26 March 2015

Jelajah Malam Kota Tua

Semenjak diri memutuskan untuk pindah ke Jakarta, saya mencari komunitas yang mirip dengan komunitas sejarah yang saya ikuti di Bandung. Ternyata ada, namanya Komunitas Historia Indonesia (KHI). Tapi sudah tiga tahun tinggal di sini, saya belum pernah mengikuti komunitas tersebut--entah karena tidak update Twitter-nya atau bertepatan dengan jadwal pulang ke Bandung.

Minggu (22/3) lalu, KHI mengadakan acara ulang tahun. Malam harinya juga ada acara jalan-jalan keliling kota tua. Wah, saya pikir ini kesempatan saya untuk kenal KHI. Barangkali cocok, tahu orang-orangnya, dan tahu informasinya. Singkat cerita, saya daftar dan datang. Awalnya canggung karena saya berada di tengah orang-orang yang merayakan ulang tahun komunitas, sementara saya newbie dan belum ada sense of belonging. Canggung terus dari jam 5 sore hingga 8 malam. Berharap cepat berakhir.

Hujan mulai turun deras. Saya takut kalau kegiatan jalan malam dibatalkan. Untungnya tetap berjalan. Jalan-jalan dipandu oleh founder KHI, namanya Asep Kambali. Ia cukup terkenal dan sudah masuk beragam media karena kiprahnya di komunitas sejarah. Walau tidak bawa jaket, untung saya bawa payung. Oke, saya mau tahu bagaimana management komunitas ini saat di jalan.

Rupanya Kang Asep (dipanggil 'kang' karena dia orang Cianjur) memandu sendirian. Berbeda dengan komunitas sejarah di Bandung yang pasti ada beberapa pemandu. Iya, saya jadi semacam otomatis membandingkan kedua komunitas ini. Tidak apa-apa ya, sebagai pertimbangan. :)

Kang Asep memulai perjalanan dengan bercerita tentang Museum Mandiri. Ini adalah pertama kalinya saya berada di museum malam-malam. Cukup mengerikan juga karena Museum Mandiri ini gelap di saat siang, jadi semakin gelap dan tua di kala malam. By the way, Museum Mandiri ini dibangun tahun 1929.

Museum Bank Mandiri kala malam.

Kemudian kami berjalan ke basement Halte Transjakarta Kota. Kami berada di kedalaman 10-15 meeter dari atas tanah lapangan stasiun Beos. Kata Kang Asep, di sini dulunya ada trem yang jalurnya dari Jatinegara sampai Pasar Ikan. Tremnya ada dua yaitu trem listrik sebagai angkutan khusus dan trem uap sebagai angkutan umum. Biasanya trem memiliki dua gerbong untuk memisahkan orang Eropa dan pribumi. Trem dihilangkan tahun 1962 karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi Jakarta. Jadi, generasi sekarang sama sekali tidak dapat sisa peninggalan trem.

Kang Asep dan peserta.
Basement TransJakarta.
Tadi saya bercerita tentang stasiun Beos. Nah, stasiun Beos ini dikenal sebagai stasiun kereta Kota. kenapa jadi Beos? Dulunya stasiun ini bernama Bos, kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur. Arsiteknya orang Belanda kelahiran Tulungagung bernama Heisel (kayaknya ini salah pengejaan). Jurusan keretanya ke arah Jawa. Dibangun tahun 1925, stasiun kereta ini paling top pada zamannya. Seperti stasiun kereta di Priok, rel kereta di sini ada ujungnya alias mentok.


Biasanya orang-orang Eropa bersandar di Tanjung Priok. Mereka naik kereta ke stasiun ini kemudian melanjutkan perjalanan ke Buitenzorg alias Bogor. Jalur kereta Batavia Buitenzorg juga ada. Letaknya di belakang Museum Sejarah Jakarta yang dibangun tahun 1925. Dan FYI, Stasiun Beos bukanlah stasiun pertama di Hindia Belanda. Stasiun kereta pertama ada di Semarang, yang kantornya di Lawang Sewu.

Stasiun memiliki pilar-pilar yang terbuat dari besi sehingga tidak mudah ambruk saat gempa.
Tidak jauh dari stasiun Beos, terdapat gedung BNI. Kang Asep bercerita bahwa dulunya terdapat kanal yang dibangun oleh arsitek kota Batavia bernama Simon. Karena Jakarta berada 2,5 meter di bawah permukaan laut, ia membangun kanal agar tidak banjir. Daendels juga pernah mengeruk kanal ini karena banyak endapan sehingga menjadi sebuah "mal area" dan jadi sarang nyamuk "malaria". Good info, right? Saya jadi membayangkan kalau Batavia (atau Hindia Belanda) adalah tempat yang mengerikan dan berbahaya. Selain penuh hutan tropis dengan penyakit yang berbahaya, masyarakatnya juga primitif. Bahkan kanibal. *mulai ngarang.

Di situ pernah ada kanal yang diberi nama Tiger Kanaal.
Kami berjalan ke tempat yang diketahui oleh semua orang yaitu Museum Sejarah Jakarta.
Gedung ini dibangun tahun 1707. Dulunya tempat pengadilan. Para hakim duduk di lantai dua dan bia dilihat dari jendela.  Rupanya Museum Sejarah Jakarta yang kini berwarna putih dan megah ini pernah dicat warna kelabu oleh pemerintah Jepang. Begitu juga Museum Bank Mandiri. Mereka melakukan ini agar gedung tidak terlihat dari angkasa dan dibom oleh musuh.

Di depan museum ini ada lapangan luas yang dipenuhi pedagang, alayers (uh I'm sorry but it is true), dan terkadang kotor. Dulu juga di sini penuh oleh warga, tapi bukan untuk dagang atau hangout. Mereka datang jika mendengar pengumuman dari pemerintah Hinda Belanda atau melihat orang yang dieksekusi. Para serdadu mengumpulkan warga dengan memukul tambur sambil keliling kampung seperti Kampung Bandar, Kampung Pokojan, atau Kampung Tionghoa. Rupanya Batavia ini disangga oleh kampung-kampung teresbut untuk mendistribusikan berbagai kebutuhan seperti sayur mayur.

Gedung peradilan. Lantai dua tempat para hakim.
Bahkan non peserta juga antusias cari tahu. Atau penasaran?
Kuda dan manusia sama saja. Semua minum dari sini.
Di depan gedung. terdapat sebuah pancuran air yang digunakan untuk minum kuda dan manusia. Di sini, Kang Asep cerita kalau orang Belanda juga suka minum air tanpa dimasak, mungkin karena kebisaan di sana. Tapi kan air di sini berbeda. Barangkali lebih kotor. Kemudian orang Belanda belajar dengan orang Tionghoa di Indonesia yang memasak air sebelum diminum. Maka dari itu banyak orang Tionghoa yang sehat. Di sini pula orang Belanda belajar mandi sehari dua kali dan menggunakan gayung.

Oh ya, di lapangan ini juga ada batu-batu yang disusun persegi. Kata Kang Asep, batu ini didatangkan dari Belanda, tepatnya dari depan istana Dam Palace. Selain Batavia, Belanda menaruh batu ini kota-kota yang mereka jajah seperti Cape Town dan Formosa.

Ini dia batu dari Belanda.

Di sisi timur museum terdapat Museum Keramik yang didirikan tahun 1877. Di sisi barat terdapat Museum Wayang yang didirikan tahun  1912. Di sisi utara terdapat kantor pos yang didirikan tahun 1928 dan masih berfungsi sebagai kantor pos sampai sekarang.

Tidak jauh dari situ, terdapat sebuah gedung tua yang besar tapi terbengkalai. Gedungnya berlumut dan mulai ditutupi pohon. Kosong melompong dan tidak ada yang berani masuk. Kang Asep bilang kalau dulunya ini kantor keuangan dan pernah jadi tempat judi terbesar di Jakarta.

Pernah jadi tempat perjudian terbesar di Jakarta. Hidden beauty.
Di bawah jalan tol.
Petualangan menuju klimaksnya saat kami mulai masuk jalan-jalan kecil dan becek karena hujan. Barangkali karena malam, jadinya lebih menantang. Melewati lingkungan yang padat di daerah Penjaringan yang kadang bau tikus dan bau apek, kami sampai di bawah jalan tol Priok - Bandara. Literally! Dulu dari sini hingga Kampung Arab ada RT 0 RW 0. Tapi sekarang sudah ditiadakan.


Double wall
Di tengah kegelapan itu Kang Asep menujukkan benteng kota Batavia yang tingginya 4-5 meter. Kini hanya bentuknya puing-puing yang berlubang. Dari lubang itu, kami dapat melihat terdapat double wall yang terbuat dari batu bata yang berfungsi menahan serangan. Kenapa tidak dibuat dinding yang tebal sekalian? Kang Asep bilang barangkali terkait biaya. Bahkan sisa benteng yang terletak di belakang Museum Bahari dalam kondisinya mengenaskan. Di sana terdapat dua pintu yang menuju ke gudang rempah-rempah.

Kami juga menyisir sungai Ciliwung yang penuh sesak dengan rumah permanen yang sanitasi dan privasi terganggu. Ketika pintu salah satu rumah terbuka, kami langsung bisa melihat kasur. Saya dan teman baru saya berdoa agar suatu saat tidak tinggal di rumah dan lingkungan seperti ini. Teman baru saya bertanya, "Mereka betah ya di sini?" Saya jawab, "Barangkali karena keadaan, mereka harus di sini. Atau justru mereka betah dan bahagia di sini."

Sepulang dari jalan-jalan bareng KHI, saya merasa senang sekali. Pertama, selama ini saya baru tahu sejarah Bandung, kini saya mulai tahu sejarah Batavia. Mengetahui sejarah Batavia membuka cakrawala tentang sejarah Indonesia. Kedua, semakin kagum dengan cerita-cerita di balik kota yang saya tinggali ini. Ketiga, semakin banyak tahu, justru semakin sedih karena semakin banyak jejak sejarah yang tidak dipedulikan oleh orang-orang dan mulai hilang satu persatu.

Ibarat makan, saya merasa kenyang dan ingin lagi. Semoga ada kesempatan.  :)

14 February 2015

Mengenal Diponegoro Lebih Jauh

Dalam ingatan saya, Diponegoro adalah seorang Pahlawan. Titik. Saya tidak ingat kapan perang terjadi hingga bagaimana perang itu tercetus. Diponegoro hanyalah sebuah dongeng tak berkesan yang diceritakan saat berada di bangku sekolah. Begitu juga pahlawan-pahlawan lainnya. Begitu juga cerita sejarah lainnya.

Justru saya lebih melek sejarah semenjak ikutan komunitas sejarah di Bandung. Di situ kami jalan kaki mengunjungi tempat atau gedung yang merupakan saksi sejarah dan fasilitator menceritakan sejarah melalui gedung yang ada di depan mata. Saya jadi bisa membayangkan dan mengasosiasikan langsung cerita zaman dulu dengan kehidupan sekarang. Uh, mungkin dulu ada kesalahan metode pengajaran pada guru.

Perkenalan saya terhadap Diponegoro justru terjadi pada tahun 2012, yaitu ketika Galeri Nasional memamerkan karya-karya Raden Saleh di pameran "Raden Saleh and the Beginning of Modern Indonesian Painting". Salah satu lukisan terbaiknya adalah Arrest of Pangeran Diponegoro (1857) yang terkenal hingga mancanegara. Bahkan hingga ada cerita mana lukisan yang asli dan mana lukisan yang palsu karena Diponegoro digambarkan menyerah dengan jumawa pada lukisan Raden Saleh.

Tahun 2015 ini, Diponegoro kembali hadir. Ia diinterpretasi oleh para seniman tua dan muda melalui pameran yang berjudul "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh Hingga Kini". Selain Raden Saleh, ada Srihadi Soedarsono, Sudjojono, Nasirun, atau Entang Wiharso. Tidak hanya lukisan cat minyak, terdapat instalasi, video, dan foto. Cerita Diponegoro pun diingatkan melalui media yang lain yaitu pertunjukkan. Teater Koma mementaskan Kuda Perang Diponegoro.

Elegi Pangeran Diponegoro karya Pupuk Daru Purnomo (2014)

Lokale Hulptroepen (Legiun Lokal Nil) oleh Maharani Mancanagara (2015)

Untitled #4 (Reminiscent of Romanticism) oleh Eldwin Pradipta (2015)

Selain melihat pameran dan nonton Teater Koma, saya dan teman-teman juga melihat bagaimana restorasi lukisan dilakukan. Sepertinya masyarakat begitu antusias mengunjungi pameran ini karena kami harus mengantri untuk masuk ke dalam ruang pamer. Jumlah orang yang masuk pun dibatasi. Kami hanya boleh berada di dalam selama 15 menit. Waktu yang sangat sedikit jika ingin menilik karya para seniman yang lumayan banyak. Harus datang lagi!

Rela dijemur di bawah matahari Jakarta.

08 February 2015

Reguk Pahit Kopi

Mungkin sekitar lima tahun ke belakang, kopi menjadi sebuah gaya hidup. Saya tinggal di Bandung dari kecil. Di kisaran rumah yang begitu strategis, pesat sekali pertumbuhan coffee shop di sini. Dari yang rasanya enak hingga yang rasanya biasa saja. Dari dibuat secara manual brew, hingga dibuat oleh mesin. Dari harganya biasa, hingga mahal.

Kalau bicara produsen kopi, di Bandung ada yang namanya Kopi Aroma. Pabrik kopi ini sudah berdiri dari tahun 1930. Kopi Aroma bukanlah coffee shop yang orang-orang bisa minum, duduk-duduk, dan hangout. Tempatnya murni untuk jual beli kopi, orang datang dan pergi dengan cepat. Produknya juga sudah masuk ke pasar swalayan.

Kemarin saya berkesempatan pergi ke Kopi Es Tak Kie yang ada di kawasan Glodok. Informasi tentang tempat ini saya dapatkan dari teman kantor yang liputan ke sana. Yang membuat saya ingin ke sana adalah kopi, Pecinan, dan--kalau kata si pacar-- adalah faktor "sejak". Saya menyukai hal-hal yang vintage karena untuk bisa berdiri hingga sekarang pasti ada alasannya dan ada nilai selain jualan yaitu nilai sejarah.

Tempat yang kecil dan terletak di tengah pasar membuat toko ini begitu tricky.


Tempat ini betul-betul sebuah restoran dimana orang-orang hanya datang untuk makan. Kursi dan meja terbuat dari kayu yang tegap. Semua orang di sini tampak sibuk hilir mudik dan tempat ini selalu penuh. Jangan harapkan sofa atau WiFi. Jangan harapkan juga pelayan yang lamban dan berbasa-basi menawarkan menu. Begitu masuk, saya langsung ditawarkan, "Mau minum apa? Mau makan apa? Ada nasi campur, bakmi, nasi Hainan?"

Saya pergi ke Kopi Es Tak Kie bersama ketiga orang teman saya. Kami memesan es kopi dan es kopi susu. Saya baru sadar ketika Harry, salah seorang teman, bilang kalau rasa kopi tidak berubah encer walaupun es sudah meleleh. Rupanya air kopi itu dibuat dari pagi hari dan sehingga sudah dingin saat belum diberi es. Pantas saja rasanya tidak berubah. Selain itu juga di gelasnya tidak ada bubuk kopi sehingga orang bisa minum sampai habis.





Baru pukul setengah 11, namun makanan sudah habis. Kami memesan mi ayam bakso dan mi ayam pangsit. Saat dicoba, waduh ternyata enak sekali. Tekstur mi-nya tebal namun tidak terasa terigunya. Berbeda dengan mi ayam di depan kantor kami. Cis. Selain itu juga bumbunya enak dan ayamnya juga penuh daging, bukan jeroan atau kulit. Mantap! Sangat memuaskan bagi kami yang sudah menempuh jarak jauh dari Kebon Jeruk.

Kopi Es Tak Kie sudah beroperasi selama itu. Ternyata di Jakarta ada pabrik kopi yang sudah lebih lama lagi beroperasinya yaitu Kopi Warung Tinggi. Sebelum nasionalisasi, pabrik ini bernama Tek Soen Hoo yang dibangun dari tahun 1878. Lama banget kan?

Saya pergi ke Kopi Warung Tinggi yang ada di mall Grand Indonesia. Sebelumnya saya hanya tahu kopi ini ada di Jalan Tangki Sekolah. Tapi untung karena ada tugas liputan, saya bisa mencicipi Kopi Warung Tinggi. Saya mencoba kopi peranakan yang terdiri dari kopi campuran arabika dan robusta serta kopi susu kental manis. Rasanya enaaak sekali. Begitu tebal namun perpaduan kopi dan susunya pas. Sementara teman fotografer saya mencicipi kopi jantan.

Manual brew Beligum Syphon.
Kue cubit sebagai pasangan sejoli dari kopi peranakan.

Di Jawa, kopi jantan dikenal sebagai kopi lanang. Pada satu buah pohon kopi, terdapat kopi-kopi terbaik yang berada di pucuk pohon. Ibarat seperti teh putih yang terdiri dari pucuk daun teh juga. Bentuk biji kopinya lebih bulat dan lebih kecil daripada biji kopi biasa. Kata kepala barista kopi Warung Tinggi, rasanya kuat dan bisa membangkitkan "stamina" pada pria.

Kopi bisa direbus secara manual dengan berbagai teknik seperti syphon, french press, v60, atau dripper. Untuk keperluan foto, saya minta agar kopi jantan dibuat dengan Beligian siphon. Kepala baristanya bilang kalau aroma kopi bisa lebih keluar dengan teknik ini.

Berbeda dengan coffee shop lainnya yang biasanya menjual kopi berdasarkan lokasinya seperti kopi Aceh Gayo, kopi Toraja, kopi Sidikalang, kopi-kopi Warung Tinggi dicampur dari berbagai tempat, sehingga pengunjung akan mendapatkan kopi arabika atau robusta dari berbagai tempat dalam satu teguk.

Hal terhebat dari kopi Warung Tinggi ini adalah ceritanya. Kopi Warung Tinggi dikelola oleh lima generasi dan pabrik mereka sempat tutup karena ada peristiwa tahun 1998. Selain banyak yang dijarah, para pengelola juga hijrah ke Singapura. Namun ketika situasi telah aman, mereka balik lagi dan terus mengembangkan kopi. Tentunya perlu sebuah niat dan usaha untuk bisa melanggengkan sebuah bisnis turun temurun, kan?

18 January 2015

Jelajah Bekas Rawa

Semenjak ranah politik kedatangan (mantan) walikota Solo sebagai pendatang baru yang fenomenal, saya mulai tertarik mengamati politik. Tentu sebagai komentator. Komentator sotoy, lebih tepatnya. Kemudian si pendatang baru ini menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Meski saya bukan warga Jakarta, saya ikut senang kalau orang yang portofolionya baik bisa memimpin kota yang saya tinggali sekarang. Jadi memiliki harapan.

Di awal-awal jabatannya, salah satu aksi yang mengundang perhatian adalah ia menggusur warga di sekitar Waduk Pluit. Seharusnya waduk ini berfungsi untuk menyimpan air dan bebas dari pemukiman, namun bibir waduk dipenuhi oleh perumahan sehingga waduk ini mengalami pendangkalan. Otomatis jadi meluber dan banjir di saat hujan. Apalagi area tersebut milik negara dan seharusnya tidak boleh dibangun rumah--baik permanen maupun non permanen.

Jokowi, si pendatang baru itu, berdiskusi dalam sebuah acara makan siang dengan warga sekitar agar mereka mau dipindahkan. Akhirnya mereka pun pindah. Kini kisaran waduk dijadikan taman. Karena sejarahnya yang fenomenal itu, saya jadi penasaran dengan taman kota Waduk Pluit ini. Akhirnya kemarin saya berkesempatan ke sana. Senangnyaa.

Pluit adalah daerah yang saya jarang kunjungi, apalagi dengan angkutan umum. Jauh dari peradaban. Hehe. Kalau tidak ada keperluan, ya untuk apa. Namun Sabtu (18/1), saya harus liputan ke Pantai Indah Kapuk (PIK). Oh, kalau itu saya sudah tahu angkutan umumnya. Ternyata angkot yang saya tumpangi mengambil jalur yang berbeda. Di situ saya tidak sengaja menemukan Waduk Pluit.

Tunggu busnya di sini ya!

Mulanya sepulang liputan, saya mau pergi ke daerah Glodok dengan BKTB TransJakarta. Setelah browsing, ternyata bus ini melewati waduk. Sayangnya menunggu BKTB ini sangat lama. Saya menghabiskan waktu satu jam lebih untuk menunggu. Sebenarnya bisa saja menyerah dan tidak jadi pergi ke waduk. Tapi saya sudah kepalang berada di daerah sini. Jadi saya memutuskan untuk bertahan.

Letak Taman Kota Waduk Pluit tidak jauh dari PIK. Begitu sampai, saya merasa senang. Taman ini begitu tertata, banyak pohon tapi belum rindang. Mungkin karena dijaga satpam dan satpol PP. Pada saat saya ke sana pun ada petugas taman yang sedang memperbaiki rumput. Taman kota ini begitu luas. Ada lapangan basket, amphitheater kecil, jembatan kecil, dan area apungan agar pengunjung bisa berdiri di atas air. Tidak jauh dari situ, ada perahu wisata. Namun sepertinya tidak lagi digunakan.


  


Meskipun hari libur, mesin-mesin pengeruk masih bekerja. Saat saya berada di area apung, ada seorang bapak-bapak. "Lagi apa, Pak?" tanya saya sok kenal. Ia menjawab, "Lagi ukur kedalaman air. Ini kan harus terus dikeruk," ujarnya.



Sebagai informasi tambahan, kata Pluit berasal dari bahasa Belanda yaitu fluitschip atau kapal layar panjang berlunas ramping. Mulanya lahan ini berupa rawa-rawa. Menurut Wikipedia, Pemerintah Hindia Belanda meletakkan sebuah fluitschip bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut di pantai sebelah timur muara Kali Angke sehingga daerah ini mendapat nama Pluit.

Sepulangnya, saya memutuskan untuk naik BKTB TransJakarta. Untungnya tidak memakan waktu lama. Kata bapak-bapak, bus ini ngetem selama 30 menit di halte awalnya yaitu Fresh Market PIK. Saya bisa saja naik angkot atau taksi ke Grogol atau TransJakarta dari Pluit. Tapi saya ingin tahu rute bus BKTB ini.

Saya melewati jalan-jalan yang tidak saya kenal sampai bus ini tembus ke Kota Tua. Jakarta ini sangat luas. Bahkan, mungkin, di setiap inchinya ditinggali oleh orang-orang. Di situ saya berpikir, "Ah, gila ya orang Jakarta. Mereka bisa hidup di mana saja. Termasuk di daerah bekas rawa." Rawa dihabisi, dibangun pemukiman, ditinggali, beranakpinak. Semakin padat, semakin banyak. Antara kagum sekaligus.. ah, entahlah.

11 January 2015

Synchronizing

+ I want to get married because I want to be with someone I love forever.
- But people can get along together although they are not married.
+ But I want to build a family. I am not looking for an accompany to sleep.

Beberapa bulan belakangan ini, kami seringkali bertengkar. Kebanyakan pertengkaran disebabkan oleh karakter dan jalan berpikir yang benar-benar berbeda. Bagi saya, dia terlalu cuek, santai, dan kadang tidak berperasaan. Dan bagi dia, saya terlalu negatif dan gemar melebih-lebihkan. Bagi saya, beberapa perilakunya itu salah. Bagi dia, tidak ada yang salah. Sampai akhirnya saya sebal dan muak juga sehingga memutuskan untuk meminta jarak. Mungkin orang lain melihat alasan saya itu mengada-ada. Tapi kalau sudah dijalani lama dan masih sulit untuk dikompromikan, saya butuh jeda (meski hanya sebentar).

Menyesuaikan dua orang itu butuh usaha dan waktu. Kalau komunikasi baik-baik tidak cukup, kadang butuh pertengkaran yang mengeluarkan ego dan keinginan masing-masing dengan keras. Yang paling penting adalah keduanya masih memiliki keinginan untuk berusaha menyesuaikan. Jika salah satu sudah menyerah, hubungan akan berakhir. Atau kalau tetap berjalan, mungkin akan banyak adegan "makan ati" sendiri dan pastinya tidak nyaman. Tentu saya tidak mau hubungan yang seperti itu. Lagipula, jika saya berhubungan dengan orang lain, aktivitas sinkronisasi ini pasti akan berlangsung. Kelemahan atau hal-hal yang tidak kita sukai pada orang lain akan selalu ada.

Diri ini juga harus membebalkan diri dari lingkungan sekitar. Mungkin hubungan orang lain terlihat lebih romantis, atau lebih santai, atau segalanya berjalan mudah.. tapi ya sudahlah, masing-masing hubungan dan individu itu berbeda. Dan orang lain adalah penonton yang pintar menilai. Mereka juga pintar mengambil keputusan seperti "cari orang lain saja." Mudah-mudahan saya tidak buta.

Jadi, di tahun ini, mungkin kami akan merayakan usaha-usaha yang pernah dilakukan untuk menjaga hubungan. Itu patut diapresiasi. Selamat tahun ke-2! Mari kita beri hubungan ini sebuah kesempatan lebih lama karena kita tidak akan pernah tahu kemana kita akan berkembang. Kalaupun kita diam di tempat, semoga kita selalu bahagia.