20 July 2016

Casing Laptop Patah!

Hi guys!

Mungkin di antara kalian yang langganan blog ini ngeh kalau akhir-akhir ini kok saya doyan "membenarkan" sesuatu. Ya dari televisimucocele, ya dari perawatan kulit, hingga yang terakhir ini adalah benerin casing laptop yang patah. Jadi, karena si laptop Toshiba 14 inchi ini sering saya bawa pulang pergi Bandung-Jakarta di tas ransel, mungkin suatu saat kegencet atau tanpa disadari jatuh, saya menemukan casing di dekat engsel itu patah. Mana besaarr lagi patahannya.

Akibat patah, kalau saya buka laptop, si engsel jadi naik ke atas dan tidak bisa menutup dengan sempurna. Lama-kelamaan ngaruh ke kabel fleksibel LCD rusak. Mulanya webcam mati, layar bergaris setiap gerak atau bergeser, hingga lama-lama blank putih. Bisa sih nyala seperti biasa. Selain faktor keberuntungan, jadi harus diatur posisinya monitornya sedemikian rupa (atau diganjel sesuatu). Nah, sudah susah begitu tidak boleh kesenggol karena layarnya pasti putih. Huu.

Sempat berpikir mau beli laptop baru, tapi merasa sayang karena saya tidak punya masalah sama mesin. Kalau mau laptop yang setara sama sekarang, harganya sekitar Rp4,5 jutaan. Wah, mahal ah. Kemudian saya ada rencana ditugaskan ke luar kota di bulan depan dan harus bawa laptop karena deadline yang ketat. Jadi mau enggak mau harus segera diperbaiki.

Sebagai orang yang jauh dari lingkungan perkomputeran, saya keingetan dengan sebuah tempat service laptop di Mal Citraland. Letaknya di lantai 3. Saat pergi ke sana, kokoh dan cici yang jaga juga cerita bahwa mereka suka terima service casing yang patah. Mereka bilang itu bisa diperbaiki ASAL ada pecahan patahannya. Jadi, kalau patah, jangan dibuang ya patahannya. Itu membantu sekali karena bisa dilem. Kalau kasus saya, karena mulanya saya kira pecahannya hilang, mereka berencana pasang mur di engsel agar tidak naik keluar casing. Tapi syukurnya patahannya masih ada.

Setelah pulang dan menunggu, saya ditelepon bahwa biaya yang dikeluarkan sekitar Rp535.000 yaitu untuk biaya service Rp250.000 dan ganti kabel fleksibel Rp285.000. Sejujurnya itu di bawah budget yang saya kira bakal jutaan. Soalnya udah mikir worst case scenario harus ganti casing gitu. Begitu denger harganya yang reasonable, saya langsung setuju. Lagian biar cepet beres.



Cuman dua hari, saya ditelepon kalau sudah selesai diperbaiki dan bisa diambil. Alhasil saya pergi ke Mal Citraland untuk ambil. Casingnya sudah dilem dan laptop bisa dibuka-tutup dengan baik. Sayangnya pas dicoba, layarnya masih garis-garis di awal. Kalau monitornya di gerakkin ke depan belakang, layarnya bergaris. Sambil menyesal, kokoh menyuruh saya pulang dulu karena dia mau lihat kesalahannya apa. Hanya menunggu beberapa jam, saya ditelepon lagi kalau bisa diambil. Tapi saya baru ambil sekitar tiga hari kemudian. Begitu dicoba, layarnya masih kayak gitu juga. :(

Mereka juga heran karena saat saya enggak ada, laptop baik-baik saja. Masih dengan rasa bersalah, kokoh nanya saya tinggalnya jauh atau tidak. Ya saya bilang cukup jauh. Mungkin karena tidak enak, dia minta saya bawa pulang dulu laptopnya. Karena ada garansi satu bulan, maka kita lihat apakah dalam satu bulan ke depan masih begitu juga atau bisa bener-bener bagus. Kalau masih begitu, kabel bisa diganti.

Jadi, saya akan update sebulan lagi ya (kalau gak malas). Mudah-mudahan enggak ada masalah sih. Karena secara komunikasi dan pelayanan, mereka oke banget. I hope everything's fine and I can recommend this service center to you guys!

Oh ya, saya harus benerin speaker handphone karena kalau nelepon enggak ada suaranya. Makjaangg, banyak amat PRnya!

12 July 2016

Dadah Jerawat!

Hi pembaca,

Hampir dua bulan blog ini tidak update. Biasanya saya bisa update beberapa tulisan dalam satu bulan. Tapi karena berbagai kesibukan, kemalasan, kurang inspirasi, dan merasa perbedaan menulis pengalaman keseharian dan curhat colongan itu tipis, jadi saya tidak menulis. Padahal, menulis blog tidak perlu banyak pertimbangan ya. Kan ini media pribadi. Gitu ...

Saya mengalami berbagai hal, ada yang menyenangkan dan ada yang menyedihkan. Tapi sejujurnya lebih banyak hal-hal yang menyedihkannya. Kayaknya awal hingga pertengahan tahun ini, Semesta tidak berkonspirasi baik buat saya deh. Saya mengalami banyak kegagalan di bidang karier tulis menulis. Itu cukup bikin sakit hati karena menulis adalah passion saya. Yah, semoga selanjutnya lebih beruntung ya. :)

Saya enggak akan cerita semuanya dalam satu post. Biar fokus gitu. Hehe. Kali ini saya mau cerita pengalaman saya ke dokter kulit. Kalau orang lain biasanya jerawatan di saat-saat tertentu seperti mens, stress menghadapi hal besar, atau hamil karena ada perubahan hormon, wah kalau saya sih setiap bulan pastiii ada aja jerawatnya. Jadi kalau orang lain jerawatan sekali-kali, kalau saya bersih sekali-kali. Padahal rajin cuci muka lho. Dan terakhir jerawat saya besar-besar dan banyak. Bener-bener bikin malu. Sampai pada tahap malu banget, akhirnya saya memutuskan untuk harus pergi ke dokter.

Saya merasa ini pengalaman ke dokter kulit harus dituliskan dan dibagikan di blog karena waktu saya mau memutuskan ke dokter mana pun melakukan browsing dulu. Setelah browsing dan mencocokan rumah sakit yang dekat tempat tinggal, saya memutuskan untuk pergi ke dr. Susie Rendra, SpKK di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah. Kalau dari browsing, review tentang dokter Susie ini cukup baik. Apalagi dia punya blog (yang sepertinya sekarang udah gak update) dan sering membalas komentar-komentar pasiennya yang nanya. Selain praktik di rumah sakit ini, katanya beliau juga praktik di klinik kecantikan Erha.

Akhirnya saya pergi ke rumah sakit. Di sana saya ketemu dokter yang terbilang masih muda. Orangnya baik dan mau menjelaskan tanpa pasien banyak menggali. Penjelasannya juga banyak dan bikin saya ngerti. Wah, suka nih. Dia bilang faktor jerawat itu bisa disebabkan oleh keringat, sinar matahari, dan tidur kelewat malam--yang mana saya melakukan itu semua! Hahay. Maklum, selain di kosan hanya ada kipas angin yang bikin kemringet, profesi sebagai reporter juga bikin harus keluar kantor. Kalau kurang tidur, wah dari dulu saya selalu tidur di atas jam 12 malam. Jadi dokter Susie hanya bisa geleng-geleng kepala. Oh ya, beliau juga bilang sebaiknya hindari pakai bedak wajah karena bedak bikin pori-pori ketutup.

Saya dikasih 4 obat oles yang dipakai untuk siang dan malam, 1 buat cuci muka, dan 1 obat minum. Dengan biaya dokter, total yang saya habiskan plus biaya konsultasi dokter sekitar Rp700 ribu. Buat yang baca ini, jangan digeneralisir loh ya karena setiap gangguan kulit pasti penanganannya berbeda dan harga yang keluarnya juga berbeda. Tapi ini sebagai gambaran untuk orang-orang yang jerawatan dan mau periksa. Karena biasanya kalau saya browsing, biaya adalah salah satu poin yang saya cari. Biar saat ke rumah sakit enggak kurang bayar. Hehe.

Yang saya suka dari obatnya adalah tentunya bisa mengempiskan jerawat secara bertahap, enggak tiba-tiba hilang. Justru saya curiga kalau obat bisa menghilangkan jerawat dalam semalam. Apa enggak agresif tuh obat? Hehe. Selain ini bikin kempis, kulit juga terasa lembut, terutama di bagian T pada wajah yang biasanya kasar. Terus tidak bikin merah, tidak mengelupas, dan si pacar juga bilang kalau muka saya jadi cerah. Kan biasanya ada obat wajah yang bikin putih nggak wajar. Kalau ada pun enggak terlalu besar. Pokoknya, dokter Susie oke deh.

Dokter Susie nyaranin sebaiknya saya konsultasi dua minggu setelah kedatangan pertama. Tapi sampai sekarang belum ke sana lagi karena mau nabung dulu. Hehehe jujur. Dan tentunya asuransi enggak cover biaya ini karena ini bukan kategori penyakit, tapi buat estetika. Hmm, kenapa ya? Padahal jerawat juga bikin sakit lho. Terutama sakit pada jiwa akibat penurunan kepercayaan diri. Huhuuuu.

Semoga postingan ini berguna ya. Karena postingan Hi, Mucocele kemarin rupanya ada yang baca dan mengalami hal yang sama. Dia sampai bela-bela cari nomor hp saya di Facebook buat nanya-nanya langsung di WhatsApp. Tapi jangan ditiru ya. Hehe. Kalau ada yang mau nanya, bisa komentar aja di sini, pasti akan saya jawab. :)

23 May 2016

Refleksi Kehidupan Melalui Serat Centhini

Kalau mendengar Serat Centhini, hal yang mungkin pertama kali terpikirkan adalah seks. Centhini disebut-sebut Kamasutra dari Jawa. Bahkan lebih liar dan panas.

Perkenalan saya pada Serat Centhini dimulai saat kuliah. Teman saya memperlihatkan sebuah buku Kamasutra yang dibeli pacarnya saat sekolah India. Hardcover, full color dengan visualisasi foto sepasang manusia melakukan persenggamaan, tapi tidak vulgar dan tidak juga memperlihatkan alat kelamin. Jadi ini bukan buku porno deh. Terus saya tahu entah dari mana bahwa Jawa memiliki panduan seks yang lebih "gila" dari Kamasutra. Kebetulan dosen saya punya buku Serat Centhini, salah satunya adalah buku yang diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak. Bukunya ada yang saya beli dan ada yang saya fotokopi.

Saat baca, kok ada panduan cara membangun rumah, kapan waktu-waktu terbaik untuk melakukan sesuatu, bahkan hingga cara bertamu? Bahasan seks memang ada karena seks adalah awal kehidupan manusia, terutama di buku Nafsu Terakhir yang diadaptasi Elizabeth D. Inandiak begitu menggetarkan jiwa dan raga. Hehe. Tapi Serat Centhini tidak bercerita melulu tentang panduan persenggamaan, tetapi buku ini adalah panduan kehidupan.

Buku Serat Centhini tidak pernah saya sentuh lagi. Kini ia tergolek lemah tak berdaya di lemari buku. Tapi ingatan tentang Serat Centhini muncul kembali karena kemarin, saya nonton pembacaan Reading Centhini: Suluk Tembangraras oleh Agnes Christina di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Acara pembacaan dibuka saat seorang wanita dengan potongan rambut sangat pendek--panjang rambutnya hanya beberapa senti saja--membuka acara dengan heboh. Kemudian lagu campur sari di pasang dan dia berjoget di depan. Saya kira ia pembawa acaranya karena mulanya saya menduga acara teatrikal ini akan dibawakan oleh seorang perempuan yang kalem, feminin, dan berwajah sendu. Tapi ternyata dugaan saya salah, justru ia yang akan membacakan Serat Centhini.

A photo posted by Nia (@niajaniar) on

Agnes membuka acara dengan pengalaman dia mencari buku Serat Centhini di berbagai kota seperti Bandung dan Yogyakarta. Ia mencari di pasar-pasar buku dan sempat tertipu. Ia juga mengira bahwa Serat Centhini hanya satu jilid saja, padahal buku ini terdiri dari 12 jilid. Ketika ia sudah mendapatkan semuanya, ia melihat di internet ada yang menyediakan e-book Serat Centhini secara gratis. Penonton pun sontak tertawa.

Kemudian ia bercerita tentang awal mula dibuatnya Serat Centhini yaitu ketika seorang pangeran dari Keraton Solo yaitu Pakubuwono V menunjuk tiga pujangga istana untuk melakukan perjalanan ke seluruh Jawa dan mengumpulkan serat-serat di berbagai daerah sebagai acuan. Kemudian Agnes bercerita tentang petualangan Cebolang, pengembaraan Jayengraga, adik Tembangraras, mencari Amongraga karena, setelah kawin, Amongraga meninggalkan istrinya yaitu Tembangraras untuk mengajarkan ilmunya ke masyarakat. Dan FYI, pada saat malam pertama, Amograga dan Tembangraras tidak melakukan hubungan seks. malah dia menyuruh istrinya shalat. Wkwk.


Yang membuat pertunjukkan ini menarik adalah Agnes memvisualkan ceritanya melalui ilustrasi gambar yang tersebar di panggung. Penceritaan juga sering diseling dengan nyanyian campur sari berbahasa Jawa dengan terjemahan sehingga semua orang bisa memahaminya. Lagu-lagu tersebut tidak hanya menggembirakan atau membuat orang tertawa, tapi lagu-lagu tersebut kadang membuat cerita terasa pilu.

Agar bisa relatable dengan kehidupan sekarang, Agnes bercerita tentang dirinya seorang warga keturunan Tionghoa yang hidup bersama para "pribumi". Ia juga bercerita tentang dirinya saat kerusuhan 1998 berlangsung dan menyebabkan ia melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali. Ia juga bercerita bahwa ia bukan Tionghoa yang umumnya usaha buka toko dan menikah dengan sesama orang Tionghoa. Agnes ingin hidup fokus di seni dengan mendalami teater dan ia jatuh cinta dengan seorang pribumi Islam yang jelas ditolak oleh keluarganya. Ia juga harus memilih untuk kawin lari bersama kekasihnya dengan berbagai hambatan birokrasi dan prosedur atau kembali ke keluarganya.

Intinya Agnes ingin memperlihatkan kepada penonton kalau membaca Serat Centhini itu seperti membuka lembaran-lembaran kehidupannya sendiri. Pertunjukkan ini menceritakan tentang perjuangan hidup dan pilihan-pilihan hidup beserta konsekuensinya di dalam Serat Centhini. Itu juga adalah hal yang sama seperti  yang dialami Agnes.

Wah, kalau berpikir Serat Centhini melulu tentang esek-esek, jauh deh pokoknya! Serat Centhini juga bercerita tentang pengorbanan yaitu saat Tembangraras dan Amongraga yang tidak bisa bersatu ini mengubah diri jadi ulat. Ulat jantan dimakan Sultan Agung dan ulat betina dimakan Pangeran Pekik. Nanti anak laki-laki dan perempuan mereka akan dinikahkan.

Agnes berhasil membawakan pertunjukkan yang sangat thoughtful! Ia berhasil menunjukkan bahwa untuk mengejar mimpi manusia harus mengorbankan sesuatu. Ia juga berhasil membuat saya ingin membaca lagi. Sayang sekali jika karya sastra ini dibiarkan berdebu dan tersudut di rak buku.

22 May 2016

Ngopi di Gayanti

Sebagai pendatang di Jakarta dan telah melihat kota megapolitan ini melalui tv, koran, dan majalah, banyak beberapa tempat yang ingin saya datangi. Salah satunya adalah tempat-tempat kuliner yang berdiri sejak lama, seperti Kopi Tak Kie, Kedai Tjikini, Ragusa.. dan terakhir yang saya datangi yaitu Gayanti Coffee Roastery.

Bandung punya kopi Aroma yang ternama dan menjual bubuk kopi. Karena rindu menyeduh kopi non pabrik besar, teman-teman menyarankan saya pergi ke Giyanti karena mereka juga menjual kopi bubuk dan kopinya enak. Tidak seperti kopi Aroma yang murni menjual bubuk saja, Giyanti punya tempat duduk di mana orang bisa minum-minum cantik. Bukanya hanya Rabu-Sabtu, itu pun tidak sampai malam. Katanya karena mereka perlu waktu untuk roasting kopinya.

Akhirnya, setelah lama merencanakan, kemarin pergi juga ke sana bersama dua orang kawan yaitu Yudo dan Badar. Pintu masuknya agak tricky yaitu sebuah lorong yang berada di pinggir bangunan besar yang sedang direnovasi. Itu juga saya tahu setelah diberitahu satpam. Begitu keluar dari lorong, saya melihat cafe Giyanti yang dibagi tiga bagian yaitu indoor dengan AC, outdoor dengan kipas sehingga orang bisa merokok, dan di lantai dua. Suasana cafenya artsy dan friendly. Tipikal cafe yang didatangi bule lah. *apa sih






Saya memesan piccolo. Awalnya saya ditanya mau pesan kopi yang ringan seperti cappuccino, kuat seperti espresso, atau medium seperti piccolo. Saya mau yang medium, jadi saya pesan piccolo. Kalau kata pelayannya, piccolo ini seperti cafe latte tapi kopinya lebih strong. Kopinya pakai kopi Gayanti, yaitu kopi khas yang mereka roast sendiri.


Untuk harga, standar Jakarta sih, yaitu Rp35 ribuan. Misalnya piccolo harganya Rp36 ribu untuk gelas kecil, ditambah pajak jadi Rp41 ribu. Makanan yang tersedia juga lebih ke kudapan manis seperti brownies dengan harga yang kurang lebih sama. Jadi untuk satu orang bisa Rp75-80 ribu. Tapiii, saya sih suka kopi piccolonya. Menurut saya rasanya pas, tidak membuat trauma seperti kedai kopi murah yang campuran kopi dan susunya tidak pas, atau kedai franchise ternama yang sebenernya rasa kopinya gitu-gitu aja. So it is recommended and worth the money.

19 May 2016

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjolan, bukan bengkak, dan tidak sakit. Hanya saja rasanya ganggu saat makan dan kalau sudah makan jadi terasa membesar. Waduh, saya takutnya kanker
(tetep). Terus saya memutuskan untuk periksa ke dokter gigi (sebenarnya bisa ke dokter bedah mulut tapi saat itu sedang tidak praktik) di RS Medika Permata Hijau. Saya bertemu dokter gigi di sana. Setelah disuruh berbaring dan beliau periksa, ternyata benjolan ini bernama mucocele. Kalau hasil nanya dan googling, mucocele terjadi karena kelenjar ludah dan air liur akan diblokir tidak dapat mengalir dengan lancar. Mucocele bisa hilang dengan sendirinya, tapi bisa juga tidak, malah jadi membesar.

Karena ini benjolan udah ada seminggu lebih dan tidak hilang-hilang, malah saya merasa kalau setelah makan jadi membesar, dokternya bilang kalau benjolan ini harus diangkat a.k.a operasi kecil. Tidak usah membayangkan berada di ruang operasi dengan penutup kepala atau baju khusus, operasinya dilakukan di ruang praktiknya yang hanya dua meter dari tempat duduknya.

Kalau mendengarkan kata operasi, pasti yang langsung terpikirkan adalah uang, uang, uang. Duh, agak serem ya. Kemungkinan operasi ini sudah saya pikirkan sebelumnya dan sudah saya cari di Google juga untuk siapin biaya. Karena saya tahu rasanya jadi orang dengan duit pas-pasan dan butuh informasi tentang operasi kecil ini, maka saya akan beri tahu ya. Setelah tanya dokternya, biaya operasinya satu juta rupiah, belum termasuk obat dan biaya dokter. Obatnya habis sekitar Rp180 ribuan saja untuk obat radang dan antibiotik. Dan setelah 10 hari kemudian, saya datang lagi untuk buka jahitan, biayanya sekitar Rp250 ribu. Setiap dokter pasti punya biaya operasi dan yang berbeda, ini sebagai gambaran aja. So please use this information wisely, do not overgeneralize.

Saya berbaring di atas kursi yang bisa diatur jadi tempat tidur. Terus dokternya suntik bibir saya sehingga rasanya jadi kebas. Begitu sudah kebas, dia memotong mucocele. Rupanya ada dua benjolan di dalam. Yang satu besar dan yang satu kecil. Kata dokter, benjolan kecil ini beda-beda setiap orang. Ada satu, ada juga yang banyak seperti anggur. Dan kalau benjolannya dipecahin akan keluar cairan kental seperti ingus. Terus darah dari luka terasa mengalir ke tenggorokan sih. Hehe. Saya memutuskan untuk menutup mata aja sambil merasa bibir yang ditarik-tarik. Udah gitu dijahit deh.

Sebelum saya setuju, saya minta orang rumah sakit tanya ke pihak asuransi. Ternyata di-cover kok. Jadi semua biaya yang saya gunakan itu gratis. Walaupun ada kesalahpahaman antara pihak rumah sakit dengan pihak asuransi karena rumah sakit memasukkan biaya itu ke perawatan dasar untuk gigi, harusnya masuk ke biaya rawat inap atau rawat dasar gitu--lupa, akibatnya saya harus mengeluarkan biaya. Tapi keesokan harinya pihak asuransi telepon untuk meluruskan bahwa seharusnya itu dibiayai seluruhnya dan biaya yang saya keluarkan di rumah sakit kemarin bisa di-reimburse ke kantor. So, all is clear.

Jadi, kalau ada yang punya mucocele, enggak perlu panik. Benjolan ini sebenarnya tidak berbahaya, tapi kalau sudah ganggu seperti ganggu makan tentu harus ke dokter. Biayanya juga sebenernya tidak terlalu besar (tapi nyesek juga kalau pas lagi enggak punya bokek. Hehe.) Dan walaupun tidak dapat endorse dari pihak asuransi kesehatan, punya asuransi semacam membantu sih. Apalagi untuk urusan-urusan yang genting seperti ini.

Good luck!