14 February 2015

Mengenal Diponegoro Lebih Jauh

Dalam ingatan saya, Diponegoro adalah seorang Pahlawan. Titik. Saya tidak ingat kapan perang terjadi hingga bagaimana perang itu tercetus. Diponegoro hanyalah sebuah dongeng tak berkesan yang diceritakan saat berada di bangku sekolah. Begitu juga pahlawan-pahlawan lainnya. Begitu juga cerita sejarah lainnya.

Justru saya lebih melek sejarah semenjak ikutan komunitas sejarah di Bandung. Di situ kami jalan kaki mengunjungi tempat atau gedung yang merupakan saksi sejarah dan fasilitator menceritakan sejarah melalui gedung yang ada di depan mata. Saya jadi bisa membayangkan dan mengasosiasikan langsung cerita zaman dulu dengan kehidupan sekarang. Uh, mungkin dulu ada kesalahan metode pengajaran pada guru.

Perkenalan saya terhadap Diponegoro justru terjadi pada tahun 2012, yaitu ketika Galeri Nasional memamerkan karya-karya Raden Saleh di pameran "Raden Saleh and the Beginning of Modern Indonesian Painting". Salah satu lukisan terbaiknya adalah Arrest of Pangeran Diponegoro (1857) yang terkenal hingga mancanegara. Bahkan hingga ada cerita mana lukisan yang asli dan mana lukisan yang palsu karena Diponegoro digambarkan menyerah dengan jumawa pada lukisan Raden Saleh.

Tahun 2015 ini, Diponegoro kembali hadir. Ia diinterpretasi oleh para seniman tua dan muda melalui pameran yang berjudul "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh Hingga Kini". Selain Raden Saleh, ada Srihadi Soedarsono, Sudjojono, Nasirun, atau Entang Wiharso. Tidak hanya lukisan cat minyak, terdapat instalasi, video, dan foto. Cerita Diponegoro pun diingatkan melalui media yang lain yaitu pertunjukkan. Teater Koma mementaskan Kuda Perang Diponegoro.

Elegi Pangeran Diponegoro karya Pupuk Daru Purnomo (2014)

Lokale Hulptroepen (Legiun Lokal Nil) oleh Maharani Mancanagara (2015)

Untitled #4 (Reminiscent of Romanticism) oleh Eldwin Pradipta (2015)

Selain melihat pameran dan nonton Teater Koma, saya dan teman-teman juga melihat bagaimana restorasi lukisan dilakukan. Sepertinya masyarakat begitu antusias mengunjungi pameran ini karena kami harus mengantri untuk masuk ke dalam ruang pamer. Jumlah orang yang masuk pun dibatasi. Kami hanya boleh berada di dalam selama 15 menit. Waktu yang sangat sedikit jika ingin menilik karya para seniman yang lumayan banyak. Harus datang lagi!

Rela dijemur di bawah matahari Jakarta.

08 February 2015

Reguk Pahit Kopi

Mungkin sekitar lima tahun ke belakang, kopi menjadi sebuah gaya hidup. Saya tinggal di Bandung dari kecil. Di kisaran rumah yang begitu strategis, pesat sekali pertumbuhan coffee shop di sini. Dari yang rasanya enak hingga yang rasanya biasa saja. Dari dibuat secara manual brew, hingga dibuat oleh mesin. Dari harganya biasa, hingga mahal.

Kalau bicara produsen kopi, di Bandung ada yang namanya Kopi Aroma. Pabrik kopi ini sudah berdiri dari tahun 1930. Kopi Aroma bukanlah coffee shop yang orang-orang bisa minum, duduk-duduk, dan hangout. Tempatnya murni untuk jual beli kopi, orang datang dan pergi dengan cepat. Produknya juga sudah masuk ke pasar swalayan.

Kemarin saya berkesempatan pergi ke Kopi Es Tak Kie yang ada di kawasan Glodok. Informasi tentang tempat ini saya dapatkan dari teman kantor yang liputan ke sana. Yang membuat saya ingin ke sana adalah kopi, Pecinan, dan--kalau kata si pacar-- adalah faktor "sejak". Saya menyukai hal-hal yang vintage karena untuk bisa berdiri hingga sekarang pasti ada alasannya dan ada nilai selain jualan yaitu nilai sejarah.

Tempat yang kecil dan terletak di tengah pasar membuat toko ini begitu tricky.


Tempat ini betul-betul sebuah restoran dimana orang-orang hanya datang untuk makan. Kursi dan meja terbuat dari kayu yang tegap. Semua orang di sini tampak sibuk hilir mudik dan tempat ini selalu penuh. Jangan harapkan sofa atau WiFi. Jangan harapkan juga pelayan yang lamban dan berbasa-basi menawarkan menu. Begitu masuk, saya langsung ditawarkan, "Mau minum apa? Mau makan apa? Ada nasi campur, bakmi, nasi Hainan?"

Saya pergi ke Kopi Es Tak Kie bersama ketiga orang teman saya. Kami memesan es kopi dan es kopi susu. Saya baru sadar ketika Harry, salah seorang teman, bilang kalau rasa kopi tidak berubah encer walaupun es sudah meleleh. Rupanya air kopi itu dibuat dari pagi hari dan sehingga sudah dingin saat belum diberi es. Pantas saja rasanya tidak berubah. Selain itu juga di gelasnya tidak ada bubuk kopi sehingga orang bisa minum sampai habis.





Baru pukul setengah 11, namun makanan sudah habis. Kami memesan mi ayam bakso dan mi ayam pangsit. Saat dicoba, waduh ternyata enak sekali. Tekstur mi-nya tebal namun tidak terasa terigunya. Berbeda dengan mi ayam di depan kantor kami. Cis. Selain itu juga bumbunya enak dan ayamnya juga penuh daging, bukan jeroan atau kulit. Mantap! Sangat memuaskan bagi kami yang sudah menempuh jarak jauh dari Kebon Jeruk.

Kopi Es Tak Kie sudah beroperasi selama itu. Ternyata di Jakarta ada pabrik kopi yang sudah lebih lama lagi beroperasinya yaitu Kopi Warung Tinggi. Sebelum nasionalisasi, pabrik ini bernama Tek Soen Hoo yang dibangun dari tahun 1878. Lama banget kan?

Saya pergi ke Kopi Warung Tinggi yang ada di mall Grand Indonesia. Sebelumnya saya hanya tahu kopi ini ada di Jalan Tangki Sekolah. Tapi untung karena ada tugas liputan, saya bisa mencicipi Kopi Warung Tinggi. Saya mencoba kopi peranakan yang terdiri dari kopi campuran arabika dan robusta serta kopi susu kental manis. Rasanya enaaak sekali. Begitu tebal namun perpaduan kopi dan susunya pas. Sementara teman fotografer saya mencicipi kopi jantan.

Manual brew Beligum Syphon.
Kue cubit sebagai pasangan sejoli dari kopi peranakan.

Di Jawa, kopi jantan dikenal sebagai kopi lanang. Pada satu buah pohon kopi, terdapat kopi-kopi terbaik yang berada di pucuk pohon. Ibarat seperti teh putih yang terdiri dari pucuk daun teh juga. Bentuk biji kopinya lebih bulat dan lebih kecil daripada biji kopi biasa. Kata kepala barista kopi Warung Tinggi, rasanya kuat dan bisa membangkitkan "stamina" pada pria.

Kopi bisa direbus secara manual dengan berbagai teknik seperti syphon, french press, v60, atau dripper. Untuk keperluan foto, saya minta agar kopi jantan dibuat dengan Beligian siphon. Kepala baristanya bilang kalau aroma kopi bisa lebih keluar dengan teknik ini.

Berbeda dengan coffee shop lainnya yang biasanya menjual kopi berdasarkan lokasinya seperti kopi Aceh Gayo, kopi Toraja, kopi Sidikalang, kopi-kopi Warung Tinggi dicampur dari berbagai tempat, sehingga pengunjung akan mendapatkan kopi arabika atau robusta dari berbagai tempat dalam satu teguk.

Hal terhebat dari kopi Warung Tinggi ini adalah ceritanya. Kopi Warung Tinggi dikelola oleh lima generasi dan pabrik mereka sempat tutup karena ada peristiwa tahun 1998. Selain banyak yang dijarah, para pengelola juga hijrah ke Singapura. Namun ketika situasi telah aman, mereka balik lagi dan terus mengembangkan kopi. Tentunya perlu sebuah niat dan usaha untuk bisa melanggengkan sebuah bisnis turun temurun, kan?

18 January 2015

Jelajah Bekas Rawa

Semenjak ranah politik kedatangan (mantan) walikota Solo sebagai pendatang baru yang fenomenal, saya mulai tertarik mengamati politik. Tentu sebagai komentator. Komentator sotoy, lebih tepatnya. Kemudian si pendatang baru ini menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Meski saya bukan warga Jakarta, saya ikut senang kalau orang yang portofolionya baik bisa memimpin kota yang saya tinggali sekarang. Jadi memiliki harapan.

Di awal-awal jabatannya, salah satu aksi yang mengundang perhatian adalah ia menggusur warga di sekitar Waduk Pluit. Seharusnya waduk ini berfungsi untuk menyimpan air dan bebas dari pemukiman, namun bibir waduk dipenuhi oleh perumahan sehingga waduk ini mengalami pendangkalan. Otomatis jadi meluber dan banjir di saat hujan. Apalagi area tersebut milik negara dan seharusnya tidak boleh dibangun rumah--baik permanen maupun non permanen.

Jokowi, si pendatang baru itu, berdiskusi dalam sebuah acara makan siang dengan warga sekitar agar mereka mau dipindahkan. Akhirnya mereka pun pindah. Kini kisaran waduk dijadikan taman. Karena sejarahnya yang fenomenal itu, saya jadi penasaran dengan taman kota Waduk Pluit ini. Akhirnya kemarin saya berkesempatan ke sana. Senangnyaa.

Pluit adalah daerah yang saya jarang kunjungi, apalagi dengan angkutan umum. Jauh dari peradaban. Hehe. Kalau tidak ada keperluan, ya untuk apa. Namun Sabtu (18/1), saya harus liputan ke Pantai Indah Kapuk (PIK). Oh, kalau itu saya sudah tahu angkutan umumnya. Ternyata angkot yang saya tumpangi mengambil jalur yang berbeda. Di situ saya tidak sengaja menemukan Waduk Pluit.

Tunggu busnya di sini ya!

Mulanya sepulang liputan, saya mau pergi ke daerah Glodok dengan BKTB TransJakarta. Setelah browsing, ternyata bus ini melewati waduk. Sayangnya menunggu BKTB ini sangat lama. Saya menghabiskan waktu satu jam lebih untuk menunggu. Sebenarnya bisa saja menyerah dan tidak jadi pergi ke waduk. Tapi saya sudah kepalang berada di daerah sini. Jadi saya memutuskan untuk bertahan.

Letak Taman Kota Waduk Pluit tidak jauh dari PIK. Begitu sampai, saya merasa senang. Taman ini begitu tertata, banyak pohon tapi belum rindang. Mungkin karena dijaga satpam dan satpol PP. Pada saat saya ke sana pun ada petugas taman yang sedang memperbaiki rumput. Taman kota ini begitu luas. Ada lapangan basket, amphitheater kecil, jembatan kecil, dan area apungan agar pengunjung bisa berdiri di atas air. Tidak jauh dari situ, ada perahu wisata. Namun sepertinya tidak lagi digunakan.


  


Meskipun hari libur, mesin-mesin pengeruk masih bekerja. Saat saya berada di area apung, ada seorang bapak-bapak. "Lagi apa, Pak?" tanya saya sok kenal. Ia menjawab, "Lagi ukur kedalaman air. Ini kan harus terus dikeruk," ujarnya.



Sebagai informasi tambahan, kata Pluit berasal dari bahasa Belanda yaitu fluitschip atau kapal layar panjang berlunas ramping. Mulanya lahan ini berupa rawa-rawa. Menurut Wikipedia, Pemerintah Hindia Belanda meletakkan sebuah fluitschip bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut di pantai sebelah timur muara Kali Angke sehingga daerah ini mendapat nama Pluit.

Sepulangnya, saya memutuskan untuk naik BKTB TransJakarta. Untungnya tidak memakan waktu lama. Kata bapak-bapak, bus ini ngetem selama 30 menit di halte awalnya yaitu Fresh Market PIK. Saya bisa saja naik angkot atau taksi ke Grogol atau TransJakarta dari Pluit. Tapi saya ingin tahu rute bus BKTB ini.

Saya melewati jalan-jalan yang tidak saya kenal sampai bus ini tembus ke Kota Tua. Jakarta ini sangat luas. Bahkan, mungkin, di setiap inchinya ditinggali oleh orang-orang. Di situ saya berpikir, "Ah, gila ya orang Jakarta. Mereka bisa hidup di mana saja. Termasuk di daerah bekas rawa." Rawa dihabisi, dibangun pemukiman, ditinggali, beranakpinak. Semakin padat, semakin banyak. Antara kagum sekaligus.. ah, entahlah.

11 January 2015

Synchronizing

+ I want to get married because I want to be with someone I love forever.
- But people can get along together although they are not married.
+ But I want to build a family. I am not looking for an accompany to sleep.

Beberapa bulan belakangan ini, kami seringkali bertengkar. Kebanyakan pertengkaran disebabkan oleh karakter dan jalan berpikir yang benar-benar berbeda. Bagi saya, dia terlalu cuek, santai, dan kadang tidak berperasaan. Dan bagi dia, saya terlalu negatif dan gemar melebih-lebihkan. Bagi saya, beberapa perilakunya itu salah. Bagi dia, tidak ada yang salah. Sampai akhirnya saya sebal dan muak juga sehingga memutuskan untuk meminta jarak. Mungkin orang lain melihat alasan saya itu mengada-ada. Tapi kalau sudah dijalani lama dan masih sulit untuk dikompromikan, saya butuh jeda (meski hanya sebentar).

Menyesuaikan dua orang itu butuh usaha dan waktu. Kalau komunikasi baik-baik tidak cukup, kadang butuh pertengkaran yang mengeluarkan ego dan keinginan masing-masing dengan keras. Yang paling penting adalah keduanya masih memiliki keinginan untuk berusaha menyesuaikan. Jika salah satu sudah menyerah, hubungan akan berakhir. Atau kalau tetap berjalan, mungkin akan banyak adegan "makan ati" sendiri dan pastinya tidak nyaman. Tentu saya tidak mau hubungan yang seperti itu. Lagipula, jika saya berhubungan dengan orang lain, aktivitas sinkronisasi ini pasti akan berlangsung. Kelemahan atau hal-hal yang tidak kita sukai pada orang lain akan selalu ada.

Diri ini juga harus membebalkan diri dari lingkungan sekitar. Mungkin hubungan orang lain terlihat lebih romantis, atau lebih santai, atau segalanya berjalan mudah.. tapi ya sudahlah, masing-masing hubungan dan individu itu berbeda. Dan orang lain adalah penonton yang pintar menilai. Mereka juga pintar mengambil keputusan seperti "cari orang lain saja." Mudah-mudahan saya tidak buta.

Jadi, di tahun ini, mungkin kami akan merayakan usaha-usaha yang pernah dilakukan untuk menjaga hubungan. Itu patut diapresiasi. Selamat tahun ke-2! Mari kita beri hubungan ini sebuah kesempatan lebih lama karena kita tidak akan pernah tahu kemana kita akan berkembang. Kalaupun kita diam di tempat, semoga kita selalu bahagia.


20 December 2014

Berteriak dalam Senyap

Mengarungi Timur dari Barat di Jakarta bukanlah hal yang mudah. Terutama saat jam pulang kantor. Ketidakmudahan serta risiko telat sampai di tempat tujuan tidak menghalangi saya, teman-teman kantor, dan teman penulis, Myra, untuk nonton film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yaitu Senyap. Dan saya pikir, ini satu-satunya film dimana saya begitu niat untuk melihat sehingga hujan pun diterabas.

Senyap adalah film yang menceritakan kisah tragis pembantaian komunis di Indonesia pada tahun 1965-1966. Tahun lalu, Oppenheimer menggemparkan masyarakat Indonesia dengan film dokumentasi dengan tema yang sama yaitu Jagal (The Act of Killing). Jagal bercerita tentang pembantaian dari sisi pembunuh, sementara Senyap bercerita dari sisi keluarga korban pembantaian.



Bercerita tentang Adi Rukun, seorang adik dari  Ramli--kakaknya yang dibunuh, yang mencari siapa yang bertanggung jawab di balik pembantaian tahun 1965. Meskipun Adi lahir setelah kakaknya dibunuh, Adi dibebankan oleh orang tuanya bahwa ia lahir untuk menggantikan Ramli. Walaupun ia tidak melihat kejadiannya saat Ramli datang ke rumah dengan usus keluar dan punggung berlubang akibat tusukan-tusukan, namun hidup di bawah ketakutan dan penuh pembatasan karena statusnya sebagai "orang-orang yang disingkirkan" itu menghantuinya. Contoh pembatasan itu adalah para penyintas yang mendapatkan cap komunis tidak boleh membeli sepeda motor, mereka hanya boleh mengendarakan sepeda.

Oppenheimer menemukan Adi saat ia membuat film dokumenter The Globalisation Tapes pada tahun 2000 di sebuah perkebunan kelapa sawit. Meski banyak korban pembantaian, Ramli adalah korban yang memiliki beberapa saksi sehingga sering dibicarakan. Oleh karena itu, Oppenheimer memutuskan untuk menggali lebih jauh tentang Ramli karena ini merupakan bukti suram sejarah Indonesia.

Adi menemui beberapa orang yang bertugas sebagai komando tentara sipil yang melakukan pembantaian. Hal yang paling mengerikan adalah orang tersebut kini berada di bangku pemerintahan. Adi juga menemui pamannya sendiri yang pernah bertugas menjaga penjara tahanan komunis. Sang paman secara tidak langsung juga terlibat dalam pembantaian. Orang-orang yang ditemui Adi menyangkal bahwa mereka bertanggung jawab. Jangankan untuk menyesali atau meminta maaf, mereka anggap diri mereka pahlawan!

Sama seperti Jagal, film ini juga diperlihatkan bagaimana para jagal membunuh orang-orang. Selain ditusuk, digorok, dikerat, alat kelamin para komunis atau orang yang dituduh komunis juga dipotong. Pada jagal mereka ulang bagaimana korban harus menungging dan kelamin mereka dipotong dari bokong. Bahkan ada salah satu dari mereka yang meminum darah korban. Sang anak penjagal, dengan bodoh dan polosnya berkata, "Mungkin itu yang membuat bapak sehat hingga sekarang."

Menjijikan. Di mana hati nurani mereka? Tidakkah mereka merasa kasihan saat menyakiti orang lain? Pikiran manusia bisa betul-betul kejam.

Kurang dari satu tahun, pemerintah Indonesia membantai satu juta orang. Pemerintah Orde Baru membantai para anggota serikat buruh, serikat tani, dan orang-orang yang setuju bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia harusnya digunakan untuk keuntungan rakyatnya sendiri, bukan orang asing. Pemerintah juga menumpas para petani miskin yang tidak punya tanah karena mereka yakin bahwa komunisme harus ditumpas hingga akar-akarnya.

Saya pikir, brainwash saat Orde Baru itu benar-benar hebat. Apalagi masyarakat sudah dipapar bahwa komunis adalah hal yang harus disingkirkan itu selama puluhan tahun, melalui semua lini termasuk buku pelajaran. Begitu mengakar sehingga mana yang salah dan mana yang benar sudah tidak bisa dipertanyakan. Seperti yang ditunjukkan dalam adegan keluarga pembantai yang menolak untuk melihat video ayah mereka membuat buku dokumentasi pembantaian. Mereka minta agar hal ini dilupakan bahkan menganggap pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh kru film itu menganggu.

Sementara Adi, dengan siapapun ia berhadapan, hanya mampu bertanya untuk mencari kebenaran dan untuk mengeluarkan para keluarga korban dari kesenyapan. Pria yang berprofesi sebagai tukang kacamata ini tidak menunjukkan emosi marah. Beragam penyangkalan yang ia temukan. Bibirnya terus mengatup, kadang bergetar, matanya berkaca-kaca. Mencoba menahan emosi agar tidak keluar.