10 August 2015

Koper Kubawa Kemanapun Ku Pergi

Kita seringkali mendengar istilah "Cintai diri sendiri sebelum kita mencintai orang lain". Awalnya istilah itu hanya kata-kata yang tidak ada artinya. Tapi satu minggu yang lalu saya jadi paham apa yang dimaksud oleh kalimat itu.

Jadi, ada satu hal yang tidak saya sukai dari perilaku pacar saya terhadap orang lain. Berkali-kali kami bertengkar karena masalah ini. Sebenarnya kalau dipikir-pikir sih bukan sepenuhnya salah dia. Adalah ketidakmampuan, rasa tidak percaya diri, dan rasa tidak aman adalah hal-hal yang saya bawa dalam koper kemanapun saya pergi dan berhubungan dengan orang lain--entah itu pacar, keluarga, atau sahabat. Mungkin karena pacar adalah orang yang lebih intens berhubungan dengan diri saya, ia menjadi sebuah cermin yang paling jelas, sehingga saya bisa melihat diri saya yang terbaik maupun yang terburuk.

Kalau yang muncul adalah sisi diri yang terbaik, anggap saja itu bonus buat orang lain. Tapi kalau terburuk, saya jadi tidak enak juga. Saya jadi takut menyakitinya. Meskipun pacar saya ibarat karet yang fleksibel, tapi saya yakin karet juga bisa putus kalau saya menarik terlalu keras. Dan, tentunya, saya punya kemampuan untuk menarik sekeras mungkin, untuk menampakkan diri seburuk mungkin, untuk membahas sesuatu sedalam mungkin sampai ia merasa muak.

Di situ saya jadi paham. Ternyata kita (atau saya) tidak bisa mencintai orang lain kalau saya tidak bisa mencintai dan menerima diri sendiri. Pacar atau orang lain menjadi samsak atas masalah-masalah diri saya yang tidak selesai. Jadinya, kalau saya sendiri masih membenci diri, maka nantinya saya hanya menyakiti, menyakiti, dan menyakiti.

Wah, insight yang sangat menarik. Insight lainnya adalah saya jadi tidak memaksa jika pacar atau orang lain untuk selalu tetap berada di samping saya. Kalau kamu mau pergi, silakan. Saya akan mengingat kamu. Saya akan mengingat orang-orang yang pergi dari hidup saya.

Katanya sih begitu. 

Go Go-Jek!

Pertama, saya mengucapkan puji dan syukur akhirnya misteri tulisan "Ojeg" atau "Ojek" terpecahkan. It is official "Ojek" ya, pemirsa. Kedua, Go-Jek memang hal baru di Indonesia, tapi saya baru punya pengalaman naik Go-Jek untuk pertama kalinya di akhir pekan lalu.

Ceritanya saya harus liputan akhir pekan ke kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Biasanya kantor mau mengantarkan dengan mobil kantor. Tapi karena sedang banyak acara ke luar kota, akhirnya saya tidak dapat mobil. Liputan ke PIK tanpa mobil kantor itu bikin was-was, terutama masalah kantong. Dibutuhkan uang Rp140 ribu untuk naik taksi PP PIK - kantor. Naik angkot dan TransJakarta memang jauh lebih murah, tapi waktu yang diperlukan sekitar dua jam dan harus ganti 3-4 kali angkot. Duh.

Banyak teman-teman saya yang sudah pakai jasa Go-Jek. Sehari sebelum liputan, saya ada liputan lain di Sarinah dan berencana pergi ke Kota Kasablanka setelahnya. Saya coba pesan Go-Jek, tapi tidak ada tanggapan sehingga saya naik TransJakarta. Saya kira karena itu jam kantor dan para pengguna Go-Jek membludak. Ternyata setelah selesai dari Kota Kasablanka, Go-Jek pun tidak kunjung bersambut walaupun saya lihat banyak Go-Jek yang nongkrong di pinggir jalan. Wah, saya jadi pesmis dong. Ini beneran bisa dipakai dan memudahkan enggak sih?

Foto Dok. http://www.go-jek.com/
Hari Sabtu pagi, yaitu hari di mana saya harus liputan ke PIK, saya memesan Go-Jek dua jam sebelum acara karena takut tidak dapat dan harus meluangkan waktu kalau harus naik TransJakarta. Ternyata tidak sampai lima menit, saya mendapatkan notifikasi kalau Go-Jek menemukan driver untuk saya.

Pengemudi Go-Jek menunggu saya di depan kantor. Saya diberikan penutup kepala dan masker. Wah, penutup kepala sangat dibutuhkan karena helm itu mungkin sudah ribuan kali dipakai oleh berbagai jenis rambut. Kemudian saya diantar sampai ke PIK dan hanya membayar Rp10.000 saja melalui Go-Jek kredit. Bagian serunya adalah ternyata aplikasi Go-Jek memberikan notifikasi kalau misi sudah selesai. Bahkan saya bisa memberikan rating dan komentar tentang pengemudinya. Nice!

Sepuluh ribu memang tarif promo. Kalau dihitung tanpa promo, jarak dari kantor ke PIK itu tarifnya Rp55.000. Memang lebih murah dari taksi sih, tapi kalau keseringan berat juga. Tapi kalau dibandingkan dengan ojek konvensional yang gemar geplak harga sekenanya, barangkali saya bisa dikenai biaya Rp100.000.

Di aplikasi Go-Jek itu kita bisa melihat ojek yang ada di sekitar, jadi kita bisa tahu kemungkinan kita akan dapat gojek. Nah, saat saya mau pulang dari PIK, hanya ada satu Go-Jek yang muncul. Ya sudah, coba saja, ketimbang naik TransJakarta dan sampai kosan di malam hari. Ternyata dia menyambut pesanan saya. Wah, asyik, pulang pergi hanya Rp20.000 plus tips.

Di perjalanan, pengemudi Go-Jek bercerita pada saya bahwa sebelumnya ia bekerja sebagai tukang bangunan dan baru dua bulan menjadi driver Go-Jek. Sejauh ini ia merasa pekerjaan ini enak dan membatasi hanya mengangkat 10 penumpang setiap harinya agar bisa istirahat. Dia cerita bahwa hampir seminggu aplikasi Go-Jek sedang error. Oh, pantas saja tidak ada yang ambil pesanan Go-Jek saya saat di Kota Kasablanka kemarin. Kalau aplikasi sedang down, ia bisa tidak dapat pesanan. Juga kadang-kadang ia memerlukan waktu satu jam untuk set order sudah selesai di aplikasi.

Ya wajar saja kalau Go-Jek ada pengalaman aplikasi atau server yang down. Bagaimana tidak, data terbaru (teman saya wawancara langsung CEO Go-Jek minggu lalu), mengatakan bahwa Go-Jek diunduh oleh dua juta orang. Supir Go-Jek kini sudah mencapai 15.000 orang. Jadi ini sih bisa-bisanya operator yang menjaga aplikasi atau server untuk tidak down. Karena kalau sudah down, bubar jalan deh semua.

Sang supir menyatakan kekhawatirannya kalau promo tarif datar Rp10.000 berakhir maka ia akan kehilangan pelanggan. Saya jawab gini, "Pak, enggak usah khawatir. Kayaknya sekarang orang-orang milih Go-Jek daripada ojek konvensional karena tarifnya adil, tidak asal geplak. Dan Go-Jek kayaknya lebih aman karena kita jadi tahu siapa drivernya."

Si bapak pun jadi optimis.

Saya sih berharap Go-Jek tetap ada. Kalau ojek konvensional tidak setuju dan merasa terancam, kenapa tidak bergabung dengan Go-Jek saja? Ancaman "Awas kalau pakai Go-Jek gue bakal pecahin kepala lo" tidak akan membuat pelanggan pakai jasanya toh? :)

Lepas

by Christian Schloe
Semenjak Raya lepas dari Jagat, ia selalu dihantui dengan mimpi buruk saat tidur. Misalnya semalam, seekor ular piton mengejarnya dengan cepat. Begitu agresif. Mulutnya terbuka, menganga dengan penuh tekad untuk memakannya.

Atau di malam lainnya, Raya bermimpi tentang orang yang tertabrak kereta api yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Jasad orang itu terpental, tubuhnya kemana-mana seperti kembang api. Beberapa potongan tubuh yang tertinggal hancur dan lumat digilas rel. Diperlukan sebuah sapu dan pengki kecil untuk membersihkan sisa-sisa tubuh itu.

Kalau sudah begitu, Raya selalu terbangun di tengah malam, melihat langit-langit kamar yang kelam seperti lubang hitam tanpa dasar. Keringat membasahi wajahnya, kepalanya, tubuhnya. Tenang Raya, kamu aman. Itu semua tidak terjadi. Itu hanya bunga tidur. Semua itu tidak nyata seperti keterlepasannya dari Jagat yang membuat kelopak matanya dengan sekuat tenaga membendung aliran sungai asin yang membuat matanya bengkak.

Setelah itu ia akan membaringkan tubuhnya ke samping, memeluk tubuhnya sendiri, membentuk posisi seperti janin dalam rahim karena ia begitu rindu akan rasa aman dan lepas dari segala sakit. Ia rindu rasa hangat yang membuatnya lelap. Ia rindu menjadi kecil dan inosen. Ia rindu bebas tanpa belenggu. Ia rindu tidak tahu akan sesuatu.

Raya terus membaca mantra agar kantuk datang kembali. Berharap hanya mimpi kosong yang akan menemaninya, sehingga ia bisa bangun tanpa rasa khawatir. Membuat segala kegelisahan nyata seperti bunga tidur. Ia akan membuat keterlepasannya dari Jagat adalah mimpi belaka. Tekan terus pada alam bawah sadar. Terus, dan terus, dan terus.

11 July 2015

Dear Friends, I Love You No Matter You are Gay

Beberapa minggu yang lalu internet heboh dengan berita legalnya pernikahan sejenis di Amerika dengan latar belakang kesetaraan. Tagar #lovewins jadi trending topic dunia. Di internet, banyak orang yang akhirnya coming out bahwa mereka adalah seorang lesbian, homoseksual, dan biseksual. Tapi dari media sosial yang saya ikuti, tampaknya orang-orang di sini Indonesia belum seterbuka itu. Saya tidak melihat sebuah adegan coming out oleh seorang public figure atau teman sendiri di internet. Pemasangan profile picture pelangi juga dilakukan oleh teman-teman saya (yang sejauh ini saya ketahui mereka heteroseksual) sebagai bentuk dukungan. Apa karena sadar di Indonesia masih tabu?


Justru bukan para LGBT yang bermunculan, tetapi yang homophobic justru lebih banyak bermunculan. Homophobic moderat sebatas nyinyir, homophobic garis keras membawa alasan agama. Tapi ya tidak salah juga, karena agama adalah dogma. Agama itu titah satu arah. Sebagian orang mempercayai agama tanpa tanda tanya.

Apapun alasannya, yang namanya negatif itu membawa energi yang tidak enak. Apalagi memaksakan nilai diri pada orang lain, mendefinisikan dan membentuk orang lain. Don't judge someone because they have a different sin than you. Hal lain yang bikin saya sebal adalah pendapat orang bahwa menjadi homoseksual adalah sebuah pilihan.

Being gay isn't a choice, being homophobic is.

Karena rata-rata orang yang sudah homophobic sudah menutup diri dari awal dan tidak mau tahu cerita personal orang itu, tentu mereka tidak tahu bahwa menjadi homoseksual itu bukan sebuah pilihan. Yang menjadi pilihan adalah apakah mereka mau coming out atau tidak.

Apakah kalian sendiri memilih untuk menjadi heteroseksual? Tidak, 'kan? Saya kalau dipaksa harus memilih suka sesama jenis juga tidak bisa. Kalian, secara naluriah dan tanpa disadari, suka dengan lawan jenis semenjak kalian menyadari tentang ketertarikan dan nafsu. Sama seperti homoseksual. Banyak orang-orang yang coming out menyatakan bahwa mereka sedari kecil sudah tertarik dengan sesama jenis. Ini bukan ucapan mengawang-awang yang saya lihat dari internet saja, tapi lingkungan saya begitu. Teman-teman saya yang gay pun begitu. Mereka tidak meminta untuk menjadi seorang gay.

Lagipula, untuk apa sih memilih hal yang ganjarannya bisa dijauhi oleh masyarakat? Semua orang barangkali ingin "normal" dan diterima masyarakat. Life is easier if we live according to social standard, right?

Video Shane Dawson di atas membuat saya sedih. Betapa ia bingung, takut, namun ia tidak bisa berbohong pada dirinya. Begitu dilematisnya saat ia mengetahui dirinya adalah seorang biseksual, tapi disatu sisi Tuhan yang ia percaya itu membenci gay. Namun bukankah orientasi seksual juga yang Tuhan ciptakan? Apakah Tuhan dengan mudahnya membenci makhluknya seperti itu? Kita tidak pernah tahu dengan pasti, 'kan?

Teman-teman saya yang seorang homoseksual, biseksual, atau lesbian adalah teman-teman yang baik. Mereka bisa hidup sesuai dengan norma-norma yang ada. Mereka tidak mencuri, membunuh, korupsi, narkoba.. tidak. Mereka adekuat. Bahkan ada beberapa mereka yang berprestasi.

Jangan mengecilkan orang lain karena ketakutan dan ketidaktahuanmu. Spektrum kehidupan tidak sebatas hitam dan putih. Jika kamu tidak setuju, jaga dirimu dan keluargamu saja. Tidak perlu menjatuhkan, membenci, bahkan memprovokasi orang lain.

29 June 2015

Jauh di Timur

Hi, teman-teman!

Wah lama sekali tidak menulis blog ini. Kerjaan di kantor lumayan padat karena sekarang saya handle dua majalah, dan yang salah satunya adalah project Roro Jonggrang alias project yang deadline-nya begitu mepet seperti pembuatan candi dalam sehari semalam. Kendala kecil-kecil yang bikin panik ada saja. Ya mudah-mudahan lancar ya.

Semesta menunjukkan kebaikannya pada saya di awal Juni lalu. Saya mendapatkan kesempatan untuk pergi liputan ke Merauke bersama para wartawan dari berbagai media. Wah, ini lho nama daerah yang disebut-sebut dalam lagu legendaris Sabang Sampai Merauke. Keberadaannya adalah titik tolak luasnya Indonesia dari ujung ke ujung! Uwoo.

Horee, touchdown Merauke!

Saya berangkat hari Jumat tengah malam dari Jakarta, kemudian transit di Bandara Sentani, dan sampai di Bandara Mopah, Merauke, pada Sabtu pagi. Hari pertama di sana dilalui dengan senang-senang. Sebelum berkegiatan, kami makan Coto Makassar. Duh, ini di Merauke kok makan Coto Makassar? Merauke adalah daerah tujuan transmigrasi dan banyak orang Makassar yang pindah ke sini. Maka tidak aneh jika ditemukan Coto Makassar. Coto yang saya makan dagingnya tebal, pakai lontong yang bercampur dengan santan. Rasanya? Sejujurnya tidak enak-enak amat. Kuahnya sedikit hambar.

Di Merauke langsung diajak makan Coto Makassar? Hm.


Setelah dari situ, kami menemui seorang kontraktor lokal yang katanya dia adalah kontraktor terbaik di Merauke. Dia bercerita bahwa untuk mendapatkan materialnya, dia harus ekspor dari Surabaya dan Jakarta, karena harga di Jawa lebih murah daripada di Merauke. Dia hanya menjadi kontraktor Merauke dan sekitarnya saja karena buruknya infrastruktur di sana sehingga sulit untuk mengembangkan sayap.

Kemudian kami lanjut ke distrik Sota yang merupakan tempat terujung di Merauke yang berbatasan dengan Papua Nugini. Sota ditempuh dalam waktu sekitar dua jam, melewati hutan kayu putih. Sesampainya di sana, saya menemukan banyak rumah semut yang tingginya bisa sampai 3-4 meter! Tipikal semut merah yang besar-besar dan jalannya tidak merayap gitu. Hiii.

Semutnya di dalam, jadi tidak kena tangan.

Kayu putih di mana-mana.

Namanya perbatasan pasti banyak tentara. Tapi perbatasan di sini nuansanya tidak kaku dan mengintimidasi. Bahkan orang Papua Nugini bisa keluar masuk dengan bebas (tentu selama ada border pass). Biasanya mereka ke Indonesia untuk belanja atau sekolah gratis. Saking bebasnya, saya bisa lewat patok batas negara tanpa merasa takut. Sekarang saya resmi sudah ke luar negeri! Hehe.

Untuk menciptakan suasana akrab itu bukan terjadi dengan sendirinya. Ada seorang polisi bernama Ma'ruf yang berperan besar dalam menciptakan keakraban dua negara ini. Ma'ruf, seorang warna transmigran yang dulu berasal dari Jawa, datang ke Sota yang saat itu masih berupa semak belukar. Karena tingkat kriminalitas rendah, bahkan dalam setahun bisa tidak menangani sebuah kasus, ia memutuskan untuk bercocok tanam yang segala benihnya ia beli sendiri dengan gajinya.

Ma'ruf. The gate keeper.

Karena sering berada di dekat perbatasan, ia juga jadi sering berinteraksi dengan warga Papua Nugini. Kalau ada warga yang ingin belanja tapi tidak punya border pass, Ma'ruf minta daftar belanjanya lalu ia sendiri yang membelanjakan. Oleh karena itu, banyak orang yang respect sama dia. Dia sudah dianggap saudara dan sekarang disebut dengan Pakdhe oleh warna Papua Nugini.

Sota jadi semacam tempat argowisata. Selain sayur mayur, Ma'ruf juga punya pertenakkan rusa dan kasuari. Lama kelamaan daerahnya pun jadi berkembang. Bahkan ada bangunan semi permanen tempat orang Papua berjualan cinderamata seperti tas yang dihias bulu kasuari, minyak kayu putih, dan madu. Tempat ini jadi hidup.

Sepulang dari Sota, saya makan sate rusa. Tidak perlu khawatir, di sana rusa banyak! Dagingnya keras dan cenderung anyep. Saya kira karena kurang bumbu. Tapi ibu penjual sate menjelaskan bahwa daging rusa memang begitu, susah menyerap bumbu walaupun sudah dikasih banyak. Saya sih tidak suka, maka tidak habis.

Daging rusa yang disate. Keras dan anyep. Saya sih tidak suka.
Keesokan harinya, saya pergi ke pengrajin kulit buaya yang bernama Mas Kulit. Konon pengrajin ini terkenal sekali sehingga ada jargon "Kalau ke Merauke tidak pergi ke Mas Kulit artinya tidak lengkap". Buayanya tidak sembarang buaya yang diambil. Ada ukuran dan kuotanya, sehingga pembeli mendapatkan label hologram pertanda buayanya aman. Produknya macam-macam, dari gantungan kunci hingga tas golf. gantungan kunci saja harganya Rp100.000. Kebayang kan tas golf-nya berapa?

Setelah menjalankan tugas utama yaitu meliput tentang potensi Papua dan bantuan perbankan untuk mengoptimalisasikan potensi ini, saya cari oleh-oleh. Setelah itu, kegiatan dilanjut makan malam. Karena Merauke kecil dan makanannya itu-itu saja, juga melewati dua makanan yang biasa saja, saya ingin makan makanan enak. Lalu saya pergi ke tempat seafood. Tapi entah kotor atau bagaimana, malamnya saya alergi gatal-gatal sekujur tubuh. Duh.

Saya menemukan hal yang menarik selama berada di sana. Merauke adalah tujuan transmigrasi. Selama berada di jalan, saya melihat Merauke ini sama saja dengan Jawa--didominasi kulit cokelat yang berambut lurus. Kata warga, perbandingan orang Papua dan pendatang adalah 50:50. Tapi dari berbagai toko yang saya datangi, kebanyakan dimiliki oleh orang Jawa. Orang Papua masih miskin, lebih cenderung berburu atau bercocok tanam, dan uangnya habis saat itu juga.

Karena banyak pendatang, tentunya jadi banyak percampuran budaya. Saking banyaknya, saya tidak/belum menemukan sesuatu yang khas di sini. Misalnya masalah kain untuk oleh-oleh, di sini hanya ada batik yang motifnya dibuat motif Papua tapi dibikinnya ya di Jawa juga. Makanan juga begitu. Kalau Bandung, kita langsung terpikirkan dengan peyeum, Yogyakarta terpikirkan bakpia atau gudeg, Jakarta terpikirkan dengan ketoprak. Tapi kalau Merauke? Papeda? Makan papeda itu tidak mudah karena orang harus pesan dulu untuk bisa makan. Untuk oleh-oleh, saya malah menemukan roti abon yang bisa ditemukan di mana saja tuh. Tidak spesial.

Yang spesial dari Merauke barangkali adalah letak geografisnya. Tidak semua orang bisa ke sini, mengingat tempatnya yang begitu jauh. Jika tidak ada kerjaan, atau ada proyek seperti yang pernah dilakukan dua orang wartawan yang keliling Indonesia dan mendokumentasikan dalam buku.. barangkali Merauke tidak pernah tersentuh.