nama buku yang masuk dalam nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Tentunya ini jadi kabar yang diberitakan di berbagai media karena ini merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia kesusastraan Indonesia. Tampak menjanjikan dan prestisius, 'kan? Menaruh kata "nominasi" di bagian depan sampul buku saja sudah bisa meningkatkan nilai jual.

Teman saya, Beni Satrio, yang menjadi sumber pinjaman buku-buku beberapa posting belakangan, juga masuk dalam nominasi KSK dengan buku Pendidikan Jasmani Dan Kesunyian. Sayangnya dia tidak masuk lima besar. Buku lainnya yang tidak masuk nominasi lima besar adalah Misa Arwah karya Dea Anugrah yang akan diulas di postingan kali ini. Di postingan sebelumnya, saya mengulas karya Dea yang lain yaitu Bakat Menggonggong. Saya ingin tahu tulisan dia versi puisi sekaligus ingin tahu buku puisi seperti apa sih yang bisa masuk KSK? :)

Misa Arwah karya Dea Anugrah

Misa Arwah adalah peringatan 1000 hari orang yang sudah meninggal. Jadi, puisi-puisi di buku karya Dea ini memiliki tema duka, perasaan ditinggalkan, roh-roh, hingga ritual kematian. Di dalamnya terdapat 27 puisi yang bisa kamu pilih mana yang kamu suka dan mana yang tidak.

Beberapa puisinya yang indah dan "berbicara" pada saya. Puisi seperti itu biasanya saya baca pelan-pelan, menikmati semua kata dan kesan yang masuk ke pikiran. Sama seperti jika kita melihat lukisan yang indah. Kita mau berlama-lama menatap lukisan tersebut dan menikmati setiap detailnya. Bahkan kalau sudah puas, kita barangkali akan bergumam, berdecak, atau terus menjadi bahasan sehingga karya itu hidup lebih lama. Beberapa puisi Dea pun begitu. Ada yang membuat saya tersenyum dan berkata "wah" atau "ah". Beberapa puisi yang saya suka cukup banyak seperti Misa Arwah, Tentang Percakapan, Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan, dan Doa Bapa Kami.

Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan

sebab matahari tak pernah bisa
menghapus kesedihan, sebuah kota
tanpa kemanusiaan tumbuh dalam dirimu.
rumah-rumah kosong, pohonan sungsang,
arwah para pendosa menjelma ular
sebesar kereta.
sebab matahari tak pernah bisa
menghapus kesedihan
kotamu tumbuh tanpa cahaya. angin dingin
mengamuk sepanjang tahun. dan
awan hitam lupa cara menurunkan hujan.
sebab matahari
tak pernah bisa menghapus kesedihan
seorang pertapa yang tersesat
dan kedinginan
membakar jubahnya sendiri.
sebab matahari tak pernah bisa menghapus kesedihan
lapar adalah musuh terbesar bagi
yang hidup.
sebab matahari tak pernah bisa
menghapus kesedihan,
menghapus dendam,
kau menghalangi segala
yang hendak meninggalkanmu
dengan dinding kutukan.

/2011

Namun sejujurnya tidak semua puisi karya Dea yang saya mengerti. Ada beberapa yang dibaca, tidak mengerti, kemudian dibaca ulang dan mencoba untuk mengerti, masih tidak mengerti. Setelah dirasa pun puisi-puisinya tidak "berbicara". Jadi, kalau sudah menemui puisi seperti itu, saya skip saja. Puisi seperti ini tidak usah dipaksakan. Seperti mengutip puisi terakhir dalam buku ini yang berjudul Kepada Pembaca,

"Seperti ujung benang sehelai
mudah luput dari benang jarum
adakalanya sebuah puisi
tak bisa menggenggam jiwamu."

18 October 2016

Review Bakat Menggongong

Kumpulan cerita pendek menjadi hal yang disukai oleh saya akhir-akhir ini karena seumpama win win solution antara keinginan dan kemalasan untuk baca buku. Saat dipinjamkan buku Bakat Menggongong karya Dea Anugrah yang terlihat tipis, dengan pedenya saya berpikir bahwa buku ini akan habis dalam semalam. Tapi ternyata tidak. Huhu. Buku yang berisi 15 cerita pendek ini membutuhkan perhatian ekstra.

Bakat Menggonggong karya Dea Anugrah. Dok. pribadi.

Salah satu cerita yang saya suka berjudul Kisah Sedih Kontemporer (IV) yang berisi sebuah percakapan tentang sepasang manusia yang berdebat tentang harta gono-gini dan memutuskannya dengan cara melempar koin. Perdebatan tidak hanya mengenai harta gono-gini tapi mereka juga memperdebatkan siapa yang memilih angka dan gambar dengan memperdebatkan siapa yang memulai gagasan lempar koin ini. Pusing yak? Tapi bagus.

Cerita lainnya yang saya suka adalah Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada. Tokoh "aku" bertindak sebagai narator sudut pandang ketiga yang menceritakan tokoh "kau". Tokoh "kau" ditemukan oleh "aku" saat "aku" sedang belanja di swalayan 24 jam. Saat itu "kau" tampak sedang bertengkar dengan seseorang di telepon. "Aku" juga bercerita tentang "kau" yang memiliki seorang ibu sebagai orang tua tunggal yang baik. Namun sayang ibu ini mengalami kehancuran ketika ia mencintai seorang laki-laki yang memperlakukannya dengan tidak baik. Ibu yang tegar menjadi penjudi dan lonte. Tokoh "kau" jadi harus mengurus ibunya dan masuk ke dalam hidup yang penuh penderitaan. Di akhir cerita, ada ending yang menarik di sini, yang sebaiknya tidak usah saya tuliskan. Sebaiknya kamu baca.

Seperti yang saya bilang sebelumnya kalau buku ini butuh perhatian ekstra, Bakat Menggonggong agak sulit dibaca dalam suasana ramai dengan perhatian yang terbelah-belah. Tidak mudah untuk kembali dan meneruskan baca setelah terdistraksi. Menurut saya lho ya, mungkin orang lain bisa menikmati buku ini tanpa usaha. Yang membuat susah bukan temanya yang rumit--bahkan cerita cukup sederhana namun tidak klise--tapi mungkin yang bikin susah dinikmati adalah kadang ada loncatan ide antar paragraf. Jadi kadang harus dibaca pelan-pelan dan dipikirkan hubungannya. Jadi membayangkan sepertinya akan lelah sekali kalau saya membaca karya Dea versi novel. Haha. Ini mengingatkan pada buku Cala Ibi karya Nukila Amal yang butuh usaha. Tapi saya lebih bisa menikmati novelnya Nukila.

Intinya buku ini bagus. Terlihat bahwa Dea adalah orang yang banyak baca. Dea juga beberapa kali memasukkan referensi pop seperti penulis atau penyanyi di dalam ceritanya. Dan ia juga bisa mengeksplorasi dalam caranya bercerita. Kalau tujuan membaca untuk rekreasi, buku ini bisa ditinggalkan. Tapi kalau perlu referensi baru untuk memperluas pengetahuan bacaan, Bakat Menggonggong bisa dijadikan pilihan.

28 September 2016

Perjalanan Memaafkan

Tidak semua fase kehidupan itu berada di area senang-senang. Ada sedih, ada marah, dan ada luka. Luka-luka yang disebabkan oleh orang-orang yang barangkali tidak sengaja melakukannya. Tapi bagaimana pun, hati sudah kepalang memar dan meninggalkan bekas luka. Meski sudah tidak berdarah-darah, ingatan akan luka tersebut tetap berdatangan.

Seorang spiritualis dari Meksimo bernama Miguel Angel Ruiz, berkata, "Kita menghukum orang lain ribuan kali untuk kesalahan yang sama. Setiap kesalahan tersebut datang pada ingatanmu, kamu menghakimi mereka lagi dan menghukum mereka lagi." Membaca hal ini, saya merasa dimengerti sekali. Meski kejadian telah lama berlalu, tapi setiap ingatan tersebut datang, saya kembali menghukum mereka di ingatan.

Kesalahan mereka sulit lepas dari ingatan. Ibaratnya seperti mobil di radio yang memainkan lagu yang jelek saat dalam perjalanan ke supermarket, kemudian kamu menyadari bahwa dirimu menyenandungkan lagu tersebut saat berjalan di antara rak keju, dan kemudian masih teringat lagi saat kamu sampai di rumah dan menaruh keju di atas meja.

Beberapa tahun ke belakang, saya terus mengulang kata-kata dan tindakan orang lain yang menyakitkan di pikiran. Saya ingin memaafkan dan move on, tapi itu tidak mudah. Memaafkan tidak mudah, tapi hasilnya berharga sekali yaitu kebebasan. Kebebasan ini bukan kebebasan dari orang lain yang berbuat salah untuk lepas tanggung jawab, tapi kebebasan ini untuk diri sendiri yang bebas dari perasaan tersiksa. Kemarahan itu begitu memakan waktu dan melelahkan.



Socrates pernah bilang bahwa kunci dari perubahan adalah fokuskan semua energimu bukan untuk bertarung dengan hal-hal lama, tetapi bertarung untuk membuat hal baru. Agar tidak terobsesi dengan "musuh" tanpa nama itu, kita harus mengisi hari-hari kita dengan aktivitas yang bermakna, bekerja dengan memuaskan, dan bergaul dengan orang-orang yang penting bagi kehidupan kita. Kita harus membangun masa kini dan masa depan, bukan berkelahi dengan ingatan-ingatan di masa lalu.

Hal terpenting adalah kita harus berkomitmen untuk melakukan perjalanan memaafkan daripada menghakimi diri bahwa diri ini tidak siap untuk memaafkan. Selama kita secara tulus ingin mengembalikan keadaan mental yang damai (daripada melakukan aksi balas dendam), kita sudah berada di setengah perjalanan untuk memaafkan.

"Teman saya mengatakan bahwa memaafkan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Kita membuat keputusan untuk memaafkan. Tapi kita harus tetap memilih untuk memaafkan, terus menerus. Berlama-lama marah dan sedih bukan berarti bahwa kita tidak dalam proses untuk memaafkan, tapi itu bagian dari proses."

Amin.


Sumber: Psychology Today