13 April 2014

Menyemai Rasa Bersama Srihadi

Dalam rangka permintaan klien salah satu bank, saya diminta menulis tentang Srihadi Soedarsono. Tulisan tentang sebuah karya dan profil tentu akan kering jika tidak mewawancarai sang pelaku. Kebetulan di usianya yang mencapai kepala delapan, Srihadi masih berkarya. Dan ia tinggal tidak jauh dari Jakarta, yaitu kota kelahiran saya sendiri, Bandung.

Mulanya pertemuan dijanjikan di rumah anaknya di daerah Kemang. Namun karena beliau harus segera pulang ke Bandung, saya dan teman fotografer langsung meluncur ke Bandung keesokan harinya. Kami bertemu di rumahnya yang berada di daerah Ciumbuleuit. Rumahnya yang bernuansa alam ini sangat tipikal seniman: penuh kayu, batu, rumput, dan area terbuka.

Srihadi menyambut kami dengan rambut peraknya. Saat mengobrol sebentar di ruang tamu yang penuh dengan lukisannya, kami diajak ke area belakang rumah tempat ia berkarya. Di sana ada tiga lukisan kira-kira ukuran 3.5 meter yang masih berupa sketsa karena masih digarap untuk pameran tunggalnya di Singapura tahun ini. Ia bilang ia paling suka melukis di luar ruangan dengan cahaya matahari karena ia akan mendapatkan warna yang sebenarnya.

Foto oleh Permana PJ

Wawancara pun berjalan sekitar satu jam. Sebelumnya saya sudah melakukan riset sehingga bentuknya hanya pertanyaan lanjutan atau konfirmasi. Di sana Srihadi terlihat bahwa ia adalah seniman yang betul-betul mengedepankan rasa dan suasana hati. Ia adalah seseorang yang begitu ingin mengekspesikan hatinya melalui kuas. Melalui garis dan warna. Eksplorasi warna pun terus ia lakukan agar mendapatkan warna yang pas sesuai dengan maksudnya. Hijau bukanlah hijau yang keluar dari tube. Hijau adalah hijau yang ia rasakan.

Srihadi adalah pelukis tematik. Jika moodnya sudah terpaku pada satu tema, maka ia akan terus menerus melukis hal tersebut. Oleh karena itu dikenal yang namanya periode Horizon--periode dimana Srihadi menggambarkan garis batas antara langit dan bumi. Hal ini diakuinya karena renungan lama saat melihat pantai waktu ia tinggal di Sanur dulu. Ia tidak memotret pemandangan secara harfiah, namun Srihadi banyak mengisyaratkan pesan-pesan di balik sapuannya. Contohnya, horizon bukanlah sekedar garis yang terlihat oleh mata. Horizon menjadi garis batas antara langit dan bumi, batas mikro kosmos dan makro kosmos, kemudian berkembang pada garis batas antara manusia dan Tuhan.

Ia juga pernah menggambar tema Borobudur, ragam tari Bali seperti Pendet atau Legong, dan kini tema yang digemarinya adalah Tari Bedoyo. Berbeda dengan tarian Bali yang dinamis, Tari Bedoyo adalah tarian yang lembut. Moodnya sedang ingin menggambar sesuatu yang lembut. Jika ia disuruh menggambarkan hal yang dinamis, ia tidak bisa karena suasana hatinya sedang tidak di sana. Ia baru akan melukis tema baru jika hatinya sudah kepingin pindah. Bisa dilihat, dalam berkarya, Srihadi mengikuti arus rasanya.

Jika ditanya aliran lukisan apa yang jadi gayanya, beliau menjawab ia melukis hanya berdasarkan kekhasan dirinya. Sebut aliran geometris sintetis, ekspresionisme, atau impresionisme yang pernah ia lukis dulu, namun Srihadi menjawab bahwa lukisan-lukisan dengan ragam aliran itu merupakan tahapan belajar untuk menemukan gaya yang paling tepat untuk dirinya: gaya Srihadi. Ia juga bilang bahwa ia pasti tidak akan bisa melukis lukisan yang pernah ia lukis dahulu.

Saya jadi mengkorelasikan ini pada diri saya. Terkadang kalau baca blog sendiri, tulisan dulu terasa berbeda dari sekarang, seperti lebih imajinatif atau puitis. Namun saya tidak bisa menulis seperti dulu lagi. Karena saya berkembang ke arah yang lain. Dan tampaknya saya harus menerima itu.



Setelah wawancara usai, beliau memberikan saya sebuah buku "Srihadi dan Seni Rupa Indonesia" yang ditulis oleh seorang kurator, Jim Supangkat. Kemudian beliau sms saya untuk memberikan informasi tambahan. Saya ucapkan terima kasih karena ada data baru untuk artikel. Lalu ia membalas, "Selamat berkarya, Mba Nia." Entah kenapa, saya terharu. Kata 'karya' terdengar begitu syahdu jika diucapkan oleh seseorang yang menghabiskan hampir seumur hidupnya yang mencari dirinya melalui karya.

14 March 2014

Apa Kabar Jika Matahari Tidak Ada?

Pernah membayangkan ditinggalkan orang tersayang selamanya? Saya sering. Kadang saya membayangkan bagaimana jika ibu saya--orang tua yang saya miliki satu-satunya itu tiada. Kepada siapa lagi saya akan berpijak? Kepada lagi saya harus menggantungkan diri (terutama secara emosional)? Kepada siapa lagi saya merasakan cinta tanpa syarat tentang seorang ibu yang menerima anak apa adanya, walaupun betapa buruk rupa dan sifatnya? Karena setiap Semesta hanya punya satu Matahari. Apa jadinya jika sumber energi itu tidak ada?

Hanya membayangkannya saja sudah buat menangis. Seperti saat ini, saya menghadapi ketidakmampuan diri serta merasa kasihan dengan nasib sendiri. Ibu saya akan umroh (mudah-mudahan jadi dan lancar semuanya) dan ia harus mengurus paspor. Saya sudah mempersiapkan dokumen saat saya pulang ke rumah di akhir pekan dan mengurus secara online. Tapi saya tidak menemani ibu saya untuk pergi ke kantor imigrasi karena saya di Jakarta. Padahal ibu saya boro-boro tahu dimana kantor imigrasinya, bagaimana tata caranya, harus pakai baju apa ...

Syukurlah ia diantar kakak sepupu saya dan anaknya. Jadi ibu saya tidak sendirian. Betapa berterimakasihnya saya.

Kami tinggal di rumah sepupu. Jadi, kalau ibu saya tidak ada, saya tidak punya alasan pulang ke Bandung. Sementara kini saya bekerja di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Jika ibu tidak ada, berarti saya yang harus menghidupi diri saya sendiri. Saya tidak bisa menggantungkan nasib pada orang lain. Kalau saya tidak menikah, mungkin saya akan bekerja di sini selamanya, ngekos atau kontrak rumah hingga tua di ibukota yang asing dan hingar bingar, serta terus merindukan tentang pulang..

Beruntung mereka yang punya kakak atau adik. Jika orang tua tidak ada, mungkin mereka bisa saling mengandalkan. Jika dilahirkan sebagai anak tunggal, mungkin memang harus sendiri. Kalau saya bisa melakukan perjalanan waktu, melihat diri saya ketika kecil--atau saya yang sudah tua melihat diri saya sekarang, ingin rasanya untuk memeluk 'diri' sambil berkata, "Tenang, Nia, semuanya baik-baik saja.."

Ah, sebaiknya tidur. Sudah malam. Tidurlah.. Agar masalahmu terasa hanya seperti mimpi buruk. Pagi akan membuatmu merasa lebih baik.

04 March 2014

Sepiring Berdua

Di suatu hari yang cerah, ruangan kami kedatangan tamu. Sebetulnya bukan tamu, ia masih seorang pegawai di kantor ini. Tapi ia terlalu asing bagi saya untuk dipanggil 'teman'. Jadi, sebut saja tamu ini bernama Adam. Walaupun ia berasal dari anak perusahaan yang berbeda, ia sering datang ke ruangan untuk menyapa dengan beberapa orang yang sudah cukup kenal dengannya.

Pada hari itu, ia datang ke ruangan. Walaupun saya sedang fokus ke laptop, saya masih bisa mengetahui bahwa ia sedang jalan-jalan tidak jelas di ruangan karena tidak ada orang yang bisa diajak bercanda. Semua tampak sedang fokus dengan kerjaannya masing-masing. Kemudian ia mampir ke meja yang berada di tengah ruangan, mengambil makanan. Kami memang sering berbagi makanan dan ditaruh di atas meja dan siapa saja boleh mengambilnya. Makanan yang ada di atas meja kali ini adalah beberapa bungkus kue kering yang belum dibuka. Lalu, si Adam tampak menghentikan langkahnya di meja tengah dan menyomot kue yang sudah dibuka. Setelah selesai, ia keluar ruangan, melintasi meja saya yang berhadapan dengan kaca, dan saya melihatnya menenteng sebungkus makanan kami.

Satu bungkus makanan? Wow.

Dulu salah satu teman kami pernah bercanda saat ia datang dan di meja sedang tidak ada apa-apa. Teman saya bilang, "Lagi gak ada makanan, Dam!" walaupun belum tentu orang ini datang untuk minta makan dan ia pun belum ngomong apa-apa. Tapi jelas candaan teman saya ini berupa sindiran. Oh, mungkin ia memang sudah dikenal seperti itu. Tapi saya tidak rela saat ia membawa pulang satu bungkus, bukan beberapa butir. Dia mungkin kenal dengan yang lain, tapi tidak seakrab itu. Kami pun tidak intens berhubungan dengannya. Apalagi ia kadang bertindak pura-pura tidak kenal jika berada di luar ruangan.

Sebut saya pelit. Tapi saya berbagi dengan orang yang saya kenal. Saya pikir, untuk berbagi makanan diperlukan derajat keintiman lebih dari sekedar teman. Teman dekat, misalnya. Saya tidak akan minta makanan pada orang yang tidak saya kenal. Saya baru bisa bilang 'eh, nyobain dong makanannya' ke orang yang saya rasa dekat. Walaupun sudah dekat, saya tidak akan meminta terus menerus sampai menghabiskan setengah porsi makanannya--kecuali saya sudah memberi jeda lalu teman bilang "ambil aja lagi."

Berbagi makanan sebagai simbol keintiman juga ditujukan oleh Ida Laila yang menyanyikan lagu Sepiring Berdua. Bahkan diperlukan hubungan romantis untuk bisa begini.


"Ku ingat dirimu. Di saat bersama hidup sengsara. Makan sepiring kita berdua."

Ya sudahlah. Saya hanya menyesali mengapa ia mengendap-endap layaknya pencuri. Jika saja ia meminta izin. Ternyata, terlalu geragas dengan makanan juga tidak baik. Punyalah etika.

28 February 2014

Dalam Sesap Teh

Ceritanya belakangan ini saya lagi senang mencoba teh. Biasanya selama ini hanya mengkonsumsi teh dalam kantung yang biasa ada di pasaran. Semenjak ada berita bahwa kantung teh menggunakan pewarna agar terlihat putih dan kita tidak boleh mencelup di dalam air terlalu lama, saya mengurangi konsumsi teh kantung. Lalu saya mencoba teh upet--teh yang biasa dikonsumsi oleh keluarga sejak saya kecil. Sayangnya ini cukup merepotkan karena harus menggunakan saringan. Namun semenjak ketemu tea infuser yang lucu dan mudah dibawa kemana-mana, saya lebih banyak mengkonsumsi daun teh dari teh hijau hingga teh putih.


Dulu saya sering minum teh manis. Setelah makan mi, pasti saya minum teh manis. Karena lama-lama takut diabetes, sekarang saya minum teh tawar. Teh tawar, terutama saat panas, rasanya seperti penetral setelah makan-makanan penuh kolesterol dan terlalu banyak rasa. Dan setelah banyak membaca, manfaat teh ternyata banyak, salah satunya sebagai antioksidan dan pencegah kanker.

Kebiasaan minum teh ini membawa rezeki dari orang-orang baik. Salah satunya dosen saya mengirimkan Twinings. Dan baru beberapa hari yang lalu, editor saya sengaja membawa teh Dilmah saat ia dikarantina di Bandung. Gyaa, pengalaman ngetehnya semakin banyak. Terima kasih!


Pembina Komunitas Aleut!, bang Ridwan, juga jualan teh. Awalnya saya membeli teh priangan kualitas nomer satu. Saya membelinya dan mencobanya karena penasaran seperti apa sih rasanya kualitas teh nomer satu itu. Selain itu, bang Ridwan juga menjual teh putih alias silver needle. Waktu itu editor saya pernah membahas tentang teh putih yang mahal karena teh ini begitu berkualitas. Lagipula teh kok putih, macam apa pulak itu?


Dari penjelasan Bang Ridwan dan Toni--salah seorang teman aleut juga--teh putih ini diambil dari pucuk tanaman teh. Jadi, jangan termakan iklan teh yang berasal dari pucuk namun berwarna kemerahan dan dijual murah ya. Satu tanaman hanya menghasilkan satu buah pucuk. Untuk menjaga kualitas, teh bahkan diambil dengan menggunakan pinset. Dijemurnya pun tidak sembarangan, tidak boleh kena matahari langsung. Kalau warna daun tehnya kuning, maka teh ini sudah langsung dikategorikan rejected. Kezem.

Teh putih yang saya coba berasal dari Gambung, Gunung Tilu. Gambung merupakan salah satu dari tiga perkebunan yang menghasilkan teh putih di Indonesia. Gambung sudah ada sejak pertengahan abad ke-19. Hutan Gambung dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1811. Kini tempat ini dikenal sebagai pusat penelitian teh.

Teh putih Gambung memiliki harum yang khas. Kalau biasa minum teh hitam, teh putih ini akan terasa cawerang--kalau kata orang Sunda. Cawerang itu semacam transparan, tidak kental, tidak padat. Seperti yang bisa dilihat di foto, warnanya pun bening, seperti sampanye. Menurut Toni, teh ini bisa digunakan hingga tiga kali celup. Wah, berbeda dengan informasi yang pernah saya baca kalau teh itu hanya bisa untuk sekali celup.

Toni dan Bang Ridwan bercerita tentang perburuannya untuk mendapatkan teh-teh kualitas terbaik. Untuk mendapatkan teh kualitas terbaik, mereka harus turun ke lapangan, mendatangi para petani atau seseorang yang memiliki kuasa untuk jual beli teh. Ternyata mayoritas teh kualitas terbaik di Indonesia banyak diekspor ke luar negeri. Sedangkan teh-teh yang ada di pasaran adalah teh-teh dengan grade ke-5. Entah komponen tanaman teh apa saja yang dimasukkan. Saya banyak menemukan ranting di dalamnya.

Hal ini mengingatkan ketika saya liputan tentang pembuatan coklat. Saya mewawancara pengusaha muda yang mengolah coklat Indonesia dari dalam bentuk buah coklat hingga jadi coklat batangan. Ia bercerita bahwa harus turun ke Aceh dan Bali langsung untuk mendatangi petani coklat. Ia kesulitan mendapat bahan baku coklat terbaik karena coklat-coklat tersebut diekspor ke luar negeri. Pesanannya sering kali dinomerduakan karena ia hanya memesan dalam jumlah sedikit.

Padahal coklat, sama dengan teh, itu sama-sama baik untuk tubuh. Di luar negeri, makan dark chocolate di pagi hari sudah jadi budaya. Sementara di Indonesia coklat baru dikonsumsi di saat-saat sedih atau momen spesial tertentu. Padahal coklat memiliki khasiat sebagai penurun tekanan darah.

Selain teh dan coklat, pasti banyak hal bagus lain yang berasal di Indonesia namun manfaatnya tidak didapat oleh bangsa itu sendiri. Kita hanya menjadi pekerja kasarnya, diproses dan dibawa ke luar, namun tidak bisa menikmati jerih payahnya karena harganya sudah melambung begitu balik lagi ke Indonesia.

Duh, petani.. riwayatmu dulu dan kini.

17 February 2014

Kiriman Melalui Darat, Laut, dan Udara

Tenang. Ini bukan santet.

Salah satu hal yang menyenangkan saat pulang ke rumah adalah menerima sesuatu yang dikirim lewat pos atau jasa pengiriman. Bisa berupa kartu pos, surat, atau paket. Biasanya paket yang saya terima adalah barang-barang yang saya beli online lalu minta dikirimkan ke rumah, bukan ke kantor atau kostan. Hal tersebut bikin hati saya dag-dig-dug sekaligus tidak sabar kalau ibu saya kasih kabar ada paket yang ditujukan ke saya.

Kepulangan singkat kemarin, saya menerima kartu pos dan dua paket.


Kartu pos yang saya terima di atas adalah kartu pos balasan dari teman saya yang kini berdomisili di Bali, yaitu Niken. Mulanya saya yang mengirimkan kartu pos. Waktu itu saya mengirimkan kepada teman-teman saya yang ada di luar kota. Saya memberikan Niken sebuah kartu pos vintage yang bergambar sepeda. Saya mengirimkan ini karena teringat pada suasana Bali (terutama Ubud) yang tampaknya enak buat dipakai main sepeda.

Niken adalah teman saya ketika kami masih tergabung di Reading Lights Writers' Circle. Saat saya mulai bekerja di Jakarta, saya beberapa kali menghabiskan waktu jalan-jalan dan piknik bersama Niken dan teman-temannya. Sayangnya saat saya mulai tinggal di Jakarta secara penuh, Niken sudah tidak kerja lagi di sini.

Kiriman berikutnya adalah sebuah purse yang saya beli dari teman yang tidak pernah saya temui. Namanya Thia. Ia adalah seorang tattoo artist yang sebetulnya sudah saya kenal sejak SMA. Sejak kami dipertemukan kembali di WhatsApp group, saya tahu kalau Thia suka membuat kerajinan tangan. Barang-barangnya khas yaitu spooky romantic gimana gitu. Mereknya Thia dikenal sebagai Stroberi Hitam.


Cute, isn't it?

Lalu, paket terakhir adalah.. sepaket teh Twinings yang dikirim oleh dosen saya, Mbak Hani, yang kini berdomisili di Australia. Tampaknya Mbak Hani tahu kegemaran saya minum teh karena social media.  Lalu Mbak Hani memberikan teh ini dengan cuma-cuma. Saat dicoba. Duh, rasanya segar dan wanginya tidak berlebihan. Terutama campuran vanilla, madu, dan kamomil.


Kegemaran terhadap kopi juga pernah membuat sahabat saya di Bengkulu mengirimkan kopi 1001 ke rumah. Wah, baiknya. Ternyata social media ada manfaatnya. Biasanya kiriman makanan saya bagikan ke keluarga, pacar, teman, dan sahabat. Supaya mereka juga merasakan percikan kebahagiannya. :)

11 February 2014

Sisa Kejayaan Banten Lama

Dalam rangka weekend getaway, Eka, Yasin, dan saya memutuskan untuk pergi ke Banten Lama. Ide pergi ke sini datang dari saya setelah melihat foto teman yang berkunjung ke sana. Pertama, saya suka hal-hal yang berbau sejarah. Kedua, saya suka benteng. Ketiga, saya mulai menyasar kota-kota kecil untuk disambangi. Namun, sehari sebelum keberangkatan, saya menerima tanggapan tidak mengenakkan tentang Banten yang membuat saya niat untuk mengurungkan. Tapi ya ini trip bersama khalayak, tidak bisa egois. Dan seeing is believing.

Berangkat dari Kebon Jeruk, kami melalui Tol Tangerang, Tangerang-Merak, lalu exit di Tol Serang Timur. Mulanya petunjuk menuju Banten Lama terlihat jelas, namun petunjuknya menghilang di satu pertigaan. Setelah salah belok sedikit dan bertanya kepada warga sekitar, akhirnya kami sudah kembali ke jalan yang benar. Puji Tuhan. Alhamdulillah.

Kesan pertama melihat jalanan di Banten ini begitu mengecewakan. Bagaimana tidak, banyak sekali sampah yang bertebaran di jalanan. Bukan sampah sembarang sampah yang dibuang di jalan, tapi sampah yang tidak diangkut dari tong sampah dan meluber ke jalan. Apalagi saat itu Banten habis diguyur hujan sehingga kesan menjijikan semakin menjadi-jadi. Rujit, kalau kata orang Sunda. Rujit itu artinya standar tertinggi dari jijik karena kotor.

Akhirnya kami melihat gapura selamat datang di kawasan Banten Lam (karena A-nya sudah copot). Dari gapura tersebut, lokasi kawasan wisata tua yang dituju masih jauh. Hingga akhirnya kami melihat sebuah lapangan rumput nan luas dengan reruntuhan bebatuan dan sebuah menara mesjid yang menjulang. Oh, rupanya kami sudah berada dekat dengan Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Saat akan memasuki area masjid, kami masuk melalui entrance gate berupa pasar yang menjajakan makanan khas dan cindermata. Sayangnya jalan di pasar ini begitu tidak tertata. Selain bukan berupa paving block, jalan ini pun becek dan kotor sehingga disarankan untuk mengenakan sepatu bagi siapapun yang akan berwisata ke sini. Atau datanglah di saat musim kemarau.

Pintu masuk ke masjid yang becek.
Setelah melalui pasar yang berliku (padahal dekat jika jalannya lurus), kami melihat masjid yang dibangun tahun 1552 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin--raja pertama yang memerintah kesultanan Banten. Masjid ini terdiri dari bangunan utama, tiamah, dan pemakaman. Tiamah adalah tempat bermusyawarah dan diskusi agama Islam. Diduga tempat ini juga dipakai sebagai pesantren.

Di sekitar masjid, kami dikelilingi oleh anak-anak yang meminta uang dengan memaksa. Walaupun sudah berkata tegas, mereka akan tetap menempel. Tipsnya, bawalah uang receh untuk sumbangan. Selain itu, untuk bisa masuk ke area masjid, kamu juga sedikit dipaksa untuk menyumbang dan membeli kantung plastik untuk menyimpan sepatu. Berikanlah sumbangan seikhlasnya dan kantung plastik adalah hal yang tidak perlu--kecuali akan masuk ke dalam bangunan atau area pemakaman. Jika hanya melihat-lihat, sendal/sepatu masih boleh digunakan kok.

Masjid yang penuh dengan pedagang.

Selain pedagang, banyak juga anak-anak.
Di depan masjid, terdapat sebuah menara Belanda yang tampak seperti mercusuar. Menara ini tidak berfungsi sebagai tempat pengeras adzan, namun sebagai menara pengintai. Menara yang tingginya 24 meter ini dibangun oleh Hendrik Lucaszoon Hardeel. Menara ini berbentuk persegi delapan dengan tangga spiral yang begitu sempit di dalamnya. Cukup sempit untuk membuat mereka yang memiliki fobia tempat sempit dan gelap terkena serangan panik! Tentu hanya bisa dilalui oleh satu orang. Agar orang tidak papasan di tengah, ada penjaga di bagian atas dan bawah menara yang saling berkomunikasi melalui lubang udara.

Menara yang hanya cukup satu orang saja.

Menara dari kejauhan.
Saat berada di atas menara, Eka menempel di dinding menara karena ia punya ketakutan pada ketinggian. Sementara saya dan Yasin melihat-lihat pemandangan dari atas sini. Ternyata masjid ini begitu dekat dengan laut. Dari sini juga terlihat Klenteng Avalokitesvara yang akan kami sambangi nanti.

Setelah dari masjid, kami berjalan kaki menuju reruntuhan Kraton Surosowan (juga disebut Gedong Kedaton Pakuwon) yang merupakan tempat tinggal para sultan. Kraton ini dibangun tahun 1526 dan tersusun dari batu bata dan karang. Sayangnya kraton ini mengalami kehancuran akibat perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC. Kemudian kraton yang memiliki luas 3.8 hektar ini dihancurkan atas perintah Daendels tahun 1802.

Kraton Surosowan yang hampir rata dengan tanah.
Ada salah satu informasi di intenet bahwa tidak semua orang boleh masuk dan harus mendapatkan perizinan dari museum. Ternyata prosesnya mudah, hanya bilang saja kita akan pergi ke sini. Satpam museum akan membukakan pintu gerbang. Sayangnya di sini tidak ada pemandu sehingga tidak ada yang menjelaskan apakah ini kamar, dapur, tempat senjata, atau teras. Kami pun berjalan sekenanya dan menduga-duga apa yang ada di sini.

Kami melanjutkan perjalanan ke Vihara/Klenteng Avalokitesvara. Vihara ini begitu besar dan berwarna (tentu saja). Ini merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia karena dibangun sekitar abad ke-16. Di dalam vihara ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang merupakan peninggalan pada masa Kaisar China Dynasti Ming. Hingga kami datang, beberapa orang masih datang untuk beribadah, sebagaimana fungsinya.



Tepat di depan vihara, terdapat Benteng Speelwijk. Ingat tentang teman saya yang bilang sesuatu yang membuat saya hampir urung ke sini? Teman saya bilang bahwa di sini tidak lebih dari tempat makan domba. Saya pikir dia sedang sarkas saja. Ternyata benar, saya melihat dua ekor domba yang mencari makan di atas timbunan sampah tepat di dekat pintu masuk benteng. :(

Begitu masuk ke benteng, kami melihat sebuah area lapangan rumput yang luas. Tidak lupa ada gawang untuk sepak bola yang tentunya tidak dibangun sejak zaman kesultanan ya. Benteng ini dikunjungi oleh siswa setempat yang hang out atau sekedar berfoto-foto.



Speelwijk dibangun tahun 1683 dengan arsitek yang sama dengan pembuatan menara masjid yaitu Hendrik Lucaszoon Cardeel. Nama Speelwijk diberikan sebagai penghormatan gubernur jendral Cornellis Janzoon Speelman  yang pernah bertugas di Indonesia. Benteng ini pernah dilengkapi empat bastion, jendela meriam, ruang jaga, basement, untuk ruang gudang, ruang penyimpanan senjata, dan tambatan perahu. Sama seperti benteng yang pernah saya dan Eka lihat di Cilacap, benteng ini dikelilingi kanal untuk memperlambat laju musuh.

Setelah puas melihat benteng ini, kami melewati Masjid Pacinan Tinggi yang  unik. Sayangnya hanya tersisa sebuah menara berbentuk bujur sangkar setinggi sekitar 9 meter saja. Diperkirakan usianya lebih tua dari masjid agung. Lagi-lagi, sayang seribu sayang, walaupun keterangan nama masjid di depannya, bangunan ini terbengkalai begitu saja. Belum lagi tanah becek di sekitarnya dengan anak domba yang sibuk mencari makan di depannya. Huhu.

Masjid Pacinan Tinggi yang mengenaskan.

Kraton Kaibon

Kraton ini setidakya jadi arena main anak-anak.

Akhirnya kami sampai di tujuan terakhir yaitu Kraton Kaibon. Kaibon berasal dari kata ka-ibu-an, yang berarti keraton tempat tinggal ibunda sultan. Saat itu,  kraton merupakan tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu dari Sultan Syafiuddin, salah seorang raja yang memerintah Kesultanan Banten tahun 1809. Namun tahun 1932, atas perintah Belanda, keraton dibongkar dan bahan-bahan bangunannya diambil oleh Belanda dan dibawa ke Serang untuk digunakan sebagai kantor pemerintahan dan rumah-rumah pejabat. Semacam ogah rugi, iyes?

Dibandingkan tempat lainnya, kraton ini yang paling mending karena ada paving block sehingga pengunjung bisa berjalan dengan nyaman. Selain itu tidak terlalu runtuh seperti bangunan lainnya sehingga masih terbayang bentuknya.

Rasanya saya terlalu sombong jika banyak mengeluh dalam tulisan tentang Banten Lama karena Banten adalah bagian dari tanah air dan saya bukanlah seorang turis. Sedari awal, teman saya sudah mengingatkan untuk tidak berharap lebih karena pariwisata di sini tidak begitu terurus. Namun sangat disayangkan karena Banten memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari penyebaran agama Islam dan kerajaan Sunda. Semoga Banten memiliki bupati yang bisa melihat nilai wisata dan sayang dengan kotanya.

Saat perjalanan pulang, saya berkata pada teman-teman saya, "Kalau para sultan bangkit dari kubur dan melihat Banten sekarang, mungkin mereka akan nangis. Mungkin Banten di zaman mereka itu jauh lebih baik ketimbang sekarang."