27 September 2016

Review Rumah Kopi Singa Tertawa

Membaca kumpulan cerpen adalah ide bagus saat keinginan baca buku sedang tidak tinggi-tingginya (baca: malas). Kumpulan cerpen itu lebih cepat kelar dan kita tidak perlu berkomitmen lama-lama untuk mendedikasikan waktu untuk mengikuti satu alur cerita di sebuah buku.

Teman saya punya buku kumpulan cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Pareanom. Kebetulan, jadi saya pinjam saja. Yusi adalah penulis Raden Mandasia yang pernah saya review beberapa bulan lalu. Sebelum menerbitkan Raden Mandasia, dia menulis kumpulan cerpen ini. Sama seperti Raden Mandasia, buku ini mendapatkan apresiasi yang baik dari teman-teman saya. Hm, jadi penasaran.

Dok. Pribadi

Rumah Kopi Singa Tertawa terdiri dari 18 cerita pendek. Setiap cerita rata-rata hanya terdiri 6-7 halaman saja, jadi relatif cepat dibaca. Tema yang dikemukakan juga dekat dengan keseharian (kecuali cerita pewayangan) sehingga buku ini bisa ludes dibaca dalam satu hari saja.

Jujur saja, membaca cerpen-cerpen di buku ini tidak memberi kesan yang mendalam, seperti kesan yang berbekas sehabis membaca cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis atau Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam. Eh, ketinggian enggak sih perbandingannya? :D But anywaay, membaca cerpen-cerpen Yusi hanya meninggalkan "oh" pendek, misalnya saat membaca cerpen berjudul Sengatan Gwen yang berkisah tentang seorang wanita cantik yang digandrungi oleh pria-pria di kantor. Wanita ini menemukan kenyamanan di Sam. Sam yang juga memendam perasaan merasa senang bahwa Gwen ada di sisinya. Hingga sampai pada saat Gwen main ke rumah, tidur di pangkuan Sam, dan Sam sudah tidak tahan untuk menahan hasratnya. Ia pun mencoba untuk mencium Sam. Tapi Gwen malah terkejut. Jadi, saya akan spoiler jadi sebaiknya berhenti baca di sini, di akhir cerita penulis menceritakan bahwa Sam adalah kependekan dari Samantha. Ah, bagi saya ini twist yang begitu klise alias biasa saja.

Salah satu cerita yang bikin saya diskusi dengan teman saya mungkin cerpen yang berjudul Kabut Suami. Cerpen ini berkisah tentang Rosamund yang merasa suaminya hilang. Namun anehnya, teman-temannya merasa bahwa sang suami berada di dekat Rosamund. Sang suami bernama Sulaiman, seorang koresponden berita asing dan aktivis biasa-biasa saja yang diceritakan begitu beruntung menikahi Rosamund--anak jendral yang pernah menang kontes kecantikan dengan bakat dan kecerdasan yang menonjol. Sulaiman ingin mengetes sejauh apa perasaan Rosamund dengan berubah sebagai kabut yang selalu bersamanya.

Ookay.

Berbeda dengan saya, teman saya ini tampaknya suka sekali. Hal-hal yang menurut saya "oh gitu saja?" justru berkesan dan emosinya mendalam. Misalnya untuk cerita Edelweiss Melayat ke Ciputat yang berkisah tentang mantan istri yang mengunjungi mantan suaminya karena istri barunya baru saja dibunuh. Setelah flashback mereka bercerai dan bisa ketemu dengan istri baru, lagi-lagi spoiler, mantan ini tidur dengan mantan suaminya. Menurut teman saya, mereka tidur untuk terakhir kalinya dan baginya kisah ini sedih sekali. Bagi saya, biasa saja karena saya tidak dapat emosinya.

Haduh maafkan, tampak banyak keluhan dan menjadi pembaca yang susah puas. Tapi ya kesan terhadap suatu karya setiap orang berbeda toh?

Tapi jangan salah sangka. Penceritaan Yusi tentunya tidak diragukan. Ia pandai sekali bercerita dan merangkai kata-kata sehingga enak dibaca. Penokohannya dan alurnya kuat. Kalau mau melihat karyanya, silakan baca Raden Mandasia karena ia memiliki ruang yang luas untuk eksplorasi. Walau tulisannya sederhana, terkadang ada kesan witty di tulisan-tulisannya sehingga menjadi ketertarikan tersendiri. Rumah Kopi Singa Tertawa adalah kumpulan cerita pendek yang tidak akan membuat menyesal untuk dibaca.

26 September 2016

Luka-Luka Lama (Bagian 3)

Terbayang enggak jika sudah berencana ingin melakukan sesuatu di suatu hari kemudian rencana tersebut kandas total akibat suatu bencana? Jangankan rencana satu hari, barangkali rencana seumur hidup pun berubah. Di sebuah pagi di bulan Desember 2004, tsunami melanda Aceh dan menghancurkan semuanya. Bangunan, mimpi, rencana, dan harapan.

Dua belas tahun kemudian, tepatnya awal bulan Agustus lalu, saya dan Eka menyaksikan peninggalan-peninggalan yang tersisa dari tsunami. Pertama, kami berkunjung ke Museum Tsunami yang letaknya di pusat kota. Arsitektur museum dirancang oleh Ridwan Kamil, kini walikota Bandung, yang tampak sangat modern dibandingkan bangunan di sekitarnya.

Kami tidak perlu bayar untuk masuk museum alias gratis. Walah, kok gratis sih? Padahal bayar saja untuk memajukan ekonomi setempat. Kami masuk ke sebuah lorong yang gelap, basah karena di kedua sisi lorong terdapat air terjun, bergemuruh, dan berangin yang berasa dari kipas angin. Lorong tersebut merupakan simulasi dari peristiwa tsunami saat itu. Saat mau masuk, Eka sudah takut duluan. Ya kebayang sih, pasti akan menakutkan jika jalan sendirian.

Keluar dari lorong, kami berada di sebuah ruangan besar berwarna kelabu. Setiap sisinya terdapat kaca. Di tengah-tengah ruangan terdapat banyak monitor berisi foto-foto dokumentasi peristiwa tsunami. Setelah puas melihat-lihat, kami masuk ke Sumur Doa. Ini adalah sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang atasnya berbentuk kubah berwarna hitam. Tepat di bagian tengah kubah, terdapat nama Allah dalam bahasa Arab. Di sekeliling ruangan terdapat nama-nama korban tsunami. Ruangan pun diisi dengan suara orang sedang mengaji. Suasananya begitu magis sekaligus bikin sedih. :(

Bagian dalam sumur doa. Kenapa gitu dah posenya.



Museum ini begitu besar. Di lantai dua terdapat ruangan pameran barang-barang yang hancur akibat tsunami, penjelasan dan maket bagaimana tsunami bisa terjadi, serta profil negara-negara yang membantu Aceh pasca tsunami. Selain itu, terdapat ruang audiovisual yang menampilkan video dokumentasi dengan durasi 10 menit saat tsunami terjadi. Begitu nonton, seorang ibu di belakang saya terisak-isak.

Setelah dari museum tsunami, kami pergi ke PLTD Apung. Jadi, pembangkit listrik tenaga diesel yang beratnya 2.600 ton ini tergeser ombak tsunami sampai ke pemukiman warga. Wogh, kapal berat aja tergeser, gimana manusia? Anjrit, serem. Mulanya ia bersandar di dermaga, kemudian ia tergeser dua kali sampai ke tempatnya sekarang.

PLTD Apung
Di bagian dalam kapal ini tidak mengalami kerusakan. Bahkan katanya fungsinya sebagai pembangkit listrik pun tidak rusak. Tapi pemerintah memutuskan untuk menjadikan ini sebagai tempat wisata saja. Di bagian dalam jadi museum yang penuh dengan gambar dan video tentang tsunami dan bagaimana kapal ini bisa sampai di situ. Dan di sisi barat kapal terdapat puing rumah warga yang hancur akibat kena kapal.

Selain PLTD Apung, juga terdapat kapal nelayan yang ada di atas rumah di daerah Lampulo. Dulu ada sekitar 50 orang warga yang berada di dalam kapal saat tsunami berlangsung. Dan syukurnya semua selamat. Jadi ingat cerita Nabi Nuh yang bikin kapal saat terjadi banjir besar ya. Semua binatang jadi selamat. :)

Kapal di atas rumah.

Rumah warga memang sudah jadi puing, tapi diperbaiki untuk kepentingan wisata. Supir bentor yang kami sewa untuk mengantarkan kami memberi tahu bahwa yang punya rumah masih hidup dan justru dia yang menjaga tempat wisata ini. Di bagian dalam rumah, terdapat foto-foto saat tsunami terjadi. Di foto tersebut ada satu sungai yang penuh dengan mayat. Kami melewati sungai tersebut saat pulang. Ah, membayangkannya saja mengerikan.

Selama kami di Banda Aceh dan menggunakan jasa warga setempat, pasti orang tersebut menceritakan kejadian tsunami saat itu. Mereka adalah orang-orang yang selamat. Bahkan, Sofyan yang menjadi pemandu kami di hari pertama, rumahnya hanya berjarak satu kilometer dari lokasi kejadian. Kota Banda Aceh lumpuh selama berbulan-bulan, warga tidur di luar karena tidak ada listrik dan takut ada gempa susulan. Jadi bantuan dari negara asing benar-benar membantu Banda Aceh kembali berdiri lagi.


Sebelum ke bandara untuk pulang, kami menyempatkan diri untuk minum di warung kopi ala abang-abang di Aceh. Oh ya, saya lupa cerita, sepanjang perjalanan di Banda Aceh itu banyak buanget kedai kopi. Kebanyakan kedainya sederhana, tidak fancy. Dari kedainya kecil, sampai yang besar seperti kedai Chek Yukee yang kami datangi kemarin. Nama tempatnya Chek Yukee itu diambil dari nama UK (yuke). UK adalah singkatan dari Ulee Kareng yang merupakan nama kopi dari Banda Aceh.

Di sini banyak laki-laki yang hangout, jadi kami cewek-cewek saat masuk semacam dilihatin. Mereka bukan anak muda fancy kayak di Bandung atau Jakarta. Tipikal orang-orang yang biasa dateng ke warung kopi. Mereka duduk-duduk dan ngobrol, bahkan ada yang main laptop. Kopitiam di Jakarta biasanya ada menu makanan. Kalau di sini engga ada, hanya kopi hitam, kopi sanger (kopi susu), dan perintilan makanan di atas seperti roti sarikaya, gorengan, dan cake sarikaya.

Menunya ya begini saja.

Sore hari, kami tiba di bandara dengan agak sulit karena kami sempat menunggu bus Damri di depan Masjid Baiturrahman. Pada hari pertama, Sofyan bilang kami bisa ke bandara naik bus dari situ. Ternyata hari Minggu, bus tidak beroperasi, sehingga kami harus sewa bentor lagi seharga Rp60.000. Catet yaa, hari Minggu bus Damri ke Jakarta tidak beroperasi!

Jadi, sekian perjalanan saya dan Eka ke Banda Aceh. Kalau kamu punya waktu banyak, saya sarankan kamu pergi ke Takengon yang berupa dataran tinggi. Di sana kamu bisa menikmati danau sambil minum Aceh Gayo. Sayangnya saya dan Eka tidak ke sana karena waktunya tidak cukup. Tapi perjalanan ke Banda Aceh sendiri cukup memuaskan. Di sana kita bisa melihat sebuah hebatnya sebuah kejadian melalui cerita-cerita, melalui luka-luka yang masih tersisa.

25 September 2016

Ujung Barat Indonesia (Bagian 2)

Kata Sabang melekat karena lagu wajib nasional Dari Sabang Sampai Merauke yang sering dinyanyikan saat sekolah dulu. Dahulu terbayangkan kedua tempat tersebut jauuh sekali dan tidak terbayangkan pernah datang ke wilayahnya. Kemudian, selama perjalanan hidup, nama Sabang menjadi akrab karena di Bandung ada SDN Sabang dan di Jakarta ada Jalan Sabang (atau Jalan Haji Agus Salim).

Niat utama perjalanan terakhir kemarin adalah memang ingin pergi ke Titik Nol Kilometer yang ada di Pulau Weh. Ternyata selama ini salah prasangka, titik nol tersebut bukan berada di kota Sabang karena titik nol berada di barat laut dan kota Sabang berada di timur laut.

Dari Banda Aceh, saya naik kapal Ekspress selama 45 menit ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Dari pelabuhan, saya dan Eka naik becak motor (bentor) seharga Rp80.000. Katanya ada kendaraan L3000 sih, tapi mata kami udah keburu ketutup sama orang-orang yang nawarin becak motor dan sewa motor. Oh ya, kalau mau sewa motor harganya Rp100.000 per hari. Dan bisa ditawar.

Kami pergi ke Olala Cafe Bungalows and Restaurant di Pantai Iboih. Informasi tentang hotel ini kami dapatkan dari Traveloka, tapi pemesanan sih langsung menghubungi yang punya. Harganya murah, hanya Rp150.000 per malam. Ternyata menuju Olala jauuuh sekali dari pelabuhan. Kami melewati kawasan hutan lindung yang banyak monyetnya. Jadi terbayang kalau malam pasti gelap. Tapi jangan khawatir, karena jalanan di Pulau Weh sudah beraspal dan kondisinya sangat baik. Biasanya daerah pedalaman gitu kondisi jalannya jelek, 'kan?

Dari pelabuhan ke kawasan Iboih memakan waktu sekitar 1 jam dengan kecepatan mengendara bentor yang cukup cepat. Begitu masuk ke kawasan Iboih, ternyata di ramai, menimbulkan perasaan lega setelah melewati hutan yang cukup rapat. Hehe. Kawasan ingin mengingatkan Gili Trawangan yaitu banyak hotel dan rumah makan kecil, serta banyak penyewaan alat snorkeling dan selam. Juga di sini banyak bule.

Dari tempat kami turun, kami harus jalan kaki menuju penginapan karena tidak ada jalan untuk kendaraan bermotor. Jalannya hanya berupa trotoar yang kondisinya tidak baik. Di kiri kanan jalan terdapat penginapan yang letaknya berjauhan, di tengah-tengahnya hutan, jadi sebaiknya bawa senter kalau jalan di malam hari. Sepanjang perjalanan, saya dan Eka bertanya-tanya kok penginapannya enggak sampai-sampai. Ternyata memang lumayan jauh. Hahay.

Jongjonisme.
Begitu sampai, saya ke resepsionis untuk konfirmasi dan kami diantarkan ke sebuah kamar yang berada di atas tebing kecil, memiliki teras yang dilengkapi hammock, dan menghadap pantai. Wah, untuk harga semurah itu, mulanya ekspektasi saya kecil sekali. Ternyata kamarnya dan pemandangannya bagus. Senang! Karena hari sudah malam, kami memutuskan untuk cari makan di tempat awal kami diturunkan dari bentor dan beristirahat. Nah, di malam itulah kami menemukan fakta bahwa kalau malam hari airnya tidak ngucur, jadi kami tidak mandi. Kami perpanjang durasi nginap, dan malam berikutnya menemukan hal yang sama, jadi kami harus menampung air di siang hari. Agak sedih juga sih karena jadi ribet. Ini bisa jadi pertimbangan kamu ya untuk menginap di sini.

Ada sebuah kuliner yang wajib dicoba saat berkunjung ke sini yaitu sate gurita. Kalau dari internet, sate ini ada di Pulau Rubiah yang letaknya tepat berada di depan penginapan. Meskipun demikian, untuk ke sana harus naik kapal. Di sini ada operator kapal yang menawarkan jasa nyebrang dengan kapal lambat, kapal cepat, hingga snorkeling. Harganya tertera jelas di kantor operator tersebut, jadi kita enggak perlu nego dengan penduduk setempat. Ya, memudahkan sih. Misalnya saya dan Eka nyebrang dengan kapal lambat seharga Rp100.000 bolak balik. Kami dikasih tiket yang berisi nomor kapal dan nomor telepon supirnya. Nice, jadi teratur.

Keesokan harinya, kami ke Pulau Rubiah untuk makan sate gurita. Setelah kapal kami bersandar di dermaga, kami makan sate gurita di restoran yang berada pas di dermaga. Selain itu, kami memesan ayam penyet. Rasa ayamnya enak. Dan saat makan satenya, rasanya juga enaak! Bumbu kacangnya oke. Kalau dipikir-pikir, daging gurita itu kenyal seperti cumi-cumi. Pokoknya jadi enggak nyesel bela-belain nyebrang pantai untuk makan sate gurita.

Sate gurita.
Setelah dari Pulau Rubiah, kami sewa motor dari homestay seharga Rp100.000. Saya dan Eka jalan-jalan ke Sabang. Di sana ada pusat kuliner yang letaknya di pinggir pantai. Sayangnya kami sampai di sana sekitar pukul 4 sore sehingga belum buka. Pusat kuliner ini baru buka sekitar pukul 7 malam. Katanya ada sate gurita dan makanan lain yang patut dicoba yaitu mi jalak. Sepanjang pantai, banyak gazebo permanen yang dibuat untuk para pengunjung. Menurut saya sih fasilitas wisatanya sudah oke nih. Daerah sini juga banyak homestay. Kayaknya di sini oke sambil melihat matahari tenggelam.

Kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Sumur Tiga yang katanya pantai terbaik di Sabang. Di sini pasirnya penuh dengan batu sehingga agak sulit kalau mau duduk-duduk dan berjemur. Sayangnya pas kami ke sini, pantainya sepi dan tidak ada aktivitas. Padahal kalau mau memaksimalkan pariwisata, harus dibuat aktivitas seperti jetski, banana boat, dan aktivitas lainnya.


Cie, naluri wartawannya keluar niyee.. banyak banget kritik untuk sadar wisatanya. :p

Anywaayy.. setelah puas berfoto, saya dan Eka kembali lagi ke Iboih. Tapi bukan untuk pulang, melainkan untuk melanjutkan ke Titik Nol Kilometer. FYI, kami memilih penginapan di Iboih karena dekat dengan titik nol dan di Iboih merupakan kawasan diving. Dalam perjalanan pulang, saya gantian nyetir motor karena jalanan relatif sepi. Karena saya bukan pemotor, jadi semacam agak panik kalau ada belokan dan jalannya nanjak. Eka sering support, "Ayo gas terus, gas terus! Jangan berhenti." Hahaha. Terus ada sebuah insiden keluar dari jalur aspal karena saya meleng baca tulisan "Hati-hati jalanan licin dan rawan terjadi kecelakaan." What an irony. Wkwk.

Ada beberapa titik yang kondisi jalannya kurang bagus dari Iboih ke Titik Nol Kilometer karena jalanan sedang diperlebar. Pas bagian kondisi jalan kurang bagus, Eka yang ambil alih. Jalanan jadi berpasir dan licin, sehingga harus hati-hati. Kami juga agak buru-buru karena matahari sebentar lagi tergelincir. FYI, Titik Nol Kilometer ini bagus dikunjungi saat matahari terbenam karena titik ini berada di sebelah barat.

Touchdown!

Akhirnya ya, sampai juga ke ujung barat Indonesia. Jadi saya ini semacam komplit sudah berada di ujung timur dan ujung barat. Haha. Seolah-olah sudah keliling Indonesia padahal belum. Sayangnya monumennya sedang direnovasi sehingga jelek untuk difoto. Jadi saya harus berpuas diri berfoto di depan tulisan ini.

Kalau pergi ke sini, nanti akan ada orang yang menawarkan untuk buat sertifikat sebagai bukti kamu pernah ke sini. Nanti nama kamu akan ditulis dan kamu jadi bisa tahu kamu ini pengunjung ke sekian yang sudah pergi ke sini. Harga sertifikatnya Rp30.000. Kalau kata saya sih mending beli saja lah, karena kapan lagi coba ke sini, dan sertifikatnya juga bagus, bukan print kertas biasa. Lumayan, kenang-kenangan.

Pulang dari perjalanan yang melelahkan, saya dan Eka memutuskan untuk makan makanan enak. Kami makan di sebuah restoran besar yang-duh-lupa-namanya. Kami pesan ikan giant trevally seharga 130.000. Gede banget. Pada akhirnya enggak habis juga. Tapi rasanya enak, dagingnya manis, tidak ada bau tanah seperti ikan air tawar (ya iyalah). Sayangnya saya kurang suka sama ikan bakar. Coba kalo digoreng, akan lebih lahap. Dan katanya kami beruntung karena baru di ambil sore hari, jadi segar banget. Jadi, ini wajib dipesan ya saat kamu berkunjung ke Iboih.

Gede dan enggak habis!
Oke deh, bagian kedua ceritanya sampai sini dulu yaa. Besok akan saya upload bagian 3 saat saya kembali ke Banda Aceh sampai kembali pulang. Sampai jumpa!

24 September 2016

Harus Pakai Kerudung ke Banda Aceh? Tidak Juga (Bagian 1)

Satu tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2015, saya pergi ke titik paling timur Indonesia yaitu Merauke. I am a lucky bastard I know. Karena sudah pernah ke sana, saya jadi punya ambisi lain yaitu ke titik paling barat Indonesia yaitu titik 0 kilomenter di Pulau Weh. Saat itu masih berupa angan-angan entah kapan. Hingga di sebuah makan pagi bersama travelmate saya, Eka.

Saya ceritain dulu tentang Eka. Jadi kami memulai perjalanan kami itu ke Karimunjawa. Ternyata gaya jalan kami cocok yaitu mau susah-susahan. Setelah itu, kami banyak sekali jalan-jalan walau masih sebatas Lampung, Jawa, hingga Lombok. Kemudian saya sampai pada fase berhenti traveling karena mau fokus nabung. Eka tetap traveling, bahkan sampai jauh seperti Toraja, Bunaken, Padang. Dan dia pun berani pergi sendirian. Hebat!

Karena standar traveling Eka untuk jalan-jalan sudah naik (kayaknya doi udah agak sulit untuk dibawa ke sekitaran Jawa saja. Hahaa), saya enggak pernah ikutan. Pertemuan kami yang biasanya membahas rencana traveling selanjutnya, jadi dipenuhi agenda olahraga, makanan, dan bergosip. Haha. Sampai pada akhirnya saat saya sedang pesimis dengan rencana masa depan akibat satu kejadian yang pain in the ass sekali, Eka bilang dia mau pergi ke Aceh. What? Waw. Kok kebetulan sekali. Maka saya pun langsung mengiyakan (biasanya banyak mikir, terutama masalah duit). Bahkan kami langsung beli tiket pesawat. Oh, it is so good to become impulsive.

Kami janjian pagi dini hari di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Itu adalah kali pertama saya pergi ke terminal baru ini. Besar sekali, terlalu besar. Sampai capek jalannya. Kami berangkat pukul 06.00 naik pesawat Garuda dan tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda sekitar pukul 09.00. Begitu sampai, awalnya kami mau ke pusat kota naik bus bandara Damri. Tapi ternyata tidak ada, ck. Katanya jadwal bus itu mengikuti Lion Air. Ya sudah, akhirnya kami naik taksi. Setelah ngobrol, kami memilih booking untuk jalan-jalan keliling kota sampai sore. Setelah negosiasi, kami dapat Rp300.000. Yasudahlah, jadi enggak usah mikir harus naik labi-labi (angkutan kota) dan rutenya kan. Dapat informasi dari supir yang bertindak sebagai pemandu pulak.

Pertama, kami dibawa ke kuburan masal Siron. Kata Sofyan, pemandu kami, ada 40.000 korban tsunami yang dikuburkan di sini. Saat saya datang, yang saya lihat hanya tanah lapang dengan rerumputan. Saya tanya mana kuburannya. Sofyan bilang, "Lho, semua lapangan rerumputan ini adalah kuburannya." Dang! Luas amat! Jadi tanah ini adalah tanah warga yang diwakafkan untuk kuburan karena terlalu banyak mayat di kota dan sudah sangat berbau. Dan saking banyaknya, mayat-mayat tersebut diturunkan dengan excavator. Ya ampun. :(

Di sebelah kiri mereka itu adalah kuburan masal.

Kemudian kami dibawa ke replika Rumoh Aceh yang biasa aja dan mengingatkan pada anjungan di Taman Mini Indonesia Indah. Mungkin hal yang menarik adalah adanya lonceng dekat anjungan ini. Pada abad ke-15, Laksamana Ceng Ho memberikan Cakra Dosai (lonceng) kepada Sultan Pasai yang saat itu memerintah Aceh. Dan di sini juga ada nisan raja-raja Aceh keturunan Bugis.

Setelah puas, kami pergi ke Makam Sultan Iskandar Muda. Ini adalah salah satu wisata wajib kunjung saat berada di Banda Aceh. Sultan Iskandar Muda adalah sultan yang pernah memerintah Aceh saat sedang jaya-jayanya. Enggak heran namanya dijadikan nama bandara ya.

Makam Sultan Iskandar Muda yang penuh kaligrafi.
Sepertinya sultan ini adalah pemimpin yang konsisten dan dihargai oleh masyarakatnya. Ada sebuah fakta menarik. Jadi dia punya anak yang bernama Pocut Meurah yang tidak dikuburkan dekat dengannya. Ia dikuburkan terpisahdari bapaknya karena ia pernah dihukum karena ikutan taruhan pacuan kuda (yang mana ini bertentangan dengan aturan Islam). Pocut Meurah dikuburkan di Kerkhoff atau kuburan militer Belanda yang letaknya di sebelah Museum Tsunami.

Kuburan Belanda hampir ada di setiap wilayah di Indonesia, salah satunya Aceh. Kuburan ini juga kena dampak tsunami yaitu ada sekitar 50 salib yang hilang akibat tsunami. Sofyan bilang bahwa masih ada orang Belanda yang datang untuk melihat sanak saudaranya. Dan saya agak terkejut juga bahwa saya bebas masuk ke sini. Berbeda dengan kuburan Belanda yang ada di Bandung, kita harus mengantongi surat izin atau bukti silsilah keluarga untuk bisa masuk. Ckck.

Menuju dinding Kerkhoff yang penuh dengan nama.
Karena kami datang di hari Jumat, jadinya kami didrop oleh Sofyan di pasar. Karena Banda Aceh terkenal dengan aturan Islamnya, jadi toko-toko di sini tutup saat shalat Jumat, berbeda dengan toko-toko yang ada di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Meski yang pria salat Jumat, toko-toko masih beroperasi. Dan kata Sofyan, di sini ada polisi syariah yang mencatat nama kita kalau tidak Jumatan. Jadi, ini bisa jadi catatan ya untuk kalian yang mau pergi ke Banda Aceh di hari Jumat karena kota akan sepi.

Sambil menunggu, kami makan mi caluk (dibaca dengan logat Aceh seperti "caluak") yang ditemukan di pinggir jalan dekat pasar. Makanan ini berupa mi kuning agak tebal, disiram bumbu pecel, dan dicampur dengan daun singkong. Yah, ngarep banget pakai daun ganja. Wakakak. Btw, mi ini rasanya enak. Seporsi murah saja yaitu Rp6.000.

Mi caluk khas Aceh.
Ibu penjual mi caluk yang senang dapat pengunjung dari Bandung.

Sofyan bilang ia akan jemput kami setelah Jumatan. Setelah kami janjian, rupanya ia parkir di dekat Masjid Baiturrahman. Wah, kebetulan, kami juga mau salat. Saat masih di parkiran, Sofyan bertanya apa saya bawa syal atau kerudung atau tidak. Untunya saya bawa dan dia meminta saya untuk menutupi kepala. Oh, ini dia, salah satu alasan orang merasa segan datang ke Aceh.

Aceh terkenal sebagai Serambi Mekah. Dulu, sebelum naik haji, orang-orang harus pergi ke Aceh dulu untuk melakukan manasik atau peragaan sebelum melakukan ibadah haji (yang kini dilakukan di Pondok Gede, Jakarta). Hingga kini, Aceh dikenal dengan provinsi yang menetapkan aturan Islam dalam keseharian. Oleh karena itu, hampir seluruh wanitanya yang ras Melayu mengenakan kerudung. Ini yang ditakutkan oleh teman-teman Melayu saya yang tidak berkerudung. Takut dipandang aneh atau dimarahi mungkin. Tapi saya melenggang kangkung di tempat-tempat wisata tanpa mengenakan kerudung, mereka sih tidak masalah. Tidak ada pandangan aneh. Yang penting sopan dan menghargai seperti tidak pakai baju tanpa lengan atau celana pendek.

Cuman, untuk pergi ke Masjid Baiturrahman, mengenakan kerudung adalah kewajiban. Bahkan kata pengemudi becak, kalau tidak berkerudung ya tidak boleh masuk. Wanita yang memakai celana panjang pun dilarang. Mereka harus memakai rok. Untuk turis seperti saya dan Eka yang saat itu mengenakan celana panjang, pihak masjid menyediakan bawahan mukena yang pos satpam untuk kami pakai. Sayangnya kain tersebut terbuat dari bahan parasut warna-warni yang tidak indah. Kalau Banda Aceh mau jadi kota tujuan wisata, sebaiknya pakai kain tradisional seperti batik yang umumnya ditemui kalau kita masuk ke pura.

Oke, setelah bebersih diri, akhirnya saya dan Eka masih ke dalam masjid. Wah, bagus sekali masjidnya. Penuh dengan pilar putih. Sayang sekali saat itu sedang ada renovasi di pelataran masjid sehingga kami tidak bisa foto karena suasananya tidak dapat. Saat tsunami menerjang tahun 2004 lalu, pelataran ini penuh dengan mayat dan sampah, tapi masjidnya berdiri kokoh.

Interior Masjid Baiturrahman, Banda Aceh.


Setelah salat, kami makan mi Aceh yang langsung di tempatnya. Kami pergi Mi Razali yang terkenal dan dekat dengan masjid. Saya pesan mi kuah cumi. Begitu dimakan, wah enaaak. Cuminya besar-besar, bukan hanya sekedar pelengkap. Kuahnya tampak kental, tapi dimakan tidak terlalu tebal, jadinya tidak bikin eneg. Sebenarnya di Jakarta ada beberapa mi Aceh yang juga enak seperti Mi Seulawah di Bendungan Hili dan Mi Aceh Bang Iwan di daerah Setiabudi.

Mantap kan cuminyaa?

Kalau orang berpikir tentang Aceh, biasanya mereka berpikir tentang ganja. Mana ganjanyaaa? Katanya ada indomie campur ganja, atau kopi ganja, atau kita bisa enggak makan ganja layaknya kita ngegado daun singkong? Well, guys, saya sudah tanya ke Sofyan, jadi penjelasan dia adalah di sini ganja sudah dicampur sebagai bumbu, jadi bentuknya sudah halus dan tinggal dicampur. Bukan sedaun-daunnya dimasukkin. Begitu. Maaf ye kecewa.

Sorenya, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyebrang ke Pulau Weh. Tampak susah ya untuk dibaca, padahal tinggal bilang Pelabuhan Ulele. Kami mengejar kapal pukul 16.00 dan naik kapal cepat selama 45 menit. Petualangan di Pulau Weh akan ditulis di-part selanjutnya. Tunggu yaaa..

23 September 2016

Review Super Volcanic Pore Clay Mask

Korea terkenal sekali dengan cewek-cewek cantik dan cute-nya. Bukan hanya make up atau merawat kecantikan kulit dengan obat-obatan, mereka juga udah terbuka dengan operasi plastik. Nah, karena belum berani untuk operasi plastik, jadi saya baru tahap pada mencoba produk kecantikan dari korea yaitu Super Volcanic Pore Clay Mask. Wogh!

Namanya aja udah serem. Udah volcanic, super pulak. Apa enggak bruntusan tuh muka?

Masker ini saya dapat dari pacarnya teman saya yang sedang pergi ke Korea. Setelah baca volcanic, ekspektasi akan tercium bau belerang saat buka tempatnya. Ya, kirain gitu 'kan karena ada gunung berapinya. Ternyata enggak, malah cenderung tidak berbau. Warnanya ungu muda. Teksturnya agak kental tapi lembut seperti tanah liat.



Saya oles ke muka dan didiemin selama 10 menit. Dan masker ini enggak nyiptain efek kaku kayak kita pakai Saripohaci. Jadi selama maskeran, masih bisa ngobrol. Enggak pecah-pecah. Walau dia klaim ada cooling effect, enggak ada efek ademnya tuh di kulit. Malah di beberapa bagian kulit mukaku yang kering, agak terasa panas/perih. Dan setelahnya kulit makin terasa kering. Ya mungkin sesuai dengan claim dia untuk mengurangi sebum atau kelenjar minyak pada kulit.

Setelah dibilas, kulit terasa enggak mulus dan kenyal. Mereka juga claim bisa mengencangkan pori-pori, tapi juga tidak berasa. Sepertinya sih produk ini biasa aja. Yah, paling plusnya adalah tidak menimbulkan efek merah dan gatal. Tapi teman saya bilang dia malah jerawatan setelah pakai.

Menurut saya sih produk ini tidak direkomendasikan. Masih banyak produk lain yang bagus kok, salah satunya adalah pore cleanser yang merupakan produk lokal Indonesia yaitu The Bath Box. Ini bukan promosi, kamu bisa baca ulasannya di sini.

Kalau kamu punya info produk yang seru untuk di-review, silakan komentar yaa. Cheers!