14 September 2014

Berbagi Pengetahuan

Semalam, pacar saya, Anto namanya, cerita bahwa ia akan memulai kembali usahanya. Kali ini ia akan merambah ke bidang kuliner. Ia cerita bagaimana ia berdiskusi dengan teman-temannya untuk  memulai usahanya ini. Termasuk perdebatan bagaimana menjaga kerahasiaan bumbu utama makanannya.

Ia berencana melepaskan diri dari urusan produksi. Biar itu dilakukan orang lain saja, karena ia akan fokus pada masalah packaging, branding, dan marketing. Mungkin itu yang ia pelajari dari usaha sebelumnya bahwa berkutat di bagian produksi itu melelahkan dan tidak membawa brand tersebut kemana-mana karena jadi tidak ada waktu untuk berjualan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk merubah konsep usahanya.

Teman-temannya ketakutan kalau proses produksi dilepas, maka rahasia bumbu diketahui oleh orang-orang produksi yang notabene orang lain (Anto berencana bekerjasama dengan orang-orang di sebuah desa yang terkenal memproduksi sebuah makanan tertentu). Namun pria berumur 33 tahun tapi belom kawin-kawin ini berkata bahwa ya tidak apa-apa kalau mereka tahu bumbu utamanya. Justru kalau dirahasiakan, itu akan menghambat ia untuk berinovasi. Dan terutama, menurutnya, ilmu pengetahuan itu harus dibagi.

Tatatapi, Pak! Mulanya saya hanya tertawa saja, agak aneh juga. Lalu saya tanya apakah teman-temannya setuju, dia menjawab iya. Saya menduga-duga kalau teman-temannya ini setuju karena terpaksa. Haha. Mengingat si pacar ini orangnya agak keras kepala. *tring! kemudian ngilang*

Lalu dia bercerita tentang usahanya membuat ruang peredam suara bersama temannya. Awalnya dia sama sekali tidak tahu tentang apa dan bagaimana membuat hal tersebut. Lalu mereka melakukan riset dengan metode studi literatur di internet. Ia menemukan seorang ahli yang tahu tentang masalah akustik. Kemudian Anto mengirim email pada orang tersebut untuk tanya-tanya. Orang itu menjawab sedikit dan kira-kira bilang, "Kalau mau tahu lebih lanjut, silakan datang ke tempat saya. Biaya konsultasinya Rp1,5juta per jam." Di situ Anto menyadari dengan getir, ternyata pengetahuan itu mahal.

Karena tentu kemahalan, ia memutuskan untuk mencari lagi. Ia menemukan sebuah perusahaan di Australia yang sudah melakukan riset tentang ruangan peredam suara. Lalu perusahaan itu mengaku senang karena ada yang bertanya dan meminta alamatnya Anto. Seminggu kemudian, ada paket datang ke rumahnya. Ternyata mereka mengirimkan contoh dan CD tentang riset yang mereka lakukan secara detail. Dan itu diberikan secara cuma-cuma.

Anto juga cerita gitar pun demikian. Gitar-gitar ternama di dunia seringkali memberikan informasi tentang gitarnya dari bagian luar hingga dalam. Berbeda dengan orang Indonesia yang sebenarnya hanya mengawinkan formula yang sudah ada, tapi disimpan jadi sebuah rahasia. Lagipula, apa yang sih baru di bawah langit?

Saya teringat dengan cerita redaktur saya. Pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang chef ekspatriat yang mengaku tidak pernah menutupi bumbu utama masakannya. Chef itu berkata, "Kalau saya memberikan alat dan bahan yang sama dengan orang lain, lalu masak bersamaan, hasilnya pasti berbeda." Oleh karena itu, si chef tidak pernah takut ditiru.

Kemudian saya juga teringat dengan seorang ilustrator di Instagram. Kalau ada yang bertanya kertas apa yang digunakan atau cat air jenis apa yang dipakai, ia selalu menjawabnya. Di situ saya jadi berpikir bahwa kunci utamanya bukan pada alat dan bahan, tapi kuncinya ada di skillSkill itu dipelajari dan tidak semua orang bisa mencapai level yang sama. Skill, seperti ide, adalah hal yang tidak bisa dicuri.

Lagipula, sebagus apapun barang tidak akan ada gunanya jika kita tidak bisa menjualnya, bukan?