23 February 2017

Kehidupan Personal vs Keinginan Eksis

Akhir-akhir ini saya mengalami kegalauan dalam dunia perblogan. Bisa dilihat kalau saya jarang update blog. Padahal blog ini memegang peran penting dalam menjaga hobi menulis dan kewarasan saya (karena bisa curhat colongan di sini tanpa diedit orang lain). Dan yang terpenting, menjaga eksistensi saya di dunia maya.

Hahaha.. kayak yang baca banyak aja.

Tapi serius deh. Mulanya saya mau buat blog khusus tentang orang yang baru menjalani kehidupan rumah tangga. Ada cerita, ada foto, dan kalau tidak malas bisa ada video. Dulu saya pernah buat blog khusus bernama #housemate, yaitu ketika saya ngekos satu atap bersama seorang pria aneh, dan tulisannya konsisten tentang dia. Saya pikir lucu juga ya bikin blog yang terkonsentrasi begitu. Tapi kok ya.. akhir-akhir ini ada pikiran enggan membagi privasi?

Kita harus berhati-hati di internet karena once you write it, you can't really erase it. Foto yang diunggah kemudian dihapus itu belum tentu hilang dari jejak dunia maya. Biasanya saat di-browsing akan ada lagi. Daan foto saya di internet sudah cukup banyak, dan saya ingin hapus history saya dari Google, tapi tidak bisa.

Ada seorang vlogger luar negeri yang merupakan ibu rumah tangga merekam kehidupan keluarganya dan diunggah secara rutin di YouTube. Walau saya enggak kenal, tapi karena sering nonton, saya jadi berasa ikut kenal dia, suaminya, dan anak-anaknya. Apalagi ketiga anaknya begitu lucu dan saya jadi ikut mengikuti perkembangan mereka. Karena syuting dilakukan di rumah, saya jadi bisa lihat rumah dia, kamar tidur anak-anaknya, dan kamar tidur dia. Apakah menyenangkan sebagai penonton? Tentu iya. Saya dapat suguhan yang menarik. Tapi apakah menyenangkan jika ruang privasi kita (seperti kamar) dilihat orang-orang yang tidak dikenal? Nah, saya pikir-pikir lagi deh.

Blog memang beda sama vlog. Walaupun tidak menyuguhkan visual seperti kamar tidur, blog juga memperlihatkan privasi lain seperti perasaan. Pembaca jadi tahu perasaan saya terhadap suami saya, baik perasaan positif atau negatif. Pembaca jadi tahu pandangan saya tentang pernikahan secara personal karena saya pasti akan bahas suatu kasus secara spesifik dan enggak bisa curhat pakai analogi karena eventually pembaca akan tahu kok kalau saya curhat colongan. Haha. Hubungan saya dan suami jadi ranah privasi, berbeda dengan hubungan saya dengan seorang pria yang tidak terlalu saya kenal seperti #housemate.

Jadi enaknya bagaimana ya, pemirsa? Ada saran untuk mengakomodasi kedua kebutuhan tersebut? :D

02 February 2017

Di Balik Cerita Pernikahan Kami

Akhirnya yang ditujukan selama empat tahun pacaran tiba juga. Saya dan pacar memutuskan untuk menikah tepat pada tahun baru Ayam Api kemarin. Pembicaraan tentang pernikahan sebetulnya sudah berlangsung setahun sebelumnya, tapi karena dia harus tugas ke luar kota dan banyak pekerjaan rumah seperti bilang ke keluarga masing-masing, persiapan pernikahan dilakukan sekitar satu bulan.

Proses perkenalan dan lamaran terjadi di bulan Desember 2016 lalu. Proses ini banyak ditundanya karena si pacar enggak pulang-pulang ke Sumedang. Tapi sementara ia berada di luar kota, saya sudah banyak browsing vendor pernikahan yang harganya murah tapi bagus. Apalagi anggaran pernikahan kami maksimal hanya 50 juta. Punya uangnya hanya segitu. Lagian inti pernikahan adalah akadnya, kan?

Idealnya sih pesta pernikahan ingin seperti yang sering muncul di The Brides Dept. Pernikahan dengan konsep mewah, dekorasi penuh bunga, baju pengantin buatan designer, dan lainnya. Tapi ya kalau dituruti bisa stres. Mau tidak mau saya harus bikin konsep sendiri. Untuk menekan budget, kami melaksanakan pernikahan di rumah karena pekarangan belakang cukup luas. Selain itu saya memang sudah terbayang ingin melaksanakan pernikahan yang outdoor ala hippie gitu lah. Santai tapi intim. Untungnya teteh saya selaku pemilik rumah setuju dan malah excited dengan rencana kami. Ia dan suaminya memang gemar melaksanakan pesta dan dekor rumah, jadi proses dekorasi dan layout kami serahkan ke mereka.



Hal pertama yang saya lakukan adalah mengurus katering. Kenapa? Katering memakan banyak alokasi anggaran, oleh karena harus diprioritaskan. Karena katering diperlukan dalam jumlah besar, diperlukan booking dalam waktu lama agar tidak diambil orang lain. Selain acara akad nikah, makanan adalah hal utama yang dipikirkan karena kita 'kan menjamu orang lain. Teteh saya menitip pesan bahwa saya harus cari katering yang enak. Orang tidak akan kagum pada konsep atau dekorasi, tapi orang akan memikirkan makanan kok.

Kami memilih Dalaraos yang terletak di Jl. Siliwangi sebagai catering nikahan. Harganya relatif murah dibandingkan katering lainnya yaitu Rp40.000 per porsi. Tapi tanpa stall lho ya. Saya memesan 80% dari jumlah undangan (btw undangan saya 250 orang) dan 20%-nya saya alokasikan pada stall. Stall juga dibagi dua, ada yang buat makan pagi saat akad nikah, dan ada yang buat makan siang. Menurut saya ini jadi lebih efektif karena saya tidak perlu keluar uang untuk konsumsi akad nikah.

Konsep pernikahan saya adalah etnik dan alam karena di rumah banyak unsur kayu dan tanaman. Oleh karena itu, dekorasinya pun tidak jauh-jauh dari kayu. Kami hanya menggunakan gapura kayu di depan rumah, sekat sebagai pelaminan, dan enam kursi kayu. Untuk dekorasi, teteh saya meminta bantuan temannya ibu Ine di Jalan Sangkuriang, Bandung. Ibu Ine ini memang bergerak di bidang dekor-mendekor. Sayangnya saya enggak tahu apa nama perusahaannya, tapi kayaknya dekorasi khas mereka temanya etnik. Pekarangan kami ditutup dengan kain putih dengan aksen hijau. Putih bikin suasana bener-bener beda. Sederhana, tapi elegan. Ini bisa dijadiin inspirasi lho karena jadi enggak norak. Hehe. Sisanya dipercantik sama bunga mawar putih, bunga sedap malam, dan dedaunan.





Katanya baju pernikahan tidak usah bikin karena hanya dipakai seumur hidup sekali. Sayangnya setelah browsing, saya tidak menemukan baju nikahan yang sesuai dengan konsep acara nikahan saya. Kebanyakan baju pernikahan yang disewa memiliki payet yang penuh, menjuntai, dan lebih cocok digunakan di gedung. Saya butuh baju yang sederhana karena memang acaranya sederhana. Malah saya mau kebaya yang casual, sehingga saya ingin pakai kerah sabrina. Jadi, pakailah pakaian nikahan yang nyaman untuk kalian dan pakaian yang kalian inginkan. Karena memori itu abadi. :)

Sebelum ke penjahit, saya dan sahabat saya pergi ke Tanah Abang dan Thamrin City untuk beli kain. Setelah dapat, saya jahit di Hajjas Fashion di Jl. Taman Pramuka dan ditangani langsung sama pemiliknya yaitu Danis. Danis ini anak muda yang ngerti banget deh bikin baju keren tapi dewasa. Hehe. Sekitar dua bulan, baju saya jadi. Dan, oh, karena biasanya anak muda suka baju yang ketat, saya jadi harus jaga berat badan. Tapi mayan lah ya jadi motivasi untuk olahraga. Hihi.

Baju resepsi yang disiapkan dengan niat.

Danis punya paket baju nikahan yang kalau enggak salah harganya Rp5 jutaan. Wah, saya enggak ada budget segitu. Jadi saya pilih paket jahit kebaya biasa tapi main di payet saja. Dan bajunya cantiikk sekali. Suka! Karena tidak mewah, kebaya ini bisa dipakai ke pesta. Dan sebagai pemanis, saya beli wedding hand bouquet di Benang Sari. Bunga yang saya pilih mawar oranye. Katanya warna oranye pada mawar memiliki arti passion dan excitement. Jadi berharapnya pernikahan kami enggak berlandas cinta aja, tapi ada passion dan penuh kegembiraan.

Karena budget mepet, mulanya saya enggak memikirkan baju untuk akad nikah. Wah, harus cari sewa di mana nih? Terus kalau bikin pasti mahal lagi dong? Tadinya saya mau pakai baju yang sama dengan baju resepsi. Tapi di detik-detik terakhir, saya memutuskan untuk pakai baju yang berbeda. Ya sudah, di H-3, saya cari kebaya encim di Pasar Baru yang harganya kisaran Rp150-an. Untuk kainnya juga sempat bingung. Masa iya harus beli lagi? Akhirnya di H-1, saya memutuskan untuk pakai kain yang dikasih teteh saya saat lamaran. Nekat dan serba mepet ya. Hahaha.

Ternyata tidak perlu mahal.

Baju dan kemeja si pacar juga beli di Pasar Baru. Tapi blazernya beli di H&M karena di sana banyak blazer bagus yang enggak terlalu formal seperti di department store. Baju dia nuansanya hijau, disesuaikan dengan suasana dan kain bawah saya. Sepatunya juga boro-boro sepatu formal. Sepatu yang dia pakai adalah sepatu casual yang beli di Sport Station. Haha, duh.

Nah, kalau perkara cari make up artist (MUA), saya dapat rekomendasi dari teman saya. Teman saya merekomendasikan Fita Angela. Paket make up saya habis sekitar 5 jutaan. Itu enggak pakai sewa baju lho ya. Tapii kalau dibandingkan dengan make up lainnya seperti make up sanggar yang belasan juta, wah menurut saya ini sudah cukup deh. Make up Fita ini modern dan tidak medok, sehingga cocok dengan konsep nikahan saya. Apalagi rambutnya yang dibuat oleh Kiki Kusni juga oke banget!

Kusuka sekali cincin kawinnya.

Beberapa orang memilih emas, perak, platinum, atau paladium. Kami memutuskan untuk cincin kayu saja. Setelah browsing di Instagram dan menemukan CKJBrings, akhirnya kami menemukan yang cocok. Kami mencari cincin yang handmade sehingga bisa disesuaikan dengan selera. Karena tidak ada rosewood yang memiliki karakter kayu yang gelap, kami memilih eboni dengan garis tembaga. Harganya murah-meriah, hanya sekitar Rp400.000 untuk dua cincin. Penjualnya bilang stainless steel-nya dijamin anti karat. Dan ketahanan cincin tergantung dari cara pemakaian seperti enggak boleh dipakai mandi. Emas juga begitu bukan?

Saya ingin acara pernikahan ini dekat dan personal. Oleh karena itu, wedding singer dan MC yang dipilih pun teman sendiri. Untungnya mereka terbiasa membawakan acara nikahan, jadi saya percaya seluruhnya sama mereka. Saya enggak pegang kendali penuh acaranya pengen apa atau lagunya mesti apa saja. Saya kira mereka pasti sudah ngerti. Dan ternyata kehadiran teman bermanfaat sekali. Untuk detik-detik menegangkan seperti saat akad, melihat teman saya di depan yang bertindak sebagai MC rasanya melegakan.

Untuk ucapan terima kasih, kami membuat magnet dari tanah liat. Kata keluarga saya, sebaiknya jangan bikin souvenir yang narsis seperti ilustrasi diri atau foto. Aduh, orang juga males majangnya. Kami membuat souvenir yang netral yaitu quote dari Pramoedya Ananta Toer dan Pure Saturday yang dianggap mencerminkan kesukaan kami pada sastra dan musik. Ceileh.



Karena urusannya kebanyakan saya lakukan sendiri, sampai harus bolak-balik Jakarta-Bandung setiap minggunya, wah energi sama waktu saya sudah habis untuk mikirin hal detail. Saya enggak kepikiran tempat mas kawin dan tempat cincin. Tadinya mau apa adanya saja. Tapi untungnya saudara saya bantu untuk bikin tempat mas kawin dari akrilik. Dan dia juga meminjamkan tempat cincin kawinnya. Btw, tempat mas kawinnya dibuat satu tema dengan kartu undangan saya. Kartu undangan saya adalah kartu pos. Ada beberapa yang diposkan, ada beberapa yang diberi langsung. Sederhana dan efektif. Biasanya saat terima undangan, orang lain akan buang undangan itu begitu selesai. Jadi apa poinnya bikin undangan mahal-mahal tapi pada akhirnya dibuang juga. Hehe.

Kami tulis dalam bahasa Sunda. Karena kami orang Sunda. 

It turns out great!
Walau dibantu oleh keluarga, tapi saya dan pacar yang urus sendiri semuanya. Melelahkan sekali, tapi kami jadi tahu persis apa yang kami mau. Selain itu, jadi bisa menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Sepertinya kami hanya menghabiskan 35-40 juta. Ya, memang tertolong karena kami tidak ada biaya venue yang biasanya cukup menghabiskan alokasi dana.

Saya sudah beruntung dari awal karena keluarga saya punya pemikiran yang sama dengan saya, bahwa pesta pernikahan itu tidak perlu mewah. Kita tidak perlu adu gengsi melalui ini. Kita tidak perlu menunjukkan status sosial (ya lagian emang gue siape). Yang penting acaranya lancar dan pernikahannya selalu selamat. Oleh karena itu, saya bersyukur sekali keluarga mau membantu dari acara lamaran, pengajian, hingga acara kemarin. Saya dan pacar (kini suami) menghaturkan banyak terima kasih. Dan tidak hanya pestanya saja yang menyenangkan, semoga saya dan suami menjalani kehidupan yang menyenangkan juga. Tabik!

Kartu terima kasih untuk keluarga.


-------------------------------

Ringkasan:

Venue: Titik Oranje Gallery 
Catering: Dalaraos
Tenda: Bayem Sebelas
Dekorasi: Ibu Ine 
Make up: Fita Angela
Hair do: Kiki Kusni
Souvenir: Elina Keramik
Wedding singer: Syarif Maulana (gitar), Qoqo (gitar+vokal), Fauzi (flute)
MC: Tegar Maulana
Cincin: CKJBrings

20 December 2016

Review Saksi Mata

Langsung saja ya. Habis sudah dipikir kalimat pembuka tulisannya, kok enggak muncul terus.

Seno Gumira Ajidarma (SGA) kembali mewarnai malam-malam saya, mendongeng melalui dua kumpulan cerita pendek. Pertama adalah buku Atas Nama Malam dan kedua adalah Saksi Mata. Keduanya dipinjam oleh bandar buku langganan saya. Haha. Secara singkat, Atas Nama Malam memiliki tema yang beririsan dengan buku Matinya Seorang Penari Telanjang yaitu mengenai kehidupan malam, percintaan, dan kriminalitas. Oleh karena itu, buku pertama ini tidak terlalu berkesan buat saya. Tapi bukan karena alasan jelek lho ya. Bukunya, seperti biasa, bagus dan thoughtful.

Misalnya di cerita pendek Bis Malam, SGA bercerita tentang tokoh yang mengendarai bis malam tanpa tujuan bersama dengan orang-orang yang entah tidur atau mati. Mungkin cerita pendek ini bercerita tentang orang-orang ibukota yang menjalani rutinitas layaknya robot, pulang ke rumah di malam hari, tapi tanpa tahu untuk apa dia beraktivitas siang malam. Sebagai Jakartans, kok cerpen ini begitu relateable. :p

Dok. pribadi

Buku kedua yaitu Saksi Mata betul-betul menyisakan kesan yang mendalam buat saya. Cerita-cerita di buku ini terinspirasi dari Insiden Dili, yaitu pembantaian para mahasiswa pro-kemerdekaan di pemakaman Santa Cruz oleh tentara. SGA dibebaskan dari jabatan Redaktur Pelaksana sehubungan dengan pemberitaan insiden tersebut di majalah Jakarta Jakarta. Dengan semangat ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus bicara, maka muncul karya ini.

Dari 16 cerpen, ada dua cerpen yang paling berkesan buat saya yaitu Maria dan Kepala di Pagar Da Silva. Maria bercerita tentang seorang ibu yang menunggu Antonio, anaknya, setelah hilang hampir setahun akibat konflik. Ia selalu membuka pintu dan jendela rumahnya hingga malam sambil berharap sosok anaknya itu kembali. Ternyata, Antonio datang dengan muka yang sangat jelek akibat disiksa. Melihat hal tersebut sang ibu justru menolak kehadiran anaknya karena merasa tidak kenal.

Kemudian Kepala di Pagar Da Silva bercerita tentang anak Da Silva, yaitu Rosalina, yang dipenggal dan kepalanya ditancapkan di pagar rumahnya. Cerita ini diceritakan dari sudut pandang tetangga Da Silva sebagai orang ketiga. Mereka merasa jeri sekaligus kasihan karena Da Silva sudah kehilangan tiga anak lainnya dan seorang istri akibat ditembak. Da Silva adalah seorang aktivis dan tentara memberi tekanan dengan membunuh keluarganya.

Di malam hari, mereka tidak bisa keluar rumah karena tentara melakukan penjagaan dengan berkeliling. Di malam yang gelap itu, Da Silva mencari anaknya namun ia tidak melihat kepala anak tersebut di pagar. Dan kemudian, ending cerita ini justru membuat seluruh kisahnya jadi sangat sedih.

Wah, pokoknya kamu wajib baca buku ini. Saksi Mata adalah buku yang sangat powerful! Penuh dengan rasa sedih dari keluarga yang ditinggalkan, semangat perlawanan, dan kemarahan. SGA betul-betul bisa menuliskan dengan tajam. Dan ini jadi membikin saya ingin tahu apa yang terjadi mengenai tentang Insiden Dili. Setelah browsing, ergh, hasilnya mengerikan. Politik dan kekuasan yang memuakkan.

16 December 2016

My New Favorites

Hai, pembaca budiman, dan terutama teman-teman yang sudah subscribe blog ini. Apa kabar? :)

Kabar saya baik, agak lelah, dan sudah beberapa bulan ke belakang merasa tidak fit. Mungkin karena lebih banyak beraktivitas fisik yaitu olahraga, mempersiapkan pernikahan sehingga harus bolak-balik Jakarta-Bandung, dan meluangkan pikiran untuk memikirkan hambatan-hambatan untuk menikah. Hambatan bukan secara teknis saja, tapi hambatan secara mental seperti kompromi dengan kepribadian pasangan juga hadir. Berhadapan dengan ketakutan-ketakutan dalam pernikahan seperti pengekangan, masalah ekonomi, hingga perselingkuhan yang umum ditemui kehidupan pernikahan orang yang saya kenal. Dan setahun belakangan hal ini betul-betul direbus hingga matang. Dilebur dan ditempa terus biar nanti jadi perhiasan emas yang baik.

Belakangan ini saya banyak melarikan diri pada buku atau menghabiskan malam sambil nonton YouTube. Ada dua hal yang saya sadari bahwa saya menemukan kesukaan baru yaitu video game dan make up. Sebetulnya kebiasaan nonton dua hal tersebut sudah lama, hanya sekarang makin intens. Saya senang sekali menonton orang yang lagi main game, terutama game yang story oriented seperti The Last of Us, Uncharted, Until Dawn, Catherine, The Last Guardian, dan banyak lainnya. Kesukaan pada video game ini bermula saat saya lihat seorang gamer bernama PewDiePie--yang belakangan lebih tepat disebut entertainer ketimbang gamer. Ternyata game itu seru juga karena ceritanya justru lebih seru dan lebih kaya daripada film, serta visual mereka sangat bagus.

Berikutnya adalah tentang kecantikan. Jadi saya senang lihat tutorial make up. Dulu seorang YouTuber bernama Michelle Phan semacam booming sekali. Saya senang lihat dia make up. Rasanya seperti menggambar di atas muka. Karena Michelle Phan sekarang sudah tidak aktif, saya lihat berbagai beauty guru lainnya seperti Tati dan Jeffree Star. Haha. Seru sih melihat produk make up tanpa harus membeli, melihat cara kerja produk tersebut, dan melihat skill pemakainya. Dan FYI, saya tidak reguler pakai make up. 

Terus sekarang orang lain suka usil bilang, "Wah Nia lagi lihat makeup untuk referensi nikahan." Please deh, I already watched it since two years ago. Atau "Wah Nia rajin olahraga buat persiapan nikah ya?" Waduh kayaknya saya sudah rajin olahraga sebelum kenal sama masnya deh. Enggak segalanya perlu dihubungkan dengan kawin-mawin. :)

Balik lagi ke topik utama, ternyata lucu juga menyadari bahwa kita menemukan hal-hal baru yang mulanya tidak akan kita tahu bahwa nantinya akan kita gemari. Dulu pengetahuan kegemaran saya paling hanya nulis dan buku, tapi sekarang berkembang. Bahkan kalau saya mau fokus di hal-hal baru tersebut bisa jadi ladang kerjaan yang baru, ya menulis skenario untuk game, jadi beauty reviewer. Mungkin ini bisa berguna untuk teman-teman yang belum menemukan passion-nya. Keep looking and keep exploring.

10 November 2016

Review Pelacurku yang Sendu

Apa rasanya terbangun, dalam keadaan kulit bergelambir, penuh dengan keriput, dan akan menginjak usia 90, kemudian mendapatkan ilham yang belum pernah ia dapatkan seumur hidupnya yaitu jatuh cinta pada seseorang? Itulah yang diceritakan oleh Gabriel García Márquez (kemudian akan disebut Gabo) dalam novel Pelacurku yang Sendu.


Dongeng sebelum tidur. Baca yang romantis-sensual. Hihik.

Novel pendek ini bercerita tentang kehidupan seorang wartawan senior yang menghabiskan semasa hidupnya berhubungan seks dengan para pelacur. Pengalaman dengan pelacur pertamanya dimulai saat ia berumur 12 tahun. Tokoh "aku" ini tidak memiliki obsesi terhadap cinta dan pernikahan. Seperti yang dikutip di novel (kira-kira karena saat mau cari lagi di buku kok enggak nemu), "Seks adalah pelipur lara untuk orang yang tidak punya cinta."

Kemudian tokoh menghubungi mucikari langganannya bernama Rosa Cabarcas untuk disiapkan seorang pelacur usia 14 tahun yang masih perawan. Ia datang saat pelacur tanpa nama--yang kemudian diberi nama Delgadina oleh tokoh "aku"--sedang tertidur. Sang tokoh memperhatikan seluruh detail dari Delgadina dan jatuh cinta pada sosok yang sedang tertidur itu. Ia pun datang berkali-kali ke tempat Rosa Cabarcas, menemui Delgadina, dan melewati malam bersamanya yang sedang tertidur.

Bahkan, ada satu kejadian di mana terjadi sebuah pembunuhan di tempat pelacuran Rosa Cabarcas dan tokoh "aku" sulit menghubungi Rosa Cabarcas untuk mengetahui kabar Delgadina karena tempat tersebut ditutup oleh dinas kesehatan. Tokoh "aku" ini mengamati para perempuan yang lewat di lingkungan tersebut sambil menebak-nebak rupa Delgadina jika berada di dalam posisi terjaga. Bahkan tokoh "aku" digambarkan takut jika melihat Delgadina selain dalam keadaan tertidur.

Di novel ini, meskipun Delgadina banyak diceritakan, ia adalah seorang tokoh yang pasif. Ini mengingatkan pada film Talk To Her karya Pedro Almodovar yang berkisah tentang seorang perawat pria yang jatuh cinta dengan pasien wanita yang koma. Kedua tokoh ini memiliki kesamaan yaitu mereka jatuh cinta pada imajinasi yang mereka buat sendiri. Bahkan di awal-awal cerita, tokoh "aku" berkata bahwa bayangan Delgadina begitu jelas sehingga ia bisa mengubah Delgadina seperti yang ia mau dalam pikirannya.

Novel Pelacurku yang Sendu adalah novel naratif yang sangat minim dialog. Bahkan kalau pun ada, dialog masuk menjadi kalimat dalam paragraf. Saya adalah tipikal orang yang harus berusaha lebih untuk membaca novel naratif karena seringkali lost atau pikiran melayang-layang di tengah cerita sehingga harus mengembalikan konsetrasi dan membaca ulang. Meskipun demikian, saya masih bisa mengikuti novel ini, tidak menyerah seperti saat membaca Lapar karya Knut Hamsun. Walaupun saya baca versi terjemahan, kata-katanya enak. Salut untuk An Ismanto.

Meskipun ada unsur seksnya, Gabo menuliskannya dengan tidak vulgar. Tapi kadang membayangkannya lucu juga melihat kakek-kakek puber. Hihi. Gabo juga menuliskan tokoh "aku" yang tidak pernah berhubungan dengan wanita berlandaskan cinta kemudian jatuh cinta untuk pertama kali. Begitu romantis, sekaligus penuh obsesi!