05 May 2015

Obituary Uwa Ema

Sepertinya saya terbiasa bahwa setiap kali seseorang sakit, pasti ia akan sembuh. Ah, apalagi kalau baru sakit sekali. Tapi hidup baru mengingatkan saya bahwa tidak semua orang sakit itu akan sembuh--walaupun ia tampak segar setelah sakitnya berlalu. Sakit membawa orang ke jalan yang berbeda selain kesembuhan.

Akhir pekan panjang kemarin saya habiskan jalan-jalan bersama teman-teman kantor di Jawa Tengah. Saat akan kembali ke Jakarta di Minggu malam, saya menelepon ibu saya untuk memberi tahu kabar. Ibu saya bilang bahwa kakaknya, yang saya panggil Uwa Ema, kena serangan jantung. Ia sudah dioperasi, ibu saya sudah jenguk, dan uwa tampak sudah sembuh. Bahkan menurut sepupu lain, uwa sudah bisa berbicara untuk menanyakan kabar.

Saya sampai di Jakarta hari Senin pukul setengah 6 pagi. Rasanya capek dan teler sekali. Begitu sampai kosan, saya tidur selama dua jam sambil membiarkan hp yang tidak saya isi baterainya. Ketika bangun dan mengecek hp, saya mendapat kabar bahwa Uwa Ema sudah meninggal. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah kegalauan apakah saya harus pulang ke Bandung atau tidak. Setelah dipikir-pikir, tentu saya harus pulang! Pikiran itu berubah menjadi tangisan ketika kakak sepupu saya menelepon dan mengkonfirmasi kabar itu ke saya sambil menangis.

Hal yang saya takutkan saat itu adalah saya tidak dapat mengejar travel dan terlambat datang ke acara pemakamannya. Tidak boleh terlambat karena kapan lagi saya bisa melihat uwa terakhir kali. Travel baru tersedia pukul setengah satu siang, sementara jadwal pemakaman pukul empat sore. Dan mobil travel datang terlambat 30 menit. Begitu keluar dari tempat travel, sudah ketemu macet. Saya mengutuk Semesta. Bagus!

Meskipun sudah saya kutuk, Semesta masih berbaik hati. Malah terlalu baik. Rupanya saya beberapa menit lebih cepat dari iring-iringan mobil jenazah. Jalur dari rumah duka ke pemakaman itu pas sekali dengan jalur saya turun dari travel. Tidak menunggu lama, saudara saya menjemput di Pasteur. Akhirnya saya bisa sampai pemakaman sebelum mobil jenazah datang.

Mobil itu datang. Keranda dikeluarkan dari mobil, diangkut menuju tanah yang sudah digali. Keranda ditaruh di bawah, tutupnya dibuka, dan saya melihat sebuah kain batik yang menutupi sesosok tubuh. Sebelum masuk liang lahat, kain batik itu disingkap dan memperlihatkan sebuah tubuh yang dibalut kain kafan. Tubuh itu milik uwa saya.

Saat masih kecil, saya cukup sering menghabiskan liburan di rumah Uwa Ema di Cianjur. Uwa Ema menikah dengan seorang dokter sehingga saya main ke rumah dinas mereka yang sampai sekarang hafal betul bentuk rumah dan rumah sakitnya. Di sana, saya banyak menghabiskan waktu main dengan saudara-saudara yang lain.

Semenjak meninggalnya kakak ibu saya yang lebih tua dari Uwa Ema, uwa ini menjadi sosok yang dituakan. Sosok yang selalu dikunjungi saat lebaran. Kalau ada masalah, orang-orang sering berkonsultasi dengannya. Uwa Ema juga sering memantau dan perhatian kepada adik-adiknya, termasuk si bungsu--ibu saya.

Kalau ditanya siapa yang berperan besar atas keberhasilan saya sekarang ini, Uwa Ema adalah salah satunya. Ia banyak sekali membantu saya. Sangat banyak. Sangat amat banyak. Saya merasa saya berhutang budi kepada Uwa Ema. Jika tidak ada Uwa Ema, saya tidak akan menjadi orang seperti sekarang.

Uwa Ema juga sigap ketika ibu saya kena stroke ringan. Ia memberikan rekomendasi obat. Saya bisa melihat ekspresi Uwa Ema yang kasihan melihat ibu saya. Bagi saya, uwa sedang menunjukkan rasa sayangnya. Kalau ibu saya ada keluhan sakit kaki, uwa juga memberi obat oles. Uwa juga banyak membantu ibu saya. Sangat amat banyak. Ia memberikan satu koper pakaian saat ibu saya akan umrok.

Saya lupa kapan terakhir ketemu Uwa Ema karena saya seringkali tidak datang kalau ia sedang mengadakan acara keluarga. Saya menyesal. Saya juga merasa kehilangan dengan sosok Uwa Ema yang begitu mengasuh dan perhatian ke keluarga besarnya. Ia tampak punya energi besar untuk melakukan itu semua. Ia tampak begitu sayang dengan keluarganya. Saya merasa kehilangan sosok yang biasanya saya kunjungi saat lebaran.

Uwa, sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya ya. Semoga Tuhan melapangkan kuburmu, melancarkan urusanmu di akhirat, menerima semua amal baikmu karena uwa sangat baik sekali dengan sepenuh hati. Uwa berjasa sekali. Uwa tidak hanya memberikan kebaikan pada saya, tapi uwa memberikan kehidupan.

Begitu uwa masuk pusara, A'Herul, anak laki-lakinya, mengumandangkan adzan. Suaranya bergetar. Ia tidak kuasa menahan air matanya.

Uwa, you will be missed..


Foto diambil hari Selasa, 5 Mei 2015, di atas kereta dari Stasiun Bandung ke Stasiun Gambir.

26 April 2015

Tanah Mama: Perjuangan Wanita Papua

Hari Sabtu kemarin saya menonton film dokumenter Tanah Mama. Film ini diputar di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia. Saya sudah lama penasaran dengan Galeri Indonesia Kaya karena galeri ini mengadakan acara-acara kesenian gratis setiap bulan. Ada pertunjukkan tari, keroncong, pembacaan buku, dan pemutaran film. Dan kebetulan film yang ditayangkan juga menarik. Maka berangkatlah saya dan teman ke sana.


Tanah Mama berkisah tentang perjuangan wanita di Papua dalam menghidupi diri dan keluarganya. Hidup Halosina, nama wanita itu, berubah semenjak sang suami memutuskan untuk menikah lagi. Karena enggan hidup bersama wanita lain, Halosina memutuskan untuk pergi dan tinggal bersama saudaranya.

Namun sang suami tidak memberikan lahan perkebunan sehingga Halosina tidak bisa menanam dan mendapatkan penghasilan. Mulut anak-anaknya pun harus diberi makan. Oleh karena itu, Halosina memanen ubi di perkebunan milik adik iparnya. Kemudian Halosina dituduh mencuri dan harus membayar denda hingga Rp1 juta. Lalu dari mana ia mendapatkan uang?

Membuka lahan bukan perkara mudah. Diperlukan tenaga laki-laki di sana. Sang suami tidak membantu sama sekali, bahkan tidak membela sang istri ketika si adik ipar datang untuk menuntut denda. Jangankan dengan Halosina, suaminya juga tidak peduli dengan anak-anak dari istri pertamanya. Berbeda dengan anak-anak dari istri kedua yang disekolahkan, anak-anak Halosina tidak sekolah dan kelaparan. Menyebalkan.

Tanah Mama adalah film dokumenter yang sederhana namun bermakna, indah namun menghadirkan sebuah ironi. Di tengah tanah yang subur, para warganya tetap miskin. Halosina harus berjalan kaki lima jam bersama sayur hasil panen dan anak-anaknya, melewati sungai yang penuh dengan batu, kemudian disambung kendaraan ke Wamena. Tentunya keadaan ini menjadi semakin sulit ketika ia adalah satu-satunya pondasi keluarga.

Di tengah perjuangannya mencari nafkah, Halosina adalah seorang ibu yang harus mengurus anak-anaknya. Apalagi ia masih punya anak yang masih balita sehingga seringkali ia harus menyusui di tengah-tengah kegiatannya. Ia menyusui saat menemui kepala desa saat kasusnya diperkarakan, ia juga menyusui di atas bukit sehabis memanen ubi.

Tentu Halosina, dan warga lainnya, tidak berpikir mau pakai baju merek apa, pakai sepatu yang mana, menggapai cita-cita apa, karena tujuannya adalah bagaimana perut ini bisa terisi terus. Sehingga anak-anak pun sudah diajarkan berkebun sejak dini. Keindahan alam bukan menjadi ajang wisata atau cuci mata bagi mereka. Keindahan alam menjadi anugrah yang memberi makan.

Oh ya, sebagai tambahan pengalaman menarik yang kemarin saya lalui, saya menonton film ini bareng komunitas Bioskop Bisik. Komunitas ini mengundang para tuna netra untuk menonton film, ditemani dengan para relawan yang membisikkan setiap adegan dalam film. Tapi relawan harus berhenti menjelaskan untuk memberikan kesempatan pada para tuna netra mendengarkan dialog. Seru!

Pasti akan datang lagi. :)

18 April 2015

Surat Untuk Anak

Kepada Yang Tersayang,
Anak
di manapun kamu berada.

Anak, saya menulis surat ini untuk kamu meski saya belum hamil. Bukan karena tidak dikasih hamil oleh Tuhan, tapi karena belum menikah saja. Di lingkungan saya, hamil sebelum nikah nista hukumnya. Akan dianggap perempuan amoral sementara sang pria yang menghamili dianggap nakal saja. Jadi, karena sepertinya saya tidak tahan dengan pandangan sinis masyarakat, saya tidak mau hamil sebelum menikah. Oleh karena itu, kamu belum ada.

Anak, saya harap kamu tumbuh menjadi anak yang bahagia. Kalau hidup kita buruk (mudah-mudahan tidak), saya tidak akan membiarkanmu sedih atau mengalami trauma-trauma masa kecil. Saya akan menjagamu. Saya akan mengapresiasi semua pencapaianmu, baik kecil atau besar. Saya akan mengajakmu kemana saja dan kita akan mengalami hidup bersama-sama. Kamu akan belajar banyak hal melalui semua inderamu. Merasakan lembutnya pasir pantai, merasakan nikmatnya angin dingin di wajah, merasakan masakan yang begitu nikmat, atau melihat pemandangan  indah yang bahkan membuatmu tidak percaya kalau itu benar-benar ada.

Saya akan membuatmu jatuh cinta dengan hidup sehingga kamu bersyukur bahwa kamu lahir di dunia ini. Saya akan meyakinkan kamu untuk mencintai dirimu apa adanya. Bahwa kamu unik, tidak apa-apa kalau kamu berbeda. Tapi bukan berarti kamu akan berlaku seenaknya, saya akan tetap mengajarimu bergaul dan beradaptasi dengan baik. Bagaimana bentuk wajahmu nanti, apapun warna kulitmu nanti, seperti apa rambutmu nanti, kamu harus yakin bahwa kamu cantik/tampan. Ragamu bukanlah masalahmu.

Saya tidak akan mengajarkan hal semacam "hargai orang lain jika ingin orang lain menghargaimu". Karena kita tidak bisa membentuk respon orang lain. Jangan menghargai karena ingin dihargai. Kadang-kadang orang lain menyebalkan dan kurang ajar. Itu hanya akan mengecewakanmu saja. Hargai karena kamu betul-betul menghargai mereka.

Saat kamu tumbuh nanti, saya akan melarang kamu nonton film Disney, terutama film tuan putri miskin yang terus menunggu hingga menikah dengan pangeran berkuda putih kemudian kaya raya dan bahagia bersama. Kalau kamu miskin, berjuanglah dengan tangan dan kakimu sendiri. Jangan menunggu orang lain. Jangan menjadi pasif. Berjuang. Jadilah orang yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu.

Saya akan meyakinkan kamu untuk percaya bahwa setiap orang punya piala kehidupan masing-masing. Kebahagiaanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Kejar mimpimu dan bersinarlah di sana. Standar sosial itu bukanlah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi. Itu hanya akan membuatmu frustasi. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Tidak perlu menjadi orang lain. Selama kamu terus berusaha untuk menjadi lebih baik, kamu sempurna apa adanya.

Tidak perlu fanatik terhadap agama. Yang penting kamu baik terhadap sesama dan percaya adanya Tuhan, agar kamu tidak sombong. Agar kamu juga sadar bahwa manusia hanyalah titik kecil di Semesta yang saling berinteraksi sehingga kamu tidak bisa mengambil seluruh kendali terhadap hidupmu. Ketika kamu jatuh, Tuhan ada untuk memberikan harapan. Ia akan menyelamatkan.

Anak, barangkali kamu sedang melayang-layang di Surga. Barangkali kamu masih sebuah rencana atau konsep. Tidak apa-apa. Lahir atau tidak kamu nanti, saya menyayangimu. Saya akan mengisi lubang-lubang kosong yang ada di hatimu.

Salam sayang,

Ibu.

26 March 2015

Jelajah Malam Kota Tua

Semenjak diri memutuskan untuk pindah ke Jakarta, saya mencari komunitas yang mirip dengan komunitas sejarah yang saya ikuti di Bandung. Ternyata ada, namanya Komunitas Historia Indonesia (KHI). Tapi sudah tiga tahun tinggal di sini, saya belum pernah mengikuti komunitas tersebut--entah karena tidak update Twitter-nya atau bertepatan dengan jadwal pulang ke Bandung.

Minggu (22/3) lalu, KHI mengadakan acara ulang tahun. Malam harinya juga ada acara jalan-jalan keliling kota tua. Wah, saya pikir ini kesempatan saya untuk kenal KHI. Barangkali cocok, tahu orang-orangnya, dan tahu informasinya. Singkat cerita, saya daftar dan datang. Awalnya canggung karena saya berada di tengah orang-orang yang merayakan ulang tahun komunitas, sementara saya newbie dan belum ada sense of belonging. Canggung terus dari jam 5 sore hingga 8 malam. Berharap cepat berakhir.

Hujan mulai turun deras. Saya takut kalau kegiatan jalan malam dibatalkan. Untungnya tetap berjalan. Jalan-jalan dipandu oleh founder KHI, namanya Asep Kambali. Ia cukup terkenal dan sudah masuk beragam media karena kiprahnya di komunitas sejarah. Walau tidak bawa jaket, untung saya bawa payung. Oke, saya mau tahu bagaimana management komunitas ini saat di jalan.

Rupanya Kang Asep (dipanggil 'kang' karena dia orang Cianjur) memandu sendirian. Berbeda dengan komunitas sejarah di Bandung yang pasti ada beberapa pemandu. Iya, saya jadi semacam otomatis membandingkan kedua komunitas ini. Tidak apa-apa ya, sebagai pertimbangan. :)

Kang Asep memulai perjalanan dengan bercerita tentang Museum Mandiri. Ini adalah pertama kalinya saya berada di museum malam-malam. Cukup mengerikan juga karena Museum Mandiri ini gelap di saat siang, jadi semakin gelap dan tua di kala malam. By the way, Museum Mandiri ini dibangun tahun 1929.

Museum Bank Mandiri kala malam.

Kemudian kami berjalan ke basement Halte Transjakarta Kota. Kami berada di kedalaman 10-15 meeter dari atas tanah lapangan stasiun Beos. Kata Kang Asep, di sini dulunya ada trem yang jalurnya dari Jatinegara sampai Pasar Ikan. Tremnya ada dua yaitu trem listrik sebagai angkutan khusus dan trem uap sebagai angkutan umum. Biasanya trem memiliki dua gerbong untuk memisahkan orang Eropa dan pribumi. Trem dihilangkan tahun 1962 karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi Jakarta. Jadi, generasi sekarang sama sekali tidak dapat sisa peninggalan trem.

Kang Asep dan peserta.
Basement TransJakarta.
Tadi saya bercerita tentang stasiun Beos. Nah, stasiun Beos ini dikenal sebagai stasiun kereta Kota. kenapa jadi Beos? Dulunya stasiun ini bernama Bos, kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur. Arsiteknya orang Belanda kelahiran Tulungagung bernama Heisel (kayaknya ini salah pengejaan). Jurusan keretanya ke arah Jawa. Dibangun tahun 1925, stasiun kereta ini paling top pada zamannya. Seperti stasiun kereta di Priok, rel kereta di sini ada ujungnya alias mentok.


Biasanya orang-orang Eropa bersandar di Tanjung Priok. Mereka naik kereta ke stasiun ini kemudian melanjutkan perjalanan ke Buitenzorg alias Bogor. Jalur kereta Batavia Buitenzorg juga ada. Letaknya di belakang Museum Sejarah Jakarta yang dibangun tahun 1925. Dan FYI, Stasiun Beos bukanlah stasiun pertama di Hindia Belanda. Stasiun kereta pertama ada di Semarang, yang kantornya di Lawang Sewu.

Stasiun memiliki pilar-pilar yang terbuat dari besi sehingga tidak mudah ambruk saat gempa.
Tidak jauh dari stasiun Beos, terdapat gedung BNI. Kang Asep bercerita bahwa dulunya terdapat kanal yang dibangun oleh arsitek kota Batavia bernama Simon. Karena Jakarta berada 2,5 meter di bawah permukaan laut, ia membangun kanal agar tidak banjir. Daendels juga pernah mengeruk kanal ini karena banyak endapan sehingga menjadi sebuah "mal area" dan jadi sarang nyamuk "malaria". Good info, right? Saya jadi membayangkan kalau Batavia (atau Hindia Belanda) adalah tempat yang mengerikan dan berbahaya. Selain penuh hutan tropis dengan penyakit yang berbahaya, masyarakatnya juga primitif. Bahkan kanibal. *mulai ngarang.

Di situ pernah ada kanal yang diberi nama Tiger Kanaal.
Kami berjalan ke tempat yang diketahui oleh semua orang yaitu Museum Sejarah Jakarta.
Gedung ini dibangun tahun 1707. Dulunya tempat pengadilan. Para hakim duduk di lantai dua dan bia dilihat dari jendela.  Rupanya Museum Sejarah Jakarta yang kini berwarna putih dan megah ini pernah dicat warna kelabu oleh pemerintah Jepang. Begitu juga Museum Bank Mandiri. Mereka melakukan ini agar gedung tidak terlihat dari angkasa dan dibom oleh musuh.

Di depan museum ini ada lapangan luas yang dipenuhi pedagang, alayers (uh I'm sorry but it is true), dan terkadang kotor. Dulu juga di sini penuh oleh warga, tapi bukan untuk dagang atau hangout. Mereka datang jika mendengar pengumuman dari pemerintah Hinda Belanda atau melihat orang yang dieksekusi. Para serdadu mengumpulkan warga dengan memukul tambur sambil keliling kampung seperti Kampung Bandar, Kampung Pokojan, atau Kampung Tionghoa. Rupanya Batavia ini disangga oleh kampung-kampung teresbut untuk mendistribusikan berbagai kebutuhan seperti sayur mayur.

Gedung peradilan. Lantai dua tempat para hakim.
Bahkan non peserta juga antusias cari tahu. Atau penasaran?
Kuda dan manusia sama saja. Semua minum dari sini.
Di depan gedung. terdapat sebuah pancuran air yang digunakan untuk minum kuda dan manusia. Di sini, Kang Asep cerita kalau orang Belanda juga suka minum air tanpa dimasak, mungkin karena kebisaan di sana. Tapi kan air di sini berbeda. Barangkali lebih kotor. Kemudian orang Belanda belajar dengan orang Tionghoa di Indonesia yang memasak air sebelum diminum. Maka dari itu banyak orang Tionghoa yang sehat. Di sini pula orang Belanda belajar mandi sehari dua kali dan menggunakan gayung.

Oh ya, di lapangan ini juga ada batu-batu yang disusun persegi. Kata Kang Asep, batu ini didatangkan dari Belanda, tepatnya dari depan istana Dam Palace. Selain Batavia, Belanda menaruh batu ini kota-kota yang mereka jajah seperti Cape Town dan Formosa.

Ini dia batu dari Belanda.

Di sisi timur museum terdapat Museum Keramik yang didirikan tahun 1877. Di sisi barat terdapat Museum Wayang yang didirikan tahun  1912. Di sisi utara terdapat kantor pos yang didirikan tahun 1928 dan masih berfungsi sebagai kantor pos sampai sekarang.

Tidak jauh dari situ, terdapat sebuah gedung tua yang besar tapi terbengkalai. Gedungnya berlumut dan mulai ditutupi pohon. Kosong melompong dan tidak ada yang berani masuk. Kang Asep bilang kalau dulunya ini kantor keuangan dan pernah jadi tempat judi terbesar di Jakarta.

Pernah jadi tempat perjudian terbesar di Jakarta. Hidden beauty.
Di bawah jalan tol.
Petualangan menuju klimaksnya saat kami mulai masuk jalan-jalan kecil dan becek karena hujan. Barangkali karena malam, jadinya lebih menantang. Melewati lingkungan yang padat di daerah Penjaringan yang kadang bau tikus dan bau apek, kami sampai di bawah jalan tol Priok - Bandara. Literally! Dulu dari sini hingga Kampung Arab ada RT 0 RW 0. Tapi sekarang sudah ditiadakan.


Double wall
Di tengah kegelapan itu Kang Asep menujukkan benteng kota Batavia yang tingginya 4-5 meter. Kini hanya bentuknya puing-puing yang berlubang. Dari lubang itu, kami dapat melihat terdapat double wall yang terbuat dari batu bata yang berfungsi menahan serangan. Kenapa tidak dibuat dinding yang tebal sekalian? Kang Asep bilang barangkali terkait biaya. Bahkan sisa benteng yang terletak di belakang Museum Bahari dalam kondisinya mengenaskan. Di sana terdapat dua pintu yang menuju ke gudang rempah-rempah.

Kami juga menyisir sungai Ciliwung yang penuh sesak dengan rumah permanen yang sanitasi dan privasi terganggu. Ketika pintu salah satu rumah terbuka, kami langsung bisa melihat kasur. Saya dan teman baru saya berdoa agar suatu saat tidak tinggal di rumah dan lingkungan seperti ini. Teman baru saya bertanya, "Mereka betah ya di sini?" Saya jawab, "Barangkali karena keadaan, mereka harus di sini. Atau justru mereka betah dan bahagia di sini."

Sepulang dari jalan-jalan bareng KHI, saya merasa senang sekali. Pertama, selama ini saya baru tahu sejarah Bandung, kini saya mulai tahu sejarah Batavia. Mengetahui sejarah Batavia membuka cakrawala tentang sejarah Indonesia. Kedua, semakin kagum dengan cerita-cerita di balik kota yang saya tinggali ini. Ketiga, semakin banyak tahu, justru semakin sedih karena semakin banyak jejak sejarah yang tidak dipedulikan oleh orang-orang dan mulai hilang satu persatu.

Ibarat makan, saya merasa kenyang dan ingin lagi. Semoga ada kesempatan.  :)

14 February 2015

Mengenal Diponegoro Lebih Jauh

Dalam ingatan saya, Diponegoro adalah seorang Pahlawan. Titik. Saya tidak ingat kapan perang terjadi hingga bagaimana perang itu tercetus. Diponegoro hanyalah sebuah dongeng tak berkesan yang diceritakan saat berada di bangku sekolah. Begitu juga pahlawan-pahlawan lainnya. Begitu juga cerita sejarah lainnya.

Justru saya lebih melek sejarah semenjak ikutan komunitas sejarah di Bandung. Di situ kami jalan kaki mengunjungi tempat atau gedung yang merupakan saksi sejarah dan fasilitator menceritakan sejarah melalui gedung yang ada di depan mata. Saya jadi bisa membayangkan dan mengasosiasikan langsung cerita zaman dulu dengan kehidupan sekarang. Uh, mungkin dulu ada kesalahan metode pengajaran pada guru.

Perkenalan saya terhadap Diponegoro justru terjadi pada tahun 2012, yaitu ketika Galeri Nasional memamerkan karya-karya Raden Saleh di pameran "Raden Saleh and the Beginning of Modern Indonesian Painting". Salah satu lukisan terbaiknya adalah Arrest of Pangeran Diponegoro (1857) yang terkenal hingga mancanegara. Bahkan hingga ada cerita mana lukisan yang asli dan mana lukisan yang palsu karena Diponegoro digambarkan menyerah dengan jumawa pada lukisan Raden Saleh.

Tahun 2015 ini, Diponegoro kembali hadir. Ia diinterpretasi oleh para seniman tua dan muda melalui pameran yang berjudul "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh Hingga Kini". Selain Raden Saleh, ada Srihadi Soedarsono, Sudjojono, Nasirun, atau Entang Wiharso. Tidak hanya lukisan cat minyak, terdapat instalasi, video, dan foto. Cerita Diponegoro pun diingatkan melalui media yang lain yaitu pertunjukkan. Teater Koma mementaskan Kuda Perang Diponegoro.

Elegi Pangeran Diponegoro karya Pupuk Daru Purnomo (2014)

Lokale Hulptroepen (Legiun Lokal Nil) oleh Maharani Mancanagara (2015)

Untitled #4 (Reminiscent of Romanticism) oleh Eldwin Pradipta (2015)

Selain melihat pameran dan nonton Teater Koma, saya dan teman-teman juga melihat bagaimana restorasi lukisan dilakukan. Sepertinya masyarakat begitu antusias mengunjungi pameran ini karena kami harus mengantri untuk masuk ke dalam ruang pamer. Jumlah orang yang masuk pun dibatasi. Kami hanya boleh berada di dalam selama 15 menit. Waktu yang sangat sedikit jika ingin menilik karya para seniman yang lumayan banyak. Harus datang lagi!

Rela dijemur di bawah matahari Jakarta.