20 July 2014

Keliling Bandung dengan Bandros

Di tahun 2014, kata 'bandros' tidak lagi merujuk pada sebuah makanan khas Jawa Barat yang terbuat dari tepung beras, kepala parut, dan santan. Bandros kini juga merujuk pada sebuah bus double-decker berwarna merah yang mengangkut para wisatawan untuk menikmati Bandung. Bus yang catchy ini merupakan sumbangan dari program corporate social responsibility sebuah perusahaan telekomunikasi.

Dikerubuti banyak orang.

Mulanya pengunjung bisa memakai Bandros dengan memperlihatkan struk belanja di factory outlet atau toko-toko yang ada di Bandung. Tapi kini pengunjung ditarik bayaran Rp10.000. Keberadaan bus yang namanya merupakan akronim "Bandung Tour on Bus" baru ada satu buah, namun direncanakan akan ada 30 bus lainnya.

Hari ini saya berkesempatan merasakan naik Bandros bersama Komunitas Aleut. Kami menunggu di depan Taman Pustaka Bunga. Ternyata banyak sekali yang mau naik Bandros sehingga kami harus berdesak-desakan. Siapa cepat, dia yang dapat. Bahkan ada yang nekat manjat dari sisi belakang karena tidak ingin melewatkan duduk di lantai dua bus. Jangan ditiru, ya! Nanti busnya cepat rusak.

Hati-hati ada kabel!

Semua orang senang. :)

Rupanya kebiasaan naik Busway TransJakarta mengajarkan saya menjadi makhluk yang lihai dalam menyalip orang lain. Hehe. Bersama kawan Aleut lainnya, saya bisa duduk di lantai dua. Kami bersorak begitu bus ini jalan. Selain bisa melihat pemandangan, berada di lantai dua ini memiliki tantangan sendiri yaitu kami harus menghindari ranting pohon dan kabel listrik yang jaraknya begitu dekat dengan kepala. Tak jarang petugas Bandros mengingatkan kami untuk tidak berdiri.

Awas pohon!

Tempat duduk yang hanya boleh diisi dua orang.

Bagian depan bus.
video


Berbeda dengan bus doubler-decker Jakarta, bus Bandros tidak memiliki atap. Cuaca Bandung yang bersahabat--terutama cuaca sehabis mendung saat kami naik--memang enak dinikmati tanpa penghalang. Begitu sejuk. Bagaimana jika hujan? Tenang, Bandros memiliki terpal dadakan.

Dari Taman Pustaka Bunga, bus berjalan ke arah Jl. Diponegoro, Jl. Ir. H. Juanda, Jl. Ganesha, Taman Sari, Jl. Ir. H. Juanda, dan kembali ke titik awal. Durasi perjalanan relatif singkat. Oleh karena itu, banyak dari para pengunjung yang menunggu-nunggu lampu merah dan mengharapkan jalanan macet. Hehe.

Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk membuat bus ini nyaman untuk digunakan. Salah satunya harus dibuat antrian yang jelas seperti tali atau diberi nomer sehingga orang tidak berdesak-desakan saat akan naik. Selain itu, jika pemandu dapat menjelaskan atraksi wisata atau gedung sejarah yang dilewati bus akan membuat kegiatan wisata ini jauh lebih baik.

Hukum rimba, mulai!

Meskipun demikian, pengalaman ini sungguh menyenangkan. Apalagi karena kami bisa jadi artis sehari dimana kami dilihat banyak orang atau mendapat lambaian dari orang-orang sekitar.

----
Video courtesy by Guntur.