23 May 2016

Refleksi Kehidupan Melalui Serat Centhini

Kalau mendengar Serat Centhini, hal yang mungkin pertama kali terpikirkan adalah seks. Centhini disebut-sebut Kamasutra dari Jawa. Bahkan lebih liar dan panas.

Perkenalan saya pada Serat Centhini dimulai saat kuliah. Teman saya memperlihatkan sebuah buku Kamasutra yang dibeli pacarnya saat sekolah India. Hardcover, full color dengan visualisasi foto sepasang manusia melakukan persenggamaan, tapi tidak vulgar dan tidak juga memperlihatkan alat kelamin. Jadi ini bukan buku porno deh. Terus saya tahu entah dari mana bahwa Jawa memiliki panduan seks yang lebih "gila" dari Kamasutra. Kebetulan dosen saya punya buku Serat Centhini, salah satunya adalah buku yang diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak. Bukunya ada yang saya beli dan ada yang saya fotokopi.

Saat baca, kok ada panduan cara membangun rumah, kapan waktu-waktu terbaik untuk melakukan sesuatu, bahkan hingga cara bertamu? Bahasan seks memang ada karena seks adalah awal kehidupan manusia, terutama di buku Nafsu Terakhir yang diadaptasi Elizabeth D. Inandiak begitu menggetarkan jiwa dan raga. Hehe. Tapi Serat Centhini tidak bercerita melulu tentang panduan persenggamaan, tetapi buku ini adalah panduan kehidupan.

Buku Serat Centhini tidak pernah saya sentuh lagi. Kini ia tergolek lemah tak berdaya di lemari buku. Tapi ingatan tentang Serat Centhini muncul kembali karena kemarin, saya nonton pembacaan Reading Centhini: Suluk Tembangraras oleh Agnes Christina di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Acara pembacaan dibuka saat seorang wanita dengan potongan rambut sangat pendek--panjang rambutnya hanya beberapa senti saja--membuka acara dengan heboh. Kemudian lagu campur sari di pasang dan dia berjoget di depan. Saya kira ia pembawa acaranya karena mulanya saya menduga acara teatrikal ini akan dibawakan oleh seorang perempuan yang kalem, feminin, dan berwajah sendu. Tapi ternyata dugaan saya salah, justru ia yang akan membacakan Serat Centhini.

A photo posted by Nia (@niajaniar) on

Agnes membuka acara dengan pengalaman dia mencari buku Serat Centhini di berbagai kota seperti Bandung dan Yogyakarta. Ia mencari di pasar-pasar buku dan sempat tertipu. Ia juga mengira bahwa Serat Centhini hanya satu jilid saja, padahal buku ini terdiri dari 12 jilid. Ketika ia sudah mendapatkan semuanya, ia melihat di internet ada yang menyediakan e-book Serat Centhini secara gratis. Penonton pun sontak tertawa.

Kemudian ia bercerita tentang awal mula dibuatnya Serat Centhini yaitu ketika seorang pangeran dari Keraton Solo yaitu Pakubuwono V menunjuk tiga pujangga istana untuk melakukan perjalanan ke seluruh Jawa dan mengumpulkan serat-serat di berbagai daerah sebagai acuan. Kemudian Agnes bercerita tentang petualangan Cebolang, pengembaraan Jayengraga, adik Tembangraras, mencari Amongraga karena, setelah kawin, Amongraga meninggalkan istrinya yaitu Tembangraras untuk mengajarkan ilmunya ke masyarakat. Dan FYI, pada saat malam pertama, Amograga dan Tembangraras tidak melakukan hubungan seks. malah dia menyuruh istrinya shalat. Wkwk.


Yang membuat pertunjukkan ini menarik adalah Agnes memvisualkan ceritanya melalui ilustrasi gambar yang tersebar di panggung. Penceritaan juga sering diseling dengan nyanyian campur sari berbahasa Jawa dengan terjemahan sehingga semua orang bisa memahaminya. Lagu-lagu tersebut tidak hanya menggembirakan atau membuat orang tertawa, tapi lagu-lagu tersebut kadang membuat cerita terasa pilu.

Agar bisa relatable dengan kehidupan sekarang, Agnes bercerita tentang dirinya seorang warga keturunan Tionghoa yang hidup bersama para "pribumi". Ia juga bercerita tentang dirinya saat kerusuhan 1998 berlangsung dan menyebabkan ia melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali. Ia juga bercerita bahwa ia bukan Tionghoa yang umumnya usaha buka toko dan menikah dengan sesama orang Tionghoa. Agnes ingin hidup fokus di seni dengan mendalami teater dan ia jatuh cinta dengan seorang pribumi Islam yang jelas ditolak oleh keluarganya. Ia juga harus memilih untuk kawin lari bersama kekasihnya dengan berbagai hambatan birokrasi dan prosedur atau kembali ke keluarganya.

Intinya Agnes ingin memperlihatkan kepada penonton kalau membaca Serat Centhini itu seperti membuka lembaran-lembaran kehidupannya sendiri. Pertunjukkan ini menceritakan tentang perjuangan hidup dan pilihan-pilihan hidup beserta konsekuensinya di dalam Serat Centhini. Itu juga adalah hal yang sama seperti  yang dialami Agnes.

Wah, kalau berpikir Serat Centhini melulu tentang esek-esek, jauh deh pokoknya! Serat Centhini juga bercerita tentang pengorbanan yaitu saat Tembangraras dan Amongraga yang tidak bisa bersatu ini mengubah diri jadi ulat. Ulat jantan dimakan Sultan Agung dan ulat betina dimakan Pangeran Pekik. Nanti anak laki-laki dan perempuan mereka akan dinikahkan.

Agnes berhasil membawakan pertunjukkan yang sangat thoughtful! Ia berhasil menunjukkan bahwa untuk mengejar mimpi manusia harus mengorbankan sesuatu. Ia juga berhasil membuat saya ingin membaca lagi. Sayang sekali jika karya sastra ini dibiarkan berdebu dan tersudut di rak buku.

22 May 2016

Ngopi di Gayanti

Sebagai pendatang di Jakarta dan telah melihat kota megapolitan ini melalui tv, koran, dan majalah, banyak beberapa tempat yang ingin saya datangi. Salah satunya adalah tempat-tempat kuliner yang berdiri sejak lama, seperti Kopi Tak Kie, Kedai Tjikini, Ragusa.. dan terakhir yang saya datangi yaitu Gayanti Coffee Roastery.

Bandung punya kopi Aroma yang ternama dan menjual bubuk kopi. Karena rindu menyeduh kopi non pabrik besar, teman-teman menyarankan saya pergi ke Giyanti karena mereka juga menjual kopi bubuk dan kopinya enak. Tidak seperti kopi Aroma yang murni menjual bubuk saja, Giyanti punya tempat duduk di mana orang bisa minum-minum cantik. Bukanya hanya Rabu-Sabtu, itu pun tidak sampai malam. Katanya karena mereka perlu waktu untuk roasting kopinya.

Akhirnya, setelah lama merencanakan, kemarin pergi juga ke sana bersama dua orang kawan yaitu Yudo dan Badar. Pintu masuknya agak tricky yaitu sebuah lorong yang berada di pinggir bangunan besar yang sedang direnovasi. Itu juga saya tahu setelah diberitahu satpam. Begitu keluar dari lorong, saya melihat cafe Giyanti yang dibagi tiga bagian yaitu indoor dengan AC, outdoor dengan kipas sehingga orang bisa merokok, dan di lantai dua. Suasana cafenya artsy dan friendly. Tipikal cafe yang didatangi bule lah. *apa sih






Saya memesan piccolo. Awalnya saya ditanya mau pesan kopi yang ringan seperti cappuccino, kuat seperti espresso, atau medium seperti piccolo. Saya mau yang medium, jadi saya pesan piccolo. Kalau kata pelayannya, piccolo ini seperti cafe latte tapi kopinya lebih strong. Kopinya pakai kopi Gayanti, yaitu kopi khas yang mereka roast sendiri.


Untuk harga, standar Jakarta sih, yaitu Rp35 ribuan. Misalnya piccolo harganya Rp36 ribu untuk gelas kecil, ditambah pajak jadi Rp41 ribu. Makanan yang tersedia juga lebih ke kudapan manis seperti brownies dengan harga yang kurang lebih sama. Jadi untuk satu orang bisa Rp75-80 ribu. Tapiii, saya sih suka kopi piccolonya. Menurut saya rasanya pas, tidak membuat trauma seperti kedai kopi murah yang campuran kopi dan susunya tidak pas, atau kedai franchise ternama yang sebenernya rasa kopinya gitu-gitu aja. So it is recommended and worth the money.

19 May 2016

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjolan, bukan bengkak, dan tidak sakit. Hanya saja rasanya ganggu saat makan dan kalau sudah makan jadi terasa membesar. Waduh, saya takutnya kanker
(tetep). Terus saya memutuskan untuk periksa ke dokter gigi (sebenarnya bisa ke dokter bedah mulut tapi saat itu sedang tidak praktik) di RS Medika Permata Hijau. Saya bertemu dokter gigi di sana. Setelah disuruh berbaring dan beliau periksa, ternyata benjolan ini bernama mucocele. Kalau hasil nanya dan googling, mucocele terjadi karena kelenjar ludah dan air liur akan diblokir tidak dapat mengalir dengan lancar. Mucocele bisa hilang dengan sendirinya, tapi bisa juga tidak, malah jadi membesar.

Karena ini benjolan udah ada seminggu lebih dan tidak hilang-hilang, malah saya merasa kalau setelah makan jadi membesar, dokternya bilang kalau benjolan ini harus diangkat a.k.a operasi kecil. Tidak usah membayangkan berada di ruang operasi dengan penutup kepala atau baju khusus, operasinya dilakukan di ruang praktiknya yang hanya dua meter dari tempat duduknya.

Kalau mendengarkan kata operasi, pasti yang langsung terpikirkan adalah uang, uang, uang. Duh, agak serem ya. Kemungkinan operasi ini sudah saya pikirkan sebelumnya dan sudah saya cari di Google juga untuk siapin biaya. Karena saya tahu rasanya jadi orang dengan duit pas-pasan dan butuh informasi tentang operasi kecil ini, maka saya akan beri tahu ya. Setelah tanya dokternya, biaya operasinya satu juta rupiah, belum termasuk obat dan biaya dokter. Obatnya habis sekitar Rp180 ribuan saja untuk obat radang dan antibiotik. Dan setelah 10 hari kemudian, saya datang lagi untuk buka jahitan, biayanya sekitar Rp250 ribu. Setiap dokter pasti punya biaya operasi dan yang berbeda, ini sebagai gambaran aja. So please use this information wisely, do not overgeneralize.

Saya berbaring di atas kursi yang bisa diatur jadi tempat tidur. Terus dokternya suntik bibir saya sehingga rasanya jadi kebas. Begitu sudah kebas, dia memotong mucocele. Rupanya ada dua benjolan di dalam. Yang satu besar dan yang satu kecil. Kata dokter, benjolan kecil ini beda-beda setiap orang. Ada satu, ada juga yang banyak seperti anggur. Dan kalau benjolannya dipecahin akan keluar cairan kental seperti ingus. Terus darah dari luka terasa mengalir ke tenggorokan sih. Hehe. Saya memutuskan untuk menutup mata aja sambil merasa bibir yang ditarik-tarik. Udah gitu dijahit deh.

Sebelum saya setuju, saya minta orang rumah sakit tanya ke pihak asuransi. Ternyata di-cover kok. Jadi semua biaya yang saya gunakan itu gratis. Walaupun ada kesalahpahaman antara pihak rumah sakit dengan pihak asuransi karena rumah sakit memasukkan biaya itu ke perawatan dasar untuk gigi, harusnya masuk ke biaya rawat inap atau rawat dasar gitu--lupa, akibatnya saya harus mengeluarkan biaya. Tapi keesokan harinya pihak asuransi telepon untuk meluruskan bahwa seharusnya itu dibiayai seluruhnya dan biaya yang saya keluarkan di rumah sakit kemarin bisa di-reimburse ke kantor. So, all is clear.

Jadi, kalau ada yang punya mucocele, enggak perlu panik. Benjolan ini sebenarnya tidak berbahaya, tapi kalau sudah ganggu seperti ganggu makan tentu harus ke dokter. Biayanya juga sebenernya tidak terlalu besar (tapi nyesek juga kalau pas lagi enggak punya bokek. Hehe.) Dan walaupun tidak dapat endorse dari pihak asuransi kesehatan, punya asuransi semacam membantu sih. Apalagi untuk urusan-urusan yang genting seperti ini.

Good luck!

16 May 2016

Sore Bersama Raden Mandasia

Di jagad perbukuan independen, nama Yusi Avianto Pareanom sedang banyak disebut. Pasalnya karya terakhir yang ia garap selama kurang lebih enam tahun ini banyak memikat hati pembacanya. Salah seorang yang terpikat adalah teman kantor saya, Beni, yang tidak henti-hentinya memuji karya Yusi ini. Apalagi, katanya, novel setebal 448 ini ia selesaikan dalam waktu tiga hari saja. Wah, tampak menjanjikan. Saya jadi penasaran.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi terbitan Banana ini menyuguhkan cerita dongeng kontemporer yang berkisah tentang Sungu Lembu yang penuh dengan dendam akibat negaranya ditaklukan oleh Kerajaan Giliwengsi tanpa perlawanan. Giliwengsi terkenal dengan kekuatannya yang tidak terkalahkan sehingga orang pun sudah jeri mendengar namanya. Apalagi raja Giliwengsi yaitu Watugunung memiliki teknik berkelahi yang sangat baik. Selain dapat memotong tubuh lawan, Watugunung bisa mengalahkan lawan dengan tangan kosong yaitu menotok lawan agar lumpuh sementara.

Di tengah perjalanan untuk menghantarkan dendamnya untuk membunuh Watugunung, Sungu Lembu bertemu dengan Raden Mandasia, yang merupakan pangeran dari Giliwengsi sekaligus anak Watugunung, yang sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung. Di tengah perjalanan tersebut, Sungu Lembu begitu ingin membunuh Raden Mandasia tetapi ia merasa pangeran ini bisa membuat Sungu Lembu selangkah lebih dekat dengan Watugunung dan membunuhnya. Selanjutnya, buku ini menceritakan perjalanan dan pengalaman-pengalaman yang mereka hadapi bersama.



Kalau kata si Beni, buku yang hidup adalah buku yang dibicarakan setelah ia terbit. Kemarin, Raden Mandasia dibicarakan di Kineruku bersama sang penulis dan Zen RS untuk menanggapi buku ini. Zen banyak mengemukakan ketidaksetujuan dengan orang-orang yang mengulas buku ini di internet. Salah satunya adalah Raden Mandasia banyak disukai karena minim khotbah. Zen melihat justru banyak khotbah yang dilontarkan pada dialog antara Sungu Lembu dengan pamannya, Raden Mandasia, dan kekasihnya yaitu Nyai Manggis. Novel yang sarat akan semangat perlawanan ini pasti memiliki unsur khotbah di dalamnya. Bahkan, Zen menambahkan bahwa khotbah dibutuhkan dalam novel ini karena dibutuhkan logika penceritaan dengan cara yang pas.

Selanjutnya Zen bilang bahwa Raden Mandasia memiliki plot inti mengenai asal usul (genealogi). Yang diceritakan di sini adalah asal usul Watugunung dari siapa dia dan bagaimana ia bisa menaklukan dan membangun Giliwengsi. Zen juga bilang bahwa Babad Tanah Jawi menjadi tulang rusuk dari novel Raden Mandasia. Kritik lainnya adalah Zen merasa novel pertama Yusi ini tidak original karena cerita travel junkie di novel ini mirip dengan cerita-cerita silat yang sudah ada atau buku Nagabumi karya Seno Gumira Ajidarma. Juga food snob di novel ini tidak kekinian karena Centhini menawarkan secara penuh tentang rincian makanan--bahkan cara menghisap candu.

Tapi makanan tampaknya menjadi minat Yusi. Ia mengaku karena novel karya Widi Widayat yang bercerita tentang masak-masakan sangat menghibur Yusi ketika ia baca saat masih kecil. Ia ingin menyampaikan kesan tersebut ke pembaca sekarang.

Setelah pemaparan panjang lebar dari Zen, akhirnya yang ditunggu-tunggu angkat bicara. Yusi bercerita bahwa novel ini memang lama dikerjakan karena ia memang pemalas dan tidak militan. Di novel ini, Sungu Lembu--yang diceritakan dari sudut pandang pertama agar novelnya hidup--dibuat sebagai seseorang yang gemar membaca buku sehingga ia menjadi penutur yang tertarik pada detail. Sudut pandang novel ini sempat diubah menjadi sudut pandang orang ketiga dalam 4 bab, tapi semuanya dikembalikan lagi ke sudut pandang orang pertama.

Walaupun tidak disiplin dalam menulis, tapi Yusi tampaknya cukup perfeksionis dalam urusan membuat outline. "Saya tidak mau menyodorkan karya yang belum final. Semua harus dirancang dan outline itu penting," tegasnya. Ia mengaku, ibarat membangun sebuah rumah, ia harus sudah tahu rincian panjang dan lebar setiap bidang yang mau dibangun. Jika outline sudah selesai, maka Yusi bisa menulis dari bab mana saja. Saat membicarakan outline, ada seorang pengunjung yang apakah Yusi keluar dari outline awal karena cerita dilanjutkan sementara harusnya sudah bisa selesai di bab 11. Yusi menjawab bahwa ia sedari awal sudah sengaja untuk meneruskan cerita karena ingin ada closure untuk Sungu Lembu.

Buat yang sudah selesai baca, pasti tahu apa yang dimaksud. Kalau saya sih belum sampai di situ. Walaupun sudah terkena spoiler saat diskusi kemarin. Sedih.

Juga untuk memperkaya bukunya, tidak hanya studi literatur, tapi Yusi juga melakukan riset. "Riset banyak bukan berarti karya pasti bagus, tapi setidaknya perbekalan cukup," katanya. Yusi juga mengaku pergi ke Pulau Pagerungan (antara Pulai Madura dan Pulau Sulawesi) untuk mengobrol dengan masyarakat tentang cara membuat perahu. Ia juga aktif bergabung dengan komunitas burung Indonesia supaya bisa menjelaskan tentang burung di novelnya.

Sampai detik saya menulis ini, saya masih berada di halaman 208 sehingga belum bisa berkomentar banyak. Kesan saya sejauh ini terhadap Raden Mandasia adalah meski plotnya maju mundur, baca novel ini tidak menyulitkan pembaca dan betul-betul bisa dinikmati. Dan walaupun tokohnya banyak seperti film seri Game of Thrones, tapi sebenarnya yang signifikan dengan cerita hanya sedikit. Jadi, tidak usah banyak dipikir, telan saja. Hehe.

Acara juga dihibur dengan Tetangga Pak Gesang yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia dengan tema makanan dan minuman. Seperti Kopi Susu atau Tahu Tempe.


05 May 2016

Musik Para Rakyat

Di sebuah sore, tepatnya Sabtu (30/4) lalu, Andika mengajak saya pergi ke s.14 Artspace & Library yang letaknya di Jalan Sosiologi, Cigadung, Bandung. Ia mengabarkan bahwa di sana akan Oscar Lolang Showcase yang menyanyikan lagu-lagu rakyat bersama Senartogok, Jon Kastella, dan Sky Sucahyo. Hm, saya belum pernah dengar semua namanya. Tapi tidak ada salahnya untuk datang. Sekalian bisa silaturahmi dengan pemilik s.14 yaitu Mbak Herra yang ramah dan hangat kepada semua pengunjungnya.

Acaranya diadakan di ruang keluarga yang bentuknya bersudut-sudut dan penuh dengan rak buku. Mulanya galeri yang sekaligus tempat tinggal ini hanya menggunakan ruang depan untuk pameran dan ruang samping yang dipakai untuk perpustakaan. Tapi karena semakin aktif dan banyak acara, jadinya ruang keluarga pun dipakai. 

Penampilan pertama dibuka oleh Jon Kastella. Jon punya perawakan tinggi, besar, dan berkulit gelap. Sebelum nyanyi, ia banyak menghela nafas dalam sekali hentakan. Ia pun sempat salah tingkah menempatkan kaki sebagai penyangga gitar. Sepertinya dia grogi sekali. Hehe. Tapi saat ia mulai menyanyi, amboiii.. suaranya merdu sekali.

video


Pria yang tergabung dalam sebuah orkestra yang gemar memainkan lagu Indonesia lama dan lagu Hindia-Belanda ini mengaku banyak mendengar lagu-lagunya Eros Djarot dan Guruh Sukarnoputra. Dari tiga lagu yang ia nyanyikan, saya paling senang saat ia nyanyi lagu Hujan dari A.T. Mahmud. Apalagi lagu itu dipersembahkan dan dinyanyikan di depan Layka, anaknya Mbak Herra. Manis!

Selanjutnya adalah penampilan dari Senartogok. Pria berambut gondrong ini menyanyikan tiga lagu. Lagu pertama terinspirasi dari penyair favoritnya, lagu kedua berjudul Predasi Lorong Urban yang terinspirasi dari fenomena penggusuran, dan lagu terakhir terinspirasi dari sembilan ibu dari Rembang yang sempat mewarnai berita karena menyemen kaki mereka di depan istana. 

Senartogok

Sky Sucahyo

Kemudian datanglah seorang perempuan bernama Sky Sucahyo yang pemalu dan suaranya manis. Ia menyanyikan musikalisasi puisinya Taufik Ismail. Ia juga menciptakan lagu-lagunya sendiri dengan tema-tema yang ringan seperti cerita tentang digantungin pacar atau cerita tentang anak kosan.

Nah, ini dia puncaknya. Yang punya hajatan yaitu Oscar Lolang akhirnya nyanyi juga. Dibandingkan para penyanyi sebelumnya, memang ia yang nyanyi paling keras dan paling semangat. Hehe. Saya sukaa sekali saat ia duet dengan Jon Kastella menyanyikan Moonshadow dari Cat Stevens. Suara mereka harmonis sekali.

video


Oscar ini istimewa, ia menyanyikan banyak sekali lagu-lagu dengan berbagai bahasa seperti Indonesia, Inggris, Jepang, dan Perancis. Bahkan ia juga melakukan monolog tentang orang-orang dari berbagai negara yang sedang berkumpul--termasuk orang-orang Italia dan Spanyol. Oscar mengucapkan bahasa Inggris patah-patah dengan logat dari masing-masing daerah. Ternyata dia memang punya ketertarikan untuk menirukan logat-logat asing. Hehe, menghibur. Sampai menghiburnya, suara dia sampai habis.

Banyak momen hangat dan menyenangkan karena Oscar aktif mengajak penonton untuk terlibat dan bernyanyi. Salah satu penonton yang merupakan perwakilan warga Cigadung meminta Oscar untuk menyanyikan lagu Kumbaya. Kumbaya adalah lagu klasik tradisional Amerika yang seharusnya disebut Come By Here tapi dialek orang-orang kulit hitam terdengar lagu tersebut berjudul Kumbaya. Meski sebagian orang baru mendengar, tapi pada akhirnya Oscar bisa menciptakaan koor yang mengesankan.