28 April 2016

Eksklusif

Untuk menulis ini, saya berulang kali melakukan aksi tulis-hapus-tulis-kemudian hapus lagi. Saya jadi ingat saat pertama kali belajar nulis. Fasilitator klab saat itu bilang, "Tuliskan apa saja yang ada di pikiran, tanpa diedit duluan. Kalau berpikir 'mmm' ya tuliskan saja 'mmm' di kertas." Jadi, inilah saya, kembali menulis seperti di awal. Entah apa yang membuat sulit menulis di blog sendiri. Mungkin karena sudah ada beban harus bagus karena sudah ada pembaca, harus bermanfaat untuk orang lain, harus keren, ingin curcol tapi harus tidak terlihat curcol, dan ah! Terlalu banyak pikiran. Bukankah blog harusnya tidak ada batasan karena tidak ada klien dan saya sendiri yang menjadi pemimpin redaksi di sini?

Keruwetan pikiran ini memang selalu hadir di otak saya. Sepertinya saya memang tergolong orang yang cara berpikirnya ruwet atau rumit. Terlalu banyak yang dipikirkan sehingga kadang susah sendiri, kadang ingin pragamatis dan lurus-lurus saja, tidak usah seperti bola kusut yang kadang bikin sakit kepala.. kemudian timbul jerawat. Huh. Tidak berguna.

Keruwetan ini juga yang membuat kategori dan aturan-aturan di pikiran. Contohnya akhir-akhir ini keruwetan sering muncul di area pertemanan. Cara memperlakukan sahabat, teman, kenalan, dan orang baru berbeda. Ada tingkat kindness yang berbeda di setiap kategori itu. Cara mendekat orang asing juga berbeda jika dilakukan satu lawan satu dengan satu lawan banyak. Satu lawan satu biasanya hasil kedekatannya lebih baik daripada satu lawan banyak. 

Kegagalan satu lawan banyak pernah dialami contohnya pernah saya alami ketika masuk kantor baru. Saya kewalahan ketika harus berhadapan dengan sekelompok orang asiing. Ketidakmampuan bonding di awal dengan mereka membuat suasana hati kacau balau, sehingga terwujud dalam ekspresi, kemudian orang akan melihat saya sebagai orang yang tidak menyenangkan. Adaptasi yang sangat besar memang butuh usaha dan perjuangan. Fiuh.

Pertemanan pun tidak bisa banyak. Dari pada me-time, saya malah justru butuh social-time demi keberlangsungan hidup agar tidak berakhir sendirian. Saya harus mengikuti agenda-agenda sosial bersama sekelompok orang (atau teman yang tidak terlalu akrab) karena saya tidak bisa terus menerus berada di dalam gua. Gua tempat saya tidur, main internet, atau nonton film hanya membuat pucat, semakin tidak menarik, dan ketinggalan zaman.

Tapi bukan berarti tidak punya teman dan enggan berteman. Saya punya beberapa teman dekat. Tapi ya hanya beberapa, tidak banyak, sehingga sulit jika ingin membuat bridesmaid karena anggotanya tidak cukup. Hehe. Mereka ini adalah orang-orang yang saya temui jika saya pulang kampung, yang tidak dimasukkan ke dalam "agenda sosial" karena saya tidak merasa terbebani untuk bertemu mereka. Sebuah lingkungan yang kecil dan khusus, sehingga kesulitan jika saya membawa orang baru ke dalam lingkungan, atau bahkan juga kesulitan jika teman punya teman baru dan ingin masuk ke dalam lingkungan kami. Ck.

Membayangkan orang lain masih ke dalam personal space (seperti kamar, rumah, bahkan kedekatan fisik seperti sentuhan) rasanya.. wow! Tunggu dulu! Kamu siapa? Agendamu apa? Apakah kita cocok? Apakah kita cukup akrab sehingga bisa kamu masuk? Tidak. Biar saya nilai dulu. Karena tidak semua orang bisa masuk. Saya tidak mau menerima orang dengan segenap atribut yang nantinya akan melukai saya.

Jadi, saya ini paranoid atau ini mekanisme pertahanan diri dari jiwa-jiwa yang rapuh? Wkk.

Saya ingin sekali menjadi orang yang mudah bergaul tanpa pikiran apapun--tanpa seleksi dan tanpa ketakutan ia akan menyusup ke ruang personal. Salah satu orang yang bisa jadi kan role model ya si pacar. Meskipun pada dasarnya dia eksklusif, tapi ia bisa mengatur dirinya menghadapi dunia sosial dengan baik, sehingga ia memiliki banyak teman.

Saya iri dengan kemampuan itu. Tapi saya akan berusaha. Agar kata "eksklusif" hanya nempel di belakang kata "kontrakan" saja. ;)


14 April 2016

A Birthday Note

Di postingan ini saya mau menulis hal personal. Uh, harusnya segala bentuk review seperti postingan sebelumnya memang niat untuk dipisahkan dari blog ini, tapi karena si pacar yang mau bikin website baru ini kerjanya lama, jadi saja semuanya masih campur aduk di sini. Ehm, sesuai harga. Project thank you doang sih ya. :p

Jadi, yang mau mengubah website saya malam ini ulang tahun yang ke-35. Meskipun angkanya cukup besar, sejujurnya tidak terlalu terlihat dari penampilan dan mukanya (kecuali jejak burung gagak di sekitar mata. Hihi.) Tidak seperti orang-orang yang mulai terlihat seperti bapak-bapak, ia sering pakai kaos polos, kaos band, celana jeans, sepatu casual, dan kemeja flanel. Kacamatanya bulat. Rambutnya gondrong, bahkan lebih panjang dari saya, dan enggan dipotong.

Hal lain yang membuat ia terlihat muda dari umurnya adalah perilakunya yang lebih banyak bercanda ketimbang serius. Ia hobi cengengesan dan tanggap pada candaan-candan yang menggelikan. Ia adalah kebalikan saya yang serius dan kaku. Ia lebih fleksibel dan spontanitas. Saking spontannya, kadang saya sebel juga karena kadang rencana-rencana seperti mau jalan ke mana atau makan apa jadi rusak. Haha. Lama-kelamaan saya enggak bikin rencana untuk hal-hal yang kecil. Jadi dia membuat saya jadi orang yang lebih fleksibel dan woles.

Hal-hal yang sering ia bahas adalah film, musik, isu sosial, dan sedikit politik karena ia juga rajin baca berita. Ia juga seorang keyboard warrior yang gemar komentar atau retweet twitwar tokoh politik di social media. Hmm, agak kurang kerjaan ya. Tapi  bagi saya, dia teman mengobrol yang enak. Syukurlah ia tidak bahas batu akik atau mancing. Selain bapak-bapak sekali, saya juga enggak ngerti.

Di usia yang baru ini, saya harap usaha-usaha yang ia kerjakan bisa sukses, lancar, dan terkabul sehingga ia bisa lebih jongjon dalam menghadapi hidup. Supaya enggak hanya dibalik komputer aja untuk coding dan design, tapi juga bisa jalan-jalan yang jauuhh sekali. Melihat hal-hal baru, merasakan euforia keterasingan. Harapan lain yang agak sulit karena sudah berkali-kali dicoba tapi gagal adalah agar ia berhenti merokok. Setidaknya dikurangi. Dan tidak dilakukan sembunyi-sembunyi seperti di kamar mandi. Hihi.

Sebenarnya saya menjanjikan kado di setiap ulang tahunnya dari dua tahun yang lalu, tapi pas kebetulan sedang bokek terus. Seperti sekarang. Jadi sekarang hadiahnya tulisan aja ya. Mudah-mudahan hasil bokeknya berbuah manis ya. Tahun ini! #kode

Selamat ulang tahun.





12 April 2016

Semesta Dunia O

Anjrit!

Novel terbaru Eka Kurniawan yang berjudul O ini bener-bener anjrit sekali. Anjrit seanjrit-anjritnya. Novel yang tebalnya 470 halaman ini butuh perhatian ekstra saat membacanya. Bukan masalah tebalnya, tapi masalah cara penulisannya yang tidak biasa. Bukan masalah kata-kata yang rumit, tapi masalah plot yang acak dan jumlah tokoh yang sangat banyak.

O, oleh Eka Kurniawan. Diterbitkan Maret 2016 oleh PT Gramedia

Novel ini bercerita tentang perjalanan binatang-binatang seperti monyet, anjing, tikus, dan babi dalam mencapai tujuan hidupnya. Si monyet ingin menjadi manusia--mengikuti sang kekasih yang diyakininya sudah menjadi manusia yaitu seorang penyanyi ternama bernama Kaisar Dangdut. Si anjing ingin mencari ibunya. Si tikus yang rela mati demi bisa bercinta dengan kekasihnya. Si babi yang sebenarnya seorang manusia jadi babi ngepet karena ingin belajar menjadi binatang.

Binatang-binatang tersebut hidup beriringan dengan para manusia. Misalnya si monyet berteman dengan pawang monyet bernama Betalumur dan seorang waria bernama Mimi Jamilah. Si anjing bermasalah dengan Jarwo Edan, Rudi Gudel, dan diasuh oleh Rini Juwita. Selama perjalanan hidupnya, mereka juga bertemu dengan tokoh-tokoh lain yang tidak saling mengenal tapi berkaitan. Jadi ini kalau dicertakan satu persatu, akan semacam panjaang sekali.

Membaca karya-karya Eka seperti Lelaki Harimau, Cantik itu Luka, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, saya melihat ciri khas dari Eka adalah ia sering menceritakan tokoh-tokohnya dengan begitu detail, termasuk cerita masa lalu tokoh, dengan plot maju mundur. Dibandingkan novel-novel sebelumnya, O memiliki plot yang sangat rumit dan acak-acakan. Dalam setiap bab, isi novel O dibagi kecil-kecil untuk menceritakan satu momen dengan setting waktu yang berbeda, setting tempat yang berbeda, cerita yang berbeda, bahkan tokoh yang berbeda pula. Jadi terbayang perpindahannya cepat sekali.

Novel dengan gaya seperti ini kadang membuat saya enggan baca, tapi di satu sisi penasaran maunya apa sih. Apalagi semacam ada tuntutan pada diri agar menyelesaikan O terlebih dahulu, baru bisa baca novel lain. Dengan kapasitas Eka yang diganjar berbagai macam penghargaan dan pujian, saya jadi berekspektasi bahwa ada udang besar dan bersinar dibalik bakwan. Eka pasti ingin menceritakan sesuatu atau ending cerita pasti akan menyatukan segalanya yang tercerai-berai bak puzzle sehingga pembaca akan menemui cahaya yang membuat pikirannya terang benderang.

Begitu mencapai akhir cerita, yang dibaca pelan-pelan dan menghayati setiap katanya, ternyata.. bukan terang benderang yang didapat. Novel ini tidak menghadirkan sebuah finish line, tetapi menghadirkan sebuah jalan yang membuat pembaca mencerna dan merenungkan. Mengenai eksistensi suatu makhluk. Siapa saya? Mau jadi apa? Apa tujuan hidup saya? Apa yang saya lakukan di dunia? Bagaimana saya bisa hadir di sini? Eka juga tidak menceritakan fokus pada satu tokoh, tapi ia menceritakan pada sebuah ekosistem yang isinya saling berinteraksi.


"Menjadi batu seringkali satu-satunya yang bisa dilakukan manusia. Lihatlah bongkah-bongkah batu, yang sebesar rumah maupun sekecil kerikil. Mereka mungkin terlihat, tapi pada saat yang sama diam. Batu tampak seperti gumpalan dunia di mana kehidupan berhenti di dalam dirinya sendiri, sementara dunia di luar dirinya bergerak dengan cepat ... Sebagian besar manusia adalah batu. Berserakan dan terabaikan. Tapi ada waktunya mereka  melayang, menghajar apa pun." (hal 371-372)

Di halaman 418, Eka juga menjelaskan mengenai kehidupan yang infinity. "Itu untuk mengingatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran. Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O."

Barangkali banyak yang tidak suka dengan O karena dianggap tidak fokus, terburu-buru, dan memaksakan banyak materi untuk masuk. Tapi mungkin bisa jadi maksud penulis memang begitu, yaitu tidak bercerita tentang satu pengalaman personal, tapi bercerita tentang sebuah fenomena. And this novel is randomly beautiful. 

02 April 2016

Berkaca Melalui Film

Kapan terakhir kalian nonton film Indonesia di bioskop? Kalau saya beberapa minggu yang lalu. Itu juga karena gratis. Jujur saja, kalau berbayar, saya belum tentu mau nonton di bioskop. Duh, saya memang kurang mengapresiasi film-film buatan dalam negeri nih. Tapi beberapa kali saya nonton film indie Indonesia kok di berbagai pemutaran film alternatif. Rasanya lebih berguna kalau menghabiskan waktu dan uang untuk film indie ketimbang film non-indie Indonesia. Hehe.

Saya nonton tiga film yaitu Langit Masih Gemuruh, Pangreh, dan Semalam Anak Kita Pulang di XXI Epicentrum Jakarta. Ketiga film tersebut diputar dalam rangka XXI Short Film Festival 2016. Film pertama yang saya tonton adalah Langit Masih Gemuruh. Bercerita tentang seorang ibu keturunan Tionghoa yang mencoba menyelamatkan anaknya dari kerusuhan Mei 1998. Dengan tone warna candramawa, sang ibu yang mau mengantarkan anaknya sekolah dengan sepeda ini berjalan keliling kompleks yang segala pintunya ditutup. Dengan muka kebingungan, ia terus mengayuh, sampai melihat asap hitam yang membumbung tinggi. Film ditutup dengan sang anak yang berjalan di atas gundukan rumput hijau dengan memakai baju astronot.

Gambar pinjam dari www.21shortfilm.com

Jason Iskandar, sutradara dari film ini, mengatakan bahwa gemuruh diinterpretasikan bahwa untuk orang muda sepertinya, kerusuhan Mei 1998 itu terjadi seperti mimpi karena ia masih kecil untuk mencerna segalanya. Namun peristiwa tersebut terus "terdengar" bagi generasi muda, seperti gemuruh. Tone warna candramawa juga menandakan dikotomi hitam dan putih saat kerusuhan berlangsung, yang tiba-tiba berubah menjadi penuh warna--yaitu pada adegan berjalan di atas rumput--setelah peristiwa tersebut usai. Meskipun kita hidup sudah lebih berwarna, tetap saja orang Tionghoa memiliki batasan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pagar batu di akhir film.

Gambar pinjam dari www.21shortfilm.com

Film berikutnya berjudul Pangreh. Film ini bercerita tentang perdagangan manusia di sebuah daerah terpencil (setting film di gurun pasir Bromo). Manusia ditawar secara blak-blakan dengan harga yang murah dan penuh perkelahian. Harvan Agustriansyah, sang sutradara, mencoba mengemukakan tentang politik uang di film ini. Pangreh ingin menunjukkan tentang keserakahan dan kemauan untuk melakukan hal-hal yang haram seperti mencuri uang. Tawar-menawar manusia yang dilakukan secara gamblang menunjukkan perbedaan antara transaksi bisnis kelas bawah yang begitu keras dengan bisnis kelas atas yang lebih rapi dan teratur. Harvan memilih Bromo untuk menandakan masyarakatnya tinggal di tempat yang jauh dari informasi.

Nah, kalau film terakhir yang berjudul Semalam Anak Kita Pulang, film ini tampak seram mulanya. Bayangin, settingnya adalah rumah bilik kayu, saat itu hari sudah malam dan terlihat bulan, kemudian ada suara kayu beradu. Rupanya ada seorang perempuan muda yang lagi menumbuk padi. Mendengar suara itu, sang ibu terbangun dan berjalan ke sumber suara di luar rumah. Tapi perempuan itu tidak ada. Jeng jeengg.

Gambar pinjam dari www.21shortfilm.com

Saat hari siang, sang ibu bilang pada suaminya dengan menggunakan Bahasa Jawa bahwa anaknya sudah pulang tadi malam. Tapi si bapak tidak menjawab, hanya makan, merokok, dan minum. Kemudian tanpa bicara satu patah kata pun, ia pergi ke luar sambil membawa cangkul. Di saat ibu tersebut diam sambil duduk di ruang makan, si anak perempuan datang, mencium ibunya, kemudian pergi lagi.

Film karya Adi Marsono ini bercerita tentang para tenaga kerja wanita Indonesia yang kerja di luar negeri. Orang tua tidak peduli seberapa besar penghasilan anaknya. Yang mereka pedulikan hanyalah kabar dan anak bisa kembali pada pangkuan mereka. Hm, film yang sedih.

Ketiga film tersebut menangkap fenomena yang nyata Indonesia. Sayangnya, kalau tidak dijelaskan oleh para sutradaranya, kayaknya tidak dapat dimengerti (oleh saya). Kalau boleh kritik, saya sih kurang terkesan. Film-film ini tampak dibuat ribet dan penuh simbolisasi yang pada akhirnya bikin penonton tidak mengerti. Sangat berbeda dengan film-film internasional yang diputar selanjutnya. Walaupun ceritanya sederhana dan dibuat gamblang, tidak mengurangi nilai film tersebut. Bahkan bisa membuat penonton terkesan. :)

17 March 2016

Hidup Tanpa Sosok Bapak

"Kayaknya si mbak ini dekat sekali dengan bapaknya ya."
"Iya."
"Kayaknya dia sayang sama bapaknya."
"Iya, bapaknya juga sayang sama dia. Lah, kenapa enggak pacaran aja?"

Di atas itu adalah petikan obrolan candaan antara saya dan teman saya. Kami sama-sama punya minat kepo di social media terhadap satu orang yang juga merupakan teman kami (tapi saya sih enggak deket-deket amat). Saya dan si teman ini sama-sama punya emotional baggage yaitu ketidakdekatan atau kehilangan sosok bapak saat masih kecil. Bedanya saya sama dia adalah dia bisa dekat dan sayang terhadap bapaknya, sementara saya tidak.

Banyak teman-teman saya yang orang tuanya mengalami perceraian. Setiap perceraian pasti punya dampak terhadap anak, tapi dampak yang dialami teman-teman saya ini rupanya tidak terlalu negatif seperti yang saya alami. Walaupun sudah berpisah, mereka masih sangat berhubungan baik dengan sang bapak. Masih suka hangout bareng, masih suka selfie, dan masih bangga terhadap bapaknya. Bahkan masih sangat dekat dengan bapak--sampai jadi orang tua terfavorit--meskipun kini tinggal bersama ibu. Sementara saya tidak. Bahkan foto berdua pun tidak pernah.

Perasaan kebersamaan itu, terutama pada sosok bapak, menimbulkan sebuah perasaan yang asing yang tidak pernah saya alami. Apa sih rasanya sayang sama bapak? Apa sih rasanya berkomunikasi sama seorang pria yang merupakan orang tua sendiri? Apa sih rasanya bisa bersandar atau memeluk bapak? Apakah perasaan yang dialami sama seperti perasaan saya ke ibu? Apa yang ingin dia kemukakan melihat kehidupan yang saya jalani sekarang? Apa sih nasihat dia ketika saya mau memilih karier dan pasangan?

Pergolakkan emosi yang naik dan turun, perasaan benci dan maaf, rindu dan menghindar.. semua melebur dalam sesal, sesal, dan sesal. Perasaan yang asing itu tidak akan bisa dikenali selamanya, karena sang bapak kini sudah tiada. Sebuah kepincangan. Kini bapak hanyalah kata yang asing dan kosong namun menggema di setiap lorong.