22 October 2014

Jakarta Daylight Walkers

Banyak hal yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini. Entah kenapa, saya lupa menuliskannya. Tapi harus dituliskan agar tidak lupa, agar momennya bisa dikenang. Selain itu juga ada pengalaman baru seperti mencoba dua teh yang unik, tapi nanti dulu, saya akan menulis dari urutan kejadian.

Kalau ke Jakarta, pergi ke kawasan Kota Tua sepertinya sudah basi. Sama saja seperti pergi ke Braga saat berkunjung ke Bandung. Ternyata si pacar ingin diajak ke Kota Tua saat ia berkunjung ke Jakarta. Daripada ke museum, saya mau ajak dia lihat Pelabuhan Sunda Kelapa. Ternyata di sekitar sana banyak atraksi menarik yang letaknya cukup jauh dari Taman Fatahillah seperti Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Menara Syahbandar, dan Museum Bahari.

Kebetulan saya juga belum pernah ke sana. Jadi kami pergi sambil meraba-raba, bermodal GPS, dan bertanya.

Setelah sightseeing sebentar di Taman Fatahilah, kami jalan kaki ke Toko Merah. Saya penasaran dengan toko ini dari fotonya teman saya. Dari kejauhan, toko berbata merah ini tampak mencolok. Gedungnya besar dan bagus. Rupanya gedung ini dipakai sebagai gedung serba guna. Karena kami baru datang sore, gedungnya mau tutup sehingga tidak bisa lihat ke dalam.



Sesuai dengan plakatnya, bangunan yang termasuk cagar budaya ini dibangun oleh Gubernur Jendral V.O.C bernama Gustaaf Willem Baron Van Imhoff tahun 1730. Dan menurut yang saya baca di internet, gedung ini pernah dijadikan tempat tinggalnya.

Setelah dari Toko Merah, kami jalan kaki cukup jauh ke Menara Syahbandar. Tanpa disengaja, kami menemukan Jembatan Kota Intan. Memangnya Batavia memiliki sumber daya alam intan sehingga disebut Kota Intan? Bukan, bukan seperti itu. Nama "Intan" diberikan karena jembatan ini letaknya dekat dengan salah satu bastion Kastil Batavia yang bernama Bastion Diamant (atau Intan).




Jembatan ini dibangun tahun 1628 dan dulunya merupakan penghubung Benteng Belanda dan Benteng Inggris, sehingga jembatan ini pernah disebut Jembatan Inggris. Nama Jembatan Pasar Ayam pun pernah disandang karena letaknya berdekatan dengan pasar ayam. Selain perubahan nama, jembatan ini telah melalui banyak renovasi. Pertama, akibat Mataram dan Banten menyerang Benteng Batavia. Kedua, akibat banjir dan korosi laut. Meskipun demikian, bentuknya tidak pernah berubah.

Untuk masuk ke area jembatan, kami harus melewati gerbang kecil. Di sana ada loket untuk tiket tapi kami tidak disuruh untuk beli tiket. Ada pengujung yang sepertinya bertanya tentang tiket, kemudian saya lihat dia menyerahkan uang tanpa diberikan karcis. Mungkin donasi sukarela? Tapi saya sih memilih pura-pura bodoh tidak lihat daripada donasi tidak resmi. Hehe.

Melewati kolong jembatan dan jalan yang sepi dan berdebu, kami jalan kaki ke arah Menara Syah Bandar. Jalannya agak horor jika dilalui sendirian karena ada beberapa truk yang parkir dan ada kios-kios yang isinya para supir. Hiii, ngeri kalau dijalani oleh perempuan sendirian. Meski jalan sama pacar yang jelas laki-laki saja masih dilihat. Mungkin karena asing.

Saya senang sekali begitu melihat Menara Syahbandar walaupun tidak menjulang terlalu tinggi (bahkan cenderung bantet). Menara yang merupakan titik nol kilometer ini dulunya menara pemantau. Jendela empat sisi di puncaknya berguna untuk mempermudah proses pemantauan. Ternyata di sini terdapat pintu masuk lorong bawah tanah menuju Museum Sejarah Jakarta dan Masjid Istiqlal! Dan dulu ini adalah bangunan tertinggi di Batavia.


Tidak jauh dari sana, kami pergi ke Museum Bahari. Karena kami baru datang 10 menit menjelang tutup, kami tidak melihat-lihat isi museum dengan detail. Kami lebih mengagumi sisi arstitektur bangunannya. Bangunannya hanya tingkat dua. Tapi di dalamnya ada sebuah lapangan, dikelilingi oleh bangunan yang memiliki banyak jendela dan pintu yang cantik sekali.



Rupanya dulu museum ini merupakan gudang rempah-rempah. Karena rempah-rempahlah Indonesia terjajah! Gudang dibangun secara bertahap sejak tahun 1652 hingga 1759. Tahun pendiriannya terlihat di setiap pintu masuk bangunan.



Setelah dari sana, kami menuju destinasi terakhir yaitu melihat matahari sore di Pelabuhan Sunda Kelapa. Tampaknya si pacar tidak terlalu tertarik dengan perahu, bukannya lihat laut luas. Hehe. Pelabuhan Sunda Kelapa yang bernuansa abu-abu ini sering dikunjungi oleh para pengunjung untuk berburu foto.

Kaki sudah sangat pegal sementara perjalanan pulang masih jauh. Kami memutuskan untuk kembali ke Taman Fatahillah untuk duduk-duduk sambil melihat suasana malam yang pedagangnya kian banyak. Kalau dilihat seksama, gedung-gedung di sini semakin terawat, seiring dengan program revitalisasi Kota Tua yang dilakukan oleh Wagub Basuki Tjahja Purnama. Indah.


----------------

Foto lainnya bisa dilihat di sini.
Video perjalanan bisa dilihat di sini.