Skip to main content

Posts

FEATURED

Di Balik Cerita Pernikahan Kami

Akhirnya yang ditujukan selama empat tahun pacaran tiba juga. Saya dan pacar memutuskan untuk menikah tepat pada tahun baru Ayam Api kemarin. Pembicaraan tentang pernikahan sebetulnya sudah berlangsung setahun sebelumnya, tapi karena dia harus tugas ke luar kota dan banyak pekerjaan rumah seperti bilang ke keluarga masing-masing, persiapan pernikahan dilakukan sekitar satu bulan.

Proses perkenalan dan lamaran terjadi di bulan Desember 2016 lalu. Proses ini banyak ditundanya karena si pacar enggak pulang-pulang ke Sumedang. Tapi sementara ia berada di luar kota, saya sudah banyak browsing vendor pernikahan yang harganya murah tapi bagus. Apalagi anggaran pernikahan kami maksimal hanya 50 juta. Punya uangnya hanya segitu. Lagian inti pernikahan adalah akadnya, kan?

Idealnya sih pesta pernikahan ingin seperti yang sering muncul di The Brides Dept. Pernikahan dengan konsep mewah, dekorasi penuh bunga, baju pengantin buatan designer, dan lainnya. Tapi ya kalau dituruti bisa stres. Mau tida…
Recent posts

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Film di bioskop sedang rame-ramenya. Ada Murder on the Orient Express yang diangkat dari novelis favorit saya yaitu Agatha Christie, ada The Disaster Artist buatan James Franco yang terkenal humor garing gimana gitu, ada Coco yang katanya bikin mata sembab karena ceritanya menyentuh, dan ada Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak yang ditayangkan di berbagai festival kelas dunia.

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menonton Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Alasannya adalah kami percaya ini film bagus, suami juga jatuh cinta dengan soundtrack-nya yaitu Zeke Khaseli dan Cholil, dan biasanya film Indonesia akan susah dicari jika sudah turun dari bioskop. Berbeda dengan film Hollywood yang bisa dicari di.. ehm.. streaming website. ;)


Saya mau cerita secara singkat sinopsisnya. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berkisah tentang janda muda yang terlilit hutang dan ia harus menyerahkan tubuhnya sebagai bayarannya. Enam orang pria mendatangi rumahnya dan memutuskan untuk memperk…

Stretch Mark Go Away!

Saat hamil, salah satu ketakutan yang saya alami adalah timbulnya stretch mark di pantat, perut, paha atas, lengan atau payudara. Timbulnya stretch mark pada kehamilan itu semacam pasti (walau tidak semua orang mendapatkannya) dan sulit hilang--walaupun sudah dilaser. Kalau kata orang-orang "nikmati saja kehamilanmu, jangan pedulikan stretch mark", saya sih enggak bisa untuk tidak peduli dan menyerah kepada keadaan. Hahaha.

Dari trimester awal, saya rajin browsing minyak atau salep yang katanya baik untuk mencegah stretch mark pada kehamilan. Hasil yang muncul salah satunya adalah Bio Oil. Harganya lumayan mahal yaitu sekitar Rp100 ribu untuk botol kecil. Saya kira bakal cepat habis, tapi ternyata satu botol itu habis dalam waktu dua bulan. Lumayaan.

Saya mulai pakai Bio Oil saat kandungan masuk usia 4 bulan. Harusnya dipakai dua kali sehari setelah mandi. Karena kadang sepulang kerja enggak mandi, saya seringnya pakai sehari sekali saja setelah mandi pagi. Hehe. Bio Oil tid…

Melting Pot Para Seniman Sedunia

Terbayang tidak rasanya jadi orang kaya yang memiliki 800 karya seni nasional dan internasional? Haryanto Adikoesoemo adalah orang beruntung itu. Dari ratusan karya seni koleksinya, ia memamerkan 90 karyanya di sebuah museum yang ia dirikan yaitu Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN). Museum ini berada di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dan baru dibuka pada tanggal 7 November lalu.

Pertama kali saya kenal Musem MACAN karena Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN, hadir di acara pembukaan pameran re-emergence di Selasar Sunaryo Art Space yang saya hadiri saat itu. Saya pikir kok namanya lucu yaitu "macan". Mulanya malah saya kira museum ini tentang binatang. Dan saat browsing, kok museum ini dekat dengan tempat tinggal saya tapi saya tidak pernah tahu keberadaannya. Jadi semakin penasaran dong ya. Namun setelah lihat Instagram-nya, saya jadi bingung ini sebetulnya museumnya sudah buka atau tidak. Kok terlihat segmented dan eksklusif.

Hingga akhirny…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…

Gambaran Bayi Lebih Rinci dengan USG 4D

Waktu sebelum hamil, mana tahu sih kalau USG itu ada 2D, 3D, dan 4D? Pokoknya hanya tahu setiap kontrol ke dokter harus USG untuk melihat perkembangan janin bayi. Ternyata, seiring waktu berjalan dan racun dari teman, saya jadi tahu tentang USG 4D yang bisa menampilkan citra anak lebih jelas. Nah, di situ mulai timbul keinginan untuk USG 4D tapi ternyata harganya tidak murah. Di Jakarta saja, harganya berkisar 400-800 ribu rupiah untuk sekali USG. Phew.

Teman saya bilang kalau di Bandung ada yang murah, harganya sekitar Rp200 ribuan, tempatnya di Cimahi. Hanya saja di sana mengantri sekali, bahkan harus daftar sebulan sebelum hari kita kontrol. Wek. Kemudian ada di daerah Arcamanik yang sebetulnya cukup jauh dari rumah. Itu juga harus daftar lebih dulu.

Kebetulan saya punya teman yang berprofesi sebagai dokter. Dia kasih tahu bahwa di klinik tempat ia praktik sedang ada promosi USG 4D. Harga USG 4D dan konsultasinya murah yaitu Rp199 ribu saja, tapi itu belum termasuk harga print yait…

Kedai Kopi Bara, Pelopor Manual Brewing

Di zaman sekarang, kopi adalah minuman wajib yang digemari oleh anak muda saat hang out. Apalagi semenjak manual brewing naik daun, sekarang para peminumnya jadi fasih mengucapkan istilah-istilah kopi. "Ini biji kopinya dari mana? Flores Bajawa atau Aceh Gayo?", "Ini single origin atau house blend?", "Semi wash atau full wash?", "Roasting-nya light roast, medium roast atau dark roast?" atau "Tekniknya v60, aeropress, vietnam drip?" menjadi kalimat-kalimat yang tidak pernah absen di kedai kopi. Wah, pokoknya bikin orang yang hanya ingin menikmati kopi jadi bingung, apalagi jika setelahnya ditanya oleh sang barista, "Kopinya enak engga?"

Nggg..

Mendengar Kedai Kopi Bara, timbul rasa segan di hati saya. Pasalnya, saya pernah ngobrol dengan pemiliki kopi Contrast di Bandung yang bilang bahwa banyak barista yang belajar tentang manual brewing di Kedai Kopi Bara. Pantas saja mereka belajar di sana karena Kedai Kopi Bara adalah sala…