22 August 2016

Wregas: Berkarya dari Pengalaman Personal

Nama Wregas Bhanuteja tiba-tiba terdengar nyaring di media massa. Film arahan dia, Prenjak (2016), menang sebagai film pendek terbaik di Cannes Film Festival awal tahun lalu. Jadi penasaran dong ya film Prenjak ini kayak gimana. Nah, kemarin (23/7), ada pemutarannya di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saya dan teman-teman menyempatkan ke sana.

Ternyata ada lima film dia yang diputar yaitu Senyawa (2012), Lembusura (2014), Lemantun (2014), The Floating Chopin (2015), dan Prenjak (2016). Karena film indie itu sulit dicari, nih ya saya akan ceritain sinopsisnya.

Senyawa bercerita tentang seorang anak yang mengirimkan lagu kesukaan ibunya, Ave Maria, di surga melalui rekaman. Sayangnya dalam proses merekam itu, dia sering ketemu hambatan, misalnya tiba-tiba ada suara orang jualan susu kedelai, anak-anak main petasan, pasangan suami istri yang bertengkar suaminya suka main karambol, dan suara adzan. Anak ini ngeluh sama bapaknya kalau lingkungan rumahnya itu hanya sepi mau adzan aja. Bapaknya, yang sering mengaji di masjid, mengusulkan gimana kalau anaknya nyanyi Ave Maria di telepon dan bapaknya akan mengaji sambil mendengar anaknya nyanyi, jadi suara ngajinya sesuai dengan nada Ave Maria.

Kalau saya sih kurang suka dengan film pertama karena terkesan agak maksa mengawinkan lagu Ave Maria dengan mengaji. Tapi gak apa-apa ya, namanya juga selera. Hehe. Wregas, yang muncul setelah pemutaran film selesai, bilang kalau dia terinspirasi dari pengalamannya berada di perumahan padat yang selalu ramai dan menemukan sekelompok bapak-bapak bermain karambol sampai berhadiah motor.

Lembusura bercerita tentang orang-orang yang sedang membuat film saat lingkungan rumahnya terkena abu Gunung Kelud. Kejadiannya dan setting-nya nyata, tapi film dibuat lucu yaitu ada seorang laki-laki bertubuh gempal dan berpura-pura jadi raksasa. Wregas bilang bahwa ia ingin menunjukkan bahwa di tengah bencana orang juga bisa bersenang-senang.



Selanjutnya adalah Lemantun. Film ini bercerita seorang ibu yang mewariskan lemari kepada kelima anaknya. Setiap kelahiran anaknya, si ibu selalu membeli lemari. Oleh karena itu, lemarinya dikasih ke anak-anaknya jika ia meninggal nanti. Ibu ini memiliki lima anak yang sukses dan sudah tidak tinggal bersamanya, kecuali si bungsu. Anak-anak dikumpulkan di ruang tamu dan dikasih nomor lemari dengan sistem kocokan. Akhirnya, setelah dapat, mereka mencari lemarinya dan si ibu menyuruh anak-anaknya segera membawa lemari tersebut. Perlakuan anak-anak pada warisan yang "hanya" lemari inilah yang menjadi klimaks cerita ini.

Sementara film The Floating Chopin sama seperti Lembusura. Ini adalah film eksperimental hasil Wregas merespon yang ada di sekitarnya. Saat itu, Wregas pergi ke Paris dan datang ke kuburan setempat dan bertemu beberapa makam tokoh-tokoh ternama seperti Chopin.

Nah, terakhir ini yang ditunggu-tunggu yaitu pemutaran film Prenjak. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang memohon untuk dipinjamkan uang ke temannya. Karena temannya pun tampak ogah-ogahan meminjamkannya, si wanita mengusulkan bahwa temannya bisa mengintip vaginanya dengan sebatang korek yang dikasih tarif. Kalau tidak salah Rp10.000 per korek.



Fenomena ini betul-betul ada di Alun-Alun Yogyakarta. Kata Wregas, ia diceritakan oleh temannya kalau dulu ada wanita tua yang menjajakan korek seharga Rp1.000 untuk orang-orang yang mau lihat vaginanya. Sayangnya (lho kok sayangnya) saat Wregas mau ngecek langsung, wanita tersebut sudah tidak ada.

Untuk pembuatan film ini, Wregas cerita bahwa sebenarnya kedua artis tersebut tidak tahu harus memamerkan penis dan vaginanya, karena ide itu muncul belakangan. "Film ini kan bercerita tentang menunjukkan alat kelamin. Kan aneh kalau tidak ditunjukkan," kata Wregas. Ia dan teman-temannya mencoba ke tempat prositusi dan meminta bantuan mucikari untuk shooting alat kelamin saja. Ternyata urusannya ribet. Akhirnya, Wregas meminta bantuan seorang model yang terbiasa foto telanjang. Dengan catatan, model tersebut tidak mau namanya ditaruh di credit film. Berani sekali.

Saya suka karya Wregas karena berani mengeksplor dan lucu. Saya paling suka sama Lembusura karena film indie Indonesia kan tidak harus melulu tentang kemiskinan dan dibawa serba sulit. Film Indonesia juga bisa dibuat lucu tanpa perlu slapstick ala OVJ atau Warkop DKI. Hehe. Cheers to that.

13 August 2016

Be Careful of Monster Under Your Bed

"Hati-hati dengan monster yang ada di bawah tempat tidurmu."

Begitu kira-kira kata teman saya bernama Beni. Baru saja dia cerita tentang pikiran-pikiran yang belakangan sedang mengintai di saat malam. Overthinking yang ia alami pasti berasal dari sebuah akar. Entah apa akar yang dimilikinya. Saya kira hanya perempuan saja yang overthinking. Ternyata, laki-laki yang konon lebih rasional dan logis, pun dihantui dengan pikiran-pikiran yang hiperbola, berlebihan, lebay, yang menggeret diri untuk berasumsi yang tidak-tidak. Pikiran-pikiran negatif itu ibarat seperti monster di bawah tempat tidur yang menakutkan dan bisa datang kapan saja.

Perkenalkan monster yang saya miliki sekarang. Monster saya berakar dari keinginan mengkritisi diri malam-malam seperti "You need to be relax, easy, loveable, and simple." Monster yang mengingatkan saat teman kuliah berkata, "Cara memperlakukan Nia itu berbeda daripada orang biasa", atau si pacar yang berkata, "Kamu itu orang yang sulit", dan teman kantor yang bercanda, "Saya mau ikut workshop How to Deal with Difficult People biar bisa deal sama Nia".

Diri yang sulit ini tentunya berdampak pada lingkungan sekitar. Tidak menjadi everyone's favorite sehingga selalu menjadi third circle dalam sebuah pertemanan, atau mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan seperti dibohongi dengan dalih enggan konflik atau menjaga perasaan, bahkan dijauhi orang lain. Fiuh. sedih juga tidak bisa seakrab itu dengan orang lain. Saya merasa tidak mengada-ada untuk menjadi seseorang yang sulit, dan tentu enggak mau juga lah. Saya merasa ya diri saya ya begini adanya. Dan mengubah diri itu susah sekali. Sudah beberapa kali dicoba, tapi gesekan dengan diri dan orang lain terus ada. Malah bikin frustasi.

Memang, jadi orang yang sulit butuh konsekuensi. Jadi, monster di bawah tempat tidur, saya tidak bisa menaklukan kamu. Bagaimana jika kita berteman saja? Saya akan terima diri saya apa adanya--dengan berbagai macam konsekuensinya. Karena mengubah diri lebih sulit daripada beradaptasi.

Kalau kamu punya monster apa?

06 August 2016

Review Scary Face & Fluffy Hair Treatment dari The Bath Box

Halo. Kali pertama review beauty products nih.

Di Instagram, nama produk kecantikan The Bath Box cukup terkenal. Branding mereka oke sekali. Fotonya bagus, websitenya bagus, dan kayaknya banyak yang beli. Walaupun harganya lumayan mahal, saya penasaran juga. Akhirnya saya memutuskan untuk beli deep pore cleanser Scary Face yang berhadiah Fluffy Hair Treatment. Jadi, intinya beli karena promosi sih. Hehe.

Paket dikirim ke kantor dan saya unboxing di sana. Saat dibuka, eh lucu amaaat. Jadi produknya ditutup kertas yang berisi potongan kertas warna pink dan produknya dibungkus pakai busa. Secured pokoknya. Udah gitu ada petunjuk penggunaan hair treatment dengan ilustrasi yang lucu serta kartu "With Love" sehingga berkesan. Jangan-jangan ini produk mahal buat packaging-nya nih. :p

Packaging yang lucu!
Malamnya saya coba Scary Face yang mengandung arang. Cubit sedikit, taruh di tangan secukupnya, tetesin air secukupnya juga, campur, kemudian oles di muka. Muka yang udah hitam ini makin hitam. Scary! Tekstur yang semula kasar jadi lembut saat dicampur air. Saya kira akan jadi seperti scrub gitu. Udahnya enggak gatel, merah, dan jerawatan.

Yang saya suka dari The Bath Box ini adalah produknya wangii sekali. Bahkan sebelum kemasan Scary Face dibuka, udah berasa wanginya dari luar. Tapi saat diaplikasikan ke muka, menurutku wanginya jadi terlalu kuat sehingga cukup ganggu juga.

Dakocann..
Besoknya saya coba Fluffy Hair Treatment yang mengandung telur, alpukat, dan pisang. Ini juga produknya wangii sekali. Saya oleskan sebelum keramas dan diamkan selama 20 menit. Bilas dan cuci pakai sampo. Walaupun udah dicuci pakai sampo, wanginya masih ada dan tahan sampai sore. Rambutnya juga lembut. I really like it!

Intinya sih saya suka produk mereka dan kayaknya akan beli lagi deh. :)

03 August 2016

Menunggang Ombak di Raja Ampat (Part 1)

Kalau Raja Ampat dibilang kepingan surga yang runtuh atau tempat perawan yang belum didatangi, rasanya akan jadi judul yang basi sekali. Duh, banyak sekali artikel traveling yang judulnya begitu klise. Walaupun pada akhirnya judul yang saya buat enggak fantastis-fantastis amat.

Jadi, pemirsa, akhir bulan lalu saya kebagian durian runtuh. Saya dan beberapa teman dikirim kantor untuk liputan ke sana. Wah, siapa yang enggak mau ke Raja Ampat. Selain tempat yang indah, pergi ke Raja Ampat harus jadi orang kaya dulu karena biayanya yang sangaat mahal. Harga perjalanannya bisa seperti kita jalan-jalan ke luar negeri. Jadi kalau punya prioritas lain, kayaknya boro-boro bisa ke sana, mimpi pun tak mampu~ Kalau bukan karena tugas, saya juga belum tentu bisa ke sana.

Saya dan teman-teman berangkat dari Jakarta hari Jumat, 29 Juli, dini hari. Kami naik Sriwijaya tanpa transit. Kami sampai di sana sekitar pukul 06.00 WIT. Di sana kami bertemu dengan Ferdinand, yang menjadi pemandu lokal. Orangnya cerah ceria, suka mengobrol, dan juga lucu. Dia bikin perjalanan kami jadi menyenangkan. Dan yang lebih penting lagi, dia bisa ngobrol bahasa Inggris, jadi tamu-tamu asing bisa pakai jasa dia.

Dari bandara Dominique Edward Osok, kami naik mobil ke pelabuhan. Tiket ferry baru buka sekitar pukul 08.00 WIT untuk keberangkatan pukul 09.00 WIT dan pukul 14.00 WIT. Saat menyebrang, sayangnya kami disambut dengan cuaca buruk saat mau nyebrang dari pelabuhan Sorong ke Waisai. Kapal ferry yang kami naiki sempat terguncang keras, bahkan beberapa anak buah kapal memegang lemari es yang ada di dalam. Isinya lemari es itu berjatuhan. Beberapa orang di belakang pun saling menenangkan untuk tidak panik. Saya jadi ikutan tenang juga.

Hujaann jangan marah. Kalau kata Efek Rumah Kaca.
 Karena hujan tak kunjung berhenti, setelah makan siang, Ferdi menawarkan untuk beristirahat di rumahnya. Kami ngobrol dan bahkan teman saya sampai tertidur di sofa ruang tamu. Untungnya keluarganya baik sekali dan menyambut kami dengan ramah. Setelah hujan reda, kami pergi ke pelabuhan wisata di Waisai untuk pergi ke Pulau Kri. Ternyata saat di tengah laut, hujan datang lagi. Bawaan kami ditutup dengan terpal. Karena di kapal tidak ada dinding kapal, jadinya kami semua kebasahan. Begitu juga sampai di dermaga Pulau Kri, kami jalan di tengah hujan sampai ke teras homestay Yenkoranu.

Ferdi di ruang keluarnya.
Wah, bukan badan yang dicemaskan, tapi kami mencemaskan bagaimana kalau besok-besok masih hujan juga dan bagaimana kabar tugas kami. Huhu. Dan benar saja, hujan terus turun, sehingga kami tidak bisa menyebrang ke tempat-tempat yang dituju. Jadinya kami beristirahat di homestay.

Esok harinya, yaitu tanggal 30 Juli, cuaca pagi enggak cerah-cerah amat, tapi jauh lebih baik dibandingkan kemarin. Kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang lebih jauh terlebih dahulu yaitu Wayag yang terletak di sebelah utara Raja Ampat. Karena pertengahan tahun adalah waktu yang salah untuk traveling ke sini, maka angin dan ombak pun tidak bersahabat. Kami diguncang-guncang ombak di atas speedboat.


Sebelum sampai ke Wayag, kami ke Desa Selpele untuk mengurus perizinan dan bayar retribusi. Satu jam dari Selpele, baru deh kami sampai di Wayag. Karena perjalanan yang painful, teman saya, Fachry, sampai bilang kok kita enggak sampai-sampai. Hahaha. Capek broo gak bisa bobo.

Anak-anak di Selpele. No gadget!
Ternyata petualangan itu enggak berhenti. Saat kapal bersandar di pantai bukit di Wayag, kami harus climbing ke atas. Climbing lho ya, bukan hiking. Di antara batu karst dan jalinan akar pohon, kami naik ke puncak yang kemiringannya bisa sampai 90 derajat. Sebelumnya kami udah lihat-lihat di internet sih, jadi kami udah prepare menggunakan sepatu hiking. Wah, kalau pakai casual shoes, bisa licin atau sepatunya sobek. Sebenarnya bukitnya tidak terlalu tinggi, tapi karena perjalanannya lumayan susah, waktu yang dibutuhin sekitar 20-30 menit.

Begitu sampai di atas.. wadaw, ternyata ini dia yang dikunjungi orang-orang kalau ke Raja Ampat. Di depan mata terdapat gugusan batu karst yang membentuk sebuah laguna yang jerniiihh dan biruuu. Di tengah laguna juga ada kapal pesiar. Bagus! Kalau musim liburan, pasti untuk ke atas harus mengantri karena tempat untuk melihat pemandangan di puncak juga tidak terlalu besar.

This is Wayag!
Setelah lihat-lihat dan foto-foto, kami pergi ke Teluk Kabuy yang luaass. Di sini seharusnya kami bisa melihat lukisan pra-sejarah dan bahkan mengunjungi sebuah makam. Tapi Ferdi bilang kalau tempatnya sudah terlewat. Xad. Btw, Teluk Kabuy ngingetin sama Grand Canyon di Pangandaran. Warna lautnya hijau seperti cendol. Hihi. Karena air teluk relatif tenang, Ferdi bilang di sini banyak orang yang main jetski.

Teluk Kabuy
Terakhir, kami menyempatkan ke Pasir Timbul. Jadi ini tuh pasir pantai yang muncul di permukaan saat lautnya surut. Pasir Timbul ini cukup luas sehingga orang seolah-olah bisa jalan kaki di atas laut. Bahkan ada penduduk asli dari Waisai yang buka tenda dan minum wine di sana. Life is good banget deh, Tiba-tiba seorang ibu memperlihatkan kepada kami seekor anak hiu putih dengan noda hitam di siripnya. Tampaknya dia bangga sama hasil tangkapan anaknya dengan tangan. Sambil mengobrol, dia pegang terus. Kami sudah mengingatkan untuk disimpan di air aja. Eh, bener, kan.. pas mau dimasukkin lagi hiunya udah teler. Untung tidak mati.

Pasir Timbul. Karena kami kesorean, jadi yang timbul hanya sedikit.
Jujur, ini adalah perbuatan yang bodoh. Jangan ditiru ya, gengs!
Ngomong-ngomong masalah hiu, di Raja Ampat ada banyak lhoo. Bahkan di dermaga homestay tempat kami snorkeling puun ada hiu. Hiunya tidak terlalu besar dan kata Ferdi hiunya tidak gigit, kecuali kita berdarah. Walaupun sudah banyak baca kampanye tentang hiu tidak makan dan menyerang manusia dan sudah banyak nonton video GoPro tentang berenang bersama hiu, tetap saja tidak mengurangi ketakutan kami terhadap hiu. Mingkin karena tidak biasa renang dengan hiu dan sudah tertanam bahwa hiu makan orang. Tapi beberapa orang berenang di dermaga sama hiu tetap selamat saja tuh.

Selain hiu, beberapa kali kami melihat lumba-lumba saat island hopping. Selain itu, di sini juga ada paus dan ikan pari. Wah! Kaya banget keanekaragaman hayati Raja Ampat. Tunggu cerita selanjutnya di part 2 ya. Selain laut, saya mau bercerita tentang kehidupan yang ada di bukit-bukit Raja Ampat. :)

20 July 2016

Casing Laptop Patah (UPDATE)

Hi guys!

Mungkin di antara kalian yang langganan blog ini ngeh kalau akhir-akhir ini kok saya doyan "membenarkan" sesuatu. Ya dari televisimucocele, ya dari perawatan kulit, hingga yang terakhir ini adalah benerin casing laptop yang patah. Jadi, karena si laptop Toshiba 14 inchi ini sering saya bawa pulang pergi Bandung-Jakarta di tas ransel, mungkin suatu saat kegencet atau tanpa disadari jatuh, saya menemukan casing di dekat engsel itu patah. Mana besaarr lagi patahannya.

Akibat patah, kalau saya buka laptop, si engsel jadi naik ke atas dan tidak bisa menutup dengan sempurna. Lama-kelamaan ngaruh ke kabel fleksibel LCD rusak. Mulanya webcam mati, layar bergaris setiap gerak atau bergeser, hingga lama-lama blank putih. Bisa sih nyala seperti biasa. Selain faktor keberuntungan, jadi harus diatur posisinya monitornya sedemikian rupa (atau diganjel sesuatu). Nah, sudah susah begitu tidak boleh kesenggol karena layarnya pasti putih. Huu.

Sempat berpikir mau beli laptop baru, tapi merasa sayang karena saya tidak punya masalah sama mesin. Kalau mau laptop yang setara sama sekarang, harganya sekitar Rp4,5 jutaan. Wah, mahal ah. Kemudian saya ada rencana ditugaskan ke luar kota di bulan depan dan harus bawa laptop karena deadline yang ketat. Jadi mau enggak mau harus segera diperbaiki.

Sebagai orang yang jauh dari lingkungan perkomputeran, saya keingetan dengan sebuah tempat service laptop di Mal Citraland. Letaknya di lantai 3. Saat pergi ke sana, kokoh dan cici yang jaga juga cerita bahwa mereka suka terima service casing yang patah. Mereka bilang itu bisa diperbaiki ASAL ada pecahan patahannya. Jadi, kalau patah, jangan dibuang ya patahannya. Itu membantu sekali karena bisa dilem. Kalau kasus saya, karena mulanya saya kira pecahannya hilang, mereka berencana pasang mur di engsel agar tidak naik keluar casing. Tapi syukurnya patahannya masih ada.

Setelah pulang dan menunggu, saya ditelepon bahwa biaya yang dikeluarkan sekitar Rp535.000 yaitu untuk biaya service Rp250.000 dan ganti kabel fleksibel Rp285.000. Sejujurnya itu di bawah budget yang saya kira bakal jutaan. Soalnya udah mikir worst case scenario harus ganti casing gitu. Begitu denger harganya yang reasonable, saya langsung setuju. Lagian biar cepet beres.



Cuman dua hari, saya ditelepon kalau sudah selesai diperbaiki dan bisa diambil. Alhasil saya pergi ke Mal Citraland untuk ambil. Casingnya sudah dilem dan laptop bisa dibuka-tutup dengan baik. Sayangnya pas dicoba, layarnya masih garis-garis di awal. Kalau monitornya di gerakkin ke depan belakang, layarnya bergaris. Sambil menyesal, kokoh menyuruh saya pulang dulu karena dia mau lihat kesalahannya apa. Hanya menunggu beberapa jam, saya ditelepon lagi kalau bisa diambil. Tapi saya baru ambil sekitar tiga hari kemudian. Begitu dicoba, layarnya masih kayak gitu juga. :(

Mereka juga heran karena saat saya enggak ada, laptop baik-baik saja. Masih dengan rasa bersalah, kokoh nanya saya tinggalnya jauh atau tidak. Ya saya bilang cukup jauh. Mungkin karena tidak enak, dia minta saya bawa pulang dulu laptopnya. Karena ada garansi satu bulan, maka kita lihat apakah dalam satu bulan ke depan masih begitu juga atau bisa bener-bener bagus. Kalau masih begitu, kabel bisa diganti.

Jadi, saya akan update sebulan lagi ya (kalau gak malas). Mudah-mudahan enggak ada masalah sih. Karena secara komunikasi dan pelayanan, mereka oke banget. I hope everything's fine and I can recommend this service center to you guys!

Oh ya, saya harus benerin speaker handphone karena kalau nelepon enggak ada suaranya. Makjaangg, banyak amat PRnya!

----------------------------------------------

UPDATE: Jadi, hanya dalam beberapa hari saja, monitor saya bergaris karena memang dari awal kabel fleksinya belum 100% baik. Dan semakin hari semakin parah. Karena ada garansi sebulan, saya balikin lagi. Ternyata kokoh bilang kalau LCD saya kena, jadi harus ganti LCD seharga Rp750k. Phew!! Saya langsung putusin enggak deh karena takut udah beli mahal tapi masih rusak juga. Dan saya udah capek bolak-balik ke sana. Dia menawarkan mau dicariin LCD bekas setengah harga, saya tolak. Rencananya ini mau saya kanibalin saja, saya mau ambil harddisk buat dijadiin harddisk eskternal. Jadi, uang lima ratus ribu yang dihabiskan di awal semacam sia-sia. :( :(