29 June 2015

Jauh di Timur

Hi, teman-teman!

Wah lama sekali tidak menulis blog ini. Kerjaan di kantor lumayan padat karena sekarang saya handle dua majalah, dan yang salah satunya adalah project Roro Jonggrang alias project yang deadline-nya begitu mepet seperti pembuatan candi dalam sehari semalam. Kendala kecil-kecil yang bikin panik ada saja. Ya mudah-mudahan lancar ya.

Semesta menunjukkan kebaikannya pada saya di awal Juni lalu. Saya mendapatkan kesempatan untuk pergi liputan ke Merauke bersama para wartawan dari berbagai media. Wah, ini lho nama daerah yang disebut-sebut dalam lagu legendaris Sabang Sampai Merauke. Keberadaannya adalah titik tolak luasnya Indonesia dari ujung ke ujung! Uwoo.

Horee, touchdown Merauke!

Saya berangkat hari Jumat tengah malam dari Jakarta, kemudian transit di Bandara Sentani, dan sampai di Bandara Mopah, Merauke, pada Sabtu pagi. Hari pertama di sana dilalui dengan senang-senang. Sebelum berkegiatan, kami makan Coto Makassar. Duh, ini di Merauke kok makan Coto Makassar? Merauke adalah daerah tujuan transmigrasi dan banyak orang Makassar yang pindah ke sini. Maka tidak aneh jika ditemukan Coto Makassar. Coto yang saya makan dagingnya tebal, pakai lontong yang bercampur dengan santan. Rasanya? Sejujurnya tidak enak-enak amat. Kuahnya sedikit hambar.

Di Merauke langsung diajak makan Coto Makassar? Hm.


Setelah dari situ, kami menemui seorang kontraktor lokal yang katanya dia adalah kontraktor terbaik di Merauke. Dia bercerita bahwa untuk mendapatkan materialnya, dia harus ekspor dari Surabaya dan Jakarta, karena harga di Jawa lebih murah daripada di Merauke. Dia hanya menjadi kontraktor Merauke dan sekitarnya saja karena buruknya infrastruktur di sana sehingga sulit untuk mengembangkan sayap.

Kemudian kami lanjut ke distrik Sota yang merupakan tempat terujung di Merauke yang berbatasan dengan Papua Nugini. Sota ditempuh dalam waktu sekitar dua jam, melewati hutan kayu putih. Sesampainya di sana, saya menemukan banyak rumah semut yang tingginya bisa sampai 3-4 meter! Tipikal semut merah yang besar-besar dan jalannya tidak merayap gitu. Hiii.

Semutnya di dalam, jadi tidak kena tangan.

Kayu putih di mana-mana.

Namanya perbatasan pasti banyak tentara. Tapi perbatasan di sini nuansanya tidak kaku dan mengintimidasi. Bahkan orang Papua Nugini bisa keluar masuk dengan bebas (tentu selama ada border pass). Biasanya mereka ke Indonesia untuk belanja atau sekolah gratis. Saking bebasnya, saya bisa lewat patok batas negara tanpa merasa takut. Sekarang saya resmi sudah ke luar negeri! Hehe.

Untuk menciptakan suasana akrab itu bukan terjadi dengan sendirinya. Ada seorang polisi bernama Ma'ruf yang berperan besar dalam menciptakan keakraban dua negara ini. Ma'ruf, seorang warna transmigran yang dulu berasal dari Jawa, datang ke Sota yang saat itu masih berupa semak belukar. Karena tingkat kriminalitas rendah, bahkan dalam setahun bisa tidak menangani sebuah kasus, ia memutuskan untuk bercocok tanam yang segala benihnya ia beli sendiri dengan gajinya.

Ma'ruf. The gate keeper.

Karena sering berada di dekat perbatasan, ia juga jadi sering berinteraksi dengan warga Papua Nugini. Kalau ada warga yang ingin belanja tapi tidak punya border pass, Ma'ruf minta daftar belanjanya lalu ia sendiri yang membelanjakan. Oleh karena itu, banyak orang yang respect sama dia. Dia sudah dianggap saudara dan sekarang disebut dengan Pakdhe oleh warna Papua Nugini.

Sota jadi semacam tempat argowisata. Selain sayur mayur, Ma'ruf juga punya pertenakkan rusa dan kasuari. Lama kelamaan daerahnya pun jadi berkembang. Bahkan ada bangunan semi permanen tempat orang Papua berjualan cinderamata seperti tas yang dihias bulu kasuari, minyak kayu putih, dan madu. Tempat ini jadi hidup.

Sepulang dari Sota, saya makan sate rusa. Tidak perlu khawatir, di sana rusa banyak! Dagingnya keras dan cenderung anyep. Saya kira karena kurang bumbu. Tapi ibu penjual sate menjelaskan bahwa daging rusa memang begitu, susah menyerap bumbu walaupun sudah dikasih banyak. Saya sih tidak suka, maka tidak habis.

Daging rusa yang disate. Keras dan anyep. Saya sih tidak suka.
Keesokan harinya, saya pergi ke pengrajin kulit buaya yang bernama Mas Kulit. Konon pengrajin ini terkenal sekali sehingga ada jargon "Kalau ke Merauke tidak pergi ke Mas Kulit artinya tidak lengkap". Buayanya tidak sembarang buaya yang diambil. Ada ukuran dan kuotanya, sehingga pembeli mendapatkan label hologram pertanda buayanya aman. Produknya macam-macam, dari gantungan kunci hingga tas golf. gantungan kunci saja harganya Rp100.000. Kebayang kan tas golf-nya berapa?

Setelah menjalankan tugas utama yaitu meliput tentang potensi Papua dan bantuan perbankan untuk mengoptimalisasikan potensi ini, saya cari oleh-oleh. Setelah itu, kegiatan dilanjut makan malam. Karena Merauke kecil dan makanannya itu-itu saja, juga melewati dua makanan yang biasa saja, saya ingin makan makanan enak. Lalu saya pergi ke tempat seafood. Tapi entah kotor atau bagaimana, malamnya saya alergi gatal-gatal sekujur tubuh. Duh.

Saya menemukan hal yang menarik selama berada di sana. Merauke adalah tujuan transmigrasi. Selama berada di jalan, saya melihat Merauke ini sama saja dengan Jawa--didominasi kulit cokelat yang berambut lurus. Kata warga, perbandingan orang Papua dan pendatang adalah 50:50. Tapi dari berbagai toko yang saya datangi, kebanyakan dimiliki oleh orang Jawa. Orang Papua masih miskin, lebih cenderung berburu atau bercocok tanam, dan uangnya habis saat itu juga.

Karena banyak pendatang, tentunya jadi banyak percampuran budaya. Saking banyaknya, saya tidak/belum menemukan sesuatu yang khas di sini. Misalnya masalah kain untuk oleh-oleh, di sini hanya ada batik yang motifnya dibuat motif Papua tapi dibikinnya ya di Jawa juga. Makanan juga begitu. Kalau Bandung, kita langsung terpikirkan dengan peyeum, Yogyakarta terpikirkan bakpia atau gudeg, Jakarta terpikirkan dengan ketoprak. Tapi kalau Merauke? Papeda? Makan papeda itu tidak mudah karena orang harus pesan dulu untuk bisa makan. Untuk oleh-oleh, saya malah menemukan roti abon yang bisa ditemukan di mana saja tuh. Tidak spesial.

Yang spesial dari Merauke barangkali adalah letak geografisnya. Tidak semua orang bisa ke sini, mengingat tempatnya yang begitu jauh. Jika tidak ada kerjaan, atau ada proyek seperti yang pernah dilakukan dua orang wartawan yang keliling Indonesia dan mendokumentasikan dalam buku.. barangkali Merauke tidak pernah tersentuh.

04 June 2015

Ayo, Maksimalkan Manfaat Alam

Ladies, gaya hidup sekarang itu sudah tidak zaman merokok sampai kanker, narkobaan sampai menyusahkan keluarga, atau minum sampai mabuk rese. Gaya hidup sekarang itu hidup sehat! Kalau tidak percaya, coba tengok majalah-majalah yang ada di toko buku. Pasti membahas gaya hidup sehat, 'kan? Ya walaupun majalah mana ya yang bahas hal negatif. Heu.

Agak tumben ya pembuka tulisannya kayak gini. Kebiasaan menulis di kantor agak sedikit terbawa.

Ceritanya belakangan ini saya mencoba untuk memanfaatkan alam demi hidup yang lebih sehat. Hal-hal yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan di dalam dan luar tubuh adalah sebagai berikut:

Minum perasan air lemon
Awalnya saya keranjingan infused water. Tapi karena buah itu rawan pestisida, agar ngeri juga harus mencampurkan buah dengan kulitnya di air. Jadi, setiap pagi saya memeras lemon ke dalam air hangat. Lemon dipercaya dapat membantu pencernaan dalam menyerap nutrisi makanan dan memiliki kandungan vitamin C. Ini cocok sekali untuk saya yang tidak setiap hari makan buah karena yang jualan buah cukup jauh dari tempat tinggal. Apalagi angkot mahal kan. Curhat.

Minum teh hijau
Sumber foto: http://foodfitnesswellness.com/
Saya memilih untuk suka teh dibandingkan kopi. Alasannya sederhana yaitu saya bisa minum teh tanpa gula. Kalau minum kopi dengan gula setiap hari, aduh takut diabetes. Kalau kata websitenya National Geographic Indonesia, minum teh hijau teratur dapat membantu meningkatkan kesehatan mental (ini penting untuk tetap waras di Jakarta yang keras), melawan diabetes, membantu penurunan berat badan (tidak berharap banyak, anggap saja bonus), mengobati penyakit gusi dan mampu mengontrol kolesterol. Teh hijau juga sudah terbukti efektif memerangi kanker payudara, ovarium, usus, kulit, perut, paru-paru dan kandung kemih. Whoa! Apakah ini daun ajaib? Apakah ini daun dari surga?

Jangan minum teh setelah makan sayuran agar nutrisinya tidak hilang, sebaiknya minum setelah makan daging-dagingan. Oleh karena itu restoran sushi menyajikan ocha, 'kan? Mudah-mudahan manfaatnya beneran ya, karena BPJS kan belum tentu menutup penyakit mahal-mahal itu. Wk.

Pakai produk ramah kulit
Karena rambut terlihat kering karena gemar keramas setiap hari, saya mulai berpikir untuk pakai sampo yang bebas deterjen. Mau tidak keramas, tapi Jakarta panas sekali. Suka lepek dan dikira pakai pomade. Huhu. Nah, temen kantor menyarankan pakai produknya Kippabuw. Merek ini mengklaim bahwa sebagian besar bahan yang digunakan untuk produk-produknya adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Tapi tetap tidak bisa dimakan ya.

Semua barangnya adalah buatan tangan. Saya pakai sampo batangan yang dibuat dari madu untuk menjaga kelembaban kulit kepala. Tanpa sodium lauryl sulfate atau deterjen, tanpa pewarna buatan, tanpa pewangi buatan. Sebelum keramas, saya mengaplikasikan minyak rambut selama 30 menit sebagai masker. Sudahnya jadi terasa tidak kering. Nice!

Foto dokumentasi pribadi.

Untuk sabunnya saya pakai beer soap. Katanya bir juga memiliki manfaat menjaga kelembaban kulit, antiseptik, dan menjaga keremajaan kulit. Sebagai penikmat bir tapi sedang puasa tidak minum bir, setiap kali mandi, aduh aromanya harum sekali. Sehingga membuat niat minum datang lagi. *lha.

Ini bukan mengiklankan Kippabuw ya dan memberi garansi kalau orang lain bakal cocok. Banyak merek yang menggunakan bahan-bahan alami. Silakan pilih sendiri berdasarkan kepercayaan. Hehe.

Teh hijau untuk wajah
Balik lagi ke teh hijau, teh hijau memiliki kadar antioksidan yang tinggi. Dari Instagramnya Kippabuw, saya juga mendapatkan tips untuk mengaplikasikan teh hijau sebagai campuran masker. Masker yang saya gunakan juga katanya alami yaitu Saripohatji yang sudah dipakai sejak SMP. Alasannya sederhana: murah dan ada di pasar dekat rumah. Haha. Saripohatji juga bisa menghilangkan jerawat, walau agak lama ya.

Setelah membersihkan muka pakai susu pembersih, susunya dibersihkan pakai air teh hijau sebelum menerapkan krim malam. Eh lumayan oke lho paginya. Bahkan air teh hijau bisa dicampur ke dalam air untuk mandi dan dipakai sebagai creambath alami yang bagus untuk rontok. Saya melakukan itu kadang-kadang, kalau tidak malas. Sisanya lebih milih airnya untuk diminum. Hihi.

Olahraga teratur
Walaupun ini tidak ada kaitannya dengan alam, tapi ya berhubungan dengan menjaga tubuh sehat. Karena saya tidak diet (oh Tuhan saya benci diet. Saya cintaaa sekali dengan makanan. Makanan adalah anugerah. Makanan adalah surga. Makanan adalah Tuhan!), jadi memutuskan untuk olahraga saja biar seimbang antara kalori yang masuk dan keluar. Keren, kan?

Foto dokumentasi pribadi.

Olahraga yang saya lakukan adalah lari dan berenang, setidaknya seminggu 2-3 kali. Itu juga sebenarnya kurang. Karena setiap kali ditimbang beratnya tidak pernah turun, juga melihat keluarga saya menurunkan tubuh yang berisi sehingga sia-sia kalau ingin terlihat kurus kering seperti model, jadinya tujuan olahraga itu biar tidak gembyor, terlihat segar, pembuluh darah ke jantung tidak tersumbat. Sebagai wartawan yang sering meliput tentang kesehatan dan wawancara dokter, hal terakhir itu perlu diperhatikan lho. Karena kalau sudah kena serangan jantung sekali, wah susah deh. Apalagi karena alasan yang sebenarnya bisa kita cegah.

Jadi gitu deh, ladies, hal-hal yang saya lakukan. Memanfaatkan alam sepertinya ide baik karena itu bisa ditemukan di mana-mana, dan tentunya hal yang alami tanpa pengaruh hal yang dibuat pabrik itu baik untuk tubuh. Walau belum bisa maksimal, sebaiknya usahakan terlebih dahulu. Dicicil satu per satu kebiasaannya. Selain baik, ada kelebihan lain dari alam yaitu... murah meriah. ;D

23 May 2015

The Missing Joy

Sudah hampir tiga minggu lamanya Joy menghilang. Bagi yang belum tahu, Joy itu anjing milik pacar saya, Anto. Badan Joy tidak terlalu tinggi, bahkan panjang, dan cenderung bohay. Bulunya hitam dan putih, panjang, dan kadang kusut karena Anto suka malas menyisir. Saya pernah membelikan sisir dan gunting karena bulu Joy mulai gimbal di beberapa tempat.

Joy adalah anjing baik, hanya menggongong pada orang yang tidak ia kenal dan menggonggong pada dirinya sendiri saat berkaca. Ia seringkali riweuh dan over excited dengan melompat dan menjilat kalau Anto datang. Joy juga suka ngaso, tiduran dari atas lantai dengan kedua kaki yang terlentang--sehingga ia menyerupai keset. Keset yang lucu.



Di balik perannya sebagai hewan peliharaan, ia berperan sebagai The Escape Artist. Keset hidup ini suka membuka pintu gerbang rumah, membobol kandang, dan--terakhir--ia membobol sekat rumah. Biasanya Joy jalan-jalan sendirian ke luar dan balik lagi ke rumah. Tapi kali ini tidak. Joy tidak pulang.

Joy adalah anjing yang diberi makan sejak ia kecil. Seharusnya ia pulang jika ia merasa lapar. Tapi ia tidak kunjung pulang. Kalau pulang ke rumah, Anto selalu mengecek makanan yang ditaruh di atas wadah. Tapi banyaknya makanan itu selalu sama karena tidak ada yang makan. Joy, kamu tidak lapar?

Yang membuat saya khawatir adalah Indonesia, negara yang penduduknya mayoritas muslim ini, adalah negara yang tidak ramah pada anjing. Karena najis adalah hal yang harus dihindari, maka anjing pun demikian. Cara menghindari bisa saja bermacam-macam, seperti memukul, menyiram, menendang, melempar, atau menelantarkan. Padahal apa yang salah dari hewan lucu, baik, dan berbulu ini? Kalau kena hidung atau liurnya 'kan tinggal dicuci pakai tanah. Di balik anti anjing, ada sebuah ironi kecintaan pada anjing. Beberapa suku di Indonesia gemar sekali mengkonsumsi daging anjing. Tapi mudah-mudahan tidak ada di Sumedang karena kota kecil ini mayoritas penduduknya tidak makan daging anjing.

Saya berharap sekali Joy baik-baik di luar sana. Tidak apa-apa diambil orang, asal orang itu jauh lebih sayang Joy dibandingkan Anto. Semoga Joy terawat, tidak kesakitan, dan tidak kelaparan. Dan seperti namanya, semoga Joy selalu berbahagia di manapun ia berada.

Joy, kalau sudah bosan di luar, pulang ya. Kami selalu menunggumu ...

05 May 2015

Obituary Uwa Ema

Sepertinya saya terbiasa bahwa setiap kali seseorang sakit, pasti ia akan sembuh. Ah, apalagi kalau baru sakit sekali. Tapi hidup baru mengingatkan saya bahwa tidak semua orang sakit itu akan sembuh--walaupun ia tampak segar setelah sakitnya berlalu. Sakit membawa orang ke jalan yang berbeda selain kesembuhan.

Akhir pekan panjang kemarin saya habiskan jalan-jalan bersama teman-teman kantor di Jawa Tengah. Saat akan kembali ke Jakarta di Minggu malam, saya menelepon ibu saya untuk memberi tahu kabar. Ibu saya bilang bahwa kakaknya, yang saya panggil Uwa Ema, kena serangan jantung. Ia sudah dioperasi, ibu saya sudah jenguk, dan uwa tampak sudah sembuh. Bahkan menurut sepupu lain, uwa sudah bisa berbicara untuk menanyakan kabar.

Saya sampai di Jakarta hari Senin pukul setengah 6 pagi. Rasanya capek dan teler sekali. Begitu sampai kosan, saya tidur selama dua jam sambil membiarkan hp yang tidak saya isi baterainya. Ketika bangun dan mengecek hp, saya mendapat kabar bahwa Uwa Ema sudah meninggal. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah kegalauan apakah saya harus pulang ke Bandung atau tidak. Setelah dipikir-pikir, tentu saya harus pulang! Pikiran itu berubah menjadi tangisan ketika kakak sepupu saya menelepon dan mengkonfirmasi kabar itu ke saya sambil menangis.

Hal yang saya takutkan saat itu adalah saya tidak dapat mengejar travel dan terlambat datang ke acara pemakamannya. Tidak boleh terlambat karena kapan lagi saya bisa melihat uwa terakhir kali. Travel baru tersedia pukul setengah satu siang, sementara jadwal pemakaman pukul empat sore. Dan mobil travel datang terlambat 30 menit. Begitu keluar dari tempat travel, sudah ketemu macet. Saya mengutuk Semesta. Bagus!

Meskipun sudah saya kutuk, Semesta masih berbaik hati. Malah terlalu baik. Rupanya saya beberapa menit lebih cepat dari iring-iringan mobil jenazah. Jalur dari rumah duka ke pemakaman itu pas sekali dengan jalur saya turun dari travel. Tidak menunggu lama, saudara saya menjemput di Pasteur. Akhirnya saya bisa sampai pemakaman sebelum mobil jenazah datang.

Mobil itu datang. Keranda dikeluarkan dari mobil, diangkut menuju tanah yang sudah digali. Keranda ditaruh di bawah, tutupnya dibuka, dan saya melihat sebuah kain batik yang menutupi sesosok tubuh. Sebelum masuk liang lahat, kain batik itu disingkap dan memperlihatkan sebuah tubuh yang dibalut kain kafan. Tubuh itu milik uwa saya.

Saat masih kecil, saya cukup sering menghabiskan liburan di rumah Uwa Ema di Cianjur. Uwa Ema menikah dengan seorang dokter sehingga saya main ke rumah dinas mereka yang sampai sekarang hafal betul bentuk rumah dan rumah sakitnya. Di sana, saya banyak menghabiskan waktu main dengan saudara-saudara yang lain.

Semenjak meninggalnya kakak ibu saya yang lebih tua dari Uwa Ema, uwa ini menjadi sosok yang dituakan. Sosok yang selalu dikunjungi saat lebaran. Kalau ada masalah, orang-orang sering berkonsultasi dengannya. Uwa Ema juga sering memantau dan perhatian kepada adik-adiknya, termasuk si bungsu--ibu saya.

Kalau ditanya siapa yang berperan besar atas keberhasilan saya sekarang ini, Uwa Ema adalah salah satunya. Ia banyak sekali membantu saya. Sangat banyak. Sangat amat banyak. Saya merasa saya berhutang budi kepada Uwa Ema. Jika tidak ada Uwa Ema, saya tidak akan menjadi orang seperti sekarang.

Uwa Ema juga sigap ketika ibu saya kena stroke ringan. Ia memberikan rekomendasi obat. Saya bisa melihat ekspresi Uwa Ema yang kasihan melihat ibu saya. Bagi saya, uwa sedang menunjukkan rasa sayangnya. Kalau ibu saya ada keluhan sakit kaki, uwa juga memberi obat oles. Uwa juga banyak membantu ibu saya. Sangat amat banyak. Ia memberikan satu koper pakaian saat ibu saya akan umroh.

Saya lupa kapan terakhir ketemu Uwa Ema karena saya seringkali tidak datang kalau ia sedang mengadakan acara keluarga. Saya menyesal. Saya juga merasa kehilangan dengan sosok Uwa Ema yang begitu mengasuh dan perhatian ke keluarga besarnya. Ia tampak punya energi besar untuk melakukan itu semua. Ia tampak begitu sayang dengan keluarganya. Saya merasa kehilangan sosok yang biasanya saya kunjungi saat lebaran.

Uwa, sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya ya. Semoga Tuhan melapangkan kuburmu, melancarkan urusanmu di akhirat, menerima semua amal baikmu karena uwa sangat baik sekali dengan sepenuh hati. Uwa berjasa sekali. Uwa tidak hanya memberikan kebaikan pada saya, tapi uwa memberikan kehidupan.

Begitu uwa masuk pusara, A'Herul, anak laki-lakinya, mengumandangkan adzan. Suaranya bergetar. Ia tidak kuasa menahan air matanya.

Uwa, you will be missed..


Foto diambil hari Selasa, 5 Mei 2015, di atas kereta dari Stasiun Bandung ke Stasiun Gambir.

26 April 2015

Tanah Mama: Perjuangan Wanita Papua

Hari Sabtu kemarin saya menonton film dokumenter Tanah Mama. Film ini diputar di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia. Saya sudah lama penasaran dengan Galeri Indonesia Kaya karena galeri ini mengadakan acara-acara kesenian gratis setiap bulan. Ada pertunjukkan tari, keroncong, pembacaan buku, dan pemutaran film. Dan kebetulan film yang ditayangkan juga menarik. Maka berangkatlah saya dan teman ke sana.


Tanah Mama berkisah tentang perjuangan wanita di Papua dalam menghidupi diri dan keluarganya. Hidup Halosina, nama wanita itu, berubah semenjak sang suami memutuskan untuk menikah lagi. Karena enggan hidup bersama wanita lain, Halosina memutuskan untuk pergi dan tinggal bersama saudaranya.

Namun sang suami tidak memberikan lahan perkebunan sehingga Halosina tidak bisa menanam dan mendapatkan penghasilan. Mulut anak-anaknya pun harus diberi makan. Oleh karena itu, Halosina memanen ubi di perkebunan milik adik iparnya. Kemudian Halosina dituduh mencuri dan harus membayar denda hingga Rp1 juta. Lalu dari mana ia mendapatkan uang?

Membuka lahan bukan perkara mudah. Diperlukan tenaga laki-laki di sana. Sang suami tidak membantu sama sekali, bahkan tidak membela sang istri ketika si adik ipar datang untuk menuntut denda. Jangankan dengan Halosina, suaminya juga tidak peduli dengan anak-anak dari istri pertamanya. Berbeda dengan anak-anak dari istri kedua yang disekolahkan, anak-anak Halosina tidak sekolah dan kelaparan. Menyebalkan.

Tanah Mama adalah film dokumenter yang sederhana namun bermakna, indah namun menghadirkan sebuah ironi. Di tengah tanah yang subur, para warganya tetap miskin. Halosina harus berjalan kaki lima jam bersama sayur hasil panen dan anak-anaknya, melewati sungai yang penuh dengan batu, kemudian disambung kendaraan ke Wamena. Tentunya keadaan ini menjadi semakin sulit ketika ia adalah satu-satunya pondasi keluarga.

Di tengah perjuangannya mencari nafkah, Halosina adalah seorang ibu yang harus mengurus anak-anaknya. Apalagi ia masih punya anak yang masih balita sehingga seringkali ia harus menyusui di tengah-tengah kegiatannya. Ia menyusui saat menemui kepala desa saat kasusnya diperkarakan, ia juga menyusui di atas bukit sehabis memanen ubi.

Tentu Halosina, dan warga lainnya, tidak berpikir mau pakai baju merek apa, pakai sepatu yang mana, menggapai cita-cita apa, karena tujuannya adalah bagaimana perut ini bisa terisi terus. Sehingga anak-anak pun sudah diajarkan berkebun sejak dini. Keindahan alam bukan menjadi ajang wisata atau cuci mata bagi mereka. Keindahan alam menjadi anugrah yang memberi makan.

Oh ya, sebagai tambahan pengalaman menarik yang kemarin saya lalui, saya menonton film ini bareng komunitas Bioskop Bisik. Komunitas ini mengundang para tuna netra untuk menonton film, ditemani dengan para relawan yang membisikkan setiap adegan dalam film. Tapi relawan harus berhenti menjelaskan untuk memberikan kesempatan pada para tuna netra mendengarkan dialog. Seru!

Pasti akan datang lagi. :)