16 November 2014

A Day of Gratitude

Life's been so majestic to me. Sangking "majestic"-nya, sampai lama enggak update blog. Padahal banyak hal yang menyenangkan yang saya alami, dari jalan-jalan ke Pahawang hingga nonton Karapan Sapi di Madura. Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur.

Saya merasa sangat bersyukur jika mengingat dari mana saya berasal. Orang tua saya bukanlah dua orang bangsawan yang berpendidikan. Mereka juga bukan orang yang biasa-biasa. Justru, mereka berada di bawah standar sosial itu.

Lima hari di minggu kemarin, saya liputan ke Surabaya dalam rangka mengintil Bank Indonesia yang bikin acara besar tentang ekonomi dan keuangan syariah. Di dalam acara tersebut, ada sebuah talkshow tentang pemberdayaan perempuan untuk melakukan usaha. Di sesi tanya jawab, ia menyampaikan kebingungannya karena suaminya meninggal dunia, lalu ia harus bekerja, sementara ada dua anak yang harus diurus. Ia harus memberi nafkah namun takut anak terbengkalai.

Salah satu narasumber berkata, "Bu, beruntung di Indonesia, keluarga kita itu extended family. Kita bisa menitipkan anak kita ke orang tua atau saudara. Menurut saya enggak apa-apa, karena itu sifatnya sementara. Dan yang terpenting, komunikasikan pada anak bahwa ibu bekerja keras demi mereka. Kalau anak tahu kerja keras sang ibu, pasti anak akan respect. Yang terpenting, terus berkomunikasi dengannya."

Saya jadi membayangkan ibu saya. Keluarga saya memang tidak harmonis. Mungkin bisa dibilang broken home. Sebenarnya saya punya alasan untuk sakit hati, marah, dan menjadi rebel. Pakai obat, merokok, minum alkohol sampai mabuk, pulang malam. Tapi saya tidak bisa. Ibu saya memang bukan seorang wirausaha atau wanita karir. Tapi dengan melihatnya bertahan, saya menghargai usahanya. Bahkan, jadi otomatis memiliki tanggung jawab agar hidup kami lebih baik. Saya harus bisa meningkatkan derajat ibu saya. Lucunya, saya jadi tomboy dan galak untuk mengambil peran protector yang harusnya ada dari sosok ayah.

Tentu sekarang belum 100% berhasil. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan. Tapi melihat lagi ke belakang, kepada titik saya bermula, saya merasa ini sebuah pencapaian yang besar. Karena pekerjaan, saya bisa melihat hal-hal yang tidak mungkin bisa saya lihat atau mendapatkan pengalaman-pengalaman mahal.

Saya merasa beruntung.