27 October 2014

Bangga dengan Makanan dari Dapur Sendiri

Beberapa bulan yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara ulang tahunnya komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI) yang ke-2 di bilangan Senopati. Tentu kehadiran tersebut bukan karena saya anggota ACMI, namun saya dalam tugas untuk wawancara ketua ACMI yaitu Santhi Serad. Di sana juga saya ketemu dengan pakar kuliner Indonesia yaitu William Wongso yang pernah saya wawancara di beberapa bulan sebelumnya.

ACMI adalah sebuah komunitas yang memiliki semangat untuk memajukan kuliner Indonesia. Banyak sekolah kejuruan yang justru murid-muridnya diajarkan masakan western daripada masakan Indonesia. Padahal justru harusnya mereka diajarkan masakan Nusantara. "Kalau mereka ke luar negeri yang notabene pada jago masakan baratnya, mereka hanya akan jadi jongos saja," kata Santhi.

Selain itu, Santhi juga menyesalkan bahwa orang Indonesia seringkali tidak berbangga dengan nama masakan Indonesia saat dibawa ke luar negeri. Mayoritas orang menyebutkan nama masakan dengan bahasa Inggris seperti "Maranggi satay" atau "Kampong Fried Rice". Padahal sebut saja dengan nama aslinya seperti Sate Madura, Soto Betawi, atau Nasi Goreng Kampung. Kalau mau pakai Bahasa Inggris, ya sebut saja di penjelasannya.

Salah satu kegiatan ACMI adalah bluksukan ke pasar tradisional. Menurut Santhi, pasar tradisional adalah sebuah tempat yang merepresentasikan kuliner suatu daerah. Sepertinya kegiatan ACMI baru diadakan di pasar-pasar Jakarta. Santhi dan William tampaknya beberapa kali bluksukan ke pasar di luar Pulau Jawa. Misalnya Santhi cerita pengalamannya saat ia bluksukan ke pasar tradisional di Tomohon, Sulawesi Utara.

Di sana banyak daging yang tidak lazim dijual di pasar tradisional kebanyakan seperti kelelawar atau anjing. Tapi Santhi terkejut saat ia melihat kucing dan Yaki. Aduh, mendengarnya saja saya ngeri. Santhi juga memperlihatkan foto Yaki yang sudah mati digantung. Yaki adalah sejenis monyet yang badannya seperti anak manusia. Duh!

Lalu apakah makan daging kucing atau Yaki adalah warisan budaya? Santhi bilang kalau 10 tahun lalu tidak ada yang jualan seperti itu. Berarti ini menunjukkan bahwa selera dan keingintahuan masyarakat sudah beranjak ke hal-hal yang ekstrim. Huhu. Saya ceritakan tentang hal ini pada pacar saya, lalu dia bilang, "Mungkin kita merasa jijik karena tidak terbiasa. Coba kalau dari dulu kucing atau kera sudah dikonsumsi seperti ayam atau sapi, mungkin tidak aneh."

Ya tapi kaan.. kasihan. Terserah deh kalau mau makan ular atau tikus, tapi kucing kan lucu. :(

Oke, balik lagi ke masalah makanan tradisonal Indonesia. Intinya, ACMI mengajak agar kita (tentu bukan hanya wanita) untuk kembali lagi untuk masak masakan Indonesia di rumah. Karena, ketahanan pangan itu berasal dari rumah. Jika resep masakan Indonesia dari orang tua tidak dilestarikan, anak-anak kita hanya akan tahu makanan cepat saji seperti ayam krispi, kentang goreng, atau pasta saja, 'kan?

Sejalan tentang masakan, beberapa hari yang lalu saya wawancara Ida Kamal sebagai ketua program Banten Berkebun. Saat ditemui, Ida sedang berada di Sekolah Dasar Negeri Lengkong Gudang Timur, Tangerang Selatan. Ia dan teman-teman dari Indonesia Berkebun sedang mengajarkan anak-anak untuk panen kangkung dengan benar. Ternyata ini adalah kunjungan kedua mereka, sekitar 21 hari saat kangkung masih berupa benih yang mereka tanam bersama.




Kalau ACMI menyebarkan semangat masak di rumah, Ida menyebarkan semangat menanam sayuran di rumah. Menanam sayuran di rumah dengan betul pasti akan menghasilkan sayuran yang bagus dan tentunya bebas bahan kimia. Ida juga ingin agar orang-orang bisa mandiri dalam menghasilkan sayuran sendiri. Wah, ide bagus ini. Kalau sudah bisa mandiri, kita jadi tidak tergantung dengan pasar. Lagipula Ida lebih menekankan pada menanam sayur yang bermanfaat bagi tubuh. Karena bunga, hanya menyediakan oksigen dan kecantikan saja.

Memang sekarang lahan hijau kian menyempit seiring padatnya penduduk. Tapi kalau tidak ada halaman, bukan berarti tidak bisa bercocok tanam lho. Bisa pakai vertikultur atau menanam tanaman di pot kemudian disusun ke atas, hidroponik atau menanam tanaman di pot sambil menyediakan unsur hara yang dibutuhkan, atau membuat taman minimalis dengan pohon-pohon yang tidak terlalu besar.

Wah, saya merasa beruntung nih bisa ketemu dengan orang-orang inspiratif dengan informasi-informasi yang hebat. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa melakukannya.